Bab 5

2207 Kata
Orang yang berjiwa besar memiliki dua hati, yaitu satu hati menangis dan satu lagi bersabar. Karena Allah selalu memberikan bukti bukan janji.. Syafiq   Dengan langkah kecil dan sedikit meringis sakit disekitar pergelangan tangannya, Farah bisa sampai ke rumah sakit dimana ayahnya dirawat. Uang satu juta yang tadi berhasil dia dapatkan akan Farah pergunakan untuk hal yang terpenting terlebih dahulu, sisanya dia akan mencari cara lain untuk mendapatkannya. Farah memang sejatinya bukan dari keluarga berada. Anak kedua dari dua bersaudara ini sudah berusaha hidup mandiri sejak pertama kali masuk sekolah menengah atas. Dia dapat bersekolah ditempat yang bagus karena otaknya yang cerdas. Maka pihak dari sekolah membiaya dirinya secara cuma-cuma. Lalu untuk uang sakunya sehari-hari, Farah rela melakukan apa saja. Mulai dari membantu teman-temannya membuat tugas dengan upah makan siang gratis setiap hari, hingga menjadi sales event disetiap sabtu minggunya. Sampai-sampai dari semua orang di sekolahnya menyindir Farah perempuan yang tidak benar. Entah itu tidak benarnya karena dibilang penggila uang, atau suka bermain dengan laki-laki dewasa alias om-om. Padahal sejatinya Farah bukanlah perempuan seperti itu. Dia melakukan semua itu hanya demi sedikit uang untuk bisa membeli perlengkapan sekolah atau makan sehari-harinya. Ayahnya sudah tidak bekerja karena kasus PHK besar-besaran beberapa tahun lalu, sedangkan kakaknya sama sekali tidak peduli dengan kedua orang tuanya. Setelah kakaknya memutuskan menikah dan pergi dari rumah mereka, kini tinggallah Farah dan kedua orang tuanya. Hingga akhir-akhir ini, ayahnya sering merasa sakit pada tubuh tuanya. Karena itu Farah berusaha mencari tambahan uang lebih untuk mengobati sang ayah. Apapun dia lakukan sampai rela menjual foto bugilnya yang memang banyak diminati oleh laki-laki hidung belang. Tetapi sungguh, semua itu hanya terpaksa karena keadaan. Dia tetap tahu batasan namun orang-orang disekitarnya saja yang memandangnya negitif. “Nomor urut 78, atas nama bapak Romi” Farah bangkit dari duduknya. Dia ingin menebus beberapa obat yang diresepkan oleh dokter tadi pagi untuk ayahnya. “Saya sus” “Total 4 jenis obat menjadi 879.000” Farah mengeluarkan uang satu juta yang tadi dia dapatkan. Kemudian selembar demi selembar dihitungnya dengan jari yang sudah dibasahi air liur. Farah tidak mau ada satu lembar pun yang terselip. Karena bisa susah lagi dia mencari dimana tambahannya” “Sus, nggak bisa kurang ya?” Sustes itu hanya tersenyum sambil menggeleng. “Maaf ya mbak, ini sudah sesuai dengan apa yang diresepkan dokter” “Coba aku boleh lihat lagi nggak resepnya tadi” pinta Farah. Setelah menerima resep dokter tersebut, dia meringis sedih. Tulisan macam apa ini? Membacanya saja butuh ilmu kebatinan. Tetapi bisa-bisanya suster ini tahu dan berkata jika totalnya 879.000. Jangan-jangan? “Suster nggak bohongin saya kan?” tuduhnya sambil menyipitkan kedua matanya. “Semuanya sudah ada didata mbak. Saya nggak bisa curangi” jawabnya tidak suka dituduh oleh Farah. “Masa sih? Emangnya ini bacaanya apa?” tunjuknya pada baris resep yang pertama. “Ini Furosemid, mbak” “Untuk apaan tuh?” tanya Farah penasaran. “Untuk anti hipertensi mbak” jawab suster itu mulai malas. “Terus.. terus.. yang ini apa?” tunjuknya pada baris kedua yang sudah seperi cacing kepanasan. “KSR” “Masa sih sus? Dari tulisan sepanjang ini jawabannya Cuma KSR? Suster ngarang nih” tuduhnya. “Mbak kalau nggak percaya silahkan baca sendiri” “Kok gitu? Saya kan tanya karena saya nggak tahu. Boleh dong saya tahu obat-obat yang akan dikonsumsi ayah saya apa? Terus gimana pengobatannya. Susternya kok jawabnya jutek gitu” Suster dihadapan Farah mulai merasa tidak enak karena antrian yang lain juga menunggu. Tetapi Farah seakan masa bodo dengan orang lain yang penting dia paham. “Maaf ya mbak, tapi antrian yang lainnya menunggu” Farah berbalik badan, melihat kesekeliling dimana cukup banyak yang mengantri setelahnya. Memandang dirinya sebal karena membuat yang lain menjadi semakin lama. “Suster-suster, mereka semua mengantri karena loket pembelian obat disini hanya dibuka satu. Coba lebih, saya yakin nggak akan ada antrian. Kenapa sih nggak dibuka loket sebelahnya? Memangnya teman suster yang lain nggak ada yang bantu jaga? Rumah sakit sebesar ini tapi pelayanannya buruk. Kalau misalkan ada yang ingin menebus obat karena benar-benar butuh lalu suster cuma buka satu loket sampai buat menunggu terlalu lama, apa nggak mati duluan?” tudingnya sambil melipat kedua tangannya didada. Karena mendengar ribut-ribut keluarlah beberapa orang lainnya dengan pakaian sama putih tapi berbeda bentuk dengan suster yang sedang dibuat kesal oleh Farah. “Maaf mbak, bisa saya bantu?” Farah melirik ke perempuan yang menawarkan bantuan kepadanya. Pakaiannya sama seperti dokter tetapi berlengan pendek. Dan Farah baru menyadari perempuan itu siapa setelah membaca name tag di dadanya. Asisten apoteker Lalu dibawah tulisan itu ada nama perempuan itu. “Mbaknya asisten apoteker?” “Iya mbak” “Kok yang jelasin saya tentang obat-obat tadi susternya ini. Memangnya dia tahu ya soal obat-obatan dan kandungan dosisnya.” “Sedikit banyak sudah diberikan bekal pengetahuan kok mbak, jadi tidak perlu khawatir” Farah mencibir mendengarnya. “Tidak perlu khawatir? Situ sih santai-santai aja kalau salah baca atau salah kasih keterangan obat. Lah yang jadi korban kan pasiennya” makinya dalam hati. “Jadi gitu ya mbak. Kalau suster yang ngurus obat, suster yang ngurus pembayaran, suster yang menjelaskan semuanya. Tugasnya mbak apa? namanya sih asisten apoteker, tapi kerjaannya hanya diam tidak menolong sama sekali. Harusnya mbak yang lebih aktif menjelaskan kepada konsumen seperti saya yang nggak tahu soal obat. Nanti kalau saya salah kasih obat ke ayah saya karena salahnya penjelasan dari susternya, yang merasakan saya mbak. Bukan mbaknya. Kok bisa sih rumah sakit sebesar ini mempekerjakan orang seperti mbak” tudingnya tidak mau berhenti. Apalagi Farah sampai bertolak pinggang segala. Awalnya Farah hanya bermain-main mengerjai suster itu, tetapi melihat mereka melakukan pelayanan yang kurang baik emosinya meningkat. Hingga niat jahatnya pun muncul. “Saya memang masih muda mbak, belum mengerti apa-apa. Tapi bisa saja saya menuntut rumah sakit ini karena mengaku rumah sakit internasional tetapi pelayanan sangat jauh dari kata standar” Asisten apoteker itu hanya diam. Dia juga bingung harus menjawab apa. Memang tadi kelalaiannya membiarkan satu orang berjaga di depan. Padahal dia tengah bersantai-santai di belakang. “Ada apa ini?” Farah yang sedang bertolak pinggang seketika meluruh lemas tak berdaya. Apa dia tidak salah lihat sosok dihadapannya ini? Seorang laki-laki dengan jas dokter berdiri dengan tegapnya tak jauh darinya. Lalu ditangannya ada sebuah map yang sepertinya tengah dia baca. Baru kali ini Farah merasa penuh syukur karena masih ada laki-laki tampan seperti ini. Dia pikir hanya ada di negeri dongeng sosok tampan dihadapannya, ternyata di dunia nyata pun ada. “Itu Pak...” jawab sang asisten apoteker takut-takut. Beberapa orang yang ingin menebus obat seperti mendapatkan tontonan gratis di malam hari. “Ada masalah apa mbak? Ada yang salah dari obat yang diberikan?” Farah menggeleng, namun seketika mengangguk kembali. “Ini dokter...” matanya mencuri pandang ke name tag dibagian d**a pada jas putih itu. “Saya dokter Fatah” Bibir Farah terbuka lebar. Dia tahu siapa dokter Fatah. Beberapa kali wajah ini pernah muncul di televisi. Pantas saja tadi dia merasa seperti pernah bertemu. Dan sangat fantastis, dokter Fatah ada dihadapannya. “Dokter Fatah, saya Farah...” ucapnya pelan. Dia bersemu malu karena nama mereka sangat mirip, Fatah dengan Farah. “Saya ingin menebus obat ayah saya, tetapi suster dan asisten apoteker ini melayani saya dengan tidak baik. Saya disini ingin membeli bukan meminta” “Jadi seperti itu” gumam Fatah berusaha untuk mengerti. “Berikan semua obat untuk mbak Farah. Sesuai dengan yang diresepkan” Farah tersenyum senang, dia menautkan kedua tangannya sambil malu-malu menatap Fatah yang masih sibuk memberikan instruksi. “Ini semua obatnya mbak” “Saya bayar berapa dok” tanya Farah basa basi. “Tidak perlu, semoga Allah cepat mengangkat sakit ayahmu dan memberikan dirinya kesehatan. Obat ini hanya membantu, karena sesungguhnya yang mengobati adalah Allah” “Sekali lagi terima kasih dokter” ucapnya dengan membungkukkan tubuh. Lalu ketika dia berdiri tegap kembali, Fatah sudah berjalan meninggalkannya. Hati Farah seperti ditumbuhi bunga-bunga. Memang dibalik kejahatan pasti ada kebaikan. Boleh saja tadi dia menangis hanya karena berusaha mencari sedikit uang untuk ayahnya. Dan setelahnya Tuhan punya rencana lain, dia mendapatkan obat itu secara cuma-cuma. “Terima kasih”   ** Tepat pada hari minggu pagi suara berisik membuat tidur Syafiq sangat terganggu. Dia berusaha menutup kepalanya dengan bantal tetap saja tidak mampu menghalau teriakan demi teriakan dari arah luar kamarnya. Dengan setengah mengantuk Syafiq membuka pintu kamar dan berjalan ke bawah dimana sumber berisik itu berada. Ternyata semua keluarga besarnya sudah berkumpul. “Bang Syafiq” tegur Shaka, si bocah yang sangat dibenci Syafiq. Syafiq hanya melengos saja, malas menjawab panggilan Shaka. Dia berjalan terus menuju lemari es untuk menuangkan segelas air putih agar dapat menghilangkan rasa hausnya. Tetapi baru setengah gelas dia minum, bibirnya menyeburkan air begitu saja saat Shaka menunjukkan sesuatu dengan ponsel pintarnya. “Gimana bang?” “Itu serius?” tanya Syafiq tidak percaya. “Dua rius bang” cengirnya. “Bagus kan?” tanya Shaka. Kedua alisnya naik dan turun secara bergantian. Batinnya bersorak bahagia bisa menggoda Syafiq seperti ini. Syafiq menggeleng cepat. Bagus dari mananya? Yang ada dosa melihat seperti itu. “Dapat dari mana lo?” “Bang Syafiq mau?” Shaka merasa Syafiq tertarik dengan apa yang dia tunjukkan tadi. “Nggak” Seketika tawa Shaka pecah begitu saja. Munafik sangat abang sepupunya ini. Mana ada laki-laki yang tidak suka melihat gambar indah ini. Bukannya lumayan untuk koleksi? “Minggir, gue mau mandi” “Lo serius nggak mau bang? Sayang banget. Padahal gue beli mahal buat lo” Langkah kaki Syafiq yang sudah menjauh berhenti sejenak. Mencoba memahami semua kata-kata Shaka barusan. “Lo beli?” ulangnya. Shaka mengangguk lalu berjalan mendekati Syafiq. Dengan cepat dia memperlihatkan semua gambar itu walau Syafiq tidak melihatnya. “Lo lihat dulu bang, bagus nggak?” “Lo gila ya, ayah lo tahu habis lo” “Ayah pasti paham. Dia kan juga pernah muda” jawab Shaka santai. “Kalau bang Shafiq nggak mau, gue kasih Wahid” ucapnya enteng. Padahal sedari tadi Syafiq sudah berusaha menahan rasa penasarannya. Karena mencari tahu hal yang mendatangkan dosa bukan sesuatu yang baik. “Wahid?” “Iya” kedua alis Shaka digerak-gerakan seakan menggoda Syafiq yang semakin kesal. “Lo kuno sih bang, nggak update perkembangan. Tanya Nada kalau lo mau tau” Syafiq yang ditinggal sendiri oleh Shaka hanya bisa meringis. Dia menangisi akan hancurnya kaum perempuan yang begitu mulia tetapi mereka seakan lupa dan menghancurkan kaum mereka sendiri. Masya Allah.. Dia menggeleng lemah. Apa harus dia mengingatkan kepada perempuan itu?   **   Syafiq yang masih dilanda gelisah turut bergabung dengan semua keluarga besarnya. Dia hanya menjadi pendengar setia karena bagian berbicara panjang lebar sudah menjadi tugas Shaka dan juga Nada. Selain mereka berdua tidak ada lagi yang berbicara berlebihan. Ketika satu bagian Shaka menyinggung tentang kisah cinta, semua orang terdiam memperhatikan aksi dirinya. Dirinya menggebu-gebu berbicara soal cinta. Padahal sekalipun dia belum pernah ada hubungan khusus dengan lawan jenisnya. Lalu dari mana dia paham soal itu? “Wah, abang Shaka lagi jatuh cinta” celetuk Nada. “Abang memang jatuh cinta. Pada diriNya yang tidak terlihat tetapi selalu ada dihati abang. Tidak pernah meminta tetapi selalu memberi apa yang abang mau” “Sama siapa bang?” koor kedua adik perempuannya. Shaka mengedip sedikit ke arah bundanya, kemudian tersenyum kembali kepada semua orang. “Ya jelas pada Allah dong,. Iya nggak bun?” Sendi yang ditanya anak pertamanya hanya menggelengkan kepala. Dia bingung harus menanggapi apalagi dengan kelakuan aneh putranya itu. “Ngomong apa sih kamu bang” tegur Imam yang datang dari luar setelah tadi sibuk menerima panggilan dengan ponselnya. “Masih kecil ngomongin cinta” “Terus abang harus ngomong tentang apa?” “Ngomong tentang rambutmu tuh belum di potong udah panjang” ucap Imam. Dia memang sangat pandai menyindir orang lain, hingga Syafiq yang tadinya hanya diam menjadi bersuara. Sebelum membalas kata-kata itu, Syafiq mendengus kesal. Dia menatap tidak suka kepada ayah dan anak itu. “Kadang banyak orang yang terlalu berhati-hati dan merasa jijik dengan najis. Tetapi sangat disayangkan mereka tidak pernah berhati-hati dengan namanya ghibah” “Abang Syafiq” tegur Fatah. Dia menggeleng melarang anaknya membalas semua sindiran tadi dengan kata-kata menusuk hati. Karena bila kejahatan dibalas dengan kejahatan tidak akan pernah selesai. “Kenapa yah? Bukannya disini semua orang bebas berbicara? Sejak tadi Shaka sudah berbusa berbicara mengenai ini dan itu. Abang hanya berbicara satu ucapan saja, ayah langsung melarang. Memangnya abang nggak boleh bebas berbicara disini? Apa salah Abang?” Fatah menarik napasnya dalam. Dia tahu Syafiq akan meresponnya seperti ini. Padahal dia sudah diam-diam menasehati Syafiq dengan melarang anaknya itu. “Dengarkan ayah, Abang sudah dewasa. Harusnya abang lebih paham dan mengerti. Ayah melarang abang dengan gelengan kepala supaya abang tahu ayah sedang melindungi abang. Karena ayah tidak mau menasihati abang di depan semua orang seperti ini. Abang harus ingat ini, siapapun yang menasihatimu dengan sembunyi-sembunyi maka dia benar sayang padamu. Ingin dirimu menjadi lebih baik, tetapi bila siapapun menasihatimu dengan terbuka di hadapan semua orang, maka dia sama saja menghinamu” Syafiq diam membisu. Dia salah lagi sepertinya. Kalau dibiarkan ayahnya terus-terusan menasehatinya tidak akan kelar waktu seharian. “Bisa nggak mandi seharian kalau dengar ayah ceramah” teriak batinya. ----- Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN