Tawaran perjodohan

1299 Kata
Rea duduk diam di tepi ranjang, matanya terpaku pada kalender yang ada di atas meja kecil di sudut kamarnya. Jemarinya menyusuri angka yang tercetak rapi di sana. Tanggal 3. “Ini hari itu…” bisiknya lirih. “Hari di mana Ayah menyampaikan kabar perjodohanku dengan keluarga Vauline. Hari di mana jalan hidupku dulu mulai terjerumus ke jurang.” Bayangan malam tragis kemarin, saat tubuhnya terlempar dari jendela kembali berputar di kepala. d**a Rea sesak, tangannya mengepal. Tapi kini ia tahu, ia tidak boleh mengulang kebodohan yang sama. Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya. “Masuk,” ucap Rea. Pintu terbuka, menampilkan sosok kepala pelayan keluarga Morries. Lelaki paruh baya itu menunduk hormat. “Nona Rea, Tuan menunggu Anda di ruang keluarga." Rea mengangguk tenang. “Baik, aku segera ke sana.” Pelayan itu menutup pintu kembali. Rea berdiri, merapikan gaun sederhana yang ia kenakan, lalu merias wajahnya sekilas di depan cermin. Ia menarik napas panjang sebelum melangkah keluar kamar, menuruni anak tangga. Dari kejauhan, suara tawa ceria Nayla terdengar jelas. Suara itu menusuk telinga Rea, mengaduk perasaannya. Ingatan akan pengkhianatan Nayla di kehidupan sebelumnya membuat d**a Rea terasa sesak. Namun ia menegakkan punggungnya. Kali ini, Nayla tidak akan pernah menang. Sesampainya di ambang pintu ruang keluarga, Rea mendapati pemandangan yang sudah sangat familiar: Nyonya Nara, ibu tirinya, duduk anggun dengan senyum tipis, Nayla di sampingnya dengan wajah ceria, dan Ayahnya, Tuan Morries, yang terlihat lebih hangat dibanding keduanya. Begitu Rea masuk, seketika keceriaan di wajah Nayla memudar. Senyum Nyonya Nara juga mengecil, matanya menatap Rea seperti menatap gangguan. Hanya Ayahnya yang menyambut dengan senyum. “Rea, kemarilah. Ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu,” ujar Tuan Morries, melambaikan tangan. Rea melangkah perlahan, duduk di sofa tunggal yang berhadapan dengan mereka. Tatapannya tetap tenang, meski hatinya bergolak. Kalau aku tidak salah, Ayah akan membicarakan tentang perjodohan dengan keluarga Vauline… pikir Rea, mengulang memori kehidupan sebelumnya. Dan benar saja, kalimat pertama Ayahnya mengonfirmasi dugaannya. “Tadi Ayah baru saja bertemu dengan Tuan Vauline,” ucap Tuan Morries penuh semangat. “Beliau menawari perjodohanmu dengan salah satu putranya. Apa kau bersedia, Rea?” Napas Rea tercekat. Suara itu, kalimat itu, persis seperti yang pernah ia dengar. Di kehidupan sebelumnya, ia menyambut kabar itu dengan bahagia, bahkan tanpa ragu menyebut nama Dreck sebagai pilihannya. Saat itu ia percaya pernikahan dengan Dreck adalah jalan menuju kebahagiaan. Nyatanya, justru itulah awal penderitaan. Kini, Rea hanya menatap Ayahnya dengan ekspresi tenang. Tidak ada lagi senyum berbunga. Tidak ada lagi kepolosan. Nayla menatapnya curiga. “Kenapa dia tidak terlihat gembira? Bukankah seharusnya dia senang? Bukankah ini kesempatan untuk menikahi Dreck?” batin Nayla dengan hati gusar. Nyonya Nara melirik sekilas ke arah Rea, jelas tidak suka dengan sikap tenang Rea. Sementara itu, Tuan Morries menunggu jawaban penuh harap. “Bagaimana, Rea? Kau bersedia, bukan?” Rea menundukkan kepala sejenak, menahan diri agar tidak menampakkan emosi. Ia mengingat wajah Dreck yang dingin, suara Nayla yang sinis, dan malam pengkhianatan yang berakhir dengan kematiannya. Tatapannya kemudian terangkat, menatap langsung ke arah Ayahnya. Senyumnya tipis, nyaris tak terbaca. “Baiklah, Ayah. Aku bersedia.” Tuan Morries tersenyum lega, seakan beban berat terangkat dari pundaknya. “Syukurlah. Ayah tahu kau anak yang bijak.” Nayla menahan napas. Wajahnya kaku. Rea tidak menunjukkan antusiasme, tidak juga menunjuk nama Dreck. Rea hanya… menerima. Sesuatu terasa janggal. “Dan malam ini,” lanjut Tuan Morries, “Tuan Vauline mengundang kita sekeluarga untuk hadir di jamuan makan malam. Beliau ingin membicarakan perjodohan ini lebih lanjut.” Rea mengangguk mantap. “Baik, Ayah. Aku akan ikut.” Suasana ruang keluarga sejenak hening. Nayla menggigit bibir, hatinya terbakar cemburu. Kenapa harus Rea? Kenapa bukan aku yang dinikahkan dengan keluarga Vauline? Nyonya Nara menatap putrinya yang terlihat gusar, lalu menoleh pada Rea dengan senyum penuh kepalsuan. “Kalau begitu, bersiaplah sebaik mungkin, Rea. Jangan sampai memalukan keluarga.” Rea menatap ibu tirinya dengan sorot tajam, namun tetap menjawab tenang, “Tentu, Bu.” **** Setelah pembicaraan Tuan Morries mengenai tawaran perjodohan dari Tuan Vauline, suasana ruang keluarga mendadak berubah hening. Senyum manis yang tadi menghiasi wajah Nayla lenyap seketika, berganti dengan ekspresi tegang dan tatapan penuh iri. Ia menggertakkan giginya, lalu bangkit dengan kasar dari sofa. “Aku sudah kenyang dengan pembicaraan ini!” katanya ketus sambil melangkah terburu meninggalkan ruang keluarga. Tuan Morries hanya menarik napas berat, tidak begitu memperhatikan amarah putrinya itu. Sementara Nyonya Nara mencoba menutupi kegugupan dengan senyum canggung. “Maafkan sikap Nayla, Tuan. Saya akan menenangkannya.” Ucapnya lirih, lalu izin meninggalkan ruangan menyusul putrinya. Rea yang menyaksikan semua itu hanya mengangkat sudut bibirnya, tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi naif seperti di kehidupan sebelumnya. Ia sudah tahu ke mana arah semua ini, bahkan sebelum mereka menunjukkannya. “Kedua wanita itu selalu tak bisa menyembunyikan wajah asli mereka…” gumamnya dalam hati. Di kamar mewah miliknya di lantai atas, Nayla meledak. Amarahnya tumpah ruah. “Kenapa hanya Rea!” teriaknya sambil menyambar bingkai foto di meja rias dan melemparkannya hingga pecah berantakan. Hiasan kaca lain menyusul dibanting. Gaun yang tergantung di kursi pun ikut dilempar ke lantai. Suara gaduh memenuhi ruangan, menunjukkan betapa besarnya kekecewaannya. Pintu kamar terbuka keras. “Nayla!” suara lantang Nyonya Nara menggema. Wanita paruh baya itu menatap anaknya dengan wajah terkejut, tapi segera melunak melihat air mata putrinya. Nayla berhenti, napasnya tersengal. Ia bergetar menahan amarah bercampur frustasi. “Mama… bagaimana aku bisa tenang? Kenapa semuanya selalu jatuh ke tangan Rea?! Kenapa dia yang mendapat tawaran perjodohan dari keluarga Vauline? Bukankah akulah yang lebih pantas?!” Nyonya Nara berjalan mendekat, lalu meraih wajah Nayla dengan kedua tangannya. “Tenanglah, sayangku… jangan biarkan emosimu membutakanmu.” Suaranya lembut, penuh bujukan. “Perjodohan itu memang ditujukan untuk Rea, tapi bukan berarti jalanmu tertutup. Ingatlah, Dreck sudah tergila-gila padamu sejak lama. Tanpa perjodohan pun, kau akan tetap masuk ke keluarga Vauline.” Mata Nayla berbinar sesaat, meski amarahnya belum sepenuhnya padam. “Tapi… kenapa tetap Rea yang lebih dulu dipilih? Apa keistimewaannya dibanding aku?” Senyum getir muncul di wajah Nyonya Nara. Ia duduk di sisi Nayla, membelai rambut hitam putrinya. “Rea dipilih bukan karena dirinya, sayang. Kau tahu alasannya. Semua ini karena ia mewarisi saham mendiang ibunya di Vauline Group. Lima belas persen saham yang tidak bisa diremehkan. Tuan Vauline ingin memastikan saham itu tetap berada dalam lingkaran keluarganya. Itulah satu-satunya alasan mengapa ia menawarkan perjodohan itu pada Rea.” Kata-kata itu membuat Nayla terdiam. Seketika, ia teringat pada kekayaan dan kekuasaan yang menyelimuti nama besar keluarga Vauline. Lima belas persen saham itu bukan hanya angka. Itu adalah tiket menuju pengaruh yang lebih besar. “Jadi… kalau saja saham itu bukan milik Rea, melainkan milik kita…” Nayla bergumam lirih, suaranya serak penuh dendam. Nyonya Nara menarik napas panjang. “Andai saham itu milik ayahmu, Mama pastikan sejak awal kaulah pemilik saham itu dan kau jugalah yang akan dijodohkan dengan keluarga Vauline. Sayangnya… takdir tidak berpihak pada kita. Saham itu adalah warisan ibunya Rea. Mau tak mau, semua jatuh ke tangannya.” Nada kecewa terdengar jelas dari ucapannya. Nayla mengepalkan tangan, kuku-kukunya sampai menusuk telapak tangannya sendiri. “Aku benci Rea… seharusnya semua itu milikku. Seharusnya akulah yang berada di posisi itu!” Nyonya Nara menatap putrinya dengan campuran iba dan ambisi. “Dengarkan Mama baik-baik, Nayla. Jangan terlalu lama terjebak dalam amarah. Kita harus berpikir cerdas. Rea boleh mendapat tawaran perjodohan, tapi pada akhirnya… siapa yang akan benar-benar mendapatkan hati dan kepercayaan keluarga Vauline? Jawabannya tetap kau. Kita hanya perlu bersabar, dan menunggu saat yang tepat untuk membuat Rea tersingkir.” Ucapan itu seperti racun manis yang menenangkan Nayla. Ia mengangguk pelan, meski masih ada bara api di matanya. “Baiklah, Mama. Aku akan menunggu. Tapi aku bersumpah, Rea tidak akan pernah hidup tenang. Aku akan memastikan ia menyesal sudah mengambil tempat yang seharusnya menjadi milikku.” bersambung!...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN