Malam Rental

1017 Kata
"Kak Rossi beliin ini semua?" Aku panas, botol-botol itu begitu mengganggu pandangan. "Kak Rossi cuma ngasih uang. Dia bilang beli apa aja asal gue nggak bikin lu begadang. Yaudah gue pindahin barnya ke sini." "Bang, ini bahaya tau. Kalau lu ditangkap polisi gimana?" "Ya jangan kasih tau lah." "Ah serah lu Bang. Capek gue," gertakku sambil melangkah pergi. Sekarang bagaimana? Aku memelihara seorang pemabuk di rumah. Oke, dia sudah lama mabuk, warga sini juga udah tau dia sering pulang mabuk. But now, dia akan mabuk di rumah? Ada barang bukti yang jelas jika polisi datang dan menggeledah rumah kami. Kak Rossi juga sih, mau yang instan aja. Meski aku juga sebenarnya kehabisan akal. Bagaimana lagi cara menghentikan si pemabuk itu? Ah bodoamat lah. Ke tempat Bang Piki dulu kali ya. Bayar utang. Thanks ya yang udah ngingetin. "Bang, ini utang aku kemarin yang pas Bang Bogem kesini ya. Kalo yang ini aku mau main semaleman ini. Satu PS buat aku ya?" Ucapku kepada Bang Piki. Mencoba tetap ramah walau hatiku sedang mengkal. "Oke Van, mau ditemenin nggak mainnya?" Bang Piki tetap ramah menawarkan. "Nggak usah Bang. Atau nanti kalau aku capek main online aja kita main. Lagi pengen bantai-bantai soalnya Bang." "Yaudah, kamu kalau lagi serius suka nggak liat score soalnya. Ngegolin terus." Wkwk bener nih si Bang Piki. Eh aku lagi marah, nggak usah ketawa. Ini lagi si kucing online satu, main gaya-gayaan banget sok-sok skill, apasih. Nih gue beri lu ya? Mm, mamam tu. Siuuu. Arghh ngepause lagi ini anak. Dasar bocah kemaren sore. Kasih paham apa? Aku jadi bisa liat-liat sekitar gara-gara orang ini ngepause sih. Rental malam ini seramai biasanya. Orang-orang yang main juga wajahnya familiar semua. Bang Piki masih sibuk dengan komputernya, memantau waktu pemain. Karena ada aja kan yang suka iseng nambahin waktu sendirian. Kalau dulu biasanya bawa remote tv dari rumah tu. Au lah Emaknya gimana nonton sinerton (sinetron). Sekarang udah agak canggihan, bisa pake smartphone. Karena itu yang jaga mesti stand by, kelacak soalnya yang curang-curang. Beberapa partai berikutnya, aku masih seberingas itu menghancurkan lawan-lawan online. Kutu-kutu air. Karena ini akun bersama jadi levelnya masih rendah. Ez game lah. Nggak bisa juga aku jelasin tiap match, bisa sih. Cuma kasian yang nggak relate, seperti bocah ep ep. Dih apaan sih nyenggol-nyenggol? Bukan, seperti sista-sista maksudnya. Kan nggak main di rental? Savira contohnya. Wuih, baru diomongin. Panjang umur nih dia nelfon. "Hallo Van," kata seseorang di ujung Video Call. "Hallo Ra, ada apa?" "Eh lagi dimana ini?" "Di rental, hehe." "Waah ternyata rental gitu ya bentukannya?" "Iya Ra. Rame nih." Aku iseng muterin rental pake kamera hp. "Kamu sampe jam berapa disana Van?" "Gatau kayaknya sampe pagi Ra." "Kok gitu?" "Lagi males pulang soalnya." "Yaah besok ketiduran dong di kelas kalau disana sampe pagi." "Iya sih, tapi sumpah lagi males di rumah Ra." "Kamu nggak ribut sama Kak Rossi kan?" "Nggak kok. Aku nggak pernah ribut kalo sama Kak Rossi." "Terus kenapa?" "Lagi ribut sama Bang Robin." "Hoo, hmm. Gimana kalo kamu tidur di rental aja. Tapi jangan main sampe pagi. Numpang tidur aja disana?" "Oh iya betul juga. Pasti Abangnya begadang nungguin orang main ya? Boleh deh nanti aku tanyain." "Seep, yang penting jangan nggak tidur." "Oke deh. Eh tadi ngapain nelfon Ra?" "Eh iya, mau ngapain ya tadi? Duh aku lupa." "Wkwk ada-ada aja. Yaudah inget-inget dulu gih." "Lupa beneran." "Ada-ada aja. Lagian orang kalo nelfon itu yang dibahas intinya dulu baru small talknya. Kamu malah kebalik, jadi lupa kan?" "Iya nih, aku salfok tadi sama suasananya. Gaming banget." "Ciee yang udah mendalami gaming." "Apaan orang aku cuma liat-liat." "Yaudah, nanti kabarin aku kalo udah inget ya? Ini billing jalan terus nih." "Disana ada wifi Van?" "Ada, ini aku lagi pake. Nggak sengebut di rumah kamu sih memang." "Yaudah, telfonnya biarin nyala aja ya. Kamu lanjut main gapapa kok." "Nanti nggak bisa tidur kamu Ra. Suara disini rame." "Kan aku mau ngerasain suasana rental kayak gimana." "Dih, kalo mau mah aku bisa ajak kamu kesini." "Latihan dulu, wkwk." "Yaudah deh, aku lanjut main ya?" "Okey." Telepon tidak ditutup, kami aja yang berhenti ngomong. Aku ramal dia masih di depan hp. Masih penasaran dengan atmosfer rental. Kebetulan Bang Piki lewat, aku tanyain deh. "Bang, aku boleh nginap disini?" "Nggak jadi main sampe pagi Van?" "Nggak Bang. Nggak boleh sama dia." Wkwk, aku pake nunjuk Savira yang masih stay tune di layar. "Ciee siapa tu? Pacar?" "Temen." "Ooh ya udah. Tapi tidur bareng Husein ya di kamar Abang." "Oke Bang, makasi banyak ya." "Oy curang lu ?." Seseorang tiba-tiba berteriak di meja ujung kiri. "Kalah ya kalah aja ?." Tanpa banyak konversesi lagi, mereka baku pukul di rental. Membuat seisi ruangan gaduh. Aku sampai harus meinggalkan ponsel hidup di atas meja. "Udah wey," Bang Piki melerai perkelahian. Kalau udah gini, blacklist pasti mengancam. "Ada masalah apa kalian?" Salah satu temannya Bang Bogem ikut turun tangan. "Kami taruhan cewek. Kalau dia kalah, dia harus stop deketin cewek itu. Begitupun sebaliknya. Tadi gue udah mau menang, eh ditekel sama si ?ini,"terang salah seorang menjelaskan. "Dih, biasa itu mah. Cemen lu banci." "STOP." Mmm, gigit tu dibentak preman. Ciut kan kalian? "Van, itu ada apa?" Gawat, apa Savira denger semuanya tadi? "Kalian lagian ada aja. Cewek ditaruhin. Emang dia barang? Lagipula apa dia mau sama salah satu dari kalian kalo kelakuan lu berdua kayak gini?" Bang Hendra temennya Bang Bogem melanjutkan. "Ada apa ini?" Nah kan dateng si Bang Bogem. Mungkin suara berisik dari rental terdengar keluar. "Dia berantem Gem," ucap Bang Hendra menjelaskan. "Kalian berdua, ikut gue." Bang Bogem tanpa banyak bacot langsung menyeret keduanya. Asyik nih, ikutin ah. Eh astaga, nggak asyik dong. Kenapa aku pake jujur segala? Ah, tapi kalian pun kadang gitu kan? Liat orang berantem kadang mikir itu asyik. Walau ada tegang-tegangnya. "Van," suara di telepon menyadarkanku. Dari tadi panggilan belum ditutup. "Iya Ra?" Aku berusaha tenang. "Ada apa?" Lanjut dia. "Tadi ada yang berantem." "kok ngeri gitu?" "Biasa lah Ra kalau di rental suka gitu." Waah kacau, ini pasti merusak first impression Savira soal rental. Meski sebenarnya yaa rental emang gini. Semoga dia nggak mikir aneh-aneh lah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN