Nggak Pengen Dia Sedih

1030 Kata
"Adek aku udah beberapa hari ini marah sama aku. Karena aku nggak bisa nemenin dia main. Soalnya aku nggak ngerti cara mainnya. Tadi pagi saking keselnya, dia numpahin s**u yang aku bikin ke seragam aku. Karena itu tadi aku telat." Savira mencoba tenang, dia menarik nafas dan mencoba menjelaskan padaku. Ya ampun Ra, ternyata itu masalahnya. "Hoogitu. Yaudah kita samperin kesana yuk?" Aku mengajak Savira langsung gas ke kamar adeknya. "Emang kamu bisa main PS?" Savira meragukan kemampuanku. "Udah tenang aja. Aku sering ketiduran di kelas itu karena begadang di rental tau," seruku nggak terima skill dewaku dipertanyakan. "Dek ini orangnya," kata Savira mengenalkan aku pada adeknya. "Kak, bantuin aku dong selesaiin misi ini?" Tanpa merasa harus kenalan, dia langsung minta bantu main. Oh dia lagi main GTA Definitive. Game yang bug nya minta ampun banyaknya. Sama Bang Aldo The Lazy Monday habis ini game dikatain. Parah kali sumpah. Wiih jauh juga tapi udah sampai misinya Zero dan toko mainan. "Biasanya dia main sama siapa Ra?" Tanyaku pada Savira. "Sama Abang aku. Cuman dia baru diterima kuliah di Osaka. Makanya Papi Mamiku nganterin dia sekalian ada urusan disana." Savira kelihatannya masih sedih. Belum ada semangat terpancar dari wajahnya. "Sini dek Kakak ajarin. Jadi kalo misi Zero yang pertama ini. Kita kalo mau nembak, turunin aja pesawatnya ke jalan. Kalau nembak di udara kan susah. Jadi kemana-mana kan pelurunya. Adek pasti waktunya sering habis ya?" Ciee sok akrab beut. Insting ngajarin bocil rental maap. "Iya Kak. Adek minta tolong sama Kak Savira malah dia nggak ngerti." "Yaah Kak Savira kan cewek dek. Dia nggak biasa main PS. Tapi tenang aja, nanti kita ajarin Kak Savira sama-sama ya." "Iya kak." "Eh adek namanya siapa?" "Farhan kak." "Nah gini Han, gampang kan? Coba sini kamu pegang stiknya. Nanti Kakak bantu gerakin tangan kamu." Mantap, langsung bisa akrab. Emang anak kecil sebenarnya friendly sih. Aku malah asyik membantu Farhan main. Sambil sesekali noleh ke arah Savira yang mulai perlahan-lahan menikmati suasana. Syukurlah dia nggak sedih lagi. "Beneran jago ternyata," katanya kemudian. "Iya lah, atlet esport rental ini." Eiss, senggol dong. Dih, malah senyum-senyum sendiri. Lupa kan buatin minum. Kodein ah. "Uhuk keselek jangkrik." "Eh iya, aku lupa bikinin minum. Ke belakang dulu ya? Adek mau dibikinin apa?" Dih, adeknya doang lagi yang ditawarin. Jadi, aku dikasih air putih doang gitu? Wkwk. Aku pasti sudah diusir kalo dia bisa denger suara hatiku. Udah jadj tamu, ngelunjak pula. Kayak netijen aja, dibaikin malah ngelunjak. Giliran digas balik panik? Mental online. Oknum ya, nggak banyak. Banyakan netijen sebenarnya baik sih, cuman yaa yang baik pada anteng, yang toxic nya ini banyak ba*ot." Wiih kapan lagi megang stik mahal. Duansel (eh langsung belibet, dualsense) nih bos. Nggak ada di rental deket rumah nih. Disana masih PS4. Bahkan PS2 pun masih ada. Itulah bedanya orang jantung kota sama pinggiran ya. Di pinggiran mah masih banyak kali rental, masih laku juga. Bukan apa-apa, kami mana ada uang sih buat beli PS5? Belum lagi TV nya harus mahal. Jadi yaa kehadiran rental masih membantu mewujudkan cita-cita kami main game. Aduh keinget rental, aku baru nyadar yang dua hari lalu belum bayar. Nanti pas pulang ingetin aku ya gess buat bayar. Nggak enak juga sama Bang Piki ngutang lama-lama. Apalagi dia tau aku habis menang turnamen. Oiya, kebetulan Savira lagi nggak ada, aku ngomong sama Farhan deh. "Han, kamu marah ya sama Kak Savira?" "Iya kak, soalnya Kak Savira nggak mau nemenin aku main." "Yaah dia pasti bukannya nggak mau dek. Dia nggak bisa main soalnya. Kan dia cewek? Nanti kita ajarin sama-sama biar dia bisa, ya?" "Oke kak." "Dia sampai nangis lho tadi karena Farhan marahin dia. Kan kasian. Nanti minta maaf ya sama Kak Savira?" "Iya kak, nanti adek minta maaf sama Kak Savira. Tapi kakak janji bakal main kesini sering-sering ya?" "Iya, Kakak pasti kesini lagi. Tapi nggak bisa sering. Kan rumah Kakak jauh. Gini aja, kakak kasih WA kakak. Nanti kalau ada yang susah, kita Video Call gimana?" "Yaah, okelah Kak. Tapi jangan nggak kesini Kak. Gimanapun kan beda rasanya main bareng kak sama video call. Aku sendirian kak main disini. Gak ada yang nemenin." "Iya, InsyaAllah kesini lagi kok." "Waah udah akrab banget nih kayaknya." Savira datang bawa dua gelas minuman. Apa tuh? Kayaknya mahal. "Kak, maafin Adek ya?" Tiba-tiba Farhan langsung ngulurin tangan. "Iya Dek, maafin Kakak juga ya," balas Savira sambil meluk Farhan. "Ra. Sini gabung. Aku ajarin main." "Iya." "Kita main balap yuk Han?" "Waah oke tuh Kak. Adek jago loh main balap?" "Nah Ra sini tangannya. Ini tu namanya R2, fungsinya buat ngegas. Tapi bukan ngegas orang ya?" Kami bertiga tertawa. Si Farhan ngerti aja lagi. Emang bocil jaman sekarang gedenya cepet ya. Dia baru SD loh gess. "Kalo yang sebelahnya, itu L2, buat ngerem." "Feel nya berasa kayak nekan pedal ya?" "Nah iya, jadi makin dalem kita tekan, mobilnya makin cepat." "Ayo Han, pilih mobil yang mana?" "Kita pilih yang ini aja Ra. Ini mobil bukan buat balap-balap." "Terus?" "Buat ngajarin cecan main PS." Bangsaaal keselapan (kelepasan woy). Mampey aku. Kan Savira jadi bingung gitu wajahnya. Si Farhan juga ikutan liat sini lagi. Adudududu. "Ehem, udah mulai Han." Harus segera dialihkan topiknya. Bahaya euy, mengancam keselamatan jiwa dan raga. "Nah tinggal gas gini aja. Kalo ada tikungan ngeren dikit. Jangan gas terus nanti nabrak. Bisa kan?" Balik ke mode ngajarin. "Kalo di persimpangan dan Kakak mau belok. Jangan lupa hidupin sen Kak. Jangan kebalik. Sen kanan tapi belok kiri." Haha ngerti aja lagi di Farhan. "Disini kan nggak ada simpang dek?" Savira pake serius lagi. "Oiya." Si adek udah melaju jauh ninggalin Savira yang nabrak terus, wkwk. Btw, kamarnya si Farhan keren juga. Isinya mehong semua. Kamarku pasti insecure melihat ini. Kasurnya, gila bisa main trampolin. Disini ada beberapa poster Boboiboy. Mantap nih, dapet inside aku. Jadi kalo mau beliin kado buat Farhan, aku tinggal cari pernak-pernik Boboiboy. Hahaha, yang ini beneran pemandangan langka sih. Savira yang disekolah kalem banget, di depan PS seperti pemain yang sering kalah di rental. Gak gitu banget sih, cuman keliatannya dia mulai frustrated. Emang nggak ada bakat main game sama sekali ini anak. Aku ngide megang tangannya lagi. Eh maksudnya megang sticknya. Nyoba buat bantuin dia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN