Bab 4

2241 Kata
Diri ini menjadi kacau ketika melihatmu yang begitu memukau.. Farah & Syafiq   Laki-laki setengah baya tertawa senang ketika melihat perempuan muda dihadapannya tengah meringis sakit. Pergelangan tangan gadis itu cukup memerah dengan kedua matanya mulia menahan air mata agar tidak terjatuh. “Kenapa? Bukannya kamu yang setuju dengan kata-kata saya tadi? Saya akan tepat janji jika kamu mau memberikan apa yang saya inginkan” tekannya kuat pada akhir katanya. Farah menggeleng lemah, dia tidak menyangka apa yang barusan dia lakukan malah menjadi boomerang untuknya sendiri. Dia hanya menuruti nafsunya untuk mendapatkan sesuatu yang sangat dia butuhkan saat ini. Dan laki-laki tua di hadapannya bersedia mengikuti keinginan Farah asalkan dia juga melakukan hal yang sama terhadap apa yang laki-laki ini inginkan. “Nggak, mungkin bapak salah orang” tegas Farah. Kedua matanya terus menatap waspada, takut-takut orang ini akan bertindak kriminal lagi kepadanya. Baru saja tangannya dapat terlepas karena beberapa orang mulai memperhatikan gerak gerik mereka. “Kamu lupa sayang, kamu kan yang balas pesan saya untuk menemui di tempat ini” “Bukan. Bukan saya itu” elak Farah berulang kali. Dia semakin ketakutan bila sesuatu yang buruk selalu menghampirinya. Tapi semua ini memang salahnya. Memancing singa dengan sepotong daging. “Bukan...” gumam Farah. Ini bukanlah salahnya, namun salah ayahnya yang harus masuk rumah sakit tadi pagi. “Apanya yang bukan? Cepat. 10 foto dirimu tanpa busana, saya akan kasih kamu uang satu juta cash” ucapnya sembari menunjukkan isi dompet yang cukup tebal. Farah tidak ingin tergiur dengan uang itu tapi disatu sisi dia butuh untuk perawatan ayahnya. Uang ini saja masih sangat jauh dari kata cukup. Tapi setidaknya uang satu juta ini bisa membantu untuk menebus obat nanti di apotik. “Baik. Akan aku berikan” putusnya cepat. “Tapi kemarikan dulu uang bapak” “Berikan dulu 10 foto itu, maka aku akan langsung memberikannya” ucapnya tidak mau mengalah. “Atau kau butuh tambahan, kita bisa mampir sebentar ke hotel yang tidak jauh dari ini” Bulu-bulu Farah semakin merinding takut. Senakal-nakalnya ia, belum ada satu laki-laki pun yang menyentuh dirinya lebih jauh. Namun mengenai pertukaran foto bugil ini sudah 2 kali Farah jalankan. Yang pertama dengan seorang pengusaha. Dia memberikan 5 foto dirinya tanpa busana, lalu dalam sekejab uang tunai bersarang di rekening pribadinya. Dan sekarang dia menyesal, mengapa dia mau saja menerima tawaran bertemu langsung dengan laki-laki tua ini. Cukup lama Farah mengirimkan satu demi satu foto dirinya, kini laki-laki dihadapannya tersenyum puas. Memang bentuk tubuh Farah sangat menawan dan begitu indah. “Ini uangmu” uang satu juta itu dia lemparkan ke arah wajah Farah. Seakan-akan Farah adalah perempuan yang begitu murahan. Farah memunguti satu demi satu uang tersebut ketika dirinya sudah ditinggal sendiri. Hatinya menjerit sakit. Dia terus saja menenangkan perasaannya. Semua yang sudah dia lakukan ini hanya untuk kesembuhan ayahnya. Tidak lebih. Tetapi Farah yakin bila kedua orang tuanya tahu dia mendapatkan uang dengan cara haram pastinya ibu bapaknya akan semakin sedih. “Maafin Farah ya...” isaknya. Hancur sudah harapannya menjadi perempuan baik-baik. ** Mobil yang dikendarai Syafiq sampai di depan sekolah Nada yang sudah sepi. Di pos penjaga hanya terlihat dua orang satpam yang sedang sibuk bermain kartu sambil mengecap nikmatnya kopi dimalam hari. Syafiq mendekati kedua satpam itu. Dia hanya memastikan bila adiknya sudah benar-benar pulang. Karena ponsel Nada tidak bisa dihubungi sejak tadi. “Assalamu’alaikum, pak. Mau tanya, apa semua murid sudah pulang?” “Sudah mas, sudah sejak bimbel terakhir jam 6 sore tadi” “Terima kasih ya pak, mari. Assalamu’alaikum” Di dalam mobilnya, Syafiq merenung sejenak. Kemana adiknya itu? Ingin rasanya dia menghubungi Ibu nya untuk bertanya apa adiknya sudah kembali atau belum, tetapi dia ragu. Lebih tepatnya Syafiq takut jika Sabrin kecewa padanya karena tidak bisa melindungi adik perempuan yang hanya satu-satunya dia miliki. “Malu kamu bang, sama Shaka. Dia yang kamu bilang tengil aja selalu antar jemput kedua adik perempuannya, Tabitha sama Kanaya. Lah kamu, punya adik satu saja ribut terus” Terbayang-bayang oleh Syafiq bagaimana ibunya itu selalu membandingkan dirinya dengan Shaka. Apa memang seperti ini jika memiliki sepupu yang berjenis kelamin sama dengan selisih umur yang dekat selalu menjadi bahan perbandingan. Hey, ibunya harus tahu. Bila dia dan Shaka BERBEDA. Tolong dicatat kata terakhir itu. Dia memang ceroboh sampai lupa menjemput Nada tetapi dia tidak serusuh Shaka dalam segala hal. Karena Syafiq sesungguhnya hanya seorang laki-laki pendiam. Pendiam? Tapi bisa menghancurkan segalanya? Sampai menghancurkan beberapa hati perempuan karena Syafiq menolak mereka semua mentah-mentah. Bukan dirinya sok jual mahal, tetapi memang hatinya tidak terpanggil sedikitpun dengan perempuan-perempuan itu. Ketika sampai di rumahnya, Syafiq bisa melihat tidak ada mobil ayah. Sudah bisa dipastikan dimana ayahnya sekarang berada. Jika bukan di rumah tercintanya alias rumah sakit. Dan Syafiq pun tahu, ibunya pasti sedang ditinggal sendirian di rumah. “Assalamu’alaikum” tidak ada yang menyahut satupun salam dirinya. Kedua matanya melirik ke ruang keluarga dimana biasanya sang nenek dan kakeknya duduk bersama saling memeluk satu sama lain. Namun ternyata kakek dan neneknya belum kembali dari rumah sang tante atau yang sejak kecil Syafiq panggil dengan sebutan Ammah. Perlahan Syafiq menaiki tangga yang di bagian sisi dindingnya tergantung beberapa figura bertuliskan asmaul husnah yang memang sejak dulu sudah menghiasi rumah ini. Saat dirinya telah sampai di lantai atas, dari kamar Nada terlihat cahaya terang yang menembus gelapnya ruangan dimana Syafiq berdiri. Buru-buru dia memastikan apa benar ada Nada disana? Kepala Syafiq melongok sedikit kedalam, melihat kamar bernuasa pink milik sang adik. Diatas tempat tidur ada ibunya dan Nada yang sedang berpelukan. Sedikit banyak Syafiq dapat mendengar gerutuan dari Nada tentang dirinya. “Abang ngeselin kan bu. Jahat sama Nada. Masa Nada nggak dijemput tadi. Tahu begitu Nada tadi pulang bareng sama bang Shaka” adu gadis belia itu. “Nggak boleh begitu dong sayang. Biar bagaimana pun itu abangmu. Dia sayang sama kamu Nada. Mungkin tadi dia sibuk tidak sempat kasih kabar ke kamu. Kamu kan tahu, sekesal apapun dia, abangmu tetap mau melakukan apa saja untuk kamu dan ibu kan” “Tapi kan bu” “Nada kesel sama abang?” tiba-tiba Syafiq masuk dengan wajah penuh rasa salah. Dia ingin meminta maaf dengan tulus bila sudah mengecewakan adiknya itu. “Bukan kesel lagi, marah kali. Pakai tanya segala” juteknya Nada menjawab pertanyaan Syafiq. Tubuh besar Syafiq sudah berbaring dibawah kaki adiknya dan sang ibu yang masih berpelukan. Matanya menata langit-langit kamar dengan bentuk wallpaper bunga bernuansa putih dan pink. Bila kali ini Syafiq tidak sedang merasa bersalah, pasti dia sudah menyindir adiknya itu. Sudah besar masih memiliki kamar seperti anak-anak saja. “Abang minta maaf boleh” ucapnya datar dengan jari kelingking yang terangkat ke arah Nada. Adiknya itu hanya mencibir melihatnya. “Sekarang aja minta maaf. Kalau minta maaf bisa menghilangkan kesalahan, surga penuh bang. Neraka kosong” Syafiq memajukan bibirnya mendengar kata sok-sok’an dari Nada, “Sok tahu kamu neraka kosong. Emang pernah ke neraka? Emang tahu neraka kayak apa” “Abang tanya ke Nada? Nggak salah? Kan abang iblisnya” tawanya meledak saat Syafiq menggerang dengan kesal. “Kalian ini, mana pernah akur gitu. Sekali-kali ibu mau lihat kalian saling sayang. Bukannya ribut terus” protes Sabrin. “Kayak ibu sama om Imam nggak aja” ucap Nada dan Syafiq dengan kompak. Kemudian mereka tertawa kembali karena tahu seperti apa kelakuan ibunya dan om nya itu. “Heh kalian berani-berani ya ngomongin ibu” Sabrin menggelitiki tubuh Nada yang menggeliat seperti ulat kebakar karena geli. Sedangkan Syafiq yang berada diposisi bawah sudah ditendang-tendang kuat oleh Nada. “Awww... dek, geseran dong” “Ih, nggak mau...” tendangnya kembali hingga Syafiq hampir terjatuh. “Ya Allah ini anak berdua ya. Nggak bisa akur banget” keluh Sabrin. “Abis Nada marah pokoknya sama abang” keluhnya lagi. “Marah sih bilang-bilang” cibir Syafiq. Keduanya sudah kembali tenang karena diberikan tatapan tidak suka dari ibu mereka. “Abis kan biar abang tahu kalau aku marah. Kan abang orangnya nggak peka. Dikodein langsung melengok kayak orang cengok” “Terus aja katain abangnya” kalah Syafiq. Namun dia semakin erat memeluk kaki Nada bagian bawahnya. “AABAAAAAANGGGGGGGGGG” “Bisa diam nggak sih kalian? Ya Allah,” Sabrin menengahi kedua anaknya yang susah sekali diatur. Mirip seperti dirinya dulu dengan Imam. “Kalian ini, Ya Allah, kalau ayah tahu bisa diceramahi sepanjang malam” “Kan ayah lagi di rumah sakit bu” sahut Syafiq. “Memang. Kan tadi ibu bilang kalau ayah tahu” kesal Sabrin. “Cie ibu marah” ledek Nada yang wajahnya sudah menatap wajah Sabrin. “Siapa bilang ibu marah, ibu cuma kesal sama sikap kalian. Mau sampai kapan kalian begini? Sudah pada besar bukannya berubah” “Nanti kalau kita diam dan nggak saling ribut lagi, ibu pasti akan kangen masa-masa kita buat berisik rumah ibu” gumam Syafiq sebagai jawaban. Kepalanya sudah mendarah empuk pada bantal besar milik Nada dengan sarung yang berwarna pink. Ketika tidak ada sahutan dari ibunya, Syafiq berbaring miring. Menatap ibunya tengah mengusap lembut kepalanya dan kepala Nada secara bersamaan. “Memang. Ibu pasti rindu jika suatu saat nanti akan terjadi seperti itu” mata Sabrin sudah mulai berkaca-kaca. Jika sudah seperti ini siaga satu untuk Syafiq. Dari posisinya yang berbaring, kini memilih duduk dan memeluk tubuh ibunya kedalam dekapannya. “Jangan pernah merasa sepi bu. Disini ada abang dan Nada yang selalu ada buat ibu. Walau kami berdua selalu membuat ibu marah dan kesal. Tapi ibu harus tahu, baik abang dan Nada nggak ada satupun dari kami yang mau buat ibu nangis. Dibalik rasa marah ibu ada cinta yang tulus untuk kami. Dibalik kesalnya ibu ada perhatian yang tulus agar anak-anaknya kelak bisa lebih menjadi sosok yang sempurna. Tapi bu, abang selalu bilang sama ibu kalau ibu adalah perempuan yang paling sempurna dimata abang. Walaupun abang sering dengar tentang ibu dimasa lalu, tapi karena ibu abang bisa ada disini. Abang memang belum menjadi laki-laki sukses dengan segala materi. Karena tujuan utama abang bukan itu. Abang cuma ingin sukses buat ibu selalu bahagia” Sabrin yang berada di dalam pelukan Syafiq menangis menahan haru. Jadi begini dulu maminya menahan bahagia jika dia berkata sayang padanya. “Bu..” kini giliran Nada yang turut memeluk Sabrin. Gadis belia itu ikut masuk ke dalam pelukan Syafiq merasakan hangatnya keluarga kecil yang mereka miliki. Walau tanpa... ayah. “Maafin ibu ya nak. Harusnya keluarga kita lengkap dengan sosok ayah kalian. Tapi, mau bagaimana lagi” ucap Sabrin dengan suara serak. “Ayah selalu ada dihati kita bu. Syafiq nggak mau ibu merasa bersalah karena ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya. Dia bekerja untuk semua orang bu. Jangan siksa dia dengan sikap ibu sedih seperti ini. Karena ayah juga manusia biasa bu. Dia sudah sebisa mungkin berbuat adil untuk keluarga dan pekerjaannya. Dan harusnya ibu tahu itu.” “Aduh, ibu kok jadi nangis begini sih” keluh Sabrin sambil tertawa memeluk kedua anaknya. “Terima kasih sayang. Kalian berdua adalah segalanya” “Sama-sama ibuku sayang” jawab Nada lebih dulu. Karena Syafiq hanya mencium kening ibunya kemudian tersenyum bahagia sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi Sabrin. “Ibu adalah yang terbaik..” “Yakin ibu yang terbaik? Nanti kalau udah ketemu jodohnya, ibu dilupain” kekehnya. “Beda kali bu..” “Sok tahu kamu beda” cibir Sabrin. “Abang ngomong begitu kayak udah punya pasangan aja. Padahal mah kagak laku dia bu. Mana ada cewek yang mau sama cowok belum mandi” “Mulai deh kamu” toyor Syafiq ke kepala Nada. “Bu lihat tuh” Syafiq hanya menyengir lebar dengan tubuhnya kembali di rebahkan dikasur Nada yang berukuran tidak terlalu besar. Maklum saja adiknya itu tidak terlalu tinggi dibandingkan dua sepupu perempuannya yang lain. “Bang...” kini Nada merengek ke Syafiq karena teringat sesuatu. “Hm..” sahutnya sudah mulai memejamkan mata. Apalagi tangan Sabrin tidak ada hentinya mengelus kening serta rambut Syafiq. “Bantuin Nada buat tugas yuk bang” rengeknya manja. Dalam hati Syafiq mencibir, jika sudah ada maunya saja Nada akan baik kepadanya. “Abang Syafiq, ayo dong” bujuknya lebih halus. “Tugas apaan?” “Tugas biologi” Mata Syafiq yang tadinya tertutup langsung saja terbuka. Dengan senyum khasnya dia melirik ke arah adiknya itu, “Bab reproduksi bukan?” “Bu, lihat tuh. Abang pikirannya jorok. Emang pelajaran biologi cuma ada bab reproduksi” “Kan abang cuma tanya. Lagian kalau kamu bilang abang pikirannya jorok, terus gimana pikiran ayah? Yang setiap saat ngeliatin alat reproduksi orang lain” “IBUUUU” “SYAFIQ....!!!” teriak Sabrin tidak mau kalah. Tetapi yang menyebalkan, Syafiq hanya memperlihatkan senyum jahilnya. “Ya udah abang bantu” “Asikkkk...” “Tapi,” potong Syafiq cepat. “Cuci mobil abang selama sebulan, deal?” Nada membuat wajah jengkel. Dasar laki-laki tidak tahu diri. “Abang, nggak boleh begitu bantu Nada. Yang tulus dong” “Itu kan Syafiq tulus bu” “Tulus kok kayak gitu. Tulus itu seperti akar pohon, selalu ikhlas memberikan segalanya walau sang pohon tidak pernah melihatnya sekalipun” Syafiq dan Nada terdiam. Berusaha mencerna setiap kata-kata bijak Sabrin. “SUPER SEKALIIII” ucap Syafiq dan Nada serentak. Ini sebuah pemandangan langka bila ibunya sudah menjadi bijak seperti ini. Pasti ayah mereka mengajarkan Ibunya sampai berbusa hingga sang ibu bisa bersikap layaknya sosok ibu yang sesungguhnya. ------ Continue. Mau pesan versi bukunya? Langsung ke aku yak
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN