Empat Belas : Pembelaan Aldi

697 Kata

"Hai!" Satu tepukan mendarat di bahuku memaksaku untuk menoleh. Banyak banget ya orang yang suka menepuk bahuku. Dikira aku ini nyamuk apa yang sering diterpukin. "Eh, Farel," seruku rada kaget juga, sih. Karena tepukannya kencang sekali dan Farel adalah orang kesekian yang aku kira pelakunya. Maksudku, kami tidak sedekat itu untuk sering saling sapa. "Mama kamu gimana, Din? Denger-denger beliau masuk RS," ucapnya. Kami berjalan menuju kelas. "Bunda? Alhamdulillah, kemarin Bunda udah sadar kok." "Syukur, deh. Betewe, kamu ada plan gak nanti pulang sekolah?" Sepertinya aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Date, atau paling enggak ngajak jalan. Bukan aku ge-er, hanya saja belakangan ini memang Farel sedang gencar-gencarnya mendekatiku. Kemarin saja beberapa kali cari modus. "Mungkin ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN