Bab 6

2264 Kata
Meski tak pernah kau melingkarkan tangan untuk memeluk, tetapi aku yakin suatu saat nanti kau mampu melingkarkan cincin dijari dan membuatku takluk... Farah.   Senin pagi di rumah keluarga Al Kahfi semua orang terlihat sibuk. Contohnya Sabrin yang menyiapkan sarapan untuk keluarganya dengan dibantu sang mama mertua. Mama mertuanya beberapa hari kemarin sempat menginap di rumah Umi, adik Fatah. Dan baru minggu kemarin mama dan papa kembali pulang. Sabrin bersyukur bila mama mertuanya di rumah, dia tidak akan kesepian jika anak-anak dan suaminya sudah berangkat. Namun bila ada mama mertuanya yang baik hati dan penyayang ini semua terasa berbeda. “BAAAAANGGGG” lagi-lagi suara Nada yang  berteriak kencang di depan pintu kamar Syafiq. Seperti biasa, abangnya itu akan selalu susah bangun. Padahal ia ada jadwal kuliah hari ini. Namun tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam kamar tersebut. “Kenapa dek?” tegur Fatah ketika baru keluar kamar lalu melewati Nada yang sedang marah-marah. “Abang tuh yah, dibangunin susah banget. Kalau nungguin abang terus, Nada bisa kesiangan” keluhnya. Fatah mengerutkan keningnya, lalu turut membantu Nada untuk membangunkan Syafiq. “Abang, kamu belum bangun? Kesiangan nanti” Hening tidak ada sahutan dari dalam sedikitpun. Kemudian Fatah kembali ke dalam kamarnya, mengambil kunci cadangan yang memang dia simpan untuk dipergunakan sewaktu-waktu. Tetapi belum sempat Fatah membuka pintu kamar Syafiq dengan kunci cadangan, wajah putranya itu sudah terlihat dari balik pintu kamar. Dengan mulut yang terbuka lebar, dia menatap kesal Nada yang tersenyum penuh kemenangan. “Kenapa lagi?” “Malah tanya kenapa? Bangun kali bang, udah siang. Nih lihat udah jam 6” todong Nada dengan jam tangan baru yang dia miliki ke arah mata Syafiq. “Bilang aja mau pamer” “Tapi bagus kan” cengirnya. Saat Syafiq mengalihkan pandangannya dari Nada, dia membisu melihat ayahnya yang menatapnya dingin. Entah itu marah, atau tidak suka, atau masih banyak kemungkinan lainnya. Syafiq ragu mengartikan tatapan seperti apa yang ayahnya berikan kepadanya. “Ayah tunggu di meja makan” hanya sebuah kalimat singkat tetapi membuat Syafiq bergerak dengan cepat. Ini sudah siaga satu, ayahnya pasti akan marah bila tidak dituruti. ** Kini Syafiq sudah duduk di meja makan bersama ayahnya, kakek dan nenek, serta Nada. Ibunya masih sibuk bolak balik dari arah dapur ke meja makan. Satu persatu menu sarapan yang ibunya sajikan menggelitik rasa lapar di perutnya. Ketika tepat di depannya pisang goreng panas diletakkan diatas meja makan, tangan Syafiq langsung menyambarnya. Memakan dengan nikmat pisang goreng terenak yang ibunya selalu buat. Rasa gurih karena digoreng oleh margarin ditambah manisnya pisang bercampur menjadi satu. “Ayah kecewa sama kamu bang” Hanya satu kalimat yang ayahnya ucapnya dengan serius, membuat pisang goreng di dalam mulut Syafiq keluar dari mulut. Buru-buru dia mengusap bibirnya dan melirik ayahnya yang duduk begitu tegak di sisi kepala meja makan. Sedangkan sang kakek yang biasanya membela, hanya diam saja. Membuka halaman demi halaman koran pagi yang disediakan oleh sang menantu. Seperti tidak ada adegan antara Syafiq dan Fatah pagi ini. “Kecewa kenapa yah?” tanya Syafiq takut-takut. Dia melirik nenek yang duduk disebelah kakek. Mencari bala bantuan bila ayahnya ceramah panjang lebar dipagi hari. Ammah-nya saja selalu kabur bila ayahnya akan melakukan ritual ceramahnya. Apalagi dia? “Jangan lihat ke nenek bang” Karena merasa tidak ada yang bisa membantunya, Syafiq mulai memberanikan diri menatap ayahnya kembali. Lalu kedua mata mereka bertemu. Dan Syafiq sadar tatapan ayahnya memang sudah berubah. Ayahnya marah... “Kamu semakin ayah biarkan semakin menjadi. Ayah bingung sama kamu, apa mau kamu sebenarnya?” tanya Fatah dengan tegas. Syafiq menahan napasnya ketika mendengarkan ayahnya berbicara. Semua ini menakutkan dimata Syafiq. Ayahnya memang tidak pernah marah, tetapi sekalinya marah seperti Allah mendukungnya. “Syafiq nggak mau apa-apa yah” Fatah menggeleng cepat, “Tidak mau apa-apa kamu bilang? Tetapi kamu selalu melakukan sesuatu yang seolah-olah kamu ingin sesuatu yang sesungguhnya dilarang” Diam. Jika sudah dipastikan tidak ada yang mendukungnya salah satu cara terbaik adalah diam. Sampai ayahnya selesai berbicara barulah dia mengemukakan pendapatnya kembali. “Kamu paham kan maksud ayah? Ayah memang tidak memasukkan abang ke pesantren yang dulu ayah pernah jalani, karena ayah yakin ilmu agama itu tidak hanya berasal dari sekolah. Rasanya setiap abang tanya masalah agama dan segalanya, ayah selalu menjelaskan semuanya. Tetapi semakin kesini, abang semakin menunjukkan bahwa abang tanpa agama pun bisa melakukan apapun” “Kok ayah bilang begitu? Itu sama saja ayah nuduh abang nggak punya agama” keras Syafiq menjawab. “Bukan begitu bang. Belajar ilmu agama itu sampai mati. Gali terus apa yang ingin kamu tahu. Agama itu bukan hanya sholat bang. Memang sholat adalah tiang agama, tapi masih banyak hal lainnya. Jangan merasa puas hanya abang sudah bisa sholat. Percuma bisa sholat tetapi tidak dibarengi dengan hal positif lainnya. Contohnya membaca Al-Qur’an” “Ayah bisa bicara begitu karena ayah nggak pernah ada di rumah. Ayah bisa tanya ibu, apa Syafiq pernah meninggalkan tadarus? Apa Syafiq pernah lalai membantu sesama muslim?” belanya tidak terima. Kemudian dia tersenyum miris menatap ayahnya yang berusaha tenang padahal Syafiq tahu ayahnya sedang menahan kekhawatiran. Entah khawatir masalah apa? “Sekarang Syafiq tanya, berapa banyak waktu ayah di rumah untuk kami? Tetapi ayah bicara seolah-olah ayah tahu segalanya” ringisnya sedih. “Coba kamu tunjukkan bagian mana yang sudah kamu lakukan dengan baik dan benar?” “Melakukan apa yang diperintahkan Allah tidak perlu diumbar-umbar sampai semua orang tahu. Syafiq bukan mereka-mereka diluar sana” Kakek yang tadinya tidak peduli, menutup koran paginya lalu mengecap nikmatnya kopi dipagi hari sambil menatap cucunya tengah beradu argumen dengan sang ayah. “Abang tahu diri abang itu beda jauh sama ayah. Mungkin waktu di usia abang, ayah sudah menjadi sosok laki-laki sukses. Dengan segenap ilmu kedokteran dan ilmu agama yang ayah miliki. Ayah siap menatap kerasnya dunia tanpa perlu kakek ikut campur. Tetapi ayah dan Syafiq itu beda. Memang darah kita sama yah, memang DNA kita sama, tetapi jalan hidup kita berbeda. Hati kita berbeda. Semangat hidup kita berbeda. Abang bukan ayah yang dengan mudahnya menjadi sukses. Dan abang bukan Tuhan yah. Jangan menuntut kesempurnaan dari abang. Karena sampai kapanpun ayah nggak akan temui itu” Sabrin yang mendengar dari dapur suami dan anaknya sudah ribut dipagi hari membuat dirinya ingin menjerit. Akhirnya masa ini datang juga. Sejak dulu dia sudah merasakan suatu saat Syafiq dan Fatah akan meributkan sesuatu karena jalan pikiran mereka berbeda. Dan sekarang sudah terealisasi. “Semua yang kamu katakan benar. Ayah setuju semuanya. Tetapi apakah kamu sadar, hal sederhana yang disukai Allah saja tidak kamu jalani dengan baik. Ayah rasa sekarang abang tidak perlu diajarkan kembali manusia seperti apa yang disukai sama Allah” “Yah, abang sudah 20 tahun. Dan ayah ingin abang menjawab pertanyaan anak SD yang ayah ucapkan” ucapnya keras kepala. “Bang, udah sih” bisik Nada. Dia tidak mau debat pagi ini terus berlanjut. “Sebutkan bila menurut abang kata-kata ayah hanya berisi kalimat untuk anak SD” Masih dengan menatap ayahnya, Syafiq mulai bersuara dengan tenang namun penuh percaya diri. “Manusia yang disukai sama Allah itu ada, Al-Muhsiniin (Orang yang berbuat baik), Al-Muqsithiin (Orang yang Adil), Al-Mutawakkiliin (Orang yang bertawakkal kepada-Nya), Al-Muthahhariin (Orang yang mensucikan diri, Orang yang bersih), Al-Muttaqiin (Orang yang bertakwa), Ash-Shaabiriin (Orang yang Sabar), At-Tawwaabiin (Orang yang bertaubat), dan Orang yang berperang dijalan-Nya. “ Jawab Syafiq tanpa ragu. “Sekarang ayah ambil salah satunya, apa abang termasuk golongan Al-Muthahhariin?” Syafiq menggeleng. Dia tahu kemana arah ayahnya berbicara. Menyindirnya untuk memperbaiki dirinya kembali. “Kalau tahu kamu bukan masuk golongan itu, apa abang masih bisa bangga atas apa yang tadi abang bilang pada ayah? Hal dasar saja abang belum mampu. Apa susahnya sih bang, menjadi golongan Al-Muthahhariin? Setidaknya bersihkan tubuhmu dengan bersuci. Masa kamu kalah sama anak-anak kecil sekarang yang kalau disuruh mandi senang. Kamu tahu kan bang, mandi itu perlu. Selain karena memang kewajiban kita sebagai umat muslim menjaga kebersihan, dalam ilmu kedokteran mandi juga sangat penting. Banyak manfaat baiknya kalau kamu mandi. Apalagi dipagi hari. “ “Jadi ujung-ujung dari kalimat ayah itu suruh Syafiq mandi?” keluhnya malas. Pisang goreng yang tadi dia asingkan kembali masuk kedalam mulutnya dengan lahap. Mengisi tenaga untuk melawan ayahnya kembali itu perlu. “Intinya itu. Bukannya abis sholat subuh kamu terus tidur lagi. Coba kamu rubah kelakuan anehmu itu. Sebelumnya ayah diam karena ayah pikir kamu dapat memperbaikinya, tenyata semakin ayah diam kamu semakin menjadi” “Yah, tidur habis sholat subuh tuh enak” bela Nada yang merasa tersindir juga. “Kamu tahu Nada, tidur sehabis sholat subuh disebut Hailulah?” Nada menggeleng cepat, sedangkan Syafiq mengangguk tanda paham “Hailulah itu adalah tidur selepas salat shubuh, tidur ini tidak baik buat yang melakukannya. Selain bisa terlambat untuk memulai aktifitas, juga bisa menghambat datangnya rezeki. Disamping itu ada Qailulah dan Ailulah. Bila Qailulah ini adalah tidur sebelum shalat dhuhur. Ini sangat bermanfaat dan pernah dilakukan oleh Rasulullah. Sedangkan Ailulah tidur sehabis sholat ashar, ini tidak boleh dilakukan karena akan menimbulkan banyak penyakit seperti salah satu contohnya itu adalah sesak napas” jelas Fatah panjang lebar. “Gitu ya yah” Fatah mengangguk sambil tersenyum ke arah putri tercintanya, “Sudah tahu kan sekarang? Jika mengerti diamalkan bukan dipendam dan dilupakan begitu saja” “Nada nggak pernah ya yah begitu, abang tuh” “Kamu juga sama saja sama abangmu. Susah diatur” “Kok ayah begitu sih ngomongnya? Kan abang sama Nada itu anak ayah, jadi kalau kami nggak bisa diatur berarti ayah juga begitu” Syafiq dan Nada saling melakukan toss dengan sebelah tangan mereka dibawah meja. Melawan sang ayah itu butuh ketenangan bukan emosi. Dan ternyata benar, Fatah hanya bisa diam memikirkan kata-kata Nada. Dalam dirinya banyak bertanya, kedua anak ini apa benar anaknya?   ** “Bang, tadi lihat nggak ayah mukanya gimana dengar Nada bicara” ceritanya pada Syafiq. Mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju sekolah Nada. Dan hanya disini, tanpa kehadiran ayahnya mereka berani berbagi cerita masalah debat pagi tadi. “Lihat.. lihat bang, ayah begini tadi mukanya” Nada melipat kedua tangannya didada, kemudian dengan sengaja mengerutkan keningnya dan menatap tajam ke arah Syafiq. Sangat mirip dengan Fatah. Pastinya mirip, mereka adalah ayah dan anak. Hanya berbeda jenis kelamin saja. “Ada yang beda dek sama gaya yang kamu peragain” “Apanya yang beda bang?” Tanya Nada seolah tak paham apa yang kurang. “Jenggotnya nggak ada” Bahu mereka awalnya hanya sedikit bergetar, lalu pecah sudah tawa mereka di dalam mobil. Hanya sedang membicarakan sang ayah saja mereka berdua bisa akur. Sesampai di sekolah Nada meminta Syafiq untuk menjemputnya nanti selepas kuliah. Kali ini Syafiq tidak menolak sedikitpun, karena dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama kembali. Baru saja Nada turun dari mobil Syafiq, tetapi dengan cepat dia berlari mengejar sosok yang berjalan tidak jauh dari dirinya. Dari dalam mobil Syafiq mulai memperhatikan siapa orang itu. Dari belakang tubuh itu jauh lebih tinggi dari Nada. Rambut hitam panjang itu seakan memanggil-manggil matanya untuk terus melihat. Lalu tiba-tiba saja orang itu berbalik, dan terlihatlah siapa dia. Perempuan itu.. Syafiq meremas stir mobilnya kuat-kuat. Ingatannya tentang foto yang ditunjukkan Shaka semakin membuatnya kesal. Bukan karena kesal Shaka tidak memberikan kepadanya, namun dirinya entah merasa marah bila perempuan itu menunjukkan hal yang seharusnya hanya dilihat oleh suaminya kelak diberikan kepada semua orang dengan mudahnya. Nada menunjuk mobil Syafiq bersamaan dengan senyuman perempuan itu ke arah mobilnya. Mereka terlihat asik berbicara, sampai-sampai gadis itu tersenyum lagi dengan manisnya lalu berbalik badan kembali untuk masuk ke dalam sekolah. Niat hati Syafiq ingin segera memutar balik mobilnya menuju kampus untuk memulai aktifitasnya, tetapi tangannya tidak merespon otaknya melainkan hatinya yang terus saja bergetar. Layaknya alarm yang sering Syafiq pasang untuk membangunkan dirinya sholat, namun hanya berakhir dengan getaran maha dasyat yang membuat dirinya semakin di nina bobo kan. “Ini salah, nggak seharusnya gue begini. Dia siapa? Bisa-bisanya melet gue jadi aneh” gumamnya seorang diri. Dia memperhatikan wajahnya dipantulan kaca spion tengah di dalam mobilnya. Walau dia tidak seganteng sang ayah, tetapi Syafiq yakin bisa melumpuhkan perempuan yang lebih baik dari dia. Minimal setara dengan tantenya, Sendi yang cantik dan sholehah. Bukan seperti dia. Yang mengumbar segalanya untuk dinikmati orang banyak. Mana ada laki-laki mau jika berbagi miliknya. Miliknya? Siapa? Perempuan itu? Syafiq menggeleng pelan. Berkali-kali dia menenangkan hatinya agar hatinya sadar bila perempuan itu bukan miliknya. Mau dia berpose tanpa busana pun, bukan urusan Syafiq. Itu hak dia. Dan bila terjadi dosa, itu hubungannya dia dan Tuhan. Tapi entah mengapa, semakin dirinya mengelak, dia semakin tidak terima bila perempuan itu tega membuat dirinya hina sendiri. “Nada, kenapa lo ceroboh banget?” geram Syafiq ketika matanya melihat kotak makan berwarna pink di kursi belakang mobilnya. Dengan terburu-buru dia mengejar Nada yang sudah menghilang entah kemana. Dia berlari dengan cepat sampai rambunya yang sebahu terbang-terbang seperti layaknya model. Mata murid perempuan yang melihat Syafiq terbuka lebar. Hingga Syafiq ingin mencolok semua mata itu sampai tertutup dan tidak bisa melihat lagi. “Apa mereka tidak pernah lihat laki-laki gondrong dan brewok lari maraton pagi-pagi?” batin Syafiq. Sampai tiba dirinya di lorong kelas, dia bisa melihat perempuan yang tadi bersama Nada masih berdiri di dekat papan yang Syafiq rasa mading sekolah. Perempuan itu hanya diam dan termangu membaca sesuatu disana. Langkah pelan Syafiq mendekatinya, masih dengan kotak makan berwarna pink yang membuat Syafiq terlihat lucu dan menggemaskan dimata semua orang. Tepat dibelakang gadis itu berdiri, Syafiq ikut membaca hal yang sama. Dan Syafiq tahu apa yang dirasakan oleh gadis yang dia tahu bernama Farah ini. “Aku yakin kamu bukan orang seperti itu”   ----- Continue Yakin masih enggak mau baca?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN