Happy Reading..
Bibir ramun itu bergerak dengan leluasa, menjelajahi setiap sudut bibir manis yang sudah sejak lama ia idam-idamkan. Bibirnya terasa dingin mengatup sempurna tanpa ada garakan balasan sama sekali.
Tubuh Dhefin mematung, bergetar samar ketika satu tangan Ellisa menggerayangi tubuhnya. Meremas bagian dadanya berulang kali membuatnya meringis ngilu.
Lengan Ellisa melingkari leher Dhefin, mendorong kepalanya itu agar lebih mendekat lagi. Ia masih sabar mencecapi bibir yang masih kekeh tertutup rapat, mengajarinya dengan pelan-pelan agar apa yang ia inginkan bisa tercapai.
"Aw. Uhh" Dhefin menarik kepalanya jauh-jauh dari wajah Ellisa.
Bibirnya perih dan terasa kebas, dadanya juga sakit karena tangan Ellisa yang nakal tidak bisa diam menggerayangi tubuhnya tanpa henti.
Bukan sakit yang berlebih sih cuma geli-geli basah gimana gitu, enak ko cuma sedikit kurang nyaman untuk seorang pemula seperti Dhefin.
"Kenapa?" Tanya Ellisa mengerinyit seraya mendekati Dhefin lagi.
Dhefin mundur, mengusap wajahnya berulang kali merasa frustasi dengan apa yang tengah ia rasa. Ada desakan yang membuatnya tidak paham, namun sangat sulit dijelaskan.
"Ayang.." Ellisa mendekat lagi memeluk Dhefin yang nolak-nolak tapi mau.
Susah sih memiliki suami brondong yang miskin pengalaman, mau dikasih enak malah takut. Padahal kan itu enak, nikmat dan bikin nagih tapi Dhefin selalu saja membuat Ellisa tidak sabar.
Mending langsung tabrak, telanjangin langsung Ellisa terjang hingga terlentang diatas ranjang. Sekali-kali ia mengeluarkan kebuasannya, dari pada menunggu sampai Iman Dhefin jebol bisa-bisa tumbuh uban dikepalanya saking lamanya.
Ellisa memilin-milin ujung kaos Dhefin, menarik-nariknya pelan seraya mengeluarkan senyuman maut peruntuh segala kekuatan. Wajah Dhefin memerah hingga ketelinga kedua matanya terfokus pada bagian d**a Ellisa yang terlihat begitu menggemaskan dimatanya.
Dhefin menelan ludahnya seraya mengusap keringat dan mengosok-gosok bagian lengannya. Tubuhnya terasa sangat panas, kepalanya berdenyun-denyut dan dibawah sana seakan minta perang.
"Mau ini?" Tanya Ellisa gemas seraya menunjuk dadanya sendiri, memainkan tali lingerie nya membuat Dhefin tanpa sadar mengagguk.
Tubuh Ellisa mendekat, meloloskan satu tali lingerie nya hingga terlihat jelas bagian dadanya dimata Dhefin.
Dhefin menelan ludahnya susah payah, matanya benar-benar tercemar limbah keindahan tubuh wanita yang dapat menggetarkan jiwa Dhefin.
Ia ingin mengalihkan pandangannya namun tidak bisa, sangat sulit melirik kelain hati sementara ada Ellisa yang semakin hari semakin panas, tatapan nakal, tubuh sexy dan montok, benar-benar meluluh lantahkan pertahan Dhefin.
Tangannya terasa gatal ingin menyentuh dan merasakan s**u kanan kiri yang pernah Ellisa tawarkan dulu, penasaran dengan rasanya apa semanis s**u coklat atau hambar.
"Ayang..." Bisik Ellisa manja "Sayang loh kalau dianggurin." Kode Ellisa seraya menujuk dadanya sendiri.
Ellisa sudah tidak sabar ingin disentuh, dielus, diremas dan dihisap, rindu belaian seperti itu. Ellisa juga akan membuat tubuhnya dipenuhi tanda kepemilikan Dhefin biar bisa ia pamerkan kepada Olin dan Eva sahabat stres yang selalu mengejaknya.
"Engh..." gumam Dhefin kebingungan, ia bingung harus memulai dari mana, meremas dulu atau langsung hisap.
Ellisa tidak sabar, langsung memepet tubuh suami kecilnya lalu menatap Dhefin dengan tatapan nakalnya. Gemas sekali melihat Dhefin ragu-ragi tapi pengen nyicip.
"Ayang nggak impoten kan?!" tanya Ellisa mengedipkan sebelah matanya.
"Ehh." Dhefin cengo wajahnya semakin memerah.
"Itunya bisa bangun kan? Atau mau aku bangunin." Ellisa mengedip mengulurkan tangannya ingin sekali nyicip punya Dhefin yang masih unyu-unyu imut.
Dhefin buru-buru menepuk tangan Ellisa, menghidari sentuhannya yang bisa membuat nya semakin kehilangan akal. Tubuhnya saja sudah terasa tidak karuan hanya karena melihat tubuh Ellisa, apalagi kalau sampai disentuh bisa semakin tegang.
"Bisa ko tan. Bagun mah dia jagonya," Ucap Dhefin yakin seratus persen, malu dong bilang loyo dan jarang bangun didepan perempuan.
Senyuman licik Ellisa mengembangin, mengigit bibir bawahnya. Ellisa penasaran bagai mana bentuk milik Dhefin, sama tidak yah dengan milik mantannya, atau jangan-jangan beda.
"Mana, ko nggak keliatan? Coba lihat sedikit?" Ellisa menunduk mencoba melihat.
Dhefin menggeleng dengan wajah memerah, ditahannya lengan Ellisa hingga tubuh langsing nya kembali tegap. Tangan Dhefin menyusuri lengan Ellisa, dengan tatapan polos penuh keinginan yang terpendam dalam tangan itu berhasil menyentuh bagian yang sedari tadi seakan melambai tidak sabar, ia mengusapnya pelan-pelan lalu meremas sedikit kuat hingga desahan keluar dari bibi Ellisa.
"Ahh."
Ellisa meloloskan satu talinya lagi hingga lingerie itu jatuh sampai kemata kaki, wajahnya memerah penuh harap menatap suami kecilnya yang masih meremas-remas dadanya. Dhefin menelan ludahnya pelan, tangannya sekarang sudah ternoda, ragu ia menunduk meraih ujung d**a Ellisa lalu menjilatnya memutar hingga tubuh Ellisa bergetar.
"Engh." Ellisa melenguh meremas rambut Dhefin meminta lebih dari sekedar jilatan.
Wajah Dhefin semakin tenggelam, memasukan ujung d**a Ellisa yang sudah mengeras kedalam mulutnya lalu menghisapnya tidak sabaran. Ia kehilangan akal, kekuatan iman nya sudah jebol diterjang Ellisa.
Dhefin menyerah menahan semuanya, ia menghisap dengan lahap bergantian berulang kali. Ellisa sudah tidak tahan, tubuhnya seakan melayang karena hisapan dan remasan Dhefin.
"Ahh. Ayang.." desis Ellisa meremas rambut Dhefin semakin kuat.
Wajah Dhefin terangkat menatap Ellisa, wanita itu tersenyum lalu menarik kaos suaminya dan meloloskan nya. Dhefin pasrah, menuruti Ellisa yang kini sudah menelanjangi dirinya, virus Ellisa sudah menyebar luas didalam tubuh Dhefin hingga ia menurut saja.
Ellisa berbaring telentang diatas ranjang tanpa sehelai benang pun, melambaikan tangannya meminta Dhefin untuk mendekat.
"Ayang sini.."
Dhefin bingung, melirik bagian bawahnya yang sudah bangun karena melihat seluruh tubuh telanjang Ellisa. Ada desakan yang membuatnya menurut naik keatas ranjang.
"Sini naik." Ellisa menarik tangan Dhefin meminta tubuhnya agar naik menindih tubuh Ellisa.
"Tante yakin?" Tanya Dhefin ragu.
"Iya sini, naiki aku.."
"Tulang nya kuat Tan?" Bisik Dhefin polos.
"Ehh...."
"Takut encok tan. Kan tante udah tua." tambah Dhefin.
Ellisa melotot, mengembungkan kedua pipinya merasa dongkol karena kata-kata suaminya. Yakali Ellisa encok, tulangnya kuat ko untuk menahan serangan dan goyangan Dhefin.
"Tindih aja. Kuat ko." Ucap Ellisa yakin.
"Dhefin tindihin yah tan," ujar Dhefin.
Dhefin naik keatas tubuh Ellisa dengan perasaan was-was, ditatapnya Ellisa yang tengah tersenyum kedua tangannya melingkari leher Dhefin menariknya lalu melumat bibir suaminya. Tangan Ellisa meraba tubuh Dhefin meremas d**a kecilnya, bibir Dhefin membalas lumatan Ellisa tangannya meremas d**a Ellisa lalu turun menelusupkan wajahnya keleher Ellisa seraya menjilat lalu menghisapnya kuat.
Ellisa mendesah mencengkram bahu Dhefin merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Dhefin menghisap d**a Ellisa bergantian, meremasnya berulang kali seraya memainkan ujung d**a itu dengan lidahnya. Ellisa tidak tahan, tangannya menggapai celana pendek Dhefin berusaha membuka lalu menelupus masuk kedalam dan menekan apa yang sudah menjadi keinginannya, Ellisa menggeram meremas milik Dhefin yang semakin mengeras.
"Enghh. Uhh tann." erang Dhefin tertahan, ia semakin kuat menghisap d**a Ellisa yang rasanya lebih enak dari s**u kental manis.
"Dhefinn. Ahh" Ellisa meremas milik Dhefin, menekankan kemiliknya yang sudah terasa sangat basah.
Ia tidak tahan, tidak sabar menanti saat-saat ia akan berbuka puasa. Ellisa menggerakan pinggulnya, menggesekan miliknya dengan suara desahan yang semakin keras keluar dari mulutnya.
"Fin please..."
Dhefin menatap Ellisa lalu sedikit menurunkan miliknya yang sudah semakin tegak, bibirnya dikulum Ellisa dihisapnya. Hingga erangan tertahan keluar dari mulut Ellisa.
Dhefin memasukinya, wajahnya memucat dengan keringat yang membasahi wajahnya "Eum tan."
"Sst. Seperti ini.." Ellisa menyadari wajah kebingungan Dhefin.
Memaklumi ketidak bisaan Dhefin, dengan sabar Ellisa menuntun Dhefin menggerakan pinggulnya lalu mulai semakin menekan dan menaikturunkan miliknya. Dhefin mengigit bibirnya, mencari-cari sesuatu yang membuatnya ketagihan untuk ia hisap.
Dhefin menaik turunkan miliknya, menekan kuat membuat Ellisa semakin mengerang. Ellisa mencengkram bahu Dhefin merasakan kenikmatan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Dhefin luar biasa, menekannya pelan lalu semakin cepat. Tubuh Ellisa menggelinjang, menyebut nama suaminya berulang kali.
"Dhefinnn.."
Dhefin semakin cepat memompa tubuh Ellisa, merasa sesuatu mendesak ingin keluar, tanpa sadar mulutnya menyebut nama Ellisa berulang kali hingga pelepasan itu benar-benar ia rasakan.
"Tantee.." bisik Dhefin, lalu mencium pipi Ellisa.
Ellisa menarik nafasnya dalam-dalam menatap Dhefin yang buru-buru turun dari atas tubuhnya lalu berbaring disebelah Ellisa.
Dhefin mengusap wajahnya pelan, sama sekali tidak berani menatap Ellisa. Ia malu sekali untuk melihat Ellisa apalagi membayangkan tadi.
"Ayang..."
"Iya tan.."
"Enak kan tadi?"
Wajah Dhefin menoleh lalu mengagguk pelan "Iya. Enak tan." Katnya malu-malu gemes.
Ellisa bersorak riang dalam hati, virus nya menyebar sempurna meracuni otak dan s**********n Dhefin.
"Nagih nggak?" Tanya Ellisa dan Dhefin mengagguk lagi.
Emang enak sih, nagih juga wajah Dhefin sampai memerah membayangkan nya. Apalagi pas wajah Ellisa memerah kenikmatan gara-gara sentuhannya itu benar-benar terekam jelas dalam ingatan Dhefin.
"Mau lagi yah? Biar aku diatas ayang dibawah." Tawar Ellisa menggeser tubuhnya ingin segera menaiki Dhefin.
Tangan Dhefin menahan bahu Ellisa menatap wanita ganas dihadapannya "Sabar tan. Dhefin masih kecil, belum boleh banyak-banyak." ujar Dhefin.
Ellisa merengut kecewa, padahal kan ingin lagi bila perlu sampai pagi tapi apalah daya Dhefin masih kecil kasihan juga tenaganya.
"Tapi besok mau lagi yah? Tiap malem juga boleh ko."
Dhefin melotot mengerjapkan kedua matanya lalu menggeleng pelan. Emang enak sih, tapi cape nya itu loh yang masih kerasa ditubuh Dhefin.
Honahon