??
Suara dentuman sepatu hak tinggi dengan lantai yang saling beradu menggema di lobi sebuah perusahaan yang cukup besar ini. Perusahaan milik keluarga Darmono yang sudah diwariskan kepada Putri tunggal dari pasangan Tama Darmono dan Zarmma Darmono.
Semua mata tertuju kepada salah seorang yang baru saja datang, keluar dari dalam mobilnya lalu berjalan anggun dengan aura penuh dengan ketegangan.
Aroma tubuhnya yang memiliki wangi khas memudahkan semua orang yang berada diperusahaan ini untuk mengenali siapa orang tersebut.
Wanita cantik dengan rambut hitam panjang, memiliki tubuh sintal dan sepasang kaki jenjang. Membuat siapa saja mampu mengenali dengan mudah, siapa pemilik keindahan itu.
Pesonanya tidak pernah terlepas memikat setiap pasang mata yang melihatnya. Meski raut wajah cantiknya selalu dihasi dengan keangkuhan dan kesombongan yang menjulang tinggi namun tidak mudah melunturkan pesona dari seorang Ellisa.
Ellisa Zarma Andriyani Darmono perempuan berusia duapuluh tujuh tahun, perempuan yang terkenal akan kesombongannya dan keangkuhannya ini memiliki sikap yang sangat keras kepala, tidak mudah bagi banyak orang untuk bisa mengenalnya.
Kebiasaan hidup tertutup dari banyak orang, lebih memilih bekerja dari pada mencari teman. Membuat Ellisa tumbuh menjadi pemimpin yang paling dihormati karena sikapnya yang tegas dan tidak segan - segan memecat karyawan.
Ellisa si wanita sempurma bagi sebagian lelaki dan Ellisa si wanita liar bagi sebagian perempuan. Banyak yang menyukai Ellisa dan banyak juga yang membenci Ellisa.
Ellisa berjalan dengan anggun, meletakan ponselnya ditelinga seraya berbicara dengan seseorang, sesekali Ellisa menatap beberapa orang yang menyapanya tanpa memberikan senyuman sama sekali.
"Itu. Itu tuh Calon istri masa depan lewat." Ujar salah seorang karyawan bernama Alan.
"Kaya dia mau aja sama lo!" Cibir Risma salah satu teman Alan yang kebetulan tengah bersama Alan, Dio dan Dea.
"Kaya nggak ada cewek lain aja." Timpal Dea kurang suka setiap kali mendengar siapapun yang seolah menginginkan Ellisa -- Bos mereka.
"Lah emangnya kenapa? Dia janda, kaya lagi. Gue siap jadi lakinya, laki kedua juga mau."
"Sarap lo Lan."
Alan tersenyum - senyum setiap kali membayangkan tubuh sintal atasanya -- Ellisa yang selalu menggoda iman seorang Alan.
Siapapum juga akan mengutuk bodoh setiap kali melihat bagimana Ellisa memperlihatkan betapa luar biasanya seorang Ellisa. Wanita cantik dengan aura dingin namum mampu membuat Alan dan sebagian karyawan laki - laki lainnya meringis penuh harap sambil menghayalkan tubuh Ellisa.
"Ya nggak Dio? Bu Ellisa luar biasa kan." Alan merangkul tubuh kurus Dio dengan senyuman lebar.
"Iya Bu Ellisa memang sempurna tapi gue nggak mau terlalu berharap." Ujar Dio seraya berjalan beriringan dengan Alan.
Risma dan Dea juga mengikuti dari belakang, sama - sama masuk kedalam ruangan masing - masing.
"Lo tau kan Ris gosip Bu Ellisa yang gemar minum sama Clubbing."
Risma mengagguk, duduk dikursinya lalu menatap Dea dengan tatapan ingin tau "Pernah denger sih."
"Itu fakta loh Ris. Bu Ellisa emang nggak bener, cantik sih pintar lagi tapi kalau kelakuan kaya gitu keliatan kaya...."
"Omongan lo, De. Kaya lo cewek bener aja!" Tukas Alan yang baru saja masuk.
"Yeh. Ini Fakta Lan."
"Kalau fakta kenapa? Sadar diri lah De kita masih makan karena Bu Ellisa nggak baik ngomongin atasan sendiri!" Alan mengatakan dengan santainya meski kurang suka dengan kebiasaan sebagian perempuan dikantor yang gemar membicarakam Ellisa.
Alan meraih berkas - berkas lantas duduk dikursinya sementara Dea menghempaskan tubuhnya duduk di kursi dengan rasa kesal karena Alan.
"Paling t***t gede kaya gitu juga karena buatan manusia!" Dea masih menyela diam - diam atasnya merasa kesal sendiri dengan Alan.
"Iya kan dia janda De! Lo sinis amat sih!" Alan menyahutinya lagi sementara Risma hanya geleng - geleng kepala mendengar perdebatan mereka.
Sementara itu Ellisa baru saja masuk kedalam ruangannya dengan Yeni yang mengikuti Ellisa dari belakang, Yeni membawa beberapa map penting yang harus dicek oleh Ellisa.
Ellisa masih sibuk berbicara dengan seseorang melalaui sambungan telpon. Melihat sekilas Yeni yang tengah meletakan map - map itu diatas meja.
"Nggak bisa gitu Lin. Gue udah pesen tempat buat entar Malem masa lo nggak dateng." Ujar Elisa masih berbicara dengan salah seorang temannya -- Olin.
Olin terkekeh pelan dari sambungan telpon membayangkan wajah kesal Ellisa yang mungkin sangat menyeramkan saat ini.
"Gue dateng tapi telat." Kata Olin akhirnya.
Ellisa menghembuskan nafasnya seakan lega atas jawaban yang baru saja Ia dengar. Ellisa menghempaskan tubuhnya duduk dikursi dengan nyaman.
"Terus Eva dateng nggak?"
"Gue nggak tau Ellisa. Aduh ah ah."
Ellisa melotot mendengar teriakan Olin yang cukup menggelikan. Ellisa sudah bisa menebak apa yang saat ini tengah Olin lakukan.
"Olin udah siang kali!" geram Ellisa.
"Oke, oke sorry. Lo kerja sana bye."
Ellisa memijit keningnya yang merasa berdenyut setelah memutuskan panggilan dengan Olin. Olin temanya ini memang sedikit gila, kurang waras dan tidak punya malu.
"Apa Bu Ellisa membutuhkan sesuatu." Yeni mengatakanya dengan hati - hati takut - katut Ia salah bicara.
Ellisa menaikan sebelah alis nya menatap Yeni dari atas hingga hingga ujung kaki.
"Tidak ada dan tolong kancingkan pakaianmu dengan benar!" Ujar Ellisa dengan tatapan mendelik seakan memperingatkan Yeni.
Yeni gelagapan, meraba sendiri kemeja ketat yang Yeni gunakan untuk memastikan kancing yang dimaksud Bu Ellisa. Yeni mengagguk mengerti setelah menemukan dua kancing teratasnya yang terbuka.
"Baik Bu." Tutur Yeni dengan senyuman ramahnya.
"Jadwal saya apa hari ini?" Ellisa bertanya dengan satu tangan masih memijit keningnya dan tangan satunya membuka berkas - berkas yang harus Ia tanda tangani.
"Hari ini ada Meeting dengan perusahaan Pak Sutomo."
"Hm." Gumam Ellisa.
"Dan ada janji bertemu dengan Pak Angga."
"Bandot tua itu?!"
"Iya Bu."
"Batalkan janji dengan bandot tua itu!"
Yeni mengagguk mengerti dengan perintah Ellisa. Bekerja selama lima tahun bersama Ellisa membuat Yeni bisa sedikit demi sedikit memahami tingkah dan sikap atasnya.
Ellisa memang ketus, kritis dan berbicara sesuka hatinya membuat Yeni juga kadang merasa tersinggung. Namun setiap kali Yeni melihat hasil kerja dari Ellisa, Yeni selalu merasa kagum.
"Saya permisi Bu." Ujar Yeni yang hanya dijawabi anggukan kecil Ellisa.
Ellisa bergidik ngeri membayangkan si bandot tua Angga yang selalu saja mengejar - ngejar Ellisa. Demi Tuhan Ellisa pecinta berondong manis bukan laki - laki tua sejenis Angga.
Ellisa butuh kepuasan bukan Harta, Angga memang kaya raya dan Ellisa juga sama kayanya, namun dalam hal memuaskan Ellisa sangat tidak yakin Angga bisa melakukannya.
Angga Kusumo lelaki tua berusia limapuluh tahun dan memiliki tiga istri. Laki - laki tidak tahu diri yang selalu mengejar Ellisa.
Sungguh laki - laki menjijikan!
??