Pemilihan gaun

1320 Kata
Setelah pembicaraan dengan Ayahnya selesai, Rea kembali ke kamarnya. Ia duduk di depan meja, menatap pantulan wajahnya di cermin. “Tiga bulan lalu aku begitu naif…” gumamnya lirih. “Aku memilih Dreck tanpa pikir panjang. Dan itu mengantarku pada kematian.” Ia mengusap pipinya perlahan, menghapus jejak air mata yang nyaris jatuh. “Tapi sekarang… tidak lagi. Aku tidak akan memilih jalan yang sama.” Rea duduk dengan tenang di depan meja kecil. Ia menatap kalender kecil yang ada diatas meja lalu menghela napas panjang. “Tanggal tiga… berarti semuanya berjalan sesuai dengan jalur yang kuingat. Nayla pasti sedang meraung di kamarnya sekarang.” Ia tersenyum tipis, namun matanya menyiratkan kesedihan bercampur kebencian. Dalam ingatannya, masa lalu kembali berputar. Ia masih bisa merasakan sakitnya pengkhianatan. Masih bisa mendengar tawa sinis Nayla bersama Dreck, suaminya. Masih bisa merasakan dinginnya angin malam ketika tubuhnya terhempas dari jendela lantai atas hingga merenggut nyawanya. Namun kali ini berbeda. Kali ini, ia sudah tahu bagaimana semuanya akan berakhir jika ia tidak berhati-hati. “Tidak lagi. Aku tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama. Kali ini, akulah yang akan memutuskan jalan hidupku. Aku tahu saat ini kau dan Ibumu pasti sedang menyusun rencana untuk menyabotaseku agar aku malu di depan keluarga Tuan Vauline nanti, tapi tenang pelajaran dimasa lalu membuatku mengerti alur rencana licik kalian. Mari kita lihat siapa yang akan dipermalukan nanti.” Pikit Rea sorot matanya tajam, penuh tekad. Lalu ingatan tentang Loui Vauline muncul di benak Rea. Kakak tiri Dreck yang selalu dingin, namun penuh wibawa. Rea ingat betapa pria itu selalu dipandang aneh dan rendah oleh keluarga Vauline hanya karena Loui lumpuh padahal sebenarnya Loui lah keturunan Vauline yang cerdas dan jenius. “Loui… aku akan memilihmu.” Kalimat itu keluar pelan dari mulut Rea, tapi penuh tekad. Senyum samar terbit di wajahnya. “Denganmu, aku akan melawan Dreck dan Nayla. Dan aku akan menang dan akan ku pastikan kau yang tadinya hanya piguran di keluarga Vauline akan berubah menjadi pemeran utama yang selalu disorot kamera, hanya kau satu-satunya orang yang dapat membantuku menyingkirkan Dreck dari pewaris Vauline group." gumam Rea yang nampaknya sudah mulai menyusun rencana balas dendamnya. *** Sore menjelang, rumah keluarga Morries mulai sibuk bersiap. Para pelayan mondar-mandir membantu persiapan keberangkatan. Nayla sibuk memanggil para pelayan untuk membantunya bersiap bahkan ia mengundang manager butik brand terkenal untuk membawa semua koleksi gaun dan dress mereka ke kediaman Morries. Suasana ruang keluarga Morries sore itu terasa hangat. Lampu kristal berkilauan di langit-langit, memantulkan cahaya ke ratusan dressvyang tersusun rapi di rak. Nyonya Nara duduk anggun di sofa beludru, sementara Nayla berdiri di depan cermin besar yang telah disiapkan para pelayan, ia menatap pantulan dirinya di cermin saat mencoba beberapa dress yang ditawarkan oleh manajer butik. “Hmm… tidak buruk,” gumam Nayla sambil memiringkan tubuhnya, memperhatikan siluet dress biru laut yang membalut tubuh rampingnya. Namun, sorot matanya belum puas. Ia ingin sesuatu yang lebih menonjolkan pesona dirinya malam ini. Setelah mencoba beberapa gaun, matanya tertuju pada sebuah dress semi formal berwarna merah marun. Ia mengambilnya dengan mantap, lalu menempelkannya ke tubuhnya di depan cermin. Seketika, senyumnya mengembang. “Oh… kau akan terlihat sangat seksi dan menawan dengan dress itu, sayang,” puji Nyonya Nara sambil bertepuk tangan kecil. Mata wanita paruh baya itu berbinar, penuh kebanggaan pada putri semata wayangnya. Nayla tersenyum puas, lalu berputar sekali di depan cermin. “Ya, dress ini sempurna. Dreck pasti tak akan bisa mengalihkan pandangan dariku nanti.” Mereka berdua tertawa kecil, tenggelam dalam euforia persiapan pesta jamuan malam di kediaman keluarga Vauline. Namun, di tengah tawa itu, sebuah pikiran licik melintas di benak Nayla. Ia menghentikan tawanya, lalu menoleh ke arah ibunya dengan tatapan penuh arti. “Ma… bagaimana kalau kita memilih dress untuk Rea juga?” usulnya dengan nada manis, tapi matanya berkilat penuh niat jahat. Alis Nyonya Nara langsung terangkat. “Untuk apa kau memilih dress untuknya? Biarkan saja dia tampil seadanya. Lagipula, bukankah semakin buruk penampilannya, semakin baik untukmu?” Nayla terkekeh sinis. “Justru itu, Ma. Aku ingin memastikan malam ini Rea benar-benar mempermalukan dirinya sendiri. Bayangkan wajahnya ketika semua mata menatapnya dengan hinaan. Bukankah itu lebih menyenangkan?” Mendengar itu, Nyonya Nara terdiam sejenak, lalu bibirnya melengkung nakal. “Kau memang pintar, sayang.” Nayla pun memilih tiga dress sederhana berwarna pastel, warna yang ia tahu sangat disukai Rea. Sekilas, dress itu tampak elegan namun jauh lebih sederhana dibandingkan dress merah marun yang ia pilih untuk dirinya sendiri. Setelah dress terkumpul, Nayla membawa satu dress tanpa lengan berwarna abu-abu muda ke meja kecil. Ia mengambil gunting, lalu mulai menggunting bagian bahu dress itu. Tidak sampai putus, hanya dibiarkan tersambung dengan benang tipis. Cukup untuk menahan dress itu tetap terlihat utuh, tapi akan terlepas begitu dress dikenakan cukup lama. Senyum puas mengembang di wajahnya. “Hanya membayangkannya saja sudah membuatku ingin tertawa. Betapa malunya Rea ketika dressnya terlepas di hadapan keluarga Vauline.” Nyonya Nara ikut terkekeh. “Itu akan jadi pemandangan yang tak terlupakan. Dia benar-benar tidak akan punya muka lagi untuk mengangkat kepalanya.” Setelah semua dress dikemas rapi dalam kotak mewah, mereka pun membayar. *** Langkah kaki Nayla dan Nyonya Nara terdengar menapak ringan di lorong rumah besar keluarga Morries. Mereka berhenti tepat di depan kamar Rea. Kotak-kotak dress berada di tangan mereka, seolah-olah membawa hadiah indah. Nayla mengetuk pintu dengan lembut. “Masuk,” suara Rea terdengar dari dalam. Pintu terbuka, menampilkan sosok Rea yang sedang duduk di tepi ranjang. Rambut hitamnya tergerai sederhana, wajahnya bersih tanpa banyak riasan. Tatapannya langsung tertuju pada kotak-kotak dress di tangan ibu tiri dan adiknya. Bibirnya melengkung tipis. Adegan ini… persis sama seperti yang ia alami di kehidupan sebelumnya. Dalam ingatannya, ia masih bisa merasakan rasa malu yang menusuk hati saat dress yang ia kenakan terlepas di kediaman keluarga Vauline, memperlihatkan pakaian dalamnya di depan tamu undangan. Malam itu, ia hampir menangis darah karena merasa harga dirinya hancur. Tapi kali ini berbeda. Kali ini, ia tidak lagi Rea yang polos dan mudah diperdaya. “Kakak,” Nayla membuka percakapan dengan nada manis. “Aku dan Mama baru saja membeli beberapa dress untukmu. Pilihlah yang kau sukai untuk acara nanti malam.” Rea menatap mereka lama, seolah sedang menilai niat yang tersembunyi. Namun, senyumnya tetap lembut. Ia berdiri, lalu menerima kotak dress itu dengan tangan tenang. “Oh, terima kasih banyak, Nayla. Terima kasih, Mama.” Ucapnya tulus, seakan tidak menyadari jebakan di balik kebaikan itu. Nayla menahan senyum kemenangan. “Cobalah, Kak. Pasti cocok denganmu.” Rea membuka kotak, lalu mengambil dress abu-abu bertali satu di bagian bahu. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi, pura-pura memeriksanya sekilas. Mata Nayla dan Nyonya Nara berbinar melihat pilihannya. “Indah sekali dress ini. Aku akan mengenakannya malam ini,” kata Rea dengan senyum hangat. “Sekali lagi, terima kasih banyak. Kalian begitu perhatian padaku.” Bahkan Rea maju, lalu memeluk Nayla dengan lembut, kemudian memeluk Nyonya Nara. Gerakan yang sama sekali tak terduga, membuat keduanya sempat kaku. Setelah itu, Nayla pura-pura tersenyum. “Kalau begitu, lanjutkanlah persiapanmu, Kak. Aku dan Mama juga harus bersiap-siap.” Mereka berdua pun berlalu meninggalkan kamar Rea. Begitu pintu tertutup, Nayla tertawa pelan. “Seperti dugaanku, dia masih saja bodoh dan mudah diperdaya.” Nyonya Nara mengangguk, ikut tersenyum puas. “Ya, kau memang benar, sayang. Malam ini, Rea akan menanggung malu yang tak terlupakan.” Namun di balik pintu kamar, Rea menatap dress abu-abu itu dengan sorot mata tajam. Ia mengelus bagian bahu dress, merasakan benang tipis yang dipotong dengan sengaja. Bibirnya melengkung sinis. “Jadi… kau pikir aku akan jatuh ke jebakan yang sama untuk kedua kalinya?” bisiknya lirih. “Kalian memang tidak pernah berubah. Sayang sekali, kali ini aku bukan lagi Rea yang dulu.” Ia menggantung dress itu di lemari dengan hati-hati, lalu berjalan menuju kotak perhiasan di mejanya. “Mari kita lihat, siapa yang sebenarnya akan mempermalukan siapa malam ini.” Senyumnya merekah, bukan senyum polos, melainkan senyum penuh misteri dan tekad. Bersambung!...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN