Happy Reading..
__
"Lo ko jadi mantan janda begonya kebangetan si Lis."
Olin masuk kedalam ruangan Ellisa, dengan mulut menggerutu tidak jelas. Meletakan tasnya diatas meja kerja Ellisa lalu menatap wajah murung sahabatnya.
"Masa naklukin brondong aja nggak sanggup? Lo sehat?!" oceh Olin yang kali ini menyenderkan tubuhnya disisi meja kerja Ellisa.
Ellisa hanya berdecak pelan, meletakan berkas yang tadi ia baca ketempatnya lagi. Rasanya keputusan curhat kepada Olin bukan pilihan yang tepat.
Bawelnya Olin ini lah yang membuat Ellisa merasa tambah pusing. Belum lagi memikirkan suami kecilnya yang semakin hari semakin membuat Ellisa belingsatan.
Sejak kemarin jalan-jalan malam bersama Dhefin, Ellisa tidak bisa tidur tubuhnya seakan menolak, otaknya selalu saja memikirkan hal-hal yang menambah matanya tidak bisa terpejam.
Dhefin sih enak pulang-pulang langsung tidur tanpa memikirkan betapa kepengennya Ellisa malam itu. Sudah melihat orang pacaran ditempat sepi, melihat mobil bergoyang benar-benar menambah kegilaan otak Ellisa.
Dan Olin lah yang saat ini menjadi sasaran Ellisa, menumpahkan segala keresahannya lewat telpon hingga Olin harus datang ke kantor Ellisa.
"Dia polos-polos gemes tau Lin."
"Polos? Ya lo racunin lah otaknya biar fokus sama selangkangan."
Ellisa menatap Olin dengan tatapan sangarnya, meracuni otak Dhefin itu sedikit sulit-sulit gampang, kadang mudah kadang sangat sulit karena Dhefin kekuatan Imannya cukup kuat untuk menahan segala macam godaan-godaan laknat darinya.
"Susah tau ...."
Olin tersenyum lalu memutar tubuhnya menghadap Ellisa "Alaah gampang, lo cipok aja tiap hari nanti juga ketagihan." ujar Olin enteng.
"Justru gue yang ketagihan Lin." ucap Ellisa lirih.
"Lo nya aja yang nafsuan."
Ellisa cemberut, memalingkan wajahnya seraya memikirkan kata-kata Olin. Persaan Ellisa mengatakan, selama ini ia tidak terlalu benafsu hanya sedikit kurang sabaran, dasar Dhefin nya saja yang belaga nolak.
"Dia masih bocah Lin."
"Ya bocah umurnya Lis. Kalau tenaga mah udah gede kali."
"Tapi ...."
"Tapi apa lagi? Lo kelonin aja gih tiap hari, nanti dia nagih ko kepengen lagi."
Olin bergeser menarik kursi yang ada didepan meja Ellisa lalu duduk disana. Sedikit sulit mengajari sahabatnya yang satu ini karena Ellisa terlalu lama berpuasa, daya ingatnya sedikit menghilang termakan usia.
"Ajakin dia nonton film ...."
"Udah. Dan dia ngatain gue mesum." sambar Ellisa kesal bila mengingat kejadian itu.
Tawa Olin pecah membayangkan nasib sahabatnya yang kurang beruntung. Andai saja dulu Ellisa mau menikah dengan pria-pria tua yang kaya akan pengalaman.
"Asli, badannya itu loh Lin bikin gue belingsatan. Apalagi ngeliat wajahnya, polos-polos kepengen. Kan h***y gue"
"Oke oke gue ngrti." Olin membuka tasnya mengeluarkan sesutu lalu diletakanya diatas meja "Nih."
"Apaan nih?" Tanya Ellisa mengambil bungkusan itu.
"Obat. Lo kasih ke dia, taukan!" Olin mengerling nakal lalu tersenyum.
Buru-buru Ellisa memasukan bungkusan itu kedalam tasnya dengan senyuman lebar.
"Kalau dia masih kuat nahan, lo tabrak dia aja langsung lo karungin." Olin tersenyum "Bye."
Ellisa melambaikan tangannya mengiringi kepergian Olin, ternyata sahabatnya bisa Ellisa andalkan. Ellisa akan segera melakukan apa yang sudah ada diotaknya, ia yakin kali ini mangsanya tidak akan lolos.
Dirapihkan semua pekerjaannya, memasukan ponsel dan meraih kunci mobil serta menata berkas-berkas yang akan ia periksa dirumah nanti. Dilihatnya jam yang ada ditangannya, sudah pukul tiga sore biasanya Dhefin sudah ada dirumah tertidur tengurep dengan boxer kembang-kembang yang mekar.
Uhh Ellisa ngiler membayangkannya, tubuh telanjang Dhefin dengan wajah memerah yang basah oleh keringat, sexy.
Ia baru saja melangkah kan kedua kakinya berniat untuk segera pulang sebelum pintu ruang kerjanya itu terbuka lagi. Ellisa mengerinyit seraya menggaruk lengannya yang sedikit gatal.
"Hallo Elis.." Sapanya dengan langkah yang semakin lebar mendekati Ellisa.
Ellisa buru-buru mundur, meletakan berkasnya diatas meja seraya menatap Pria tengil yang ada dihadapannya.
Cukup lama ia tidak bertemu dengan pria gila ini, beberapa tahun mungkin dan Ellisa juga tidak ingin lagi melihat tampangnya yang sok kecakepan ada didepannya.
"Ada perlu apa? Gue sibuk." Ucap Ellisa ketus.
"Santai, aku cuma rindu." Ujarnya sambil mengulurkan tangan berniat sekali ingin menyentuh Ellisa.
Ellisa melayangkan satu pukulan keras ditangannya hingga pria itu menarik kembali tangannya. Ellisa yang ia kenal masih sama seperti dulu, galak, ketus dan buas diranjang.
"Minggir!" Ellisa mendorong tubuh pria itu agar menyingkir.
"Elis. Tunggu!" Bian menahan lengan Ellisa, menekannya dengan cukup kuat agar Ellisa tidak buru-buru pergi.
"Bian. Lepas!" Ellisa merontah memukuli lengan Bian dengan satu tangannya.
"Sebentar Elis."
"Apalagi? Kita sudah selesai!" Sungut Ellisa menatap Bian dengan tatapan penuh kebencian "Gue udah bahagia. Jangan pernah usik gue lagi!" tegas Ellisa menepis tangan Bian hingga terlepas.
"Aku cuma mau tau seperti apa suami mu, ajak dia kerumah kita makan malam bersama. Mama dan Pita juga ingin berkenalan dengannya."
Ellisa mendecih pelan lalu mendorong tubuh Bian "Dia baik, sangat baik. Dan kalian tidak perlu tau siapa suami ku!" Ellisa memalingkan wajahnya lalu bergegas pergi meninggalkan mantan suami yang otaknya sudah mulai lengser itu.
Bian itu gila, sinting, kurang waras, dan Ellisa sangat membencinya. Beda dengan Dhefin yang gagah dan manisnya kebangetan, selalu bisa membuat Ellisa penasaran.
Ellisa mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik ponselnya yang menyala karena ada pesan masuk dari ibu tirinya, yang Ellisa yakini isi pesannya sama memintanya untuk pulang karena Pita ada dirumah.
Sesampainya dirumah Ellisa melirik kekanan dan kiri mencari-cari motor Dhefin yang tidak ada. Dhefin belum pulang, mungkin sebentar lagi ia akan pulang dan Ellisa akan bersiap-siap untuk menyambut kedatangan suami kecilnya.
Senyuman Ellisa mengembang setelah melihat rumah yang sepi. Ellsa baru ingat tadi pagi mertua dan kaka iparnya pergi ke luar kota karena ada acara pernikahan salah satu keluarga pak Adi.
Langkah Ellisa cepat memasuki rumah, membuka pintu kamarnya seraya mempersiapkan semuanya. Kamarnya ia buat sewangi mingkin, membuka-buka isi lemarinya mencari pakaian yang pas untuk ia gunakan.
Ellisa meraih ponselnya mencari-cari nama suaminya lalu menghunginya. Beberapa kali Ellisa menelpon namun baru dipanggilan ketiga panggilan itu dijawab.
"Hallo Ayang."
"Hm. Apa tan." Jawab Dhefin malas bercampur ogah-ogahan.
Ellisa cemberut "Lagi dimana? Kapan pulang? Udah makan belum Yang?" Tanya Ellisa beruntun.
"Udah. Jalan balik." Dhefin menyahut dengan rasa malas luar biasa, lalu menutup panggilan telponnya.
Dhefin tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Ellisa. Kadang otak rusaknya akan mengalihkan pembiaraanya menjadi yang nganu-nganu.
Ellisa meletakan ponselnya lagi, berdiri didepan cermin memperhatikan penampilannya yang sudah cantik dengan lingerie warna hitam yang sangat pas ditubuhnya.
Sudah pukul tujuh malam, Ellisa duduk manis diatas ranjang dengan tatapan tertuju pada televisi yang menayangan sinetron. Ellisa tidak fokus fikirannya tengah menanti Dhefin yang sudah pulang dan masih berada di lantai bawah memasukan motornya kemudian barulah nanti masuk ke kamar.
Dhefin memasuki kamarnya dengan wajah kusut, tadi siang ada kuis dan ada dua tugas presentasi yang membuatnya lumayan pusing.
"Ayang.." Sapa Ellisa dengan suara manjanya.
Dhefin menutup pintunya lalu melihat Ellisa dengan tatapan bingung. Ia mengerinyit memperhatikan penampilan Ellisa yang sedikit menantang.
"Eum. Iya." Sahut Dhefin gugup karena melihat paha Ellisa sedikit terlihat.
Dhefin buru-buru meletakan ranselnya diatas meja belajar, merapihkan buku-bukunya dengan membelakangi Ellisa. Tubuhnya sedikit tersentak merasakan kedua tangan Ellisa melingkari pinggangnya.
"Mau minum apa?" Tanya Ellisa berbisik tepat ditelinga Dhefin, kedua tangan Ellisa meraba d**a dan perut Dhefin membuat nafasnya sedikit sesak.
"Tan. Aku cape." Ucap Dhefin dengan suara sebiasa mungkin.
"Iya. Mau minum apa? Susu...."
"Teh tan." jawab Dhefin cepat, ia ingat betul kapan Ellisa menawarinya s**u dan itu bukan s**u kental manis tapi s**u kanan kiri.
Ellisa melepaskan pelukannya lalu bergegas keluar dari dalam kamar. Dhefin menatap pintu yang tertutup, mengacak rambutnya pelan lalu masuk kedalam kamar mandi.
Ellisa masuk kedalam kamar dengan membawa secangkir teh, mengunci pintu kamar dengan pelan lalu memasukan kunci itu ke dalam lacin.
"Ayang. Teh nya..."
Dhefin yang baru keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basah dan pakaian lengkap mendekati Ellisa mengambil cangkir teh lalu meminumnya.
Senyuman manis mengembang di bibir Ellisa menatap tubuh Dhefin yang kini tengah duduk dikursi sambil menyalakan laptopnya.
Ellisa menunggu dengan sabar duduk bersandari diatas ranjang dengan kedua matanya menatap lekat punggung suaminya.
"Yang.."
"Hmm.."
"Kamu.." Ellisa menggantungkan ucapannya melihat Dhefin yang terlihat gelisah, tangannya mengusap bagian lengan berulang kali.
Dhefin menatap layar laptopnya, kedua tangannya meremas pinggiran meja karena merasa aneh dengan tubuhnya yang terasa panas, ada yang benar-benar bangun dibawah sana tanpa bisa ia kendalikan. Padahal Dhefin tidak sedang melamun jorok tapi kenapa yang dibawah sana menggeliat tegap.
"Kenapa?" Tanya Ellisa.
Dhefin menoleh, menatap Ellisa dengan wajah memerah sampai ketelinga. Tatapanya tertuju kearah bagian d**a Ellisa yang sedikit terlihat, paha putih mulus Ellisa benar-benar mengusik fikiran Dhefin.
Ia membuang pandangannya, lalu bangkit dan masuk kedalam kamar mandi. Di basuh wajahnya berulang kali dengan air lalu menatap dirinya didepan cermin.
Kepalanya berdenyut sakit, tubuhnya terasa panas dan yang dibawah sana tidak bisa diam. Dhefin keluar dengan wajah basah, tatapannya benar-benar tidak bisa lepas dari Ellisa yang saat ini berdiri didepannya.
"Yang. Kenapa?" Ellisa menyentuh lengan suaminya.
Dhefin diam, tubuhnya seperti bereaksi ketika tangan Ellisa menyentuhnya.
"Eum. Tann,"
"Apa?"
"Aku.. Eum..." Dhefin menunduk menatap bagian bawahnya yang sudah mengembang seperti bunga yang mekar.
Ellisa mengigit bibir bawahnya mengusap lengan Dhefin dengan lembut. Tatapannya benar-benar tertuju pada suaminya.
"Aku mau.."
"Mau apa?"
Dhefin mengarahkan tatapanya pada tubuh Ellisa dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya. Dhefin merasa sesuatu yang mendesak ini sangat menyusahkannya, apa yang harus Dhefin katakan pada Elllisa.
Dhefin tidak bisa menahannya lagi, ini sulit dan sangat menyiksanya "Tan.. Engh nganu itu.."
"Apa?"
Dhefin tidak menjawab ia lebih mendekati Ellisa lalu menarik tubuh wanita itu dan memeluknya. Wajah Dhefin menatap Ellisa lalu menyambar bibir Tante-tante sialan yang sudah membuatnya tidak karuan.
_____