Part 3

1585 Kata
_____ "Nggak bisa gitu dong say. Lo kan tau gue kaya gimana, nggak bisa dadakan." Ellisa menjepit ponselnya diantara bahu dan telinga, tangannya sibuk membuka - buka berkas yang sudah tersusun rapih di atas mejanya.S esekali ia membaca seraya mendengarkan ocehan Eva yang saat ini tengah memerahinya karena besok tidak bisa datang keacara yang sudah Eva siapkan. "Pokonya lo harus dateng Lis. Gue nggak mau tau!" "Tapi.. Hallo.. Hallo." Ellisa mendesis menutup kembali berkasnya lalu melihat ponselnya yang sudah tidak terhubung lagi dengan Eva "b******k!" Maki Ellisa kesal. Ia melempar ponselnya asal diatas meja lalu menghempaskan tubuhnya dikursi seraya memijit pelan kepalanya yang terasa sakit lagi. Ellisa baru saja pulang setelah semalaman suntuk ia menghabiskan waktunya bersama Olin dan Eva. Tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu, ia langsung datang ke kantor dengan penampilan ala kadarnya. Lalu sekarang Eva sudah memarahi nya karena tidak bisa hadir diacara yang sudah Eva siapkan. Ada pertemuan penting yang tidak bisa Ellisa lewatkan karena ini menyangkut perusahaan. Yeni menelan ludahnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Tidak ada kata - kata apapun yang bisa Yeni katakan, tatapan tajam Ellisa dengan sorot keangkuhan seakan menghujam perasaan Yeni yang sudah takut duluan. Yeni baru saja membuka pintu ruangan Ellisa karena ada tamu untuknya. Namun saat tubuhnya baru saja melewati daun pintu makian kasar Ellisa keluar serta tatapan tajam yang diarahkan kepada Yeni membuat tubuh kurusnya hampir saja jatuh. "Ada apa?" Tanyanya dengan tatapan tajam yang seolah siap membelah perasaan Yeni. Perempuan bertubuh kurus dengan pakaian rapih itu bungkam. Mulutnya mendadak sulit dibuka, susah untuk mengeluarkan kata - kata. "Itu ...." Yeni tergagap antara bingung dan juga semakin tidak karuan. "Yeni!" Suara Ellisa penuh penekanan wajahnya serius menatap, Yeni menunggu jawaban yang keluar dari mulut sekretarisnya. Yeni hanya mampu menunjuk orang yang berada dibelakangnya. Tubuhnya menggeser agar orang itu bisa masuk. "Olin." Kening Ellisa mengkerut bingung. Untuk apa Olin sahabatnya ini datang dijam - jam kerja seperti ini. Biasanya ia akan datang ke rumah Ellisa langsung. "Tumben." Cibir Ellisa melipat kedua tangannya didepan d**a seraya menunggu Olin sampai dikursi depannya. "Hai" Olin menyapa riang senyuman manis penuh kebahagiaan merekah dibibir merah Olin. "Basi! Apaan?" Ellisa menaikan sebelah alisnya memperhatikan Olin yang sudah duduk manis didepannya. "Ketus banget sih Lis. Pantes nggak laku, galaknya nggak ketulungan." Cibir Olin yang hanya membuat Ellisa tersenyum samar. "Ada apa?" Olin menatap Ellisa lalu mengeluarkan dua lipatan undangan dengan warna yang berbeda, merah dan biru. Kedua undangan itu Olin angkat tinggi - tinggi untuk menunjukannya pada Ellisa. "Undangan. Warna biru dari Eva yang besok mau nikah .... "Apa?! Serius" Tanya Ellisa. Olin mengangguk yakin sedangkan Ellisa masih merasa bingung. Selama pertemuan semalam dan pembicaraan ditelpon tadi Eva tidak mengatakan ia akan menikah besok lalu mengapa sekarang tiba - tiba ada undangan. Ia tau Eva sudah hampir satu tahu ini menjanda karena suaminya yang jauh lebih tua meninggal. Berbeda dengan Ellisa yang sudah hampir empat tahun menjanda lebih lama dari Eva. "Ko bisa. Cepet banget?" "Ya namanya jodoh Lis." "Terus itu?" Tunjuk Ellisa pada undangan warna merah. "Em. Minggu depan gue tunangan." "Lo?" Olin mengangguk penuh keyakinan membenarkan pertanyaan Ellisa karena sudah hampir enam tahun Olin menjanda. Sementara Ellisa hanya mampu menghempaskan tubuhnya disandaran kursi . Merasa sendiri lagi karena teman - teman dekatnya akan kembali membina rumah tangga sementara Ellisa hanya bisa seperti ini berkelana dengan kesendirian tanpa tujuan. "Iya. Jangan lupa datang yah." "Gue usahain datang. Salam buat Eva juga." Ujar Ellisa dengan wajah datarnya. "Harus datang yah Lis." Ellisa mengangguk menatap kepergian Olin yang baru saja meninggalkan ruangannya. Jujur saja Ellisa merasa iri kenapa dirinya tidak bisa seperti Olin dan Eva memulai semuanya lagi. Mantan suami yang menikah dengan adik tiri setelah sekian lama melakukan hubungan dibelakang Ellisa. Laki - laki b******k dan adik tiri sialan yang tidak tau rasa malu itu akan datang lagi setelah cukup lama pergi entah kemana. "Permisi Bu Ellisa." Wajah Ellisa mendongak, ia menatap Yeni yang baru saja membuka pintu lalu masuk kedalam ruangannya diikuti seorang pria paruh baya yang berdiri dibelakangnya. "Siapa?" Tanya Ellisa langsung karena jujur saja hari ini Ellisa tidak terlalu betah berada di kantor tubuhnya terasa pegal sisa semalam. Rasanya pulang lebih awal adalah pilihan yang sangat tepat agar tubuh Ellisa bisa sehat kembali. "Pak Adi Bu." Ujar Yeni "Beliau...." Yeni menelan kata - katanya lagi karena melihat tatapan tajam Ellisa. "Silahkan duduk Pak Adi." Ellisa mempersilahkan Pak Adi untuk duduk. Laki - laki paruh baya dengan kemeja putih yang melekat ditubuhnya itu mengangguk duduk didepan atasannya lalu meletakan sebuah map biru diatas meja. "Ini Bu." Ujarnya ragu - ragu namun akhirnya ia berani mengulurkan map itu tepat didepan Ellisa. Wajahnya yang mulai sedikit berkerut memberanikan diri menatap wajah atasannya yang terkenal sangat tegas itu. Dengan harap - harapan cemas ia menunggu jawaban dari Ellisa. "Akan saya lihat nanti." Ucap Ellisa tenang tanpa membukanya sama sekali dan meletakanya diantara tumpukan map lainnya. "Tapi Bu. Saya membutuhkan tanda tangan ibu Ellisa." ujar Pak Adi wajahnya terlihat pucat dengan tatapan sayu. "Dalam lima bulan terakhir Pak Adi tercatat tiga kali mengajukan pinjaman lalu sekarang..." "Maaf Bu Ellisa. Tapi putra saya ...." selanya. Ellisa tidak lagi mendengarkan kata - kata Pak Adi yang ada didepannya. Kepalanya mendadak berdenyut sakit telinganya berdengung. Ia bangkit meraih ponsel dan tasnya lalu menatap Pak Adi sejenak yang kini juga menatapnya dengan bingung. "Permisi Pak." Ellisa bergegas pergi meninggalkan karyawannya yang masih berada di ruangannya. Kedua mata cantik Ellisa mengerjap berulang kali untuk memperjelas pandangannya. Ellisa butuh dokter ia tidak boleh sakit disaat pekerjaan melambai - lambai meminta untuk segera diselesaikan. Sementara itu Dody baru saja sampai bersama Lola disalah satu rumah sakit. Kedua tangan Lola memeluk erat keranjang buah yang sedari tadi ia bawa - bawa. Kepala Lola celingak celinguk kesana kemari mencari - cari nomor kamar Dhefin sahabatnya yang semalam baru saja mengalami kecelakaan. "Dod yang mana?" Tanya Lola, wajahnya bingung ia hanya mengikuti langkah Dody yang lebar - lebar dengan sesekali menubruk tubuh jangkung Dody. "Diem Lol." Dody berbalik lalu menempelkan telunjuknya diantara bibir berusaha memperingatkan Lola agar tidak terlalu berisik. "Apaan sih." Lola menyungut lalu memukul lengan Dody dengan tangannya. Pria m***m didepannya ini perlu merasakan panasnya pukulan Lola. Mereka berbelok disalah satu lorong lantai tiga lalu menemukan kamar Dhefin. Keduanya sama - sama masuk kedalam melihat Dhefin yang tengah memainkan ponselnya. "Jagoan." "Hai Fin." Lola menyapa dengan suara lembutnya meletakan keranjang buah diatas lemari kecil yang ada disamping ranjang Dhefin. "Gimana? Ada yang parah?" Tanya Dody setelah duduk didekat sahabatnya. "Cuma lecet dan sedikit benturan. Yang parah ya mobil yang gue tabrak Dod." Dhefin memang baru saja mengalami kecelakaan semalam, tanpa sengaja karena ngantuk ia menabrak mobil yang tengah parkir hingga bagian depannya hancur. Kemarin sore ia baru saja pulang dari cianjur menaiki motor pulang pergi karena ada keperluan disana hingga malamnya terjadilah kecelakaan ini. "Cepat sembuh yah Fin. Biar bisa ngumpul lagi. " Ujar Lol Dody melirik sinis kerah Lola lalu mendecih pelan. "Kenapa?" "Jijik gue." "Ikh Dody mulutnya" Lola merungut lalu kembali duduk disofa. Cukup lama mereka bertiga berteman karena memang jarak rumah mereka yang cukup dekat. Dhefin akrab dengan Dody dan Lola namun Dody, laki - laki dengan rambut gondrong yang selalu dikuncir itu tidak pernah suka dengan Lola entah karena apa. Obrolan mereka terhenti setelah melihat pintu ruang rawat terbuka menampakkan Ayah Dhefin yang baru saja membuka pintu. Ayah Dhefin berjalan pelan masuk kedalam dengan diiringi seorang wanita cantik yang sama sekali tidak mereka kenali. "Ayah." "Om." Sapa mereka berbarengan, wajah Dhefin masih terlihat bingung karena melihat orang lain yang berdiri dibelakang Ayahnya. Dody dan Lola juga sama bingungnya karena tidak terlalu mengenlinya. Dody menatap dalam wanita itu, fikiran liarnya seakan bekerja dengan sangat cepat mencoba untuk mengikat wanita yang mulai sedikit demi sedikit ia kenali. "Si toge Fin." Dody menepuk bahu sahabatnya dengan cukup keras sehingga wajah Dhefin menoleh untuk menatap Dody. "Toge? Siapa?" Tanya Dhefin bingung. "t***t gede Fin. Masa lo nggak inget? Di Kafe, si badan sintal itu." Seru Dody dengan senyuman lebarnya . Dody merapihkan pakaiannya lalu berusaha mencuri - curi pandang kerah wanita itu. Wanita yang beberapa hari ini tidak Dody lihat di kafe. Dhefin juga sama memperhatikan perempuan itu dengan kening berkerut, masih terasa ragu karena wanita yang kini ada disamping Ayahnya terasa lebih natural dengan dua kancing kemeja teratas yang terbuka dan rambut dikuncir satu dan wajah tanpa make up, berbeda sekali. "Dasar m***m!" Lola menghantam kan tasnya dikepala Dody berulang kali seraya melayangkan tatapan tajam kearah Dhefin. "Aw sakit Lol." Eluh Dody mengusap kepalanya. Pak Adi tersenyum melihat tingkah sahabat anaknya sebelum ia berdehem pelan. "Ini Bu Ellisa. Atasan ayah di kantor, Bu ini Putra saya Dhefin dan itu Lola dan Dody sahabat putra saya." Pak Adi memperkenalkan semua yang ada diruangan ini kepada Ellisa. Ellisa hanya tersenyum singkat lalu memperhatikan wajah - wajah mereka. Tadi setelah Ellisa baru saja akan keluar dari rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya tanpa sengaja ia melihat Pak Adi --- karyawan yang beberapa jam lalu ia abaikan di kantor, berada dirumah sakit ini Pak Adi menyapa Ellisa lalu menjelaskan mengenai keberadaanya hingga Ellisa tergerak untuk sekedar melihat keadaan Putra pak Adi. "Hallo Tante." Sapa Lola sumringah. Disusul Dhefin dan juga Dody yang juga ikut menyapa Ellisa. Ellisa hanya menanggapinya dengan senyuman ringan tanpa berminat untuk membalasnya. Tatapan Ellisa terkunci kepada salah seorang yang baru saja Pak Adi kenalkan sebagai putranya. Laki - laki muda dengan wajah gagah, hidung bangir dan alis tebal, kulitnya tidak terlalu putih namun cukup menarik perhatian Ellisa. "Lumayan." Gumam Ellisa dalam hatinya diiringi tatapannya yang kian menelisik semakin dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN