Cemburu tanda sayang sedangkan khawatir karena takut kehilangan. Keduanya boleh dilakukan asal sudah halal... Syafiq.
Kedua manik mata hitam milik Syafiq terus saja mengikuti gerakan perempuan yang baru masuk itu. Kemudian gerakan itu terhenti dipojok sudut yang memberikan view paling indah dari coffee shop ini. Ada seorang pelayan yang mendekati perempuan itu untuk mencatat semua pesanan yang diinginkan.
Lama Syafiq menatapnya tanpa berkedip, karena setelah pandangan pertama terlepas maka jatuhlah zina untuk tatapan berikutnya.
“Americano satu” teriak salah seorang pelayan yang memberikan order pada Syafiq.
Karena Syafiq tidak juga merespon, pelayan itu merobek kertas yang menjadi catatannya lalu menempelkan dikening Syafiq. “Satu Americano, bro” ulangnya dengan sinis.
Syafiq menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal. Gagal sudah dirinya menatap lekat perempuan tadi. Kini pandangannya telah beralih, maka sebisa mungkin dia menjaga matanya agar terhindar dari zina.
Sore itu memang pelanggan yang datang ke coffee shopnya cukup banyak. Bahkan antrian panjang di depan meja orderan membuat Syafiq sedikit terburu-buru hingga melakukan banyak kesalahan.
Sesungguhnya Syafiq memang tidak memiliki background seorang barista. Dirinya hanya belajar otodidak dari Adi yang memiliki coffee shop ini. Karena itu ketika dirinya diburu-burui, maka rasa guguplah yang menyerangnya.
Suara adzan magrib yang berkumandang di tv seketika menghentikan kerja semuanya. Papan tulisan yang tergantung dipintu masuk diputar arahnya oleh salah seorang temannya. Hingga menampilkan tulisan closed dari arah luar. Yang menandakan coffee shop ini tutup sementara. Lalu bagaimana dengan yang sudah berada di dalam. Bagi yang muslim di sediakan mushola di bagian atas coffee shop untuk digunakan beribadah. Memang konsep seperti ini yang membuat Syafiq menerima ajakan dari sahabatnya.
Tempat kerja yang selalu memberikan karyawannya waktu untuk beribadah. Tidak hanya untuk yang muslim, bagi yang non muslim Adi sebagai pemilik SBC coffee memberikan pengecualian khusus dihari minggu atau hari-hari penting agama mereka.
Sehingga para pekerja disini merasa betah dan nyaman. Selain karena gajinya yang sangat bersahabat bagi kantong buruh pekerja seperti mereka, disamping itu kebijakan tentang beribadah disini sangat disukai oleh semua penjaga.
“Karena hari ini ada orang baru, kita berikan dia tempat yang paling mulia. Memimpin kita untuk sholat berjamaah” seru Adi.
Syafiq hanya tersenyum, tidak menolak namun tidak juga mengiyakan. Dia hanya melangkah ke mushola atas lalu langkahnya diikuti semua orang.
Ketika dia telah siap memimpin jalannya shalat, Syafiq membenarkan peci hitam yang selalu dia bawa ditasnya. Merapikan rambut panjangnya yang berantakan, lalu menggulung kain sarungnya yang sudah dia pakai sejak tadi. Kemudian dia menoleh kebelakang dan memperhatikan jika ada shaf yang kurang rapat agar segera diisikan terlebih dahulu.
Dengan bacaan shalat serta lantunan surat-surat pendek sebagai pelengkapnya, Syafiq semakin menikmati ibadahnya magrib ini. Pikiran yang tadinya penuh dengan pekerjaan seketika sirna. Dirinya seperti suci kembali setelah mengucapkan salam di akhir sholatnya.
Setelah menyalami sesama saudara muslimnya yang baru saja sama-sama menjalankan ibadah sholat magrib, Syafiq mulai fokus kembali. Mengadahkan kedua telapak tangannya memanjatkan 4 doa singkat yakni, doa untuk dirinya sendiri dan kedua orang tuanya, doa untuk diberikan tambahan ilmu, doa dilancarkan segala urusannya dan yang terakhir adalah doa memohon keselamatan dunia akhirat. Baginya melakukan doa selepas sholat adalah cara dirinya berkomunikasi dengan Tuhan. Disana dia bisa memanjatkan keinginan apapun untuk didengar oleh Tuhan.
Tetapi mengapa Syafiq tidak meminta doa untuk didatangkan jodoh?
Awalnya Syafiq sempat melakukan doa tersebut, namun dia sadar bahwa yang berdoa meminta jodoh bukan hanya dia saja. Bahkan sering Syafiq dengar teman-teman kampusnya yang berdoa meminta jodoh yang terbaik untuknya.
Memangnya mereka sudah cukup baik untuk meminta yang terbaik?
Ingin sekali Syafiq mencibir kelakuan para temannya di kampus. Namun dalam hati dia melarang. Biarkan mereka melakukan ibadah kepada Tuhan dengan cara mereka sendiri. Karena untuk Syafiq sendiri jodoh tidak akan hadir bila dirinya sendiri tidak usaha. Tidak mungkin jodoh akan datang kepada manusia yang selalu mengurung diri di kamar. Memangnya jodoh itu hantu bisa masuk kamar dengan seenaknya.
Seusai menutup doanya, tubuhnya bangkit dan menuju lantai bawah kembali untuk bekerja. Tadinya dia ingin langsung melakukan tadarus seperti biasa dia lakukan, tetapi ini bukan rumahnya. Sebaik-baiknya Adi memberikan waktu untuk beribadah, tetap saja ada rasa tidak enak dalam diri Syafiq.
Jika diibaratkan, Adi sudah memberinya hati namun Syafiq meminta jantung juga.
Sungguh keterlaluan.
Karena itu Syafiq membenarkan pakaian seragamnya kembali, lalu memulai turun ke tempat dimana seharusnya posisi dirinya berada.
“Lepas nggak !!!” teriakan dari seorang perempuan menghentikan langkah Syafiq.
Dari posisinya saat ini masih dapat dia lihat, perempuan yang menarik perhatiannya tadi tengah menjerit kesakitan karena tangannya ditarik paksa oleh seorang laki-laki yang membelakanginya.
“KAMU DENGAR NGGAK SIH, AKU NGGAK MAU IKUT KAMU”
Awalnya kedua orang itu menjadi tontonan bagi semua pengunjung lainnya. Tetapi setelah tahu apa yang terjadi seakan semuanya menjadi tidak peduli kembali.
Di jaman sekarang ini sudah hal biasa melihat remaja saling bertengkar. Karena remaja yang saling melakukan adegan m***m saja sudah biasa ditemukan di jalan. Maka dari itu semua pengunjung malas ikut campur dengan masalah ini.
Namun ada yang menggelitik hati Syafiq untuk membantu karena Syafiq tahu perempuan itu tengah menahan air matanya.
“Ehm, bisa tolong di lepaskan” ucap Syafiq mencoba mengintrupsi segala kegiatan yang tengah terjadi.
Laki-laki remaja yang berdiri membelakangi Syafiq membalikkan badan, namun bukannya marah tubuhnya berdiri kaku melihat siapa yang ada dihadapannya.
Sedangkan Syafiq yang langsung mengenali siapa laki-laki ini langsung mendengus kesal. Sudut bibirnya tertawa mengejek. Ternyata oh ternyata, kejahatan yang terjadi masih dari keluarganya juga. Dan dia merasa cukup malu karena sudah tertangkap basah untuk ikut membantu.
“Abang Syafiq”
“Ngapain kamu” decak Syafiq kesal.
Remaja laki-laki dihadapannya ini seketika melepaskan tangan perempuan yang tadi dia paksa untuk mengikutinya. Wajah laki-laki ini sekilas mirip dengannya, dari bentuk hidung hingga alis mereka. Tetapi Syafiq kali ini malas mengakui siapa laki-laki dihadapannya ini.
“Itu bang, Wahid sama....” dia melirik Farah yang menunduk sambil mengusap pergelangan tangannya. “Sama Farah” sambungnya kembali.
“Abang lihat kalau itu, yang abang tanya kamu ngapain ke sini? Sampai harus pegang-pegang tangan perempuan” desis Syafiq tidak suka.
Tidak suka?
Apa yang membuat Syafiq tidak suka? Cara Wahid memegang tangan Farah atau ada hal lain yang menggelitik emosi Syafiq.
“Maaf bang” ucapnya memohon ampun.
Lagi-lagi Syafiq mendesah kesal. Wahid, remaja tanggung ini sama halnya dengan Shaka. Sukanya membuat emosi Syafiq meningkat bagai seorang penyakit hypertensi tanpa obat penurunnya.
“Pulang sana” suruh Syafiq seperti perintah. “Jangan lupa sholat” sambung Syafiq kembali. Dia tahu benar bagaimana tabiat Wahid di rumah. sampai-sampai Ammah-nya lelah meneriaki nama putranya itu.
Wahid hanya mengangguk, kemudian melirik Farah yang sedang menatap Syafiq. Dari sorot mata Wahid dapat diartikan Farah bila dia masih kesal kepadanya.
Setelah berpamitan, kini tinggal Syafiq dan Farah yang masih saja menatapnya.
“Sorry, Wahid memang seperti itu. Suka memaksa” jelas Syafiq. “Sebagai gantinya, semua yang kamu pesan gratis” sambungnya kembali.
Namun saat Syafiq ingin melangkah pergi, Farah memanggilnya sama seperti Wahid memanggilnya tadi. “Abang Syafiq” panggilnya dengan manja.
Bibirnya tersenyum dengan badan yang bergerak ke kiri dan ke kanan karena gugup. “Terima kasih ya bang,” sambungnya.
Tubuh Syafiq tidak berbalik, dia hanya menggeleng lalu kemudian mengangkat tangannya ke udara sebagai jawaban dari kata-kata Farah.
Farah yang ditinggal Syafiq sendiri mendadak gila. Bibirnya terus saja tersenyum tiada hentinya. Deretan gigi putihnya menggigit gemas bibir bagian bawahnya, lalu setelahnya dia tersenyum kembali.
Kegiatan itu terus saja dilakukan Farah sembari terus menatap Syafiq yang sudah kembali dibalik mesin-mesin coffee yang cukup canggih.
Entah perasaan aneh apa yang Farah rasakan, yang jelas rasa aneh ini begitu indah dan membuat dia meminta lebih.
“FIX, GUE GILA” gumam Farah. Tetapi setelahnya dia kembali melakukan acara kagumnya kepada Syafiq.
Laki-laki itu tidaklah tampan, tetapi kehadirannya seperti angin segar dipadang pasir. Begitu sejuk dan menjanjikan sesuatu yang berbeda.
**
Di tempatnya, Syafiq juga merasakan ada hal yang aneh menyerang setiap aliran darahnya. Dia tidak sakit atau demam, mengapa merasa gugup seperti ini. Fokusnya pun bercabang antara ingin menatapi gadis itu atau lanjut bekerja.
“Tahan Fiq, Lo pasti bisa” gumamnya sembari mencengkram kuat mesin kopi itu hingga tanpa sadar buku-buku tangannya memutih karena terlalu kuat menekan.
“Arrgghhhh” gerahnya.
Syafiq menghentikan pekerjaannya. Dia menyerah. Baru satu hari saja dia bekerja sudah beberapa kali dia melakukan kesalahan. Karena itu lebih baik dia mengundurkan diri dari bidang ini.
Bukannya dia tidak berterima kasih sudah diberikan kesempatan bekerja oleh sahabatnya, tetapi dia tidak mau semua kesalahannya membuat rugi orang lain.
Mungkin dia memang pencinta kopi, mungkin dia bisa membuat kopi yang nikmat dan berkualitas, tetapi dia bisa bekerja dalam bidang ini.
Ini sama sekali bukan gayanya. Kerjaannya butuh ketenangan. Tidak ada gangguan dari orang lain apalagi seorang gadis seperti Farah. Bisa rusak semua konsentrasinya.
Lalu pekerjaan apa yang cocok untuknya?
“Di, gue nyerah” ucap Syafiq ketika berdiri tepat di depan ruangan Adi.
Kening sahabatnya itu berlipat tanda tidak mengerti, “Lo kenapa bro? Tiba-tiba minta berhenti begini?”
“Ini bukan tempat gue. Gue memang bodoh, nggak semua orang yang suka kopi bisa bekerja sebagai barista. Gue ini penikmat bukan pencipta” jelas Syafiq.
“Tapi kan lo bisa menciptakan kopi yang enak juga. Lo pikir-pikir dulu deh”
Syafiq dengan mantap menggelengkan kepala, “Lo nggak bisa paksa gue Di. Karena dalam diri gue sendiri aja tahu ini bukan gaya gue. Bukan dari bidang ini rezeki yang bakalan datang untuk anak istri gue. Tapi ditempat lain,”
“Nah, kan kemarin lo yang nolak kerjaan dari bokap lo”
Syafiq meringis, lalu mengusap rahangnya ditumbuhi bulu-bulu, “Dalam Islam sikap memaksa itu nggak boleh, lo tahu itu kan? Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 216: ” …tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Gue memang menyukai kopi, gue kecanduan sama minuman itu. Dan gue senang bisa meracik kopi setiap saat. Tapi entah kenapa gue yakin, Tuhan bukan menunjuk itu sebagai tempat gue mengejar rezekiNya. Karena yang disukai belum tentu yang terbaik”
Adi setuju dengan kata-kata Syafiq. Memang benar semua yang dipaksakan tidak akan berakhir dengan baik. Seperti itulah kurang lebih Syafiq saat ini.
“Ok, gue paham. Semoga sukses diluaran sana. Dan gue yakin cepat atau lambat lo pasti bergabung dengan perusahaan kakek lo atau ayah lo” ucap Adi sembari menepuk bahu Syafiq.
“Jika itu yang terbaik menurut Tuhan, kenapa nggak?” ucapnya begitu saja.
Kemudian Syafiq memilih pamit dengan Adi dan semuanya untuk pulang. Karena dia sudah begitu lelah, apalagi dia seharian ini sudah sibuk kesana kemari seperti setrikaan. Mengantar Nada, lalu mengantar ibunya, kemudian bekerja. Sungguh ini diluar kebiasaannya yang biasanya hanya dihabiskan untuk tidur.
Tetapi bicara masalah Nada, apa dia sudah pulang sekolah?
“Astagfirullah al’adzim, gue lupa belum jemput Nada” dia tepuk keningnya kuat-kuat. Otaknya yang cukup cerdas sudah kosong kembali karena terlalu fokus memikirkan banyak hal hari ini tanpa sadar melupakan adik kesayangannya.
“TUNGGU ABANG DEK...”
Syafiq berlari menuju mobilnya dengan terburu-buru tanpa tahu bila disekitarnya Farah tengah kesakitan meminta pertolongan.
-----
Continue