Happy reading..
__
Ellisa menghelan nafas lagi, melirik suaminya berulang kali namun yang dilirik justru sibuk dengan tumpukan komik-komik yang sengaja ia letakan dimeja belajar. Entah Dhefin sedang berpura-pura mengabaikannya atau memang ia benar-benar sibuk dengan dunianya sendiri.
Kemarin Ellisa memang salah, merusak suasana yang bahkan sedikit lagi akan berubah indah. Namun itu tidak segaja, mulutnya memang suka lepas kendali kalau sudah berurusan dengan kenikmatan dunia.
Bisa-bisanya mulutnya mengeluarkan nama si b******k Bian, mantan suami yang bahkan sekarang sudah menikah dengan adik tirinya. Untuk apa Ellisa menyebut nama itu bukan kah sudah ada Dhefin yang gagahnya luar biasa yang saat ini menemaninya.
"Yang.." Panggil Ellisa dengan suara selembut mungkin.
Sejak Ellisa pulang kerja sampai pukul tujuh malam Dhefin masih kekeh mendiamkan Ellisa, mengabaikan Ellisa yang bahkan sedari tadi sudah bergerak kesana kemarin karena merasa tidak tahan untuk tidak menyentuh Dhefin.
Namun Dhefin, suaminya itu justru menikmati masa ngambeknya tanpa merasa tersiksa sama sekali. Harus bagaimana lagi Ellisa, mintamaaf juga sudah ia lakukan sejak kemarin namun Dhefin malah diam saja.
"Ayang masih ngambek?" tanya Ellisa seraya mendekati Dhefin.
Ellisa berdiri dibelakang tubuh Dhefin yang tengah duduk dikursi meja belajar sambil membaca komik. Dhefin diam saja, matanya fokus kepada komik yang sedang ia baca tanpa memperdulikan Ellisa yang sejak tadi berusaha mengganggunya.
Kan kesel batin Dhefin ketika sedikit lagi rasa penasarannya akan hilang tiba-tiba saja mulut Ellisa menyebut nama Bian. Siap Bian? Selingkuhan atau teman tidur Ellisa sampai-sampai ia melupakan nama Dhefin.
Bian
Bian
Bian
Nama itu selalu memenuhi isi kepala Dhefin sejak kemarin, rasanya sulit dibuang meski ia sudah berusaha. Dhefin tidak cinta Ellisa namun si Bian itu benar-benar merusak suasana hati Dhefin.
"Ayang, maaf." bisik Ellisa melingkarkan tangannya dibahu Dhefin.
Dhefin sedikit tersentak namun ia buru-buru kembali fokus pada komiknya. Dhefin itu masih ngambek, maunya dibujuk-bujuk bukan malah diraba-raba seperti ini.
Wajah Dhefin merungut kesal karena merasa tangan Ellisa mulai turun menggerayangi bagian d**a dan lehernya, bahkan nafas Ellisa begitu terasa ditengkuk Dhefin.
"Aku mesumin loh, kalau masih ngambek." bisik Ellisa mencium pipi Dhefin.
Dhefin bergidik merasakan sentuhan Ellisa yang kian liar, bayangan tubuhnya akan panas seperti kemarin dan akan ada yang menggeliat dibawah sana sehingga membuatnya pusing semalaman membuat Dhefin belum siap harus merasaka itu lagi.
Dhefin menahan tangan Ellisa yang bergeliar ditubuhnya, wajah Ellisa terangkat pelan "Kenapa?" Tanya Ellisa.
"Nggak." Ketus Dhefin lalu menyentakan tangan Ellisa hingga menjauhi tubuhnya.
Ellisa mengigit bibir bawahnya akan sulit baginya untuk membujuk Dhefin. Dhefin itu polos-polos ngegemesin, apalagi kalau sedang marah seperti ini membuat Ellisa tidak tahan sendiri, rasanya ingin sekali Ellisa menubruk Dhefin lalu melahapnya.
"Jangan marah dong yang."
"Hm."
"Nanti gantengnya ilang."
"Au ah."
Ellisa mengulum senyumannya, merasa gemas sendiri dengan tingkah ngambeknya Dhefin. Gemes-gemes pengen nyubir rasanya, wajahnya cemberut, bibirnya sedikit dimajukan membuat Ellisa merasa betah untuk melihat Dhefin yang seperti ini.
Ellisa mencubit pipi Dhefin yang langsung memerah karena cubitannya yang cukup keras saking gemasnya. Ia menunduk lagi lalu mengecup lama pipi suaminya.
"Ihh tante." Rungut Dhefin mengusap kasar pipinya.
Ellisa tertawa lalu mengacak pelan rambut suaminya hingga sedikit berantakan. Ia merasa Dhefin bukan suaminya tapi persis anaknya, manja, ambekan, aleman semuanya komplit.
"Jalan-jalan yu. Atau mau komik baru?" Tawar Ellisa mencoba untuk meredam kekesalan Dhefin.
Tidak tahan rasanya lama-lama didiamkan Dhefin, Ellisa akan uring-uringan bila tangan dan bibirnya tidak menjama bagian tubuh suaminya.
"Au ah." Ketus Dhefin.
"Yakin?" Ellisa mengusap punggung suaminya, meremasnya pelan lalu turun hingga kedada Dhefin.
Dhefin menggeram lalu menutup komik dan meletakannya diatas meja. Ia tidak suka tangan Ellisa nakal seperti ini, rasanya Dhefin merinding bila tangan putih itu menggerayangi tubuhnya.
"Iya iya ayo."
Ellisa tersenyum penuh kemenangan, meraih tasnya lalu melangkah dengan cepat menyusul Dhefin yang sudah keluar terlebih dahulu.
Kali ini Ellisa tidak akan menyia-nyiakan waktu lagi, apalagi sampai membuat Dhefin kesal. Bisa lama lagi Ellisa puasa karena harus membujuk-bujuk Dhefin, apalagi suami kecilnya itu sudah mulai sedikit demi sedikit tertular kenakalan Ellisa jadi sedikit lebih mudah untuk mengajari Dhefin.
Selama perjalanan Dhefin hanya diam saja, wajahnya masih cemberut tidak mau sekalipun menatap Ellisa. Ellisa juga diam, ia tengah fokus mengendarai mobilnya agar segera sampai disalah satu pusat perbelanjaan.
Ellisa melirik Dhefin "Ayang mau beli komik aja? Apa mau beli apa lagi?" Tanya Ellisa.
"Au" Sahut Dhefin asal.
"Makan mau?"
"Hm.."
"Kalau makan aku mau?" tanya Ellisa dengan senyuman nakalnya.
"Ehh." Dhefin menoleh, wajahnya sedikit memerah dengan kening mengkerut fikirannya mulai aneh membayangkan hal-hal yang bahkan belum pernah Dhefin bayangkan sebelumnya.
"Kalau mau didepan sana ada Hotel."
"Ihh mesum." Dhefin bergidik lalu buru-buru memalingkan wajahnya lagi.
Ellisa tertawa dalam hati, bahagia sekali rasanya memiliki suami semuda Dhefin, meski kadang ngeselin namun sikapnya yang kaku-kaku pengen itu yang membuat Ellisa semakin gila karena penasaran dengan gerakan Dhefin nanti diatas tubuhnya.
Bisa Ellisa bayangkan wajah polos menggemaskan itu memerah dengan keringat menbasahi wajahnya, bibirnya mengeluarkan suara-suara yang akan membuat Ellisa menggila nantinya.
Pusat perbelanjaan yang akan Ellisa tuju sudah dekat namun kendaraan Ellisa melaju semakin cepat sengaja melewati tempat itu. Ellisa tersenyum licik, isi otaknya penuh dengan wajah Dhefin yang memerah dan berkeringat.
"Loh loh ko dilewat tan?" Dhefin bingung, ini sudah terlewat cukup jauh namun Ellisa tidak juga menghentikan mobilnya.
"Besok aja belinya. Sekarang kita cari tempat yang sepi-sepi, kan seru buat berduaan." terang Ellisa dengan hayalan yang sudah berkelana entah kemana.
Dhefin mengusap wajahnya sedikit kasar, melihat Ellisa yang tengah tersenyum sinting. Isi otak wanita tua itu pasti sudah yang aneh-aneh, Dhefin bisa apa hanya bisa menggerutu kesal.
"Tante gila.." gruti Dhefin.
"Gila karena kamu." sahut Ellisa mengedipkan sebelah matanya.
Mobil Ellisa berbelok masuk ketempat parkir salah satu pantai yang ada dikota ini, susana remang-remang dengan lampu yang tidak begitu terang serta suasana yang lumayan sepi dan udara yang dingin-dingin seakan cocok untuk tempat berduaan.
Ada cukup banyak kendaraan yang terparkir, malam-malam seperti ini biasanya tempat ini menjadi tempat yang sering abege kunjungi, enak katanya buat pacaran.
"Ayo.."
"Ini sepi loh tan."
"Sepi lebih enak yang."
"Tapi..."
"Sstt ayo"
Ellisa menggandeng lengan Dhefin, berjalan masuk ke pantai dengan senyuman lebar. Dhefin hanya bisa menggerutu berulang kali, melirik kekanan dan kiri memperhatikan sekeliling yang terlihat ada beberapa pasangan yang tengah pacaran.
"Tan pulang yuk, nanti masuk angin loh"
"Nggak akan masuk angin kan ada kamu." Ellisa melebarkan tangannya lalu melingkarkan tangannya dipinggang suaminya.
"Malu tan." Dhefin menepuk lengan Ellisa agar terlepas dari pinggang nya.
"Disini sepi ko."
Tubun Dhefin sedikit menjauhi Ellisa, berjalan cepat untuk menghindari wanita itu. Otak Ellisa sedang tidak beres Dhefin harus kuat-kuat iman agar yang dibawah sana tidak menggeliat dan membuat kepalanya berdenyut sakit.
"Ayang..." Ellisa berteriak lalu berlari mengejar Dhefin.
Bisa gagal lagi usaha Ellisa agar bisa buka puasa malam ini, buru-buru ia menggapai lengan Dhefin menahan suaminya agar tidak pulang sekarang.
"Satu jam lagi yah?" bujuk Ellisa seraya mengikuti langkah Dhefin yang berjalan ke parkiran.
"Nggak."
"Tigapuluh menit lagi.".
Dhefin menggeleng lalu mempercepat langkahnya yang ingin segera pulang.
"Lima menit." tawar Ellisa dengan nafas yang tidak beraturan.
"Nggak." putus Dhefin.
Ellisa memeluk lengan suaminya membuat langkahnya terhenti. Dhefin menatap Ellisa, lalu menarik nafasnya dalam-dalam.
Tatapan Ellisa melebar, dengan senyuman mengembang dibibirnya. Diusapnya lengan Dhefin pelan-pelan seraya mengatur nafasnya.
"Yang. Mau itu.."Ellisa menujuk-nujuk kearah parkiran.
"Apa?"
Dhefin mengikuti tangan Ellisa, kedua matanya menyipit dengan kening mengerinyit tidak paham.
"Itu loh.."
"Apa tan. Cuma mobil" Ucapnya seraya lembih memperhatikan mobil itu yang sedikit-dikit bergerak.
"Kita coba yuk. Pumpung sepi."
Ellisa menaik turunkan alisnya, senyuman liciknya terukit dibibirnya membuat Dhefin bergidik.
"Apa sih tan.."
"Bikin dede Fin."
"Nggak!" ucap Dhefin.
"Ko nggak sih? Eum aku ada kondom ko di mobil." Bisik Ellisa seraya menjinjitkan kedua kakinya lalu mencium pipi suaminya "Tapi lebih enak kalau nggak pake." Imbuhnya menyeringai.
__