Laki-laki Misterius

1721 Kata
DARI balik meja pesanan itu Jihan memandangi sejenak beberapa pelanggannya, baik yang datang sendirian maupun bersama pasangan. Tampak mereka sangat menikmati sajian kedai sebagai menu makan malam. Meskipun hanya sebuah kedai angkringan sederhana, bukan berarti Jihan tidak ingin memberikan pelayanan yang terbaik. Karena memandangi setiap orang dapat bahagia, membuat Jihan juga ikut bahagia. Rasa lelah dan penat itu jadi tidak seberapa dengan hanya melihat orang-orang di sekitarnya bahagia oleh pekerjaan yang dilakukannya secara tulus. Jihan sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan mengeluh, meskipun kehidupannya tak seberuntung kehidupan orang lain yang bebas melakukan apa saja tanpa perlu mengerti arti susahnya mencari uang. Setidaknya ia akan terus mengingat nasihat almarhum ayahnya, bahwa kehidupan ini keras adalah untuk menguatkannya. Jihan memalingkan perhatiannya ke arah lain. Tiba-tiba matanya terfokus pada suatu sudut. Tepatnya di salah satu meja yang terletak paling ujung, di mana seorang laki-laki hanya duduk menyendiri di sana. Jihan menyipitkan mata, berharap dapat melihat dengan lebih jelas karena jarak yang cukup jauh dari meja seorang pelanggannya tersebut. Sayangnya wajah orang itu tetap tidak bisa terlihat jelas oleh Jihan. Apalagi dengan visor topi bisbol yang ikut menutupi sebagian wajahnya. Namun, jika dilihat dari penampilannya yang mengenakan setelan kaus dengan dibalut jaket parka warna biru, laki-laki itu sepertinya masih terbilang cukup muda. Entah apa yang membuat Jihan lantas tertarik mengamati laki-laki yang tengah berbicara di ponsel itu. Sementara di atas mejanya kosong, berarti sedari tadi laki-laki itu belum memesan apa-apa. Ah, mungkin laki-laki itu sedang menunggu seseorang. "Mbak melamun, ya?" Teguran Laras kontan mengagetkan Jihan. "Ng-nggak, kok," elak Jihan gugup, lalu pura-pura mengecek catatan di meja kasir. "Oh ya, Ras, kamu bisa gantiin mbak sebentar? Mbak mau buang sampah dulu." "Biar aku aja yang buang sampahnya, Mbak." "Nggak usah. Mbak aja sekalian mau ke toilet. Tolong, kamu layani pelanggan di sini." "Oke." Sebelum Jihan berbalik, sejenak ia kembali melirik laki-laki bertopi bisbol itu. Ia mencolek lengan Laras dan bertanya, "Ras, orang yang di sana itu, apa udah kamu samperin?" Laras mengikuti arah yang ditunjuk kakaknya, lalu mengangguk. "Mas-mas itu? Ya, katanya dia belum mau pesan apa-apa waktu tadi aku samperin. Tapi aneh juga, sih. Sejak terakhir aku tawari dia menu, kayaknya udah cukup lama dia cuma duduk di situ. Sebelumnya aku pikir dia lagi nunggu seseorang. Teman atau pacarnya kali. Oh, jangan-jangan orang yang dia tunggu nggak datang. Apa Mbak mau aku samperin dia lagi?" Pemikiran Laras ternyata sama dengan pemikirannya. Jihan tidak tahu siapa orang yang mungkin ditunggu laki-laki itu. Namun, hal itu memang bukan urusannya. "Nggak usah, biarin aja," sahut Jihan begitu ia menepis perasaan anehnya setiap kali memikirkan laki-laki tidak dikenal itu. Laras hanya mengangguk, sementara Jihan mulai menghampiri sekantong besar plastik hitam berisi sampah di pojok ruangan. Hawa dingin menyambut Jihan sesampainya di tempat pembuangan sampah. Berjarak sekitar dua puluh meter dari tempatnya, terlihat beberapa remaja yang tengah asyik bermain skuter elektrik di area pedestrian Taman KB. Disebut sebagai salah satu ikon Kota Semarang dengan namanya yang identik dengan patung Keluarga Berencana, Taman KB memang menghadirkan sejumlah ruang publik, khususnya keberadaan taman dalam kota untuk tempat berekreasi masyarakat yang ramah anak-anak serta keluarga. Taman KB merupakan alternatif taman di jantung Kota Semarang. Selain itu, taman yang letaknya menjauh sedikit dari keramaian Bundaran Simpang Lima ini lebih banyak ditumbuhi pepohonan tinggi sehingga cocok menjadi tempat bersantai dan memberi kenyamanan tersendiri untuk melepas kepenatan setelah seharian beraktivitas. Jihan bergidik ketika ia sadar mesti cepat-cepat membuang sampah, lalu kembali ke kedai. Namun, tidak segalanya berjalan baik. Setidaknya Jihan masih merasa segalanya berjalan baik sejak ia membawa tumpukan sampah di dalam kantong plastik hitam itu. Sayangnya pada sebuah keadaan yang datang secara tiba-tiba, tidak membuat diri Jihan terlalu siap untuk menerima teriakan peringatan seseorang itu. "AWAAAAAS!!!" ❤ Dikejutkan oleh sesuatu yang tengah melesat cepat ke arahnya, pikiran Jihan sudah menjadi kosong untuk memikirkan bagaimana cara menghindar dari ancaman tabrakan itu. Kantong sampah sudah terlepas dari tangannya yang secara refleks sudah ia gunakan untuk menutupi wajah. Jihan memejamkan kedua mata rapat-rapat, menahan napas, menahan teriakannya di dalam hati, hingga satu-satunya hal yang mampu terbit dalam pikirannya hanyalah pengendara skuter elektrik itu siap menabraknya. Jihan merasakan ada sesuatu yang membungkus tubuhnya. Jihan merasa tubuhnya terlindungi. Tubuhnya serasa ditarik begitu saja. Seperti membentuk alur lambat dan suara-suara di sekitarnya menghilang, ia merasakan tubuhnya melayang. Bukan kesakitan seperti yang Jihan perkirakan sebelumnya, melainkan dekapan seseorang di belakang tubuhnya itu telah membuat semua pikiran buruk Jihan menguap entah ke mana. Siapa orang yang melindunginya ini? Bagaimana orang itu bisa datang di saat tepat untuk menyelamatkannya? Jihan tersadar dengan keadaan selanjutnya. Skuter elektrik yang entah bagaimana bisa hilang kendali itu pada akhirnya berhenti setelah membentur tiang lampu pinggir lapangan. Sementara pengendaranya lebih beruntung hanya tersungkur di antara semak-semak tanaman. Teringat dengan orang asing yang sudah menolongnya, Jihan berbalik hendak mengucapkan terima kasih ketika niatnya tertahan. Orang asing itu sudah berlari menjauh. Jihan mengulurkan sebelah tangannya hendak memanggil, tetapi ia merasa sudah tidak dapat mengejar sosok laki-laki misterius tersebut. Ia hanya bisa menurunkan tangannya dengan pasrah sambil bertanya-tanya dalam hati, siapa gerangan laki-laki bertopi bisbol dengan jaket parka biru yang dikenakannya itu? Tunggu. Siapa? Laki-laki bertopi bisbol dan jaket parka biru? Apakah dia laki-laki sama dengan laki-laki yang berada di kedainya tadi? Jihan tidak tahu siapa laki-laki itu. Namun, dekapan yang diterimanya tadi entah kenapa tidak membuat Jihan merasa asing. Begitu hangat. Jihan memeluk tubuhnya sendiri. Bahkan kehangatan itu masih belum hilang. "Jihan!" Gadis itu bergidik, lalu menoleh ke asal suara bariton yang baru saja memanggil namanya. Ia hampir menyapa Libra ketika melihat seorang gadis remaja bersama anak laki-laki pengendara skuter elektrik tadi menghampirinya dengan agak tertatih. "Kak, maaf ya, tadi adik saya hampir nabrak Kakak," ucap remaja perempuan berkisaran usia tujuh belas tahunan itu begitu menolong adik laki-lakinya yang tadi hampir menabrak Jihan. "Jihan, apa yang terjadi?" Kali ini pertanyaan bernada cemas dilontarkan Libra. Laki-laki itu baru saja datang, wajar jika ia tidak tahu insiden skuter elektrik tadi. "Bukan apa-apa. Tadi aku cuma hampir kena tabrak skuter anak ini," jawab Jihan. "Apa?! Terus ada yang sakit? Mana yang sakit?" berondong Libra hingga tak tanggung-tanggung menunjukkan rasa khawatirnya yang berlebihan. Sebelum perlakuan Libra membuatnya risi, Jihan harus berusaha menenangkan laki-laki itu dulu. "Aku nggak apa-apa, Libra. Udah kubilang kan tadi aku hampir kena tabrak skuter. Hampir, dan kamu bisa lihat sendiri aku nggak jadi ketabrak. Justru adik ini yang kelihatannya terluka." Jihan mengalihkan perhatiannya pada anak laki-laki yang tengah dipapah kakak perempuannya itu. "Dek, apa kakimu masih sakit?" "Nggak apa-apa kok, Kak. Cuma lecet dikit," sahut anak laki-laki itu. "Kamu sih, Dek. Tadi kan kakak udah bilang jangan ngebut-ngebut," omel sang kakak. "Maaf, Kak." Anak laki-laki sepantaran SD itu hanya tertunduk tanpa berani melihat kakaknya. "Udah, nggak apa-apa. Tapi lain kali kamu harus lebih berhati-hati, karena di sini banyak orang. Jangan sampai bikin celaka diri sendiri dan orang lain," ujar Jihan lembut kepada anak laki-laki itu sebelum pergi dengan dipapah kakaknya sambil membawa skuter elektrik sewaanya yang masih untung tidak ikut rusak. "Kamu yakin nggak apa-apa? Wajahmu kelihatan pucat," kata Libra kemudian. Jihan tersenyum kecil. "Iya, aku baik-baik aja. Cuma sempat terkejut tadi. Tapi untung aja ada orang yang menyelamatkanku, makanya aku nggak jadi ketabrak skuter itu." Libra mengernyitkan kening. "Menyelamatkanmu? Siapa?" "Ada lah cowok, tapi aku juga nggak tahu dia siapa," balas Jihan sambil mengangkat bahu, lalu mengembuskan napasnya. "Kamu kenal siapa dia?" "Gimana bisa kenal? Aku bahkan nggak bisa lihat wajahnya. Dia langsung pergi gitu aja sebelum aku sempat bilang terima kasih." Libra tidak bertanya lagi. Ia sedang berpikir, kenapa orang yang menyelamatkan Jihan tadi malah langsung pergi, sementara setidaknya dia dapat memastikan kembali keadaan Jihan dan menampakkan wajahnya. Apakah kedatangan orang itu memang hanya kebetulan atau .... "Kamu nggak punya pengagum rahasia, kan?" Sebelah alis Jihan terangkat heran. "Pengagum rahasia? Apa maksudmu?" "Ya mungkin aja dia seorang pengagum rahasia yang sengaja ngikutin kamu. Lalu begitu dilihatnya kamu berada dalam bahaya, wuuush ... dia bisa beraksi layaknya pahlawan di cerita film-film itu," kata Libra tertawa kecil sambil memarodikan aksi superhero terbang. Nada perkataan Libra mungkin terdengar seperti menggoda Jihan. Namun, ia lebih tahu persis kalau hatinya sedang tidak ingin bergurau. Ia mengkhawatirkan Jihan. Sungguh, sangat mengkhawatirkannya. Ia tidak ingin ada orang lain yang mengganggu gadis sebaik Jihan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan melindungi Jihan dari orang-orang yang bisa menyakiti gadis itu. Karena ia menyayangi Jihan. Karena ia tidak ingin melihat Jihan tersakiti lagi. Mudah-mudahan saja kekhawatirannya itu salah. Terus terang saja hatinya sendiri pasti akan sakit jika harus melihat Jihan sampai dekat dengan laki-laki lain. Sebenarnya Jihan sendiri sempat merasa tersentak. Ucapan Libra yang menurutnya hanya sebagai candaan itu sebenarnya juga tengah dipikirkan Jihan. Pengagum rahasia? Ya, Jihan masih yakin sekali laki-laki misterius itu yang sedari tadi duduk di kedainya. Sejak kapan laki-laki itu bisa tiba-tiba datang menyelamatkannya di saat ia merasa tidak diikuti? Ya Allah, apa itu artinya laki-laki itu memang mengikutiku? Tidak-tidak, jangan berpikiran yang aneh-aneh, Jihan. Laki-laki itu bukan siapa-siapa. Bukan siapa-siapa! "Mana mungkin. Kamu ini ada-ada aja," tukas Jihan mengibaskan sebelah tangannya sambil berusaha membuat tawanya agar tidak terdengar hambar, lalu mengalihkan pembicaraan. "Oh ya, omong-omong, kenapa kamu bisa sampai di sini? Bukannya kamu punya jadwal mengajar?" Libra sekilas menoleh jam tangannya, lalu menatap Jihan dan tersenyum. "Masih ada waktu," sahutnya. "Aku sengaja sempatin mampir ke sini dulu. Tadi aku cari kamu di kedai. Tapi kata Laras, kamu lagi buang sampah. Jadi aku susul aja ke sini." "Ya udah, kita balik ke kedai, yuk. Oh ya, ada menu nasi gandul spesial hari ini dan kamu mesti cobain. Khusus buat kamu yang udah sengaja sempatin mampir ke sini, aku kasih gratis, deh." Jihan berjalan bersama Libra kembali ke kedai setelah ia memindahkan kantong plastik ke bak pembuangan sampah. "Wah, yang benar gratis? Kalau begini, besok-besok aku harus sering mampir, nih." "Boleh aja, asal besok-besok kamu harus bayar, hahaha ...." Obrolan mereka masih terus berlanjut hingga sosok kedua orang itu semakin menjauh. Namun, tanpa mereka sadari, rupanya masih ada seseorang yang tengah bersembunyi di balik sebatang pohon besar dan ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Seseorang yang entah siapa itu telah sepenuhnya bersandar pada batang pohon tersebut dengan kedua tangannya yang mengepal erat di samping tubuh. Awan malam kelabu yang bergerak menutupi cahaya sang dewi malam membuat sebagian sosok laki-laki itu terbungkus dalam kegelapan. Hanya sedikit terpaan dari cahaya lampu sekitar taman yang masih bisa memperlihatkan jaket parka biru yang dikenakan laki-laki tak dikenal itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN