PART 7

1342 Kata
Selamat membaca __ "Bagaimana dengan lamaran itu?" Tanya Pak Adi seraya menyesep teh hangatnya. "Dhefin bingun Yah." ujar Dhefin menatap ayahnya dengan wajah memelas. "Ayah tidak memaksa dan membiarkan kamu memutuskan semuanya. Ayah akan mengatakan kepada Bu Ellisa." "Tapi Dhefin tidak tau siapa tante itu? Bagaimana dia...." "Dia bos ayah di kantor. Dia juga yang menyetujui pinjaman ayah dan mengganti semua kerugian pemilik mobil yang sudah kamu tabrak." Ucap pak Adi menjelaskan. Dhefin diam tidak ada kata - kata lagi yang mampu dia ucapkan untuk mengungkapkan segalanya. Dia benar - benar dilanda kebimbangan. "Apapun keputusan mu ayah akan menerima dan akan mengatakannya pada bu Ellisa. Kamu anak ayah, ayah yakin sama kamu Fin!" Dhefin menghembuskan napas beratnya sebelum dia menjaba tangan pak penghulu dengan penuh keyakinan. Tangannya begitu terasa bergetar dengan keringan yang sudah membasahi wajahnya, ini adalah pengalaman pertama dan mungkin terakhir kalinya Dhefin mengucapkan ijab qabul yang harus dipertanggung jawabkan nantinya. Pak Adi tersenyum samar melihat putranya yang sama sekali tidak pernah dia sangka akan secepat ini menikah. Dhefin menarik napas seraya mengucapkan kalimat ijab qabul dengan suara lantang dan satu kali helaan napas. Ada rasa kelegaan yang Dhefin rasakan ketika sederet kalimat itu mampu dia ucapkan tanpa ada masalah apapun. Sah Kedua tangan Dhefin terangkat mengamini setiap doa yang dipanjatkan. Hari ini adalah hari dimana Dhefin telah resmi secara hukum dan agama memiliki sepenuhnya atas Ellisa. Tidak ada acara mewah nan meriah yang mungkin akan dihadiri banyak orang, hanya ada acara sederhana yang disiapkan keluarga Pak Adi untuk acara pernikahan putranya. Akad nikah dilangsungkan jam dua siang di masjid dekat rumah Dhefin, hanya ada keluarga Dhefin dan dua teman Ellisa serta saksi dari pihak Ellisa. Tidak ada yang datang dari keluarga Ellisa karena kedua orang tuanya sudah tidak ada dan hanya ada ibu tiri, sementara Papa Ellisa merupakan anak tunggal. Ellisa sendiri sempat menolak acara sederhana, dia ingin acaranya meriah namun Dhefin kekeh dan mengancam akan membatalkan pernikahan bila Ellisa masih saja ngotot mengenai acara. Diliriknya Ellisa yang baru saja duduk disebelah Dhefin. Dhefin tersenyum samar lantas mulai menandatangani berkas - berkas dan disusul Ellisa yang juga sama menandatanganinya. Setelah selesai semuanya Dhefin dan Ellisa menyalami tamu - tamu yang ada terutama seluruh keluarga Dhefin dan sahabatnya Dody dan Lola yang juga datang. Olin dan Eva juga datang untuk menghadiri acara ini, meski keduanya sempat tidak percaya Ellisa akan menikah namun akhirnya mereka tetap datang. "Bu Ellisa. Mari masuk" Ujar pak Adi sopan mempersilahkan Ellisa masuk kedalam rumahnya setelah acara selesai. "Ellisa saja pak." Ellisa canggung rasanya bila masih dipanggil seperti itu. "Oh iya nak Ellisa." Ellisa masuk kedalam rumah pak Adi melihat - lihat sekilas lalu melirik istri pak Adi tengah menata piring diatas meja makan bersama Ranum -- kakak Dhefin. Dhefin sendiri sudah melesat masuk kedalam kamarnya tanpa mengatakan apapun pada Ellisa. "Kamarnya ada disitu nak. Masuk saja." Ujar Ibu Dhefin tersenyum ramah pada Ellisa. "Yang pintunya cat coklat mba, ada tulisan nama Dhefin juga." Tambah Ranum yang iku memberitahu. Ellisa mengagguk paham lalu berjalan pelan mendekati kamar suami kecilnya. Dia mengetuk sebentar lalu masuk kedalam, tidak ada Dhefin hanya ada suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Kamar Dhefin cukup luas, ada kamar mandi meja belajar dan lemari dua pintu. Ukuran tempat tidurnya memang tidak terlalu besar namun masih cukup bila ditempati dua orang. Ellisa membuka satu persatu kancing kebayanya yang ada didepan. Sesekali dia melihat pintu kamar mandi belum juga dibuka. "Astagfirullah ...." Dhefin melotot gusar melihat Ellisa berdiri didepannya dengan sebagian kancing kebaya terbuka. Wajah Dhefin buru - buru memaling menghindari untuk melihat Ellisa. "Kenapa?" Tanya Ellisa bingung. "Eum." Dhefin menggelang lalu melangkah dengan tergesah keluar dari dalam kamar tanpa menoleh sama sekali kearah Ellisa. Segaris senyuman terukir indah di bibir Ellisa melihat dengan jelas telinga suaminya memerah lucu. Seluruh keluarga Pak Adi sudah berkumpul diruang makan, Ranum dan Bu Ainun juga sudah ada. Dhefin baru saja keluar dari kamar lalu duduk disalah satu kursi kosong. Ada Ellisa juga yang baru keluar dengan pakain dan riasan yang sudah tidak seperti tadi. Ellisa duduk disamping Dhefin. "Kalian jadi pindah?" Tanya Pak Adi disela - sela makannya. "Jadi Ayah. Mungkin besok." jawab Ellisa santai. "Pindah? Siapa?" Dhefin mulai ikut berbicara menatap kedua orang tuanya lalu beralih pada Ellisa. Dia tidak tau masalah pindah - pindahan, yang dia tau hanya menikah dengan Ellisa lalu beraktifitas seperti biasanya. "Lah kamu kan bakalan ikut sama Mba Ellisa," Sambar Ranum. "Kata siapa? Nggak lah." "Dhefin!" Tegur Pak Adi. Dhefin diam memilih memasukan makanan kedalam mulutnya tanpa mengatakan apapun lagi. Biarlah masalah apapun itu akan dia katakan pada Ayah dan ibunya nanti. Makan malam sudah selesai, Dhefin sudah masuk kedalam kamarnya duduk diatas ranjang dengan buku yang ada ditangannya. Kedua mata cantik Ellisa tidak bisa lepas dari wajah suami kecilnya yang nampak serius membaca buku tanpa memperdulikan ada Ellisa di kamar ini. Sejak masuk kedalam kamar tidak satu katapun Dhefin katakan kepada Ellisa. Dia sibuk dengam bukunya dan tugas kuliah yang cukup banyak. Ini malam pertama kan?! Ellisa tersenyum lalu bangkit dari duduknya setelah cukup lama tadi dia duduk didepan kaca besar untuk memperhatikan penampilannya. Dia berjalan pelan mendekati pintu lalu memutar kunci hingga pintu itu rapat terkunci. Kepala Dhefin menoleh melihat Ellisa yang tengah mendekat kearahnya. Dhefin mengerinyit bingung melihat tatapan Ellisa, wanita yang sekarang menjadi istrinya itu kini benar - benar mendekatinya. Dhefin menoleh kekanan dan kiri lalu melihat Ellisa lagi yang kini sudah duduk diatas ranjang. "Fin." "Iya." Sahut Dhefin berusaha fokus pada bukunya. Jari tangan Ellisa memainkan kancing piyama tidurnya meloloskan nya satu yang sama sekali belum bisa menarik perhatian Dhefin. "Kamu tau kan malam pertama itu apa?" Tanya Ellisa dengan mengedipkan sebelah matanya lalu meraih buku yang ada ditangan suaminya dan diletakannya dilantai. "Ap-a?" Dhefin cengo, wajahnya mendadak bingung dengan telinga sudah memerah karena malu membahas masalah yang bahkan tidak pernah dia bahas bersama Dody sekalipun. "Iya taukan? Tau juga kan apa aja yang mereka lakukan?" Susah payah Dhefin menelan ludahnya karena pertanyaan Ellisa yang sukses membuanya bingung dan dilanda kegugupan. Dhefin tidak tau bagaimana menjelaskannya karena dia memang tidak memahami hal semacam itu. Dia masih muda, belum pernah pcaran sama sekali. Dua kancing piyama Ellisa sudah lolos dan semua itu benar - benar tertangkap dipenglihatan Dhefin. Kedua tangannya sudah berkeringat karena melihat tatapan Ellisa yang seakan melecehkannya. "Eum." hanya itu yang mampu keluar dari mulut Dhefin, tangannya sibuk mengusap wajahnya yang mendadak berkeringat. "Mau dimulai dari mana?" Tanya Ellisa lagi yang kini sudah hampir membuka semua kancing piyamanya. Dhefin semakin bingung, dia masih muda tidak tau apa yang harus dia lakukan dengan Ellisa. Tubuhnya terasa kaku dan aneh melihat jelas sebagian tubuh Ellisa yang terbuka ada didepannya. Tubuh Ellisa mendekati Dhefin dengan tatapan yang tidak bisa lepas dari kedua mata hitam suaminya. Tangan Ellisa mengusap lembut pipi Dhefin, menekan bahunya pelan sehingga matanya tertuju kepada Ellisa. Ellisa tersenyum sumringah dalam hati seakan kebahagiaan tengah menelusup masuk kedalam hatinya. "Stop tan!" Tan Tan Tante lagi .... "Kenapa?" Tanya Ellisa bingung. "Em, eumm itu tan. Dhefin belum siap!" ujar Dhefin dengan telinga yang semakin memerah. "Hah?!' Ellisa mendadak kaku, dia bingung sendiri harus bagaimana dengan suaminya. Rasanya sulit dipercaya pria seperti Dhefin belum siap, apa yang salah dari Ellisa? Cantik sudah, wangi juga tapi kenapa Dhefin menolaknya. "Aku. Aku nggak bisa tan." terang Dhefin kikuk dan kembali lagi menelan ludahnya "Apanya?" Ellisa menaikan sebelah alisnya menatap Dhefin benar - benar ingin tau. Dhefin menggaruk kepalanya bingung harus menjawab apa. Dia harus banyak belajar lagi agar bisa mengetahui apa saja yang ada dalam rumah tangga itu. Dia menatap Ellisa dengan rasa malu yang sudah tidak tertahankan lagi. "Aku masih polos tan. Belum tau apa - apa." katanya lalu buru - buru masuk kedalam kamar mandi. Polos? Dia laki kan?! Astaga .... Ellisa memijit kepalanya yang berdenyut sakit lalu berusaha untuk mendekati pintu kamar mandi. Diketuknya pelan pintu itu agar Dhefin segera keluar. "Fin keluar." Cukup lama Ellisa berdiri menunggu suami kecilnya keluar dari dalam kamar mandi. Hingga pintu itu terbuka perlahan memperlihatkan Dhefin yang baru saja keluar. "Kamu kenapa? Sakit atau kenapa. Mau yah aku ajarin?" _____ Honahon
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN