Rea terdiam sejenak, berdiri di hadapan ketiga belas pelayan dengan sorot mata tajam yang berbeda dari biasanya. Suasana teras rumah pelayan mendadak tegang. Sepuluh orang pelayan tampak gelisah, ketakutan seolah mereka merasa telah melakukan kesalahan besar yang memicu amarah Rea. Namun, tiga orang lainnya justru terlihat berbeda—mereka bingung sekaligus waspada. Sumi, pelayan berkacamata yang dikenal tenang, menyipitkan mata lalu berbisik lirih, “Kenapa dia tiba-tiba memanggil kita?” “Aku juga tidak tahu,” jawab Nira, pelayan berambut sebahu yang berdiri di sampingnya. Nada suaranya mengandung kecemasan. “Tapi jelas ini bukan sesuatu yang baik.” Tanpa pikir panjang, Nira menyikut pelayan di sebelah kanannya, Lia, seorang gadis muda dengan raut lugu namun licik di dalam. Dengan suara n

