Happy reading!
__
Sudah tiga hari sejak kejadian memalukan itu, yang menggores harga diri seorang Ellisa dihadapan kedua mertuanya dan kakak iparnya.
Sejak saat itu Ellisa ngambek pada Dhefin, tidak mau berbicara, tidak mau melihat dan selalu menghindar bila tanpa sengaja bertemu.
Sebenarnya kuat tidak kuat Ellisa menjalaninya, namun demi kekesalan dan menutupi rasa malunya ia rela mendiamkan Dhefin meski berat karena godaan yang selalu datang kepadanya.
Rasanya mata Ellisa gatal ingin menatap Dhefin, tangannya juga terasa geli ingin meraba-raba tubuh suaminya namun sekuat yang ia mampu, Ellisa berusaha untuk menahannya.
Kan malu bila sampai Ellisa menyudahi ngambeknya sendiri tanpa ada rayuan atau gombalan dari Dhefin. Kode juga sudah sering Ellisa lakukan agar suami kecilnya peka bahwa Ellisa ingin dibujuk-bujuk biar ngambeknya hilang.
Namun sampai hari ketiga tidak ada tanda-tanda Dhefin akan membujuknya. Suaminya itu bahkan terlihat santai-santai saja dan tenang karena setiap hari tidak ada yang meraba tubuhnya.
Aksi mogok makan juga sudah Ellisa lakukan namun Dhefin tidak ada menanyakan, apa Ellisa sudah makan? Justru Dhefin bersikap masabodo tanpa perduli bagaimana Ellisa.
Apa kode yang Ellisa lakukan kurang keras sampai-sampai Dhefin tidak juga peka. Ellisa juga ingin dimengerti dimanja, disayang-sayang bukan malah semakin didiamkan.
"Ayang tuh sayang nggak sih sama aku?" grutu Ellisa sendiri.
Ellisa masih duduk termenung didalam mobilnya yang sudah terparkir dihalaman rumah orangtua Dhefin. Mata cantiknya hanya melirik pintu depan rumah itu tanpa berniat masuk, Ellisa kesal kecewa dan tidak tahan ngambek lama-lama.
Imannya tidak kuat menahan rasa gatalnya yang selalu ingin dekat-dekat dengan Dhefin. Sekian lama menjanda, rasanya sayang bila suami tampannya hanya ia diamkan saja.
Teman-teman sesama jandanya sudah berbuka puasa dengan nikmat masa iya Ellisa kalah. Jelas-jelas suaminya lebih muda, gagah pula, pasti kuat lah dibandingkan dengan suami-suami sahabatnya.
Ellisa mengepalkan tangannya dengan yakin, masabodo Dhefin sayang atau tidak kepadanya yang penting Ellisa sayang dan cinta.
Dibukanya pintu mobil lalu buru-buru keluar membawa tasnya dan masuk kedalam rumah. Susana rumah cukup sepi hanya ada suara dari dapur, mungkin Ibu mertua tengah memasak untuk makan malam.
Ellisa menatap pintu kamar Dhefin dengan rasa ragu, namun sedetik kemudian ia sudah membuka pintu kamar itu. Segaris senyuman terbit dibibir nya melihat tubuh Dhefin tanpa pakaian tengah berbaring diatas ranjang.
Ellisa bergegas menutup pintu lalu menguncinya, langkahnya penuh dengan semangat mendekati ranjang. Kedua tangannya dilipat didepan d**a seraya mengamati tubuh telanjang Dhefin, hanya ada celana boxer kembang-kembang yang menutupi bagian bawahnya.
"Ayang."
Ellisa tersenyum, membuka blazer nya lalu meletakan di samping ranjang, sepatunya juga ia lepas lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum merangkak naik keatas tempat tidur.
Dhefin tidak terganggu sama sekali dengan gerakan Ellisa yang merangkak naik keatas tubuhnya. Kedua mata Dhefin masih terpejam rapat menikmati alam tidurnya yang begitu nyenyak.
Ellisa meraba pipi Dhefin, mengelusnya seraya membuka satu kancing kemejanya.
"Aku sayang kamu, yang." bisik Ellisa menekan kedua tangannya dikasur berusaha menahan tubuhnya agar tidak benar-benar menimpa tubuh Dhefin.
Wajahnya mendekati wajah Dhefin, menepikan hidupnya dihidung bagir suaminya, ia tersenyum sekali lagi sebelum bibir pink itu menyentuh bibir Dhefin yang sedikit terbuka.
Ellisa menekannya pelan lalu melumat lembut bibir itu dengan rasa haus yang luar biasa. Tangannya sudah berpindah meraba-rana d**a suaminya, Ellisa benar-benar merasa akalnya sudah hilang bibirnya terus melumat bibir Dhefin, menghisapnya pelan lalu memasukan lidahnya.
Nafasnya terengah, dengan wajah memerah Ellisa kembali melahap bibir itu meluapkan rasa rindunya yang sudah ia tahan sejak tiga hari yang lalu. Kali ini Ellisa membuang egonya demi kepuasan yang sudah sejak lama ia cari-cari dan inginkan.
Ellisa mendesah pelan dengan kedua tangannya yang semakin liar meraba kesetiap bagian tubuh Dhefin. Tubuhnya melekat dengan tubuh suaminya, rasa panas kian mengaliri tubuhnya.
Kening Dhefin mengekrut merasakan sesuatu yang tidak nyaman dengan tubuhnya. Ada suara desahan yang sayup-sayup ia dengar, tubuhnya terasa tertindih sesuatu, bibirnya juga terasa dihisap dengan kuat bahkan ia merasa ada sesuatu dibawah sana yang terasa menggeliat. Kedua matanya mengerjap lalu perlahan terbuka ketika pandangannya terhalang oleh rambut yang menutupi wajahnya.
Dhefin bisa merasakan bibirnya dihisap kuat dengan suara nafas terengah yang benar-benar ia dengar. Tubuhnya terasa merinding karena merasa ada yang menyentuh dadanya berulang kali.
Kedua mata Dhefin terpejam pelan merasakan tubuhnya mulai terasa panas, bibirnya yang tengah dihisap membuat Dhefin pelan membuka bibirnya lalu membalas lumatan itu dengan lambat.
Ellisa terdiam sejenak merasakan bibirnya diluamat pelan-pelan, ada rasa bahagia yang ia rasakan ketika Dhefin mau membalas ciumannya.
Kedua tangan Dhefin melingkari pinggang Ellisa mengusapnya lembuat sebelum akhirnya ia menarik tubuh itu lalu berguling kesamping. Tubuh langsing Ellisa tertindih tubuh Dhefin dengam bibir yang masih saling bertautan satu sama lain.
Dhefin tidak tau ada apa dengan dirinya yang mulai terasa panas dengan bagian bawah semakin menggeliat. Wajahnya mendongak menatap wajah memarah Ellisa, mata nya terpejam dengan bibir basah.
"Tan. Engh,"
Dhefin menunduk ingin mengucapkan kata maaf karena sudah lancang mencium bibir Ellisa yang memang sengaja menggodanya.
"Ayang.." Ellisa membuka matanya melingkarkan kedua tangannya diantara bahu Dhefin.
"Maaf. Engh itu tadi.." Dhefin malu, telinganya sudah memerah dengan wajah sedikit menyesal.
Ellisa tersenyum lembut mengusap pipi Dhefin "Nggak papa.."
Ellisa menerakan kepala Dhefin hingga bibir Dhefin kembali menyentuh bibirnya. Ellisa melahap bibir suaminya itu dengan penuh semangat, rasanya seperti mimpi Dhefin mau menciumnya seperti ini.
Dhefin bingung, berkali-kali ia mencoba menyudahi semua ini namun sulit, seakan ada sesuatu yang kian menguasai fikirannya. Tubuhnya terasa berbeda, fikirannya kacau, tangannya tidak bisa ia tahan untuk tidak menyentuh Ellisa.
Dhefin meraba tubuh Ellisa Meletakan tangannya diatas d**a Ellisa lalu menekannya pelan. Tubuh Ellisa menegang dengan suara erangan pelan keluar dari mulutnya.
Dhefin gusar ia buru-buru mengangkat wajahnya dengan tangan yang juga ikut ia pindahkan. Dhefin benar-benar tidak tau efek yang ditimbulkan tangannya membuat Ellisa mengerang seperti itu.
"Eum. Maaf tan." lirih Dhefin menyesal.
"Sshh. Nggak papa ko yang."
"Pasti sakit." Ucap Dhefin dengan raut wajah cemas.
Ellisa tersenyum "Nggak ko malahan enak."
Dhefin melotot menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Masih belum mengerti dengan maksud Ellisa.
"Jadi pengan lagi."
"Ehh. Jangan tan." Tolak Dhefin dengan rasa tidak yakin karena ia pun sama merasa sedikit penasaran dengan apa yang tersimpan dibalik bra hitam yang hanya terlihat talinya saja itu.
"Sini." Ellia melambaikan tangannya meminta Dhefin untuk membungkuk lagi, Dhefin menurut membungkukkan tubuhnya lagi.
Ellisa membuka kancing kemejanya hingga terbuka semuanya dengan senyuman lebar. Ditariknya tangan Dhefin agar menyusup dibalik punggungnya.
"Bukain." Pinta Ellisa manja.
Dhefin meraba punggung Ellisa mencari-cari apa yang dimaksud Ellisa. Setelah mendapatkannya, dibukanya kaitan itu pelan.
Ellisa mengulum senyuman melihat wajah Dhefin yang memerah, ia sengaja diam ingin tau apa yang akan Dhefin lalukan dengan apa yang sudah ia lihat.
Tatapan Dhefin menyusiri bagian tubuh Ellisa yang putih bersih, ia ingin memejamkan kedua matanya namun sulit seakan ada rasa tidak ikhlas.
"Engh." Ellisa melenguh pelan ketika tangan Dhefin kembali menyentuh dadanya, menekan pelan lalu meremasnya pelan-pelan.
"Sakit?" Tanya Dhefin dengan wajah cemas karena melihat reaksi Ellisa.
Ellisa menggelang berusaha meredam suaranya, meski rasanya sulit namun sebisa mungkin ia tahan. Dhefin masih belajar dan mungkin masih bingung dengan suara-suara yang Ellisa keluarkan.
Dhefin mendekatkan wajahnya, sedikit membuka bibirnya ingin menyentuh bagian atas yang sejak tadi membuatnya penasaran.
"Bian, enghh." Desah Ellisa dengan kedua mata terpejam.
Dhefin menegakan tubuhnya, kepalanya terangkat setelah mendengat Ellisa memanggil nama orang lain.
Bian
Bian
Bian
Siapa lagi?
Dhefin buru-buru turun dari atas tubuh Ellisa, rasanya ada sesuatu yang aneh menjalari perasaanya, ditatapnya Ellisa yang menatapnya dengan bingung.
"Yang."
"Fin. Dhefin..."
Dhefin masuk kedalam kamar mandi tanpa melihat Ellisa lagi. Fikirannya kacau, tubuhnya juga kacau dan tangannya sudah ternoda.
Tante sialan!
__