Selamat membaca
___
Dhefin baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian lengkapnya bersiap untuk berangkat ke kampus karena ada kelas pagi.
Kedua mata Dhefin menatap Ellisa yang saat ini tengah melangkah mendekatinya. Dengan gusar Dhefin mencoba mengalihkan perhatian, berjalan kekiri mengambil tasnya dan jaket lalu buru - buru ingin keluar kamar.
"Fin." Sergah Ellisa menyentuh lengan suami kecilnya.
"Eh. Iya."
"Mau kemana?" Tanya Ellisa, lalu merutuki dirinya sendiri karena merasa bodoh.
"Kuliah Tan."
Ellisa mendelik tidak suka bila Dhefin memanggilnya dengan sebutan Tante. Memangnya tidak ada lagi kah panggilan sayang yang layak, bunda kek, ayang kek, adinda kek, biar seperti abege pacaran.
Ellisa mengigit bibir bawahnya lalu mendekati wajah Dhefin dengan senyumannya. Mata Dhefin melotot lalu memundurkan kepalanya menghindari Ellisa.
"Tan. Tante mau apa?" Tanya Dhefin masih berusaha menjauhi wajah Ellisa.
"Menurut mu?" Ellisa mengedipkan sebelah matanya lalu menyentuh kedua bahu suaminya dan menariknya pelan.
"Stop tan!" Dhefin menahan kedua lengan Ellisa lalu mendorong nya pelan.
"Sekali saja." Bujuk Ellisa "Kita kan udah sah Fin." Katanya lagi.
Dhefin menggeleng lalu lebih menjauh dari Ellisa "Nggak. Nggak boleh" Ujar Dhefin gugup lalu bergegas keluar dari dalam kamar.
"Dhefin huuuh" Ellisa menghentakan kedua kakinya lalu keluar dari kamar menyusul Dhefin.
Ellisa bergegas mendekati Dhefin yang sudah siap menaiki motornya lalu mencabut kunci motor itu. Wajah Dhefin menolah, mengerinyit bingung dengan sikap Ellisa.
Kadang Dhefin merasa heran sendiri dengan sikap perempuan yang saat ini menjadi istrinya. Kelakuannya sejak kemarin menikah sampai hari ini selalu aneh - aneh membuat Dhefin bingung.
"Bareng yah. Aku antar kamu" Kata Ellisa.
"Jagan tan. Malu - maluin tau." Ucap Dhefin.
Ko malu - maluin sih..
Ellisa meringis pelan dalam hatinya merasa tidak enak dengan kata - kata suaminya. Malu? Ellisa langsung melirik penampilannya yang menurutnya udah cukup cantik.
Ellisa mengagguk - anggukan kepalanya mengusap lengan suaminya lembut lalu tersenyum samar.
"Kalau aku cium mau?"
"Eh. Umm"
Wajah Dhefin memerah, dengan bingung dia menggaruk kepalanya sendiri lalu turun dari motornya dan masuk kedalam mobil Ellisa.
Ellisa tersenyum menang seraya menyusul suaminya masuk kedalam mobil lalu melajukan kendaraanya. Sesekali Ellisa melirik Dhefin yang hanya diam saja tanpa mengatakan apapun.
Sebenarnya Ellisa tidak tau ada apa dengan dirinya yang tiba - tiba begitu menginginkan Dhefin. Padahal hanya beberapa kali saja dia melihat Dhefin, namun Ellisa sudah begitu menginginkannya.
Lain halnya dengan beberapa pria yang dulu mendekatinya, meski sering bertemu namun tidak ada satupun yang mampu membuat Ellisa terkesan. Namun Dhefin, dia berbeda ada sesuatu didalam diri Ellisa yang seakan bergejolak ingin sekali dekat dengan Dhefin.
Tanpa Ellisa fikir lebih lama lagi dia berani menemui orangtua Dhefin dan melamarnya. Meski ragu melanda perasaanya dan gengsi yang melambung tinggi namun pada akhirnya Ellisa bisa memiliki Dhefin dengan waktu yang cukup singkat tanpa harus menunggu lama.
"Tan di sini saja." seru Dhefin menujuk jalan yang ada di depannya.
"Ko di sini. Sekalian masuk parkiran aja."
"Jangan tan." ucap Dhefin buru - buru membuat Ellisa terpaksa menghentikan laju mobilnya.
"Kenapa? Ini masih jauh loh Fin." Tanya Ellisa merasa tidak yakin dengan keinginan suaminya.
Dhefin diam lalu melirik Ellisa dengan telinga memerah. Dhefin tidak tau mengapa dia merasa tidak nyaman berdekatan dengan Ellisa apa lagi melihat tatapan Ellisa yang seakan ingin melahapnya.
"Eum. Itu..." Ujar Dhefin bingung ingin mengatakan apa.
Ellisa mengerinyit lalu mengulurkan tangannya sebelum Dhefin keluar berniat untuk mencium punggung tangan suaminya. Namun Dhefin terlebih dahulu menarik tangan Ellisa lalu menciumnya.
"Dhefin pergi dulu tan." Ujar Dhefin lalu keluar tanpa memperdulikan tatapan heran Ellisa.
Ellisa merungut lalu menghembuskan nafasnya dengan kesal. Rasanya aneh ada suami yang mencium tangannya.
Aku istrinya kan! Ko kaya ibunya
Ellisa merutuki dirinya sendiri yang merasa kalah cepat dari Dhefin. Lain kali Ellisa akan terlebih dahulu mencium tangan Dhefin agar tidak seperti ini lagi.
Sesampainya di kelas dengan nafas terengah Dhefin langsung duduk disamping Dody yang masih sibuk dengan ponselnya. Sesekali dia melirik Dody yang tersenyum tidak jelas entah untuk siapa.
Kalau bukan untuk wanita - wanita berbadan sintal dan berdada wow tidak mungkin sahabat laknat nya ini tersenyum - senyum seperti itu.
Biasanya Dody akan diam saja bila tidak ada pemandangan yang membuatnya kegirangan.
"Dod."
"Apaan."
"Pak Bowo belum dateng?" Tanya Dhefin yang belum melihat dosen muda ada di kelas.
"Belum. Telat kali."
Dhefin menggaruk kepalanya mengagguk pelan seraya melirik Dody yang masih asik dengan ponselnya. Ia ingin menepuk punggung Dody namun ragu, sebenarnya ada yang ingin Dhefin tanya kan namun entahlah.
"Apa?" Dody meletakan ponselnya diatas meja lalu menatap wajah bingung Dhefin.
"Itu Dod. Si Tante." Ujar Dhefin dengan wajah memerah karena membayangkan wajah Ellisa.
Dody mengerinyit lalu tersenyum samar "Bini lo? Kenapa?"
Dhefin menghembuskan nafasnya lalu mengusap wajahnya pelan. Ragu - ragu Dhefin ingin curhat kepada Dody namun rasanya malu, apa kata Dody nanti. Dhefin kan laki - laki rasanya kurang pas saja.
"Eum. Itu...."
"Apa sih Fin?" Dody mulai ingin tau, dia mendekatkan kepalanya menunggu Dhefin membisikan sesuatu.
"Lo tau malam pertama kan Dod?" Tanya Dhefin dengan telinga yang sudah merah karena menahan malu.
"Hah. Ya ena - ena lah." Sahut Dody nyaring.
"Dody!" Dhefin melotot melihat suasana kelas yang sudah ramai takut - takut bila ada yang mendengar.
"Iya iya. Lo nggak bisa yah? Gue ada videonya, mau yang gaya apa?" cerocos Dody lalu mengambil laptopnya meletakan di atas meja lalu menyalakannya.
"Itu..." Dhefin menujuk layar laptop Dody yang banyak sekali film seperti itu dengan wajah heran "Nggak - nggak. Itu m***m Dod," Dhefin menggeleng menolak lalu bangkit dari duduknya.
Memilih untuk duduk dikursi paling depan mengabaikan Dody yang tertawa lebar. Meminta saran kepada Dody sama saja tidak benar, Dhefin lebih baik belajar sendiri tanpa harus diajari Dody si otak s**********n.
Selama perlajaran berlangsung Dhefin sama sekali tidak fokus, ada banyak bayangan Ellisa yang memenuhi isi kepalanya. Dhefin tidak tau mengapa dia sebegitunya memikirkan Ellisa padahal wanita itu baru dia kenal.
Sementara itu Ellisa baru saja sampai dirumah keluarga pak Adi setelah seharian dia bekerja. Senyuman Ellisa mengembang melihat jam tangannya sudah menujukan pukul lima sore, dia yakin Dhefin sudah pulang dan ada di kamarnya.
Ellisa berjalan terburu - buru memeluk laptopnya ingin segera masuk kedalam kamar dan menjukan apa saja yang baru Ellisa simpan dilaptopnya kepada Dhefin.
Ellisa ingin mengajari Dhefin agar bisa menjadi suami idaman yang baik. Ellisa yakin suaminya tidak akan menolak setelah mempelajari semuanya.
"Fin.." Seru Ellisa seraya masuk kedalam kamar memanggil Dhefin.
Tidak ada Dhefin di kamar hanya ada suara air yang terdengar di kamar mandi. Ellisa meletakan laptopnya diatas ranjang lalu membukanya seraya menunggu Dhefin keluar.
"Fin."
Dhefin keluar dengan rambut basah dan pakaian lengkap, Ellisa menatap suaminya dengan tatapan yang benar - benar tidak Ellisa mengerti. Dirinya seakan tertarik masuk kedalam dunia Dhefin.
"Tante ko..." Dhefin kaget kedua matanya mengedip melihat Ellisa yang tengah tersenyum manis kepadanya.
"Sstt. Sini.." Ellisa menepuk tempat disebelahnya meminta Dhefin untuk mendekat.
Dhefin menggeleng ragu, seingatnya Ellisa ini perempuan yang bisa melakukan apapun diluar dugaan Dhefin jadi dia harus menyiapkan mental untuk berdekatan dengan Ellisa.
"Nggak deh tan." Tolaknya memilih untuk menghindari Ellisa.
Ellisa mendengus lalu turun dari atas ranjang dan menghampiri Dhefin. Ditariknya tangan suaminya itu, memaksanya agar duduk disebelahnya dengan laptop yang sudah menyala.
"Kamu lihat itu.." Ellisa menujuk kearah layar laptopnya yang sudah mulai menjalankan film yang akan Ellisa tonton bersama Dhefin.
Dhefin tidak fokus, menggeser duduknya agar sedikit jauh dari Ellisa. Dhefin masih belum melihat film apa yang Ellisa tonton, tatapannya masih melihat kekanan dan kiri agar terhindar dari tatapan buas wanita disebelahnya.
Hingga suara rintihan disertari desahan yang keluar dari film tersebut membuat kedua mata Dhefin langsung beralih melihatnya. Kedua mata Dhefin melebar dengan telinga memerah melihat adegan apa yang sudah dia lihat, tubuh Dhefin mendadak panas dingin ketika perempuan dalam film itu semakin merintih.
Dhefin memalingkan wajahnya menjauhi kedua matanya dari adegan m***m yang bahkan baru kali ini dia lihat. Diusapnya kedua matanya sendiri seraya menarik nafas dalam-dalam.
"Finn.. Enghh.."
Dhefin menoleh melihat Ellisa meremas pahanya yang hanya berbalutkan celana selutut. Tangan Ellisa meremas, mengusap paha Dhefin berulang kali sampai Dhefin merinding dibuatnya.
"Tante ko m***m sih," Rungut Dhefin.
Dhefin gemas dia memukul pelan tangan Ellisa agar menjauhi pahanya.
"Ehh." Ellisa bingung lalu buru-buru mengusap wajahnya yang sudah memerah.
"Dhefin belum boleh di mesumin tan." Dhefin menggeser duduknya lalu menutup laptop Ellisa.
"Cuma sedikit ko Fin, jadi nggak papa yah.." Bujuk Ellisa.
Dhefin menggeleng lalu beranjak turun "Jangan. Dhefin belum siap." Tolak Dhefin.
"Sedikit.." Kata Ellisa dengan senyuman semanis mungkin.
Dhefin mengabaikan Ellisa dengan keluar dari dalam kamar, diusapnya wajahnya sendiri yang terasa panas setelah melihat film tadi. Apalagi tangan Ellisa yang mengusap dan meremas pahanya sangat terasa sampai dia keluar dari dalam kamar.
"Finnnn" Teriak Ellisa memanggil suaminya.
Ellisa berjanji akan meracuni otak bersih suaminya agar sama dengan dirinya. Agar tidak adalagi acara tolak menolak seperti ini, kan malu ditolak suami terus.
_______