Part 11, Penghianatan Keluarga

942 Kata
Suasana Pagi di Swiss... Adriana melangkah sangat cepat meninggalkan rumahnya. Saat mata masih terpejam, hati gundah mulai tenang. Kevin melihat kepergian Adriana dengan tergesa. Kevin pulang dari rumah sakit menebus resep dokter spesialis asma, mengikuti Adriana, menutup wajahnya.'kemana aunty.? Apakah dia menemui seseorang.?' Kevin mengambil hp segera menghubungi Bram, 'sepertinya Bram masih tidur dipelukan Fene.' Bisik Kevin. Kevin mengikuti Adriana masuk kesebuah mobil. Kevin bergerak cepat mengikuti arah mobil, berhenti ditaman kecil. Mata Kevin tertuju pada seorang pria yang dia lihat di hp Bram. Kevin membuka galeri hp. 'ooooh God... Aunty masih dengan Mark.?' bisiknya. Kevin merekam semua kejadian. 'Shiiiiit, ternyata aunty...' Kevin menggenggam keras stir kemudi. Kecewa, ini masalah besar bagi mereka. Kevin tenang mengatur nafasnya, melajukan kecepatan sebelum Adriana memergokinya. Kevin memasuki rumah, berlari kencang menuju kamar Bram. Mengetuk pintu, membuat Bram kesal. "Kenapa seeeh lo... Vin." Bram merangkul erat tubuh Kevin dibawah ketiaknya agar tidak melihat Fene masih tertidur bugil ditutupi selimut tipis. Kevin berbisik. "Kita bahaya Bram.. bahaya." Wajah Kevin panik. "Kenapa...." Bram memakai baju kaos beberapa lapis, cuaca diluar sangat dingin. "Gue udah ngirim ke hp lo." Jelas Kevin sinis. "Baru selesai mandi, mau ngajak Fene jalan, video apa emang.? nafas lo ngos-ngosan gitu." Bram mengambil hpnya, membuka pesan dari Kevin. "Vin... Apa gue salah.?" Bram melihat rekaman video. Bram mendekati Fene masih terlelap. "Sweety wake up... Sweety..." Bram mengelus tubuh Fene, sedikit berbisik. "Hmmmm... Apa seeeh..." Mata Fene terbuka belum menyadari kehadiran Kevin dikamar mereka. Seketika... "Aaaaaag... Kevin... Ngapain lo disini." Fene melempar bantal kecil kewajah Kevin. "Ssssst..." Bram menutup bibir kecil Fene, agar tidak brisik. "What heppen.???" TeriakFene tanpa suara. Bram memberi hpnya, betapa terkejutnya Fene melihat vidio itu. Bagaikan petir dipagi hari. Fene berlari kekamar mandi membersihkan diri, kembali duduk bersama Kevin dan Bram. "Apakah Adrian sudah bangun.?" tanya Bram. "Dari tadi tidak melihat Adrian, gue baru pulang ambil obat." Jelas Kevin. "Oooh..." Bram berfikir kenapa Adriana tega menghianati keluarganya sendiri. Apa ada yang salah.? Batin Bram. Saat ini mereka belum berani keluar kamar sebelum mendengar suara seseorang berbicara diluar. Beda Edward dan Mark... Edward telah mengetahui kegiatan Adriana. Edward mendapatkan rekaman obrolan Adriana dan Mark. Beberapa foto dan video menunjukkan kemesraan mereka. Edward murka. "Apa kamu menutupi sesuatu dariku Adriana Lim." Bentak Edward saat Adriana memasuki kamar. Adriana terlonjak kaget mendengar suara berat Edward berdiri menatap jendela. "Apa saya sedang berbicara dengan orang gagu." sarkas Edward seakan ingin memakan Adriana. "Hmmm.... Darl... Kamu sudah bangun.?" Adriana mendekati Edward mengusap punggungnya. "Jawab saya, kamu sedang mempermainkan Edward Lincoln.?" Sorotan mata Edward seketika menandakan gendrang perang, meremas kuat lengan Adriana. "Darl... Kamu menyakitiku.!" Rintih Adriana berusaha melepaskan genggamannya. Edward melempar, Adriana terjatuh. "Auuuugh... Edward." Adriana meraba pahanya terasa nyeri. "Apa kau masih ingin bermain dengan ku sayang." Edward mendekati Adriana, menangkup pipi mulus Adriana dengan kasar. Adriana meringis kesakitan, ada rasa takut. 'Apakah Edward akan membunuhku.!' batin Adriana. "Aku mengetahui pertemuanmu dengan Mark. Apa kau lupa siapa aku.? Apa beda aku dengan Mark Adriana.? Apa kau ingin membunuh ku.?" Suara Edward menggema seketika. Adriana semakin ketakutan. Dada Edward bergemuruh. Menggenggam lengan Adriana dengan tenaganya, melempar Adriana dengan kasar keatas ranjang bigsize kamar mereka. Adriana takut, diperlakukan kasar. Edward merobek pakaian Adriana, menciumi Adriana. "Kau mempermainkan aku Adriana. Jawab aku." Teriak Edward menindih tubuh mulus itu. "A a a aku akan bicara. Lepaskan aku. Jangan sakiti aku Edward." Rintih Adriana. Edward merenggangkan genggamannya, mengulum bibir Adriana kasar. "Aku justru bernafsu padamu saat kau tersakiti Adriana." Bisik Edward ketelinga Adriana terdengar menyeramkan. Adriana pasrah atas perlakuan Edward. Edward meremas p******a Adriana membabi buta, menggigit p****g Adriana keras. "Sakit Edward... aaaagh... hikz hikz." Air mata Adriana mengalir deras. Edward meghujamkan pusaka besarnya, berkali-kali melampiaskan emosinya di liang milik Adriana. "Aaaaaagh.... aaaagh... Edward..." Adriana menjerit kesakitan karena perlakuan Edward. "Nikmati sayang... aku mencintaimu, tapi kau menyakitiku. oooogh... aaaagh..."Edward mendesah kasar. "Aaaagh... uuuugh... aaagh... Edward... kau membuat aku ingin keluar...aaaagh..." Adriana menikmati perlakuan kasar Edward, saat pencapaian klimaksnya. Edward menciumi bibir Adriana, menghentakkan pinggulnya, saat merasakan nikmat dunia diliang milik Adriana. "Apa kau akan membunuhku.?" Kembali tangis Adriana terdengar. Edward tersenyum sinis, beranjak kekamar mandi meninggalkan tubuh bugil Adriana. Edward keluar dari kamar mandi menghampiri Adriana. "Pakai bajumu, kita lanjutkan diruangan ku. Aku kasih waktu 5 menit, ingat aku tidak suka menunggu." Tegas Edward. Edward berlalu. 'Hmmmm... apakah anak-anak sudah bangun.?' bisik Edward dalam hati. Edward menghampiri dapur menemukan anak asuhnya sudah berkumpul. "Adrian, Bram, Kevin silahkan kalian tinggalkan tempat ini, ikuti Alberth, aku telah menyiapkan tempat untuk kalian. Amankan diri kalian." tegas Edward. Adrian awalnya ingin mengajak Edward sarapan bersama, terdiam mengikuti intruksi Edward. Edward menatap Bram dan Kevin, memberi kode. "Aku akan menemui Mami." Adrian berlalu, dicegah oleh Edward. "Pergi sekarang." Tatapan Edward sinis, berlalu pergi keruangannya. Adrian, Veni, Kevin, Bram dan Fene meninggalkan rumah Adriana tanpa berpamitan. Adrian menatap Bram, butuh jawaban. Bram menepuk bahu Adrian berbisik, "Kita akan membicarakan semua." Adrian, Veni, memasuki mobil Alberth. Kevin, Bram, dan Fene memilih bersama Kevin, mengikuti arah tujuan Alberth. Adriana diruangan Edward... Tangan Adriana dingin, untuk menyatukan jari-jari saja Adriana tidak mampu. Hanya berharap belas kasih dari Edward. "Aku akan menceraikanmu." Edward menatap tajam Adriana. "Jangan Edward, aku mohon." tangis Adriana. "Tanda tangani ini, rumah ini menjadi milikmu, jangan pernah menghubungi aku ataupun anak-anak. Aku akan memberikan uang padamu, jangan mengganggu ku." Tegas Edward. Adriana memohon bersimpuh dikaki Edward. "Aku mohon jangan tinggalkan aku, Edward... aku minta maaf." tangis Adriana pecah. "Aku tidak ingin menghabiskan sisa waktumu bersama Mark, pergilah. Tinggalkan aku." Edward beranjak pergi meninggalkan Adriana, tangis semakin menggema terdengar disetiap sudut rumah. "Edward.... jangan pisahkan aku dari Adrian." teriak Adriana. Edward memilih pergi meninggalkan Adriana beserta rumahnya. Bagi Edward penghianatan itu adalah hal sangat menyakitkan dan memalukan.***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN