Selamat membaca
___
"Fin, lo tau si Alya anak ekonomi nggak?"
Dody menatap Dhefin yang tengah memakan mie baksonya, menunggu jawaban lelaki itu dengan senyuman lebar.
"Nggak," sahut Dhefin singkat dengan mulut penuh makanan.
"Itu loh, Fin. Yang bokongnya gede, cantik gila, anjir." Dody menepuk punggung Dhefin hingga ia terbatuk pelan.
Lola cemberut kesal menyodorkan jus jeruk untuk Dhefin lalu memukul Dody dengan tasnya.
"m***m banget sih, Dod."
"Aw, aw. Lola, apaan sih." Dody menahan tas Lola lalu merebutnya.
"Ih, Dody." Lola mengerucutkan bibirnya menatap Dhefin seakan meminta bantuan untuk menghakimi Dody.
"Gue laki. Wajar dong gue m***m," bela Dody.
"Iyakan, Fin. Lo setujukan sama gue!"
Dhefin hanya menggeleng pelan menanggapi Dody dan Lola yang selalu seperti ini.
"Gue nggak ikut-ikutan," ucapnya seraya memakan kembali mie baksonya.
"Tuh kan, Dod. Dhefin aja nggak mau dukung, lo. Otak dia waras nggak kaya kamu."
Dody melotot ke arah Lola lalu kembali meminum jusnya. Susah memang mempunyai teman perempuan, tidak akan ada kata menang bila sudah membahas masalah wanita.
Sedikit menyinggung obrolan para lelaki, Lola sudah siap-siap melayangkan tasnya untuk memukuli punggung Dody.
"Alya, yang itu bukan?"
Dhefin membuka suara setelah selesai makan, menunjuk seorang perempuan cantik dengan rambut sebahu baru saja masuk ke kantin dan duduk pojokkan sedikit jauh dari meja yang Dhefin tempati.
Kepala Dody langsung menoleh mencari-cari keberadaan orang yang Dhefin maksud. Kedua bola matanya memutar menatap setiap orang hingga segaris senyuman lebar keluar dari bibir Dody.
"Nah, itu dia," ucap Dody semangat.
"Yang itu?" tanya Dhefin lagi.
"Iya, cantikkan. Calon gue tuh." Dody menepuk dadanya bangga dengan penuh keyakinan.
Lola meletakkan sendoknya dengan suara nyaring, kepalanya ikut menyembul dari balik punggung Dody berusaha melihat Alya yang mereka maksud.
"Oh itu. Cewek nggak bener tuh, gue denger dia simpenan Pak Pudjo."
Wajah Dhefin dan Dody sama-sama menoleh ke arah Lola. Dody menjewer telinga gadis itu hingga ia meringis kesakitan.
"Aduh, Dody sialan!"
"Mulutnya kebiasaan nih, Fin."
"Ini fakta, Dod," bela Lola.
"Fakta mulut mu. Au ah Lola rese."
Dhefin hanya terkekeh pelan melihat mereka tidak akan ada habisnya berdebat hanya karena masalah kecil. Tidak heran lagi Dhefin melihat semua itu karena memang keduanya sama-sama keras.
Kedua mata Dody sudah berkelana lagi mencari-cari wanita idamannya. Alya yang akan menjadi incaran Dody di kampus, sementara di luar masih tetap si badan sintal.
"Alya memang juara kalau ...."
"Kalau apa? Sexy, enak dikhayalin, enak dinikmatin atau enak ditidurin. Rusak otak lo, Dod!" Lola bersungut-sungut dengan wajah sangar mencubiti pinggang Dody tanpa ampun lalu meraih tasnya dan bergegas pergi.
Dody tertawa lebar melihat kepergian Lola, tidak akan ada lagi makhluk wanita yang bisa mengganggu obrolannya bersama Dhefin.
"Kira-kira ukurannya berapa yah?"
"Hah?" Dhefin bingung.
"36CE, ahh bukan. Kayanya 36E atau DE," ujar Dody dengan kedua mata berbinar.
"Apanya?"
Wajah Dody menoleh lalu menjitak kepala Dhefin cukup keras. Astaga Dody mengusap dadanya pelan karena susah membuat Dhefin mengerti.
"Dadanya, Fin ... huh"
Dhefin cengo wajahnya mendadak memerah hingga ia harus mengusapnya pelan. Dhefin menunduk seraya menggaruk kepalanya sendiri, entahlah Dhefin merasa malu bila harus membicarakan masalah itu secara gamblang.
"Eh, eh tunggu. Fin, Fin, Fin, itu si badan sintal bukan sih?" Dody kembali heboh menepuk lagi lengan Dhefin hingga dia menoleh.
"Siapa?" tanya Dhefin seraya melihat orang yang Dody maksud.
"Si toge, Fin. Tuh, tuh dia kesini." Dody buru-buru merapikan sisa makanan di atas meja yang berantakkan, malu bila ada wanita cantik dan melihat banyak kekacauan di meja.
Dhefin melihat wanita itu, memperhatikannya dengan teliti sambil menahan napas dengan susah payah karena lagi dia harus bertemu si tante yang tiga hari lalu melamarnya.
Wajah Dhefin langsung tertunduk memilih untuk pura- pura tidak melihat kedatangan wanita itu. Meski dalam hati ia merasa ingin tahu ada urusan apa lagi Ellisa datang ke kampusnya.
"Anjir! Milih dia gue, Fin. Sexy abisshh." Dody menelan ludahnya susah payah melihat kedua kaki jenjang Ellisa berjalan mendekati mejanya.
Dhefin mengetuk-ngetuk pahanya dengan jarinya tanpa melihat kedatangan Ellisa yang mungkin sudah mendekati meja.
Tiga hari yang lalu Dhefin memang belum menjawab lamaran Ellisa kepadanya karena ada beberapa hal yang mesti dia fikirkan lagi. Namun, hari ini Dhefin sama sekali tidak menyangkan dia akan datang sampai ke kampusnya.
"Hai."
Suara itu, suara lembut dengan senyuman manis yang mengiringinya membuat wajah Dody berubah memerah karena untuk pertama kalinya ia bisa melihat wajah wanita idamannya secara dekat.
Setelah sekian lama hanya bisa memandang, mengkhayalkan dan kini Dody bisa melihat langsung dan mendengar langsung suara lembut itu.
Wajah cantik, putih dengan hidung mancung dan kedua mata bulatnya membuat Dody belingsatan tidak karuan.
"Ah, em, eum ... hai juga," ujar Dody dengan suara terbata.
"Kamu?" Ellisa menggantungkan ucapannya melihat ke arah Dhefin yang terus membelakanginya tanpa mau melihat Ellisa sama sekali.
Dody buru-buru bangkit dari duduknya, mengelap tangannya pada celana jeans yang dia gunakan sebelum tangan itu meraih tangan putih Ellisa.
"Dody. Iya aku, Dody," ucap Dody buru-buru.
"Oh. Saya Ellisa, calon istri Dhefin," ujar Ellisa dengan senyumannya.
Wajah Dody mendadak pucat dengan mulut sedikit terbuka. Sama dengan Dhefin, dia langsung menegapkan posisi duduknya dengan tubuh yang sudah menghadap Ellisa.
Ellisa tersenyum samar melihat telinga Dhefin memerah dengan kedua mata melotot tajam.
"Hallo, Fin," Sapa Ellisa lalu mendekati Dhefin dan mencium pipinya sekilas.
Dody semakin melotot dengan apa yang baru saja dia lihat. Tubuhnya langsung duduk dengan tatapan butuh penjelasan.
Sementara Dhefin hanya mampu diam dengan tampang bingung, wajahnya masih terasa panas karena kecupan singkat di pipinya tadi.
"Fin ca-lon." Dody menelan ludahnya karena sulit sekali mengatakan itu kepada Dhefin.
Ellisa duduk di samping Dhefin dengan senyuman yang mulai semakin lebar. Sesekali dia melirik Dody lalu beralih lagi ke Dhefin.
"Tante."
Ellisa berdecak kesal, perasaannya lagi-lagi terasa dicubit karena panggilan itu apalagi di saat ada Dody teman Dhefin.
"Tante? Jadi si toge ini Tante, lo?" tanya Dody penasaran.
Dhefin menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal lalu berdecak.
"Tante, ngapain di sini?" tanya Dhefin dengan wajah kesal.
Ellisa tersenyum manis, melirik calon suaminya gemas.
"Lihat kamu lah," sahutnya manis.
"Mending Tante pulang deh. Malu tau."
Ellisa merengut melirik sekeliling tidak ada yang memperhatikan Dhefin hanya Dody saja, yang lain sibuk dengan urusan masing-masing.
"Nggak ada yang lihat kok," ujar Ellisa.
"Mending Tante pulang."
Dhefin mengatakannya dengan suara pelan takut ada yang mendengar selain Dody.
"Tunggu-tunggu. Maksudnya apa nih? Si toge bini lo, Fin?" Dody bingung dengan kedua mata yang bolak-balik memperhatikan Ellisa.
"Bukan, Dod. Dia c*m ...."
"Masih calon kok. Nanti dateng yah, undangan nyusul," sela Ellisa buru-buru.
Dody memijit kepalanya lalu menatap Dhefin bingung.
"Serah kalian lah, mau calon kek atau udah jadi istri juga. Gue nggak ikut-ikutan masalah rumah tangga kalian, gue cabut."
Dody bergegas pergi dari kantin meninggalkan Dhefin dengan Ellisa tanpa mau tahu lagi tentang hubungan mereka.
"Fin ...."
"Tante, ayo."
Dhefin menarik tangan Ellisa membawa wanita itu keluar dari kantin dan menuju parkiran. Ellisa mengikuti langkah Dhefin yang cukup lebar tapi masih bisa dia imbangi.
"Mobil Tante mana?"
"Sama supir tadi," jawab Ellisa.
Dhefin mengembuskan napasnya pelan lalu menarik lagi tangan Ellisa hingga sampai di parkiran motor. Dhefin menyerhkan helem pada Ellisa lalu menaiki motornya.
"Cepet naik!" seru Dhefin.
Ellisa bingung, wajahnya menoleh melihat sekeliling. Selama ini Ellisa hampir tidak pernah naik motor karena sedari kecil dia sudah terbiasa dengan mobil dan supir.
Ellisa menggigit bibirnya ragu melihat Dhefin lalu memutuskan untuk naik. Dhefin melihat Ellisa dari kaca spion lalu berdecak seraya membuka jaketnya dan memberikan pada Ellisa.
"Pake ini. Buat nutupin itu," ujar Dhefin sama sekali tidak melihat Ellisa dan menyalakan motornya.
Ellisa yang mengerti langsung menutupi pahanya yang terbuka karena roknya tersingkap cukup tinggi.
"Tante jangan ke kampus aku lagi, malu tau."
Ellisa mendekatkan tubuhnya pada punggung Dhefin agar bisa mendengar apa yang lelaki itu katakan.
"Cuma pengen tau aja jawaban kamu."
"Kan bisa nanti, Tan."
"Maunya sekarang, Fin. Aku nggak suka nunggu."
Dhefin diam sejenak lalu melirik Ellisa dari kaca spionnya. Susah memang berhubungan dengan wanita semacam Ellisa yang akan melakukan berbagai cara agar bisa mencapai tujuannya.
Dhefin sadar apa pun keputusannya akan mendapatkan risiko yang akan dia tanggung sendiri.
"Jawaban kamu apa, Fin?"
Dhefin diam sama sekali tidak ada niat untuk menjawabi pertanyaan Ellisa. Jujur saja Dhefin ragu antara iya atau tidak, di satu sisi Ayahnya bekerja di kantor Ellisa dan di sisi lain dia belum siap bila harus menikah muda.
"Fin." Ellisa menepuk punggung Dhefin.
"Apa?"
"Jawabannya, Fin? Iya kan."
"Iya," sahut Dhefin akhirnya.
____