"Nda?" panggil Bunda lemah mencoba bangun. "Bunda!" Aku langsung menghambur ke pelukan Bunda tak memerdulikan Bunda yang berjengit kaget. Beneran, aku enggak ingat apapun lagi. Rasanya begitu lama ditinggal Bunda. "Kenapa, Nda? Bunda ba—" tanya Ayah terpotong saat melihat Bunda sudah sadar. Aku tidak memperhatikan Ayah, sibuk menangis di pelukan Bunda. "Ayah panggil dokter dulu." Ayah berbalik meninggalkan Kak Andi yang mematung di pintu masuk. Saat dapat menguasai tubuhnya kembali setelah keterkejutannya selama beberapa menit, Kak Andi melangkah mendekati Bunda dan bertanya, "Bunda? Bunda udah sadar?" Bunda yang ditanya hanya mengangguk lemah lalu mengisyaratkan Kak Andi mendekat. Masih dengan aku yang memeluk Bunda. Kak Andi memberi Bunda air terlebih dulu. "Ndi?" Saat Bunda hendak

