Malam Penghianatan
Langkah kaki Rea terdengar pelan saat memasuki rumah besar mewah miliknya. Malam sudah larut, udara dingin menempel pada kulitnya, membuatnya merapatkan syal tipis di leher. Seharian penuh ia menghadiri rapat perusahaan, membahas strategi jangka panjang yang melelahkan. Namun, senyum tipis sempat muncul di wajahnya ketika ia membayangkan sosok sang suami, Dreck, yang biasanya menunggunya di ruang keluarga kediaman mereka.
“Pasti dia sudah tertidur,” gumam Rea lirih, mencoba menepis rasa letih dengan harapan sederhana.
Namun keheningan yang menyambutnya terasa aneh. Lampu ruang tamu padam, hanya cahaya samar dari kamar di lantai atas yang menyinari sebagian dinding. Rea mengernyit. Biasanya Dreck menyalakan lampu, bahkan sekadar menunggu kepulangannya di ruang keluarga tapi malam ini berbeda.
Rea melangkah hati-hati menaiki tangga. Semakin dekat ke kamar utama, semakin jelas suara berbisik—lirih tapi penuh gairah panas terdengar. Rea berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Suara itu… suara perempuan yang saat ini sedang b******u itu terdengar sangat familiar.
Dengan tangan bergetar, Rea meraih gagang pintu. Sesaat ia ingin mundur, meyakinkan dirinya bahwa ini hanya ilusi akibat lelah. Tapi suara tawa kecil yang terdengar begitu akrab menusuk telinganya. Ia mengenal tawa itu, suara itu milik Nayla, Adik tirinya.
Dengan dorongan tak terkendali, Rea membuka pintu.
Pemandangan di hadapannya membuat dunia runtuh seketika. Dreck, suaminya, tengah memeluk Nayla di ranjang. Kemeja pria itu terbuka, rambut Nayla berantakan, bibir keduanya masih basah oleh ciuman, leher dan d**a milik Dreck penuh noda lipstik.
Rea terdiam, matanya membelalak. Nafasnya tercekat. “K-Kalian…”
Dreck menoleh, ekspresinya bukan rasa bersalah, melainkan senyum miring penuh kemenangan. Nayla, alih-alih panik, justru tersenyum sinis menatap Rea seakan ia menanti adegan dimana Rea memergoki mereka.
“Oh, kau pulang.” Suara Dreck datar, dingin. “Lebih cepat dari yang kukira.” ucapnya.
Rea mundur selangkah, tubuhnya gemetar. “Bagaimana… bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Aku istrimu, Dreck!”
Dreck bangkit perlahan, menutup kemejanya tanpa terburu-buru. Ia berjalan mendekat, menatap Rea dengan mata tajam penuh sinisme. “Istri? Jangan menganggap dirimu begitu penting, Rea. Dari awal aku mendekatimu hanya untuk satu hal yaitu saham 15% milikmu yang ada di perusahaan keluargaku."
Kata-kata itu menusuk lebih tajam daripada pisau. Rea menggeleng, air mata mengalir tanpa henti. “Tidak… tidak mungkin…”
Nayla terkekeh kecil, mendekat lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Dreck. “Kasihan sekali, Kak. Kau benar-benar polos. Sampai rela menikah hanya untuk dijadikan batu loncatan. Seharusnya kau tahu sejak dulu, Dreck tak pernah mencintaimu.”
Rea menatap keduanya tak percaya. Ingatannya berputar: semua perhatian manis, janji-janji manis Dreck, semua kebersamaan mereka ternyata hanyalah kebohongan.
“Setelah kau menandatangani akta pemindahan sahammu untukku, kau sudah tak berguna lagi di mataku sekarang Rea.” Dreck mendekat, suaranya dingin dan penuh kebencian. “Aku tidak membutuhkanmu. Aku hanya butuh apa yang kau miliki." Ucapan Dreck membuat Rea tertegun, kenangan pagi tadi saat ia menandatangani berkas penyerahan saham miliknya pada Dreck dengan suka rela mulai muncul di kepalanya.
Rea mundur, punggungnya menempel pada dinding kamar. Tangisnya pecah, suaranya parau. “Aku mencintaimu… aku menyerahkan segalanya padamu, aku sangat mempercayaimu, Dreck…”
“Cinta?” Dreck tertawa pendek. “Kau sudah tahu dari dulu aku tidak mencintaimu, seharusnya kau berpikir saat tiba-tiba aku setuju menikahimu itu artinya ada maksud lain dari diriku tapi sialnya kau sangat bodoh Rea. kau terhasut ucapan manisku hingga kau bahkan rela menyerahkan 15% sahammu untukku."
Nayla menatap Rea dengan tatapan puas. “Sebaiknya kau berhenti bermimpi, Kak. Kau tahu selama tiga bulan kau menikah dengan Dreck selama itu juga aku dan Dreck masih saling berhubungan bahkan lebih intim dari kau yang istrinya." suara Nayla terdengar mengejek.
Sebelum Rea sempat merespons, Dreck tiba-tiba mendorongnya dengan kasar. Tubuh Rea terhuyung, langkahnya terperosok hingga mendekati jendela besar yang terbuka.
“Dreck!” teriaknya, panik.
Namun tatapan pria itu hanya dingin. Dengan satu dorongan kuat, tubuh Rea terlempar menembus jendela.
Angin malam menyambar wajah Rea, rambutnya berantakan, tubuhnya melayang di udara. Jeritan keluar dari bibirnya, terputus ketika tubuhnya menghantam tanah keras di halaman bawah kepala bagian belajang mendarat tepat di bebatuan.
Sakit. Begitu sakit. Darah hangat mengalir dari kepala Rea, pandangan mulai kabur.
Dari sudut mata, Rea melihat bayangan di jendela, Dreck dan Nayla berdiri berdampingan, tersenyum kejam. Dunia seakan memperlambat gerakannya, memperjelas kenyataan pahit, orang yang ia cintai dan adik yang ia lindungi, justru menjadi algojo yang menghabisinya.
“Kenapa…” bisiknya, lemah. “Kenapa kalian tega…” Di tengah keadaan sekaratnya, Rea dapat melihat Dreck dan Nayla sudah berdiri di sampingnya, keduanya berjongkok di samping Rea lalu Dreck dengan kasar memegang dagu milik Rea kemudian memaksa Rea meminum alkohol yang ada di tangannya.
Pandangan Rea semakin gelap, entah sudah berapa banyak alkohol yang diminumnya saat itu. Nafas Rea kini mulai tersengal. Rea tahu ini akhir hidupnya. Air mata terakhir mengalir, bukan hanya karena sakit, tapi karena hatinya yang hancur akan penghianatan suami yang dicintainya.
Dalam kegelapan yang menelannya, Rea hanya bisa berbisik dalam hati:
"Jika saja aku diberi kesempatan kedua… aku tidak akan membiarkan ini terjadi lagi."
Mendapati tubuh Rea sudah tak bernafas, Nayla tersenyum lalu memberikan sapu tangan pada Dreck, Dreck dengan cepat menghapus bekas sidik jari di botol alkohol yang dipegangnya, lalu membuat tangan Rea menggenggam botol itu sebelum kemudian melepas botol alkohol itu di tangan Rea.
"Dengan begini, polisi akan mengira Rea terjatuh dari tangga karena mabuk, kasus akan ditutup karena dianggap kecelakaan. Dan kita berdua bebas dari tuduhan." ucap Dreck membuat Nayla tersenyum puas akan rencana Dreck.
Setelah memastikan rencana semuanya berjalan lancar, Dreck dan Naylapun beranjak meninggalkan tubuh tak berdaya milik Rea. Namun dari semua itu rupanya takdir punya rencana lain, seolah waktu berjalan mundur dan saat Rea membuka mata kembali, ia terengah. Tubuhnya utuh, tanpa luka, tanpa darah. Nafasnya teratur. Ia mendapati dirinya di kamar yang sangat dikenalnya. Bukan kamar yang ada di rumah bersama Dreck, melainkan kamar lama miliknya sebelum menikah dengan Dreck.
Ia duduk terkejut, memandang sekeliling. Kalender di meja menunjukan tanggal, tiga bulan sebelum hari pernikahannya dan Dreck terjadi.
Rea menutup mulutnya, tangisnya pecah. “Tidak mungkin… ini… ini nyata?”
Ia menatap tangannya, menggenggam erat. Rasa sakit dari kematian tadi masih terasa jelas, namun kini ia hidup kembali.
Air matanya mengalir, tapi bukan lagi air mata lemah. Ada api yang menyala di balik tatapannya.
“Tuhan memberiku kesempatan… aku tidak akan menyia-nyiakannya.” suaranya bergetar, penuh tekad.
Rea menatap bayangan dirinya di cermin. Wajah yang sama, tapi kali ini dengan mata yang lebih tajam.
“Aku akan balas dendam,” bisiknya. “Dreck, Nayla… kalian tidak akan pernah menang lagi. Dan memperdayaku. Aku bersumpah akan merebut apa yang sangat kalian ingin miliki. Kalian menginginkan perusahaan bukan, maka lihatlah bagaimana aku akan membuat perusahaan itu tidak akan perna menjadi milik kalian." gumam Rea penuh tekat dan dendam.
Bersambung