Happy reading !
_____________
Ellisa mengerjapkan kedua mata cantiknya berulang kali, sedikit menyipit sebelum keduanya terbuka lebar. Dilihatnya jam yang menunjukkan pukul enam pagi, kedua tangannya ia rentangkan sebelum bangkit untuk duduk.
Senyuman pagi Ellisa berubah jadi masam setelah bayangkan kemarin terlintas kembali didalam pikirannya. Bayangan Dhefin menolaknya lagi untuk kesekian kalinya.
Ellisa harus mencari cara agar Dehfin mau ia sentuh dan menuruti keinginan Ellisa. Bagaimana pun caranya ia akan lakukan agar Dhefin tidak lagi menolak dan memberikan banyak alasan.
Dhefin itu laki kan, mana mungkin tidak terangsang sedikit pun dengan Ellisa yang sudah senang hati siap untuk tempur diatas ranjang.
Pertama mungkin Dhefin akan sedikit malu - malu namun nanti setelah sudah Ellisa nakali sekali, yakin akan ada kedua ketiga bahkan setiap saat kapan pun ia mau.
Ellisa terkikik sendiri membayangkan tubuh polos suaminya melayang - layang didalam ingatannya. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk berbuka puasa setelah sekian lama menjanda.
Ia menoleh kesamping seraya mengucek kedua matanya, melihat suaminya masih tertidur pulas dengan tubuh terbungkus selimut.
Ellisa menggeser pelan - pelan posisi duduknya agar lebih dekat dengan tubuh Dhefin. Bibirnya ia gigit, berusaha sehati - hati mungkin agar suaminya tidak bangun.
"Pagi Ayang," Sapa Ellisa berbisik pelan.
Diusapnya lembut kedua pipi suaminya, kedua mata Dhefin masih terpejam rapat sama sekali tidak terganggu dengan sentuhan Ellisa.
Tangan Ellisa terasa gatal ingin sekali meraba - raba bagian tubuh Dhefin selama suaminya itu tidur. Dhefin itu ganteng, kulitnya tidak putih dan tidak hitam juga namun membuat Ellisa penasaran setengah mati.
Penasaran dengan isi di balik kaos lengan panjang dan celana panjang yang selalu Dhefin gunakan setiap kali akan tidur satu ranjang dengan Ellisa.
"Ayang hihihi" Ellisa terkikik lagi melihat hidung Dhefin yang kembang kempis seperti itu, ditekannya pelan lalu mengembang lagi.
Tangan Ellisa meraba - raba wajah Dhefin, mengusap pelan telinganya lalu turun meraba d**a Dhefin. Gemas, Ellisa meremas d**a suaminya hingga lenguhan terdengar pelan dari bibir Dhefin.
Ellisa merunduk lalu menepikan bibirnya dipipi Dhefin, menciuminya sampai puas berulang kali. Nafasnya semakin memburu, merasa belum puas Ellisa meraba bibir Dhefin lalu mengaitkan bibirnya dengan bibir itu, pelan ia melumat bibir atas dan bawah suaminya bergantian.
Kedua tangannya meraba - raba tubuh Dhefin mengusapnya berulang kali. Dhefin menggeliat merasa tidak nyaman dengan posisi tidurnya seakan ada sesuatu yang berat yang menimpa tubuhnya.
Kedua mata Dhefin mengerjap berulang kali, tubuhnya terasa meremang merasakan sentuhan diperut dan didadanya. Ada sesuatu yang lembab tengah menjilati bibirnya, menghisap dan melumat berulang kali.
Dhefin mengerinyit meraba - raba seseorang yang ada diatasnya, diusapnya pelan sebelum kedua matanya terbuka lebar setelah mendengar suara desahan pelan. Ia menekan kedua bahu Ellisa lalu menariknya.
"Tante!" Seru Dhefin gusar melihat wajah memerah Ellisa ada dihadapannya.
"Ayang udah bangun?" ujarnya dengan suara manja.
Dhefin merinding lalu mendorong tubuh Ellisa hingga jauh darinya. Tubuhnya terasa semakin panas dingin melihat pakaian Ellisa sudah tidak utuh lagi, kancingnya terbuka dengan rambut acak - acakan dan bibir basah.
"Manis." lirih Ellisa seraya mengusap bibirnya dengan senyuman manis.
"Tante nakalin aku yah?!" Tanya Dhefin lalu mengusap wajahnya berulang kali.
Ellisa tertawa dalam hati, astaga suami kecilnya ini benar - benar menggemaskan Ellisa bahkan semakin ingin segera menerjang suaminya sekarang juga, menindihnya lalu berguling bersama.
"Cuma sedikit, belum sampai nabrak ko." ujar Ellisa.
Dhefin buru - buru mengusap bibirnya menatap Ellisa dengan wajah dan telinga memerah. Ellisa itu wanita berbahaya yang bisa menerjang Dhefin kapan saja.
"Tante mesum." Rungut Dhefin menyibak selimutnya lalu turun dari atas ranjang.
"Ayang mau kemana?" Tanya Ellisa menahan ujung kaos Dhefin.
"Sarapan." Sahut Dhefin ketus.
"Mau sarapan apa? s**u, d**a atau paha?" Tanya Ellisa mengedipkan sebelah matanya.
Dhefin bingung ia hanya mengagguk lalu menjawab sekenanya "Susu."
Senyuman Ellisa melebar, ia buru - buru turun berdiri didepan Dhefin "s**u yah? Kanan atau kiri?"
"Eh. Eumm" Dhefin semakin bingung ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Apa dua - duanya?" Tawar Ellisa lagi dengan satu tangan menarik ujung kaos Dhefin dan satu lagi memebuka semua kancing pakaiannya.
Wajah Dhefin semakin memerah dengan keringat meluncur deras di wajahnya. Semua gerakan tangan Ellisa tertangkap jelas dimatanya, pakaiannya sudah lolos kebawah hanya menyisakan bra merah.
"Tan. Ko..." Dhefin menelan ludahnya susah payah, kedua matanya coba ia pejamkan rapat - rapat namun susah rasanya ada sesuatu yang menggeliat dibawah sana.
"Sini.." Ujar Ellisa masih berusaha membuka kaitan branya.
Dhefin tidak fokus tatapannya enggan beralih dari bagian tubuh Ellisa tanpa sadar ia maju mendekati Ellisa. Ellisa semakin tersenyum lebar, bersorak riang dalam hati karena kali ini akan berhasil.
"Enggak. Enggak.." Gumam Dhefin seraya mengusap keringatnya.
Ini masih pagi dan Dhefin sudah merasa tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri. Rasanya aneh ada yang mendesak, dadanya berdetak dengan cepat, kepalanya berdenyut - denyut setelah melihat bagian tubuh Ellisa.
Dhefin menggeleng lalu mundur berbalik dan berlari keluar dari dalam kamar.
"Ayang.. Dhefinnn.." Teriak Ellisa memunguti pakaiannya lalu menggunakannya kembali.
Ellisa menggeram tertahan rasanya harga dirinya terkoyak sudah. Ia sudah berusaha menggoda Dhefin namun tetap saja selalu penolakan yang Ellisa dapatkan.
Apa kata teman - temannya nanti kalau sampai mereka tahu Ellisa masih belum berbuka puasa. Bisa malu sampai tujuh turunan, tujuh tanjakan dan tujuh belokan.
Mulut teman - temannya kan tidak bisa dikondisikan, senggol sedikit langsung melebar kemana - mana. Belum lagi Dhefin yang bisa saja mengadu kepada Pak Adi dan bu Ainun bisa kelar hidup Ellisa.
"Argh. Dhefinnn." Geram Ellisa dengan wajah memerah seraya keluar dari dalam kamar.
Ellisa harus sarapan dan memastikan Dhefin tidak akan mengatakan apapun kepada Ayahnya bahwa Ellisa diam - diam suka menyentuhnya.
Dengan wajah cemberut dan rasa malu Ellisa tersenyum ramah kepada keluarga Dhefin yang sudah ada di ruang makan. Suami kecilnya juga ada, tengah meminum s**u dan memakan rotinya.
"Fin gimana?" Ranum mengedipkan sebelah matanya melihat adiknya yang masih sibuk sendiri.
"Apa?" Ujar Dhefin.
"Gimana mba Ellisa?" tanya Ranum membuat wajah Dhefin dan Ellisa berbarengan menatapnya.
Ellisa meremas tangannya sendiri tidak jadi mengambil roti untuk sarapan. Hatinya was - was, takut Dhefin akan mengadu pada Ranum.
"Tante suka nakalin Dhefin kak." Celetuk Dhefin membuat wajah Ellisa memerah karena malu.
Ranun tertawa pelan sementara pak Adi menatap Dhefin "Itu rahasia Fin." kata pak Adi mengingatkan.
"Tapi tante emang gitu ko yah. Suka nakalin Dhefin, m***m lagi." Ucap Dhefin apa adanya.
Ranum tertawa nyaring melirik Ellisa yang sudah tertunduk, tubuh Ellisa melipir memilih untuk masuk kembali kedalam kamarnya.
Tolong Fin tenggelamkan aku
___