Part 8, Paris...

850 Kata
Paris... "Gue ada janji kecan bersama Nichole. Kalian disini dulu yah. Nanti hubungi gue aja." Kevin berlalu meninggalkan Bram dan Fene. Fene mencari-cari hpnya, dari kemaren tidak ada digenggamannya. "Bram... Hp ku dimana yah.?" Tanya Fene panik. "Hmmmm...." Bram mengingat, ternyata "shiiiiit..." "Fen... dihp kamu ada data kita.?" Tanya Bram. "Ya adalah, Kevin mengirimkan data semua pada ku dari Jakarta, Shanghai, dan Netherland. Kemaren aku lihat ada lesan masuk, tapi aku lupa. Atau tinggal di rumah sakit yah.?" Bram terdiam mencoba menghubungi operator agar memblokir semua data. Tapi sayang, Jack sudah membackup semua data. "Kemana kita hari ini.? Apa kamu ada janji seperti Kevin bersama gadismu.?" Ledek Fene. Bram mendekatkan wajah mereka, tanpa terasa hanya berjarak beberapa senti. Fene berusaha menahan, tapi tidak dengan Bram. Bram mencium bibir Fene yang ada dihadapannya. "Huuufh... Bram." Fene menahan tangan Bram yang akan membuka kancing bajunya. "Kenapa...?" Bram menciumi wajah Fene hingga leher. Fene menikmati ciuman Bram yang lembut walau sedikit liar. Fene menahan tangan Bram yang hampir membuka bajunya. "Stop, aku belum siap Bram." Ucap Fene lembut, nafas memburu tak beraturan. "Why... What about Adrian.?" Bram menghentikan, membayangkan wajah Adrian. "Kenapa dia belum menghubungi ku Fen.?" Fene meninggalkan Bram mengambil beberapa makanan didalam kulkas apartemen. Bram menghubungi Adrian. "Halo dri." "Ya..." Jawab Adrian lemas. "Lo nggak jawab pesan terakhir gue, jangan bilang lo lagi bulan madu." Kekeh Bram. "Gue lagi menikmati masakan Veni." Jelas Adrian. "Makasih, semua udah gue terima, gue tunggu lo di Swiss. Home sweet home Bram." Adrian memutuskan percakapan mereka. Bram tersenyum melirik reaksi Fene. "Adrian dan Veni di Swiss.?" Tunduk Fene. "Ya... Kita segera kesana." Pujuk Bram. Mata Fene memanas, air matanya tidak terbendung. "Cinta itu sakit Bram.?" Bram memeluk Fene erat, "Cinta itu indah, jika bersama orang yang tepat." "Bram..." Fene memeluk Bram, menangis sesengukan. "Heeeeiii.... Fen... Aku disini buat kamu. Buat kita." Bram mengusap pelan punggung Fene. "Gue salah Bram...." Tangis Fene makin keras. "Nggak ada yang salah.... Kevin yang salah..." Hibur Bram mencari kambing hitam. Fene menyeka air matanya sambil tersenyum. "Iya, Kevin biangnya." Tawa Fene. "Gitu dong, jangan nangis... Semua kejadian ada hikmahnya. Gue tau Adrian. Dia tidak akan meninggalkan Veni." Pujuk Bram. "Ya, aku tau... Adrian mencintai Veni." Jawab Fene sendu. Bram tersenyum lirih, membuat otaknya bekerja sedikit keras, walau sedikit kotor, Bram tidak mau kehilangan kesempatan lagi. "Jadi sebenarnya kamu cinta sama Adrian.?" "Gue tu nyaman doang, kayak sama lo, Kevin. Jujur Adrian type gue, gue bingung membedakan cinta atau butuh." Isak Fene. "Fen... I love you." Bram menatap mata Fene. Seketika pipi Fene berubah menjadi merah merona. Tersipu malu senyum-senyum menatap mata Bram. "Lo yakin.?" Fene meyakinkan Bram. "Gue yakin Fen." "Gue nggak peka Bram, gue nggak baik, gue nggak bisa membedakan hubungan ini." Fene tertunduk. "Ditambah gue...." Fene makin menunduk. "Kamu wanita baik, dimata aku, Kevin, Adrian, Mami. Aku yakin, Aku cinta sama kamu, fen." Bram menangkup wajah Fene dengan kedua tangannya, mencium bibir Fene kembali. Saat ini agak sedikit liar karena tadi ada drama. Fene tak bisa menolak lagi, Fene menikmati sentuhan Bram, kamar apartemen merekam suara desahan Fene. Bram tidak melewatkan sedetikpun masa indahnya mencumbu tubuh mulus Fene. Berkali-kali Fene mendesah, sedikit menjerit manja merasakan kenikmatan. Bram sangat mencintai Fene, benar-benar ingin memiliki Fene seutuhnya. Fene terjaga menatap wajah Bram berada disampingnya. Bram membuka matanya, melihat wajah cantiknya. Mengelus luka dibahu Fene, masih ditutupi plaster. Bram menciumi wajah Fene berkali-kali. Tanpa mereka sadari, Kevin sudah kembali dari kencannya membawa Nichole keapartemen. "Bram... Gue hitung ampe tiga, keluar atau gue dobrak ni pintu." Kevin menghabiskan waktu bersama Nichole dengan bermain game. Fene tertawa, menikmati pelukan dan gendongan Bram menuju kamar mandi, saling b******u berkali-kali. "Haiiii...." Sumringah wajah Bram. "Hmmmmm...." Kevin mendekati Bram, menunjukkan pesan seseorang melalui hp Fene. Bram terdiam. "Gue memblokir semua data Fene. Apakah terlambat.?" Mata Bram dan Kevin saling tatap. Tanpa ada tanda-tanda suara sniper dari kejauhan menembus kaca mengenai Nichole menghampiri Fene. Fene berteriak seketika menyambut tubuh Nichole. "Braaaaaaam awas..." Teriak Kevin. Suara tembakan dari gedung sebelah memporak porandakan seketika ruangan apartemen. Kevin bersembunyi membalikkan meja, menyeret Nichole dan Fene berlindung dibelakang Kevin. Bram berlari kekamar mengambil senjata. "Vin, hp lo mana, hubungi Adrian." Kevin mengeluarkan hp, menghubungi Adrian memberi pada Fene. "Ya Vin..." "Dri... Gue, Fene, kita diserang." "What... Kalian dimana.?" "Kami diapartmen Paris, Nichole teman Kevin terluka." Jelas Fene. "Kirim lokasi kalian." Cepat Fene mengirim lokasi pada Adrian. Bram menghubungi Alberth. Membantu sterilkan suasana apartemen, cukup lama mendapat bantuan. Nichole kehilangan kesadaran, Kevin menghubungi 911 segera. Adrian datang beberapa menit, Fene bertanya-tanya. "Lo di Swiss atau di Paris.?" Tanya Fene kaget. Adrian tersenyum cool ala pembunuh berdarah dingin. "Dimana sahabat gue berada, gue selalu ada." Adrian sombong. "Speachles gue lo ada disini." Senyum Fene shok akan kejadian hari ini. Kevin mengatasi polisi memberi laporan akan penembakan Nichole. Polisi tidak mengetahui siapa mereka. Menyiapkan identitas palsu, yang telah dipersiapkan Bram sejak awal. "Kalian tidak aman disini. Ikut aku. Veni disini." Adrian menatap Fene. Fene tersenyum, memeluk Adrian. "You my best brother." Fene menangis, mengusap punggung Adrian kemudian melepaskannya. Adrian mengusap kepala Fene, tersenyum menatap Bram. "He belongs to you my brother." Adrian memeluk Bram.***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN