Bertemu Manusia Serigala
The Black Forest adalah sebuah hutan rimba yang luas dan menyeramkan, berada barat daya Jerman (Schwarzwald). Sebagaimana namanya, hutan itu selalu gelap meski di siang hari karena cahaya matahari tertutup oleh pepohonan yang sangat tinggi dan lebat. Hampir tak pernah ada manusia yang berani masuk ke sana.
Namun tidak dengan hari ini, di Black Forest untuk pertama kalinya ada seorang pemuda yang berjalan seorang diri menyusuri jalan setapak di sana, melewati semak-semak belukar dan akar-akar pohon yang menonjol di tanah hanya dengan bantuan senter kecil sebagai penerangan.
“Sebenarnya aku ini ada di mana sekarang?” Tristan bertanya pada dirinya sendiri. Wajah tampannya tampak sangat kebingungan dengan keringat yang sudah bercucuran di keningnya..
Tristan mengitari pandangannya untuk mencari jalan keluar, namun sejauh mata memandang yang dia lihat hanyalah pohon-pohon tinggi dengan daun lebat, semak belukar, daun-daun yang berguguran, dan kegelapan. Hutan ini sangat menyeramkan, apalagi untuk Tristan yang hanya seorang diri di sana.
“Astaga, kenapa aku tidak bisa menemukan jalan kembali ke perkemahan?” gerutu Tristan sambil memijat keningnya yang sudah mulai terasa pening. Semakin dalam dia masuk ke black forest maka semakin gelap suasana di hutan itu.
“Hengky ... Kenan ... Kalian di mana? Tolong jemput aku di sini!” Tristan memanggil nama teman-temannya yang berkemah bersama dia.
Tristan adalah seorang pemuda pecinta traveling yang seringkali datang ke tempat-tempat tertentu yang mempunyai keindahan alam seperti gunung, hutan, air terjun, lembah dan juga pantai hanya untuk refreshing dan menikmati keindahan panaroma alam. Biasanya Tristan pergi bersama dua temannya yang memiliki hobi yang sama, kemudian mereka mendirikan tenda selama beberapa hari sampai mereka sudah benar-benar puas menikmati suguhan alam yang sangat indah itu.
Seperti saat ini Tristan datang bersama Hengky dan juga Kenan untuk berkemah, tujuan mereka adalah sebuah pegunungan yang spektakuler di Baden-Württemberg, Jerman. Pegunungan ini memiliki keindahan yang sangat menakjubkan. Namun tanpa sepengetahuan mereka, rupanya di pegunungan yang indah itu terdapat sebuah hutan yang menyeramkan seperti Black Forest.
Hari ini Tristan mendapatkan tugas untuk mencari kayu bakar ke dalam hutan, namun ternyata dia tersesat. Bukannya keluar dari hutan dan kembali ke perkemahan, tapi Tristan justru malah masuk ke Black Forest. Semakin jauh dia berjalan, maka semakin dalam dia masuk ke Black Forest, itu artinya dia semakin sulit menemukan jalan keluar, apalagi dengan keadaan Black Forest yang gelap.
“Aku lelah, aku sudah berjalan selama beberapa jam tapi aku tidak juga menemukan jalan keluar dari hutan ini,” keluh Tristan. Dia pun duduk di sebuah akar pohon besar untuk beristirahat sejenak. Napasnya tersengal-sengal karena kelelahan.
Ketika itu tiba-tiba saja dia mendengar suara auman yang cukup familiar di telinganya. Tristan tau bahwa itu adalah suara milik Serigala. Sebagai seorang traveler, Tristan sudah sangat hapal suara-suara dari bintang buas yang sering dia dengar saat berkemah. Salah satunya adalah suara serigala
“Aku yakin di hutan ini pasti terdapat banyak sekali bintang buas, bukan hanya serigala saja. Karena itu aku harus sangat berhati-hati,” pikir Tristan. Bagaimana pun dia harus tetap bertahan hingga bisa keluar dari hutan ini dengan keadaan selamat.
Setelah dirasa cukup beristirahat, Tristan bangkit untuk melanjutkan perjalanan. Namun tiba-tiba dia mendengar suara ranting kering yang patah seperti terinjak sesuatu. Tristan menoleh, dia memasang telinganya baik-baik untuk memastikan tidak ada apapun.
Kemudian Tristan merasa seperti melihat sekelebatan bayangan hitam di antara semak-semak, jantung Tristan berpacu dua kali lebih cepat, tak bisa dipungkiri dia sudah mulai merasa ketakutan. Apalagi saat itu dia tidak membawa senjata apapun, senapan yang biasa dibawanya pun tertinggal di tenda. Tristan memang bisa bela diri, tapi tetap saja dia tidak akan mampu jika harus menghadapi segerombolan serigala.
“Siapa itu? Siapa di sana?” teriak Tristan, matanya dengan jeli mengawasi keadaan sekitar sambil menyoroti sekelilingnya dengan senter yang dia pegang. Tristan rasa bayangan hitam yang berkelabatan di semak-semak tadi bukanlah serigala atau hewan lainnya. Karena bentuk dari bayangan itu seperti tubuh manusia.
“Keluarlah kau, hadapi aku. Jangan menjadi pengecut yang hanya bersembunyi di balik semak-semak, aku tidak takut padamu!” seru Tristan. Antara rasa penasaran dan juga ketakutan yang bercampur menjadi satu, di satu sisi dia memang sangat takut dan ingin berlari sejauh-jauhnya dari tempat itu. Namun di sisi lain dia juga sangat penasaran, dia ingin melihat wujud dari makhluk tersebut.
Tristan berharap itu adalah manusia, meski orang jahat sekalipun. Karena itu artinya dia bukanlah satu-satunya manusia yang ada di hutan ini.
“Kami di sini,” ucap seseorang dari arah belakang. Suaranya terdengar sangat dingin dan menyeramkan.
Tentu saja Tristan langsung menoleh, betapa terkejutnya dia karena ternyata dugaannya benar. Itu adalah manusia, bukan hanya satu orang tapi ada tiga orang laki-laki dengan brewok lebat yang berdiri di hadapannya. Saat itu, Tristan belum sempat mengamati lawan bicaranya karena dia terlalu senang bertemu dengan manusia lain di hutan ini.
“Ternyata benar dugaanku kalau kalian adalah manusia sama sepertiku. Akhirnya aku bisa menemukan manusia di tengah hutan yang menyeramkan seperti ini,” ucap Tristan. Setidaknya dia bisa sedikit bernapas lega, meski orang dihadapannya itu mungkin saja adalah penjahat.
“Tidak, kami bukan manusia sepertimu,” ucap laki-laki yang berdiri paling depan. Ketika dia bicara, barulah terlihat dua gigi tajam di kanan dan kirinya.
Mata dan mulut Tristan terbuka lebar, dia sangat terkejut karena ini adalah pertama kalinya dia melihat manusia yang memiliki taring panjang dan tajam seperti itu. Baru saja Tristan merasa sedikit tenang, kini jantungnya kembali berpacu dengan cepat, bahkan lebih cepat dari sebelumnya.
Setelah itu Tristan mulai mengamati mereka untuk memastikan bahwa mereka adalah manuisa seperti dirinya. Namun dia justru melihat hal-hal aneh yang tidak dimiliki manusia pada umumnya. Selain memiliki taring yang tajam, bulu mereka sangat lebat dan panjang, meskipun saat itu mereka memakai pakaian panjang yang serba hitam, tapi tangan dan kaki mereka yang penuh oleh bulu lebat berwarna kecoklatan masih bisa terlihat, mata mereka hitam tatapannya sangat tajam, wajah mereka pun sangat menyeramkan meskipun tidak terlalu banyak bulu di sana, terakhir postur tubuh mereka tinggi besar dengan kaki yang panjang, sedikit berbeda dengan postur tubuh manusia biasa.
“Kalau kalian bukan manusia sepertiku, lalu kalian ini mahkluk apa?” tanya Tristan dengan wajah yang sudah mulai pucat pasi.
“Kami adalah manusia serigala yang menghuni hutan ini,” jawab laki-laki yang berada di sebelah kiri.
“Apa? Manusia serigala?” Tristan tak percaya mendengarnya, bagaimana mungkin ada manusia serigala di dunia ini. Bukankah itu hanya sebuah cerita fiksi di novel?
“Sepertinya hari ini kita sedang mendapatkan keberuntungan yang besar karena kita tidak perlu bersusah Payah mencari mangsa, tapi mangsa itu sendiri yang menghampiri kita,” kata laki-laki yang beridir paling depan.
“Iya benar, selain itu mangsa kita kali ini sungguh sangat lezat. Sudah lama aku tidak pernah memakan daging manusia dan meminum darahnya,” sambung yang lain. Mereka menyeringai senang menunjukkan taring tajamnya, seperti layaknya serigala yang lapar, mereka sudah sangat bernafsu untuk memakan Tristan.
“Tidak, kalian tidak bisa menjadikan aku mangsa kalian, tidak!” teriak Tristan sambil berjalan mundur karena ketiga manusia serigala itu sudah mulai mendekatinya.
“Stop!! Jangan mendekat, atau aku akan membunuh kalian,” pekik Tristan, dia sangat ketakutan saat itu.
“Manusia itu lemah, tidak akan mungkin bisa mengalahkan manusia serigala seperti kami. Bersiaplah untuk menjadi santapan lezat untuk kami.”
Tristan bisa melihat kuku mereka yang sudah semakin panjang, ketiga manusia serigala itu sudah siap untuk menerkamnya. Sedangkan dia sendiri tak bisa berbuat apapun selain menghindar, dilihat dari postur tubuhnya saja mereka sudah jelas jauh lebih kuat dari Tristan.