Haruskah Bintang?

2037 Kata
UDARA malam menerpa wajah Fania begitu ia membuka pintu kaca geser yang menghubungkan area dapur bersih serta ruang makan utama dengan teras samping rumah. Dihirupnya dalam-dalam udara malam itu hingga semerbak mawar putih yang terbawa embusan angin menyapa indra penciumannya. Ah, mawar putih favorit ibunya. Fania mengempaskan tubuhnya pada ayunan rotan di pekarangan samping rumahnya. Sambil merapatkan kardigan, ia memandangi taman minimalis yang selalu dirawat ibunya semasa hidup. Ibunya memang hobi berkebun dan mawar putih adalah bunga kesukaannya. Tak heran, jika rimbunan mawar putih tumbuh mendominasi taman minimalis tersebut. Sekilas Fania teringat ketika dulu ia dan ibunya sering menghabiskan waktu sore dengan duduk berdua di ayunan rotan yang menghadap langsung ke arah pekarangan taman minimalis itu. Sejak Fania masuk kuliah kedokteran, ibunya yang tadinya lebih sibuk dengan urusan pekerjaan, entah kenapa mulai meluangkan banyak waktu untuk Fania. Saat itu ibunya selalu berpesan agar Fania rajin belajar. Kelak Fania harus dapat mewujudkan cita-cita dokternya. "Fania janji akan jadi dokter yang hebat supaya bisa merawat Mama saat tua nanti." "Mama yakin saat kamu sudah jadi dokter dan bersungguh-sungguh mengabdi, setiap orang yang kamu rawat pasti bisa merasakan ketulusanmu. Kamu tahu? Melihat semangatmu yang seperti ini, jadi mengingatkan mama dengan seseorang." "Seseorang? Siapa, Ma?" "Teman lama mama. Sejak kecil cita-citanya juga sama sepertimu, yaitu menjadi seorang dokter. Dengan semangat belajar dan usaha, akhirnya dia berhasil meraih cita-citanya itu. Bahkan mama sempat mendengar kalau dia menamatkan pendidikan fellowship termuda di angkatannya sampai kini bisa mendirikan rumah sakitnya sendiri." "Wah, hebat banget! Tapi Fania nggak pernah tahu kalau Mama punya teman seorang dokter. Kok Mama nggak pernah cerita, sih?" "Sebenarnya begitu banyak kenangan yang tidak dapat mama lupakan bersamanya. Dulu mama dan teman mama itu sangat dekat sampai bisa dibilang kami sudah seperti saudara sendiri. Tapi suatu keadaan membuat hubungan kami mulai merenggang. Sejak saat itu mama tidak pernah bertemu lagi dengannya. Yah, semua ini memang salah mama." "Salah Mama? Memangnya apa yang udah Mama lakukan?" "Sebuah kesalahan yang mama lakukan di masa lalu. Mama sudah merebut kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya." "Ya, tapi kesalahan apa, Ma? Dan merebut kebahagiaan apa maksud Mama?" "Suatu saat nanti kamu akan tahu sendiri." "Ah, Mama ...! Kok malah bikin Fania penasaran akut, sih?" "Duh, bahasanya sudah pakai akut segala. Memangnya penasaran itu penyakit?" "Iya, penyakit tanda tanya besar di kepala Fania yang cuma bisa sembuh kalau Mama cerita ke Fania." "Dasar kepo!" "Yee, Mama. Fania serius, Ma. Mama malah meledek. Ayo dong, Ma, Fania ingin tahu lebih banyak tentang teman Mama itu." "Sudah-sudah, nanti kalau sudah waktunya pasti mama cerita, kok." "Janji ya, Ma?" Percakapan itu adalah percakapan terakhir sebelum keesokan paginya mendadak ibunya harus berangkat ke Jepang dengan alasan ingin menemani perjalanan bisnis ayah Fania sekalian berlibur di sana. Dengan janji ibunya akan segera kembali. Kembali ... dan memang kembali dengan kenyataan duka. Ibunya meninggal di Jepang. Bukan pada saat datang ke Jepang karena ingin berlibur, melainkan saat bertempur di rumah sakit melawan penyakitnya. Menjadi dokter sekalipun, rasanya sudah tidak menarik lagi bagi Fania. Untuk apa, jika sejak awal pun ia seolah menjadi orang yang tidak mampu merawat ibunya saat sakit. Paling tidak jika semua orang peduli dengan perasaannya, mereka dapat membiarkan Fania ada di sisi ibunya. Meskipun itu untuk yang terakhir. Perhatian Fania beralih ketika ia mendengar dering ponsel. Tangannya merogoh ke dalam saku kardigan yang dikenakannya dan mengeluarkan benda berlayar sentuh itu sampai ia mendapati sebuah panggilan masuk dari ayahnya. Fania mengernyit. Ada apa ayahnya menelepon malam-malam begini? "Halo?" sahut Fania. "Kamu belum tidur?" Suara ayahnya terdengar jelas di telinga kiri Fania. Fania menyunggingkan senyum kecutnya. "Apa Papa menelepon Fania cuma untuk menanyakan hal itu? Sejak kapan Papa mulai peduli sama Fania?" Ia bisa merasakan nada suaranya terdengar sinis dan ia tidak peduli jika memang terdengar seperti itu. "Fania, papa tidak ingin memulai pertengkaran denganmu dan kamu tahu benar itu." Di balik ekspresinya yang sulit diterka, Fania berpura-pura membuang napas lelah sembari memindahkan ponsel ke telinga kanan. "Ya, Fania tahu kok, orang sesibuk Papa nggak mungkin nelepon kalau nggak ada sesuatu yang penting. Jadi, ada apa Papa nelepon Fania sekarang?" "Papa cuma ingin tanya apa Bintang ada di rumah sekarang?" "Apa Papa harus nanyain dia ke Fania?" Fania berusaha mempertahankan senyum angkuhnya. Ia hanya mencoba tidak goyah, walaupun harus menahan gejolak kemuakannya dengan mengatupkan rahang rapat-rapat. Satu hal yang ia rasakan. Hatinya sakit dan tertekan. Bintang ... Bintang ... haruskah nama itu yang pertama kali mendapat perhatian ayahnya? Jadi laki-laki itu lebih penting daripada dirinya? Siapa anak kandung ayahnya sendiri di sini? "Bintang tidak menjawab teleponnya." Kembali suara ayahnya terdengar. "Lalu, apa hubungannya dengan Fania?" "Fania, memangnya sulit sekali bagimu saat papa hanya minta kamu memberitahu apa Bintang ada di rumah atau tidak?" Telinga Fania panas. Kebencian berkilat di matanya. Dengar itu? Ayahnya sendiri bahkan mampu menggertaknya hanya karena Bintang. "Oh, Papa terdengar perhatian sekali ya sama dia. Mungkin Fania dan dia bisa bertukar tempat tentang siapa yang lebih pantas jadi anak kandung Papa." "Jangan salah paham, Fania. Papa tidak ada maksud membeda-bedakan kalian berdua ...." "Fania nggak tahu," sela Fania, seolah tidak ingin mendengar penjelasan ayahnya lebih lanjut. Mati-matian ia menjaga suaranya agar tidak terdengar bergetar. "Anak-kesayangan-Papa-itu ... Fania nggak tahu di mana dia saat ini." Fania tidak berbohong. Sejak pulang dari rumah sakit, ia memang belum melihat Bintang. Sebenarnya dari posisi Fania saat ini pun ia bisa melihat jendela kamar yang ditempati Bintang. Jendela itu gelap. Bukankah itu artinya Bintang sedang tidak ada di kamarnya? Namun, Fania tidak peduli dan ia memang enggan mencari tahu. Helaan napas panjang keluar dari mulut ayahnya. "Fania, papa tahu kamu masih marah sama papa. Tapi bisakah kamu tidak melampiaskan kemarahanmu itu pada Bintang?" pintanya. "Bisa, kalau Papa juga bisa meninggalkan wanita itu," sahut Fania cepat. Sepersekian detik, Fania tidak mendengar apa pun tanggapan ayahnya. Sudah ia duga ayahnya tidak mungkin bisa memenuhi permintaan itu. "Kenapa? Papa nggak bisa melakukannya?" "Maafkan papa, Fania, tapi ini bukan saat yang tepat untuk membahas masalah itu. Papa akan tutup teleponnya. Kamu beristirahatlah." Sambungan dengan ayahnya sudah terputus, tetapi Fania masih menempelkan ponselnya di telinga. Ayahnya menghindar. Baiklah, itu jawaban yang cukup. Sekarang Fania tahu kenapa Tuhan memanggil ibunya lebih cepat. Ya, karena ibunya tidak berhak lebih sakit daripada ini. ❤ "Dua porsi nasi gandul semuanya Rp30.000." Jihan tersenyum ramah seiring menyerahkan uang kembalian kepada seorang pelanggan yang baru saja menyelesaikan transaksi pembayaran di kedai nasi gandulnya. Ia memastikan belum ada lagi pelanggan yang akan datang memesan atau membayar, sehingga ia bisa sedikit merileksasikan leher dan bahunya yang terasa penat. Mengingat sepanjang hari ia sudah menghabiskan waktunya di rumah sakit, akan sangat nyaman jika saat ini ia dapat bertemu tempat tidurnya yang empuk. Namun, keinginan itu harus ditundanya sebentar karena ia juga tidak mungkin membiarkan Laras, adik perempuannya mengurus pekerjaan di kedai sendirian. Seorang gadis praremaja dengan baki kosong yang dibawanya mengalihkan perhatian Jihan dari meja kasir. Jihan tersenyum menyambut adiknya yang usai mengantar pesanan ke salah satu meja pelanggan mereka. Akan tetapi sebaliknya, wajah Laras justru tampak muram tanpa berniat memendam lebih lama keluh kesahnya kepada Jihan. "Mbak merasa nggak sih kalau semenjak ibu sakit, kedai kita cukup kehilangan banyak pelanggan? Katanya rasa nasi gandul buatan ibu jauh lebih enak daripada yang kita sajikan sekarang. Apalagi dari kemarin juga banyak tuh yang cari-cari peyek buatan ibu. Aku bilang aja kalau kita lagi nggak buat peyek. Resepnya kan cuma ibu yang tahu." Jihan masih menatap adiknya yang memasang wajah manyun itu. Lima tahun lalu ketika Jihan mendapat beasiswa kuliah kedokteran di Semarang, ia terpaksa berpisah dengan ibu beserta adiknya yang masih tinggal di kampung halaman mereka, Pati. Untungnya selama di Semarang, ada Pakde Hasan-saudara sepupu almarhum ayahnya-serta istrinya, Bude Pudji yang berbaik hati memberi Jihan tumpangan tempat tinggal. Selang setahun kemudian, berkat bantuan Pakde Hasan pula, Jihan bisa membawa ibu dan adiknya ikut tinggal bersamanya di Semarang setelah Pakde Hasan menawarkan sebuah lapak di kawasan pujasera Taman KB untuk ibu Jihan berjualan. Pakde Hasan tahu benar kalau ibu Jihan sangat pandai membuat nasi gandul. Menurut Pakde Hasan, ibu Jihan mampu mengembangkan usaha berjualan nasi gandul itu lebih baik di Semarang. Apalagi dengan berada di lokasi yang sangat strategis seperti di Taman KB. Hingga akhirnya dikenal lah kedai nasi gandul Bu Lilis yang selalu ramai dikunjungi pelanggan setiap harinya. Dari hasil berjualan itu, Jihan dan keluarganya bisa mengontrak rumah kecil-kecilan. Jihan juga bisa melihat Laras masuk ke salah satu SMP favorit di Semarang. Sampai sekarang, nasi gandul ibu Jihan hampir tidak pernah sepi pelanggan. Namun, sejak ibu mereka masuk rumah sakit dan kedai itu terpaksa tutup untuk sementara waktu, terlihat kedatangan pelanggan memang tidak seramai sebelumnya. Omset yang biasanya dihasilkan lebih per harinya pun tidak sebanding dengan yang dihasilkan beberapa hari ini. "Kamu ini terlalu berpikiran yang enggak-enggak," sahut Jihan sambil mencubit ujung hidung Laras yang tentu saja segera membuat adiknya itu mengerang. "Makanya kamu harus belajar resep peyek dari ibu supaya kamu juga bisa membuatnya sendiri." "Aowh, Mbak Jihan ... sakit, tahu! Mbak mau bikin hidungku yang mancung ini lepas dari wajah cantikku?!" sungut Laras sambil berusaha menyelamatkan hidungnya dari cubitan tangan Jihan. Melihat Laras sibuk mengomeli aksi jailnya, Jihan justru terkikih dan semakin bersemangat menggoda adiknya yang telah tumbuh sebagai siswi SMP itu. "Oh, yang barusan tadi mbak nggak salah dengar, kan? Sejak kapan gadis tomboi sepertimu mulai sadar kalau dirinya ternyata cantik? Jangan-jangan karena kamu lagi jatuh cinta, ya? Sama siapa? Teman sekelasmu? Hayo, ngaku ke mbak. Kamu udah punya pacar, ya?" "Mbak Jihan apaan, sih? Siapa juga yang punya pacar? Kan Mbak sendiri yang bilang kalau aku harus fokus dulu dengan sekolah. Nggak boleh pacaran, karena pacaran itu sama artinya mendekati zina. Lebih banyak mudarat daripada manfaatnya." "Nah, itu tahu." "Mbak, terus gimana dong dengan masalah kedai kita?" Jihan mengembuskan napas panjang, memandangi adiknya yang semakin memayunkan bibir. Masalah kedai, bagaimanapun juga ia mengerti kekhawatiran Laras. "Mbak mengerti. Tapi lebih daripada itu, Ras, kita ambil aja sisi positifnya. Bukankah dengan begini ibu jadi punya waktu istirahat? Kesehatan ibu itu yang paling utama. Lagi pula rezeki itu udah ada yang mengatur. Tenang aja, rezeki tiap-tiap orang itu nggak akan tertukar, kok. Kita hanya perlu bersabar. La tahzan, innallaha ma'ana. Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Serahkan semuanya kepada Allah." "Mbak benar," sahut Laras yang kembali bisa tersenyum. Gadis itu beralih ke belakang rak dan mulai mengelap piring-piring di tumpukannya. Di sela kegiatannya itu, ia lantas bergumam, "Mbak, setelah aku pikir-pikir, kayaknya mending aku nanti nggak usah kuliah aja, deh. Kan biaya kuliah juga mahal. Aku sampai SMA aja juga udah cukup. Setelah lulus SMA, aku mau langsung cari kerja supaya bisa bantu ibu." "Nggak, Laras! Kamu harus ngelanjutin kuliah. Kamu kan pernah bilang ingin masuk Fakultas Hukum, terus mau jadi seorang advokat. Mbak sama ibu sangat berharap kamu bisa menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Soal biaya, mbak yakin nanti juga ada jalannya sendiri. Lagian sekarang kan kamu masih kelas dua SMP. Kita masih bisa nabung dulu untuk biaya kuliah kamu nanti. Kalau aja dulu mbak nggak ambil beasiswa kedokteran itu, mungkin saat ini mbak udah bisa mendapat ijazah untuk cari kerja di tempat lain." "Mbak Jihan, Mbak jangan bicara begitu," tukas Laras menaruh serbet, menghentikan sejenak kegiatannya mengelap piring. Ia mendekati Jihan dengan memberikan tatapan tegas. "Gimana Mbak Jihan bisa berkata seperti itu, sementara cita-cita Mbak dari dulu adalah ingin menjadi seorang dokter? Aku tahu belajar kedokteran itu butuh waktu yang lebih lama. Tapi Mbak nggak boleh menyerah. Demi aku dan ibu, suatu saat nanti Mbak harus janji akan jadi dokter yang hebat." Jihan mengulas senyum kecil. Dalam hatinya ia berjanji tidak akan mengecewakan keluarga yang mendukungnya. Tentu, karena ibu dan adik perempuan satu-satunya lah yang selama ini memberinya kekuatan untuk terus berjuang mewujudkan cita-cita itu. Laras memeluk kakaknya dari samping. Jihan mengusap-usap puncak kepala Laras yang ditutup kerudung, lalu menyuruhnya kembali melanjutkan pekerjaan. Sementara kedua gadis itu sibuk bekerja sambil sesekali mulai membahas obrolan-obrolan ringan, tanpa mereka sadari di antara beberapa pelanggan ada satu sosok yang masih terus mencuri pandang ke arah keduanya. Tidak, lebih tepatnya hanya salah satu di antara kedua gadis kakak-beradik itu yang terus menjadi objek utama di dalam tatapan mata sarat kerinduannya. Ya, karena memang alasan itulah yang membawanya ke tempat ini. Entah sampai kapan ia akan terhanyut oleh perasaannya hingga dering ponsel menyentakkan laki-laki bertopi bisbol yang menutupi sebagian wajahnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN