PART 5

1164 Kata
______ "Fin, kok si toge nggak kelihatan yah, beberapa hari ini?" "Si toge?" Dhefin bingung. Dody melirik dari kaca spion motornya lalu mendengus kesal kepada sahabatnya itu. "Otak lo perlu digosok biar licin, Fin. Itu loh, si t***t gede, si body sintal yang suka gue tontonin di kafe," terang Dody sedikit kesal. Dhefin ini emang dodol, sedikit lola kalau sudah urusan perempuan. Perlu berulang kali Dody bicara agar bisa dicerna dengan mudah oleh Dhefin. "Mba-mba itu?" tanya Dhefin berusaha mengingat wajah perempuan itu. "Yang kemaren, Fin. Yang bareng Bapak, lo. Inget?" "Oh," sahut Dhefin singkat. Dhefin tidak ingat wanita mana yang Dody maksud. Namun, untuk kemarin ia masih bisa ingat wanita yang bersama ayahnya. "Kira-kira di mana yah, si toge itu nongkrong? Gue kangen berat sama dia, Fin." "Hm," gumam Dhefin. "Dhefin dodol. Kasih tanggapan kek," kesal Dody seraya mengerem mendadak. Dhefin memukul punggung Dody cukup keras karena kaget. "Apaan sih. Gue aja nggak kenal sama cewek itu, mana gue tau dia di mana." "Ya, kenalan dong lewat Bapak, lo. Entar lo yang kenalin ke gue, sekalian cari tau juga." Dhefin membuka helemnya setelah turun lalu memukul punggung Dody sekali lagi. "Kapan-kapan, yah. Makasih tumpangannya, hati-hati di jalan awas nabrak waria," ucap Dhefin dengan tawa lebar. Dody turun dari motornya lalu meninju pelan lengan Dhefin. "Doa lo nggak ada benernya." Dody geleng-gelang dongkol. "Apa sih, Dod. Pulang gih sana!" Dhefin mendorong tubuh Dody. Namun, lelaki itu justru mendengus lalu berbalik menaiki motornya. "Siapa tuh?" Dody menunjuk ke arah mobil hitam yang sudah terparkir cantik di halaman rumah Dhefin. Dhefin juga sama melihat ke arah mobil hitam itu, ada seorang pria dewasa yang baru saja keluar, lalu membawa beberapa parsel dan barang lainnya masuk ke dalam rumah orang tuanya. "Nggak tau. Tamu Ayah kali." Dody hanya mengangguk saja lalu menyalakan motornya dan pergi dari rumah Dhefin. Dhefin juga masuk ke dalam rumah seraya sesekali melirik ke arah mobil hitam itu. Sementara itu, Ellisa tengah duduk dengan tenang di ruang tamu keluarga Dhefin. Ada Pak Adi dan istri serta putrinya juga yang duduk di ruang tamu. Wajah Ellisa terlihat semringah seraya sesekali ia meremas kedua tangannya bergantian. "Diletakkan di sini saja Pak." Ellisa memerintahkan supirnya untuk meletakkan barang seserahan, parsel dan barang lainnya yang sengaja Ellisa siapkan untuk melamar putra Pak Adi. Ada buah-buahan, pakaian, tas, sepatu dan barang lainnya yang kira-kira dibutuhkan Dhefin. Kali ini Ellisa tidak main-main dengan tujuannya yang ingin menikah dengan putra karyawannya, ia ingin menunjukan kepada orang tua Dhefin bahwa Ellisa benar-benar serius. Setelah semua barang tertata dengan rapi Ellisa tersenyum puas lalu menatap keluarga Pak Adi bergantian. "Bu Ellisa ini?" tanya Pak Adi yang hanya mampu terputus di tenggorokan. Pak Adi menghela napas melihat niatan bosnya yang serius ingin melamar putranya. Ia tidak tahu akan mengatakan apa kepada Ellisa, wanita itu adalah bosnya dan semua ini juga menyangkut masa depan putranya. "Pak Adi ...." "Ini apa? Barang-barang ini?" Wanita paruh baya yang duduk di sebelah Pak Adi ikut bertanya lalu menatap Ellisa. "Em, Bu. Perkenalkan nama saya Ellisa, saya datang ke sini ingin melamar Dhefin ...." "Apa?!" Ellisa mengedip-ngedip berulang kali melihat kakak perempuan Dhefin menatapnya dengan tatapan terkejut. Apa salahnya Ellisa melamar, ia pernah menjalin hubungan lama menunggu dilamar lalu menikah dan dicampakkan. Sekarang ini Ellisa tidak ingin lagi seperti itu, menunggu dan menunggu tanpa ada kepastian, Ellisa lebih suka mengutarakan niatnya yang memang menginginkan Dhefin. "Iya, saya ingin melamar Dhefin." "Untuk siapa? Adik Mba, sepupu atau saudara?" tanyanya lagi. "Ranum ...." Pak Adi menegur anak perempuannya menatap penuh peringatan lalu kembali melihat Ellisa. "Maaf, Bu." "Tidak apa-apa, Pak." "Ibu dan Ranum, ini Bu Ellisa bosnya Bapak di kantor. Beliau datang ingin melamar putra kita untuk menjadi suaminya," jelas Pak Adi tidak ada yang ditutup-tutupi. "Apa? Menikah? Sama dia?" Ranum menunjuk Ellisa dengan kedua mata melotot. Ellisa kelabakan sendiri, melihat reaksi dari istri dan putri Pak Adi yang berbarengan menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Sekali lagi Ellisa meremas tangannya lalu membenarkan posisi duduk yang mulai terasa tidak nyaman. "Ranum!" lagi Pak Adi menegur putrinya. "Tapi Ayah. Astaga ...." Ranum mengusap wajahnya lalu melihat ibunya yang masih diam dengan tatapan yang belum juga berpaling dari Ellisa. "Bu Ellisa. Maafkan Ranum, dia hanya terkejut saja." "Iya, saya mengerti, Pak." "Bu, apa ini tidak terlalu cepat? Em, maksud saya, Bu Ellisa baru saja bertemu Dhefin sekali dan langsung melamar." "Tapi saya serius, Pak Adi. Bagi saya sekali bertemu sudah cukup." Pak Adi mengusap wajahnya pelan lalu melirik istrinya yang masih juga belum bicara. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, rasanya sulit apalagi ini perempuan yang melamar. Ellisa berusaha untuk tenang, duduk tegap dengan dagu sedikit terangkat. Ia tidak ingin menunjukkan rasa takut dan geroginya di depan keluarga Dhefin meski keringat sudah mulai membasahi wajahnya dan tangan yang sudah terasa dingin. Ellisa membuka tas dengan kikuk meraih tisu lalu mengusap sedikit demi sedikit keringat di dahinya. "Putra saya masih terlalu muda, saya rasa tidak pas untuk menikah sekarang," ucap Istri Pak Adi yang tiba-tiba saja membuka suaranya. Kedua kaki Ellisa mendadak gemetar, nyalinya mulai menciut melirik sekeliling hanya ada dia seorang tanpa ada yang menemani, sementara di hadapannya ada keluarga Dhefin. "Saya yakin Dhefin sudah siap ...." "Siap apanya, Mba. Adik saya belum bekerja umurnya masih muda dan belum dewasa," sela Ranum sedikit memajukan duduknya agar lebih jelas berbicara dengan Ellisa. Pak Adi menarik napas lalu menatap istri dan anaknya agar tidak terlalu menyudurkan Ellisa yang datang dengan niat baik. "Ayah ...." "Bu, biar Ayah yang bicara," ucap Pak Adi seraya menyentuh lengan istrinya. "Bu Ellisa, saya dan keluarga benar-benar belum bisa menjawab niat baik Ibu yang datang melamar putra kami. Kami hanya bisa menyerahkan keputusan lamaran ini kepada Dhefin," jelas Pak Adi. Ellisa mengagguk pelan dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Sesekali ia berusaha menarik napas lalu menghembuskan pelan. "Lamaran? Siapa? Siapa yang akan menikah?" Suara dari pintu depan terdengar begitu jelas, membuat semua orang yang tengah duduk beralih menatap Dhefin yang baru saja datang dengan rambut berantakkan. Kedua mata cantik Ellisa melihat Dhefin yang berdiri dengan wajah bingung. Ellisa merasa semakin kikuk melihat Dhefin sudah datang, bibir tipisnya ia gigir sedikit kuat untuk menyembunyikan kegugupannya. "Kamu," ucap Ranum. "Ranum!" Pak Adi melotot ke arah putrinya. "Fin." "Ayah, ini ...." "Masuk, duduk sini." Dhefin menurut duduk di dekat kakaknya lalu melihat wanita yang baru saja dibicarakan Dody tadi di depan rumah. "Fin, ini Bu Ellisa atasan Ayah di kantor. Beliau datang kemari ingin melamar mu untuk menjadi suaminya," jelas Pak Adi dengan wajah serius. Dhefin cengo, wajahnya bingung dengan mulut sedikit terbuka kedua matanya tidak bisa lepas dari wajah ayahnya. "Apa? Lamaran? Menikah? Dengan Tante ini?" Wajah Ellisa mendongak dengan perasaan yang seolah tersentil dengan kata-kata Dhefin. Ellisa meraba wajahnya takut-takut ada kerutan atau ada keanehan lainnya sehingga membuat Dhefin mengiranya setua itu. Namun, sulit karena ia hanya meraba tanpa melihatnya. "Iya, Fin." Dhefin menggaruk kepalanya pelan lalu melihat lagi Ellisa perempuan idaman Dody. "Tapi, Dhefin masih muda." Lagi Ellisa menelan ludahnya susah payah, rasanya Ellisa ingin tenggelam sekarang juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN