Bab 7

2060 Kata
Hadiah tidak selalu terbungkus dengan indah. Terkadang Tuhan membungkusnya dengan masalah, tetapi didalamnya insha Allah tetap berkah. Seperti dirimu saat ini.. Syafiq   “Aku yakin kamu bukan orang seperti itu?” Tubuh Farah menengang mendengar suara seorang laki-laki tepat dibelakangnya. Dirinya dapat melihat pantulan sosok laki-laki itu dari mading sekolah yang terlapisi kaca. Samar-samar dia mengingat pernah bertemu dimana dengan orang ini. “Asalkan kamu tahu, dunia itu hanya sebuah pilihan sementara. Tinggal dan bertarung, atau lari untuk selama-lamanya.” Bisik Syafiq tepat ditelinga Farah. Farah memejamkan matanya. Menghalau sesuatu yang sebentar lagi akan tumpah. Dia tidak mau dilihat lemah orang orang lain. Apalagi orang itu bukanlah yang dia kenal. “Jangan cengeng. Karena kehidupan yang abadi adalah setelah dunia ini hancur. Dan Allah akan tahu mana umatnya yang sudah berjuang untuk bertahan dengan segala cobaan yang dia berikan, dan mana yang hanya main-main” sambung Syafiq kembali. Hembusan napasnya tepat mengenai puncak kepala Farah hingga gadis itu bisa merasakan kehangatan yang menjalar disekujur tubuhnya. Ingin ia menyahut semua perkataan laki-laki dibelakangnya namun lidahnya mendadak keluh. Semua kalimat yang Syafiq ucapkan membuatnya nyaman dan percaya bila gelap tak selamanya hujan. Karena malam yang gelap bisa memberikan kebahagiaan ketika bulan dan bintang datang menyapa. Ketika Farah ingin membalik tubuhnya, Syafiq menahan bahunya dengan kotak makan pink milik Nada. “Tolong jangan lihat saya sekarang. Dan tolong hapus semua pikiran baik-baikmu tentang saya. Karena saya tidak sebaik itu” ucapnya tenang. Sebagai jawabannya, Farah mengangguk dan kembali terpejam. Mereka berdua berdiri tanpa suara. Meresapi rasa yang diam-diam menusuk mempermainkan hati mereka berdua agar terjerumus dalam ruang semu yang mengatasnamakan cinta.   **   Saat Farah mulai membuka matanya kembali, dia sudah tidak dapat melihat pantulan wajah Syafiq dari kaca mading. Segera dia berbalik dan laki-laki itu sudah pergi menjauh. Hanya punggung Syafiq yang dapat Farah lihat. Dengan kemeja kotak-kotak berwarna hitam lalu celana jeans serta sepatu convers yang terlihat santai membuat hati Farah menghangat kembali. Siapapun laki-laki itu, Farah begitu mengucapkan terima kasih. Berkat dia Farah yang tadinya ingin menangis mendadak seperti mendapatkan semangat baru. Dengan masih termenung melihat tubuh tegap itu hilang, Farah berdoa pergi kemana pun langkah laki-laki itu semoga diberikan perlindungan. Hanya doa singkat, entah akan didengar Tuhan atau tidak yang terpenting niat tulusnya untuk mendoakan. “Kak Farah” teriak Nada. Farah mengalihkan pandangannya menatap Nada yang tersenyum melihatnya. Langkah kecil Nada mengikis jarak diantara mereka. Kemudian dengan senyum jahilnya Nada mulai berkicau seperti burung dipagi hari. “Cie, senyam senyum sendiri. Kenapa kak?” “Nggak papa kok” sebelah tangannya merangkul tubuh kecil Nada dengan sayang. Lalu mereka berjalan meninggalkan mading yang menampilkan foto tanpa busana seorang perempuan dengan wajah diblur dengan inisial nama FKA. Meski Farah kali ini bisa mengelak hatinya agar tidak terasa sakit. Tetap saja berita dimading itu telah sukses membuat semua anak di sekolah semakin menduga bila dirinya bukan perempuan baik-baik.   **   Tiba di kampus Syafiq memarkirkan mobilnya diparkiran kampus yang dikelilingi oleh pohon yang begitu rindang dan menjanjikan kesejukan. Beberapa kursi yang memang dibuat khusus untuk para mahasiswa beristirahat atau sekedar duduk bersama membicarakan tentang banyak hal terlihat sepi. Dengan santainya Syafiq meraih tas ransel hitam yang sudah menemaninya selama 2 tahun dikampus tercintanya ini.  Lalu kakinya melangkah dengan pasti ke dalam ruangan kelas yang menjadi mata kuliahnya. Sambil berjalan menuju kelas tersebut, Syafiq membuka aplikasi diponselnya. Banyak tertera nama Shaka disana. Dari mulai yang bertanya baik-baik dirinya sedang dimana, bahkan dengan serangan huruf demi huruf yang Shaka kirim untuk mengingatkan Syafiq agar tidak terlambat mata kuliah pagi ini. Sebenarnya Shaka adalah junior Syafiq di kampus. Namun karena kegilaan dari mana, sepupu yang paling Syafiq benci itu memang memiliki otak yang sangat cerdas. Hingga di kampus mereka hanya berbeda satu tingkatan saja. Selain pintar bergaul dan gampang berbicara di depan orang banyak, Shaka cukup banyak menarik perhatian perempuan dimana saja. Tetapi Syafiq tahu bila Shaka tidak akan pernah mau terikat dengan seorang perempuan pun sebelum Allah memang mengharuskannya terikat suatu saat nanti. “Woy bang” teriak Shaka dari kursi tempatnya duduk. Wajah malas Syafiq berikan sebagai balasan senyuman merekah dari Shaka. Lalu bukannya mendekati Shaka, Syafiq memilih menghindar dan duduk di kursi bagian depan dengan banyak perempuan memandang Syafiq aneh. “Bang” panggil Shaka sekali lagi. Ketika ada perempuan lain yang ingin duduk disebelah Syafiq buru-buru Shaka memotongnya. “Neng duduk dibelakang ya, abang mau ngomong sama my brother” ucapnya dengan senyum 100 watt. “Bang, lo kenapa sih? Gue tegur kayak kagak kenal. Dosa loh bang” “Lo udah kenalan sama dosa?” “Bang gue serius. Gue ini muslim. Dan lo juga. Lo harusnya bales salam gue bang, karena ada hak gue disana” Syafiq diam saja memandang ke arah papan tulis yang masih sangat bersih karena dosen mereka belum juga datang. Sebelah tangannya memutar-mutar pulpen untuk mengalihkan perhatiannya dari Shaka. “Ya Allah bang, gue ngomong kayak di depan kulkas. Cuma sikap dingin lo doang yang gue rasain” cibir Shaka. Dia mulai membuka isi dalam tasnya yang hanya terdapat satu buku tulis dan beberapa pulpen. Dibukanya buku itu dengan gerakan kasar, seolah-olah ingin Syafiq tahu dia marah pada abang sepupunya. Namun semua itu tidak berpengaruh sama sekali. Karena merasa bosan didiamkan, Shaka mulai membuka aplikasi sosialnya di ponsel. Awalnya dia tidak mendapatkan sesuatu yang bisa dijadikan bahan berbicara dengan Syafiq, tetapi beberapa menit kemudian kedua matanya menangkap sebuah foto. Foto yang membuatnya tidak mampu mengeluarkan segala ocehannya. Dia mati hanya karena foto.   **   Selama dosen menjelaskan, Syafiq melirik Shaka yang terus saja menekuk mukanya. Dia pikir Shaka tadi hanya bercanda merajuk jelek kepadanya. Tetapi sampai selama ini belum satu katapun yang keluar dari mulut Shaka. Ajaib. Hanya kata itu yang bisa Syafiq berikan kepada Shaka. Pemuda yang terlalu banyak bicara kali ini mendadak diam. Apa semalam Shaka lupa mencarger baterainya? “Lo kenapa?” tegur Syafiq pada akhirnya. Shaka menjawabnya dengan mengangkat kedua bahunya malas. Tidak ada suara melengking seperti biasanya. Tidak ada cengiran khas Shaka yang Syafiq benci. FIX, Shaka marah pada Syafiq. Dengan sengaja Syafiq menyikut lengan Shaka. Tetapi lagi-lagi Syafiq didiamkan. Ternyata Syafiq merasakan hal yang biasa Shaka rasakan. Didiamkan itu tidaklah enak. “Baikkan” ajak Syafiq. Biasanya hal ini ampuh membuat Shaka tertawa lagi. Namun semakin Syafiq tunggu wajah kesal bercampur murung itu kembal terlihat. Syafiq diabaikan oleh Shaka. Jari kelingking yang tadinya terulur ke Shaka, ditariknya kembali. Apa-apaan Shaka ini, tadi bicara dosa namun ketika diajak berbaikkan dia sengaja menjual mahal. “Bang, lo percaya nggak cinta itu kayak jemuran?” Syafiq yang awalnya sedang mencibir Shaka, tiba-tiba menoleh melihat wajah sepupunya itu yang masih tertekuk masam. “Jemuran? Lo pikir cinta lo itu cuma sedalam kolor dan sekuat BH?” sembur Syafiq tidak terima. Perumpamaan bodoh apalagi yang baru saja Shaka ucapkan. Cinta kayak jemuran. Tidak sekalian cinta kayak tukang sedot WC, yang walaupun bau tetap mau menampung semuanya? “Gue serius bang” gumam Shaka. “Lo aneh banget. Sebelum ke kampus lo mampir kemana dulu? Kesambet jangan-jangan lo” gerutu Syafiq. Biar bagaimanapun kesalnya Syafiq pada Shaka, tetapi dia tetap khawatir akan diri Shaka jika mendadak aneh seperti ini. “Gue kesambet dinginnya sikap lo” cibir Shaka. “Tapi serius gue bang, lo tahu kan jemuran kayak apa? setelah dikucek-kucek sampai bersih, terus digantung, lalu dipanasi pakai sinar matahari” “Tunggu-tunggu. Gue nggak paham” “Gue percis kayak jemuran itu” Syafiq dengan kesal menoyor kepala Shaka yang masih seperti orang stres. Untung saja dosen yang sedang mengajar tidak melihatnya. “Aneh” “Terus aja lo bang ngatain gue aneh. Awas lo suka sama perempuan aneh baru tahu rasanya” gerutu Shaka sambil mencoret-coret bukunya dengan kesal. Mereka berdua sama-sama terdiam kembali. Hingga mata kuliah tersebut usai menyisakan Syafiq dan Shaka yang masih sama-sama belum beranjak pergi. “Bang” panggil Shaka kembali. Syafiq menoleh sebelum bersiap keluar dari kelas. Dahinya berlipat menatap bingung atas apa yang sedang terjadi dengan Shaka. “Kalau lo deket sama Tuhan gue titip salam ya. Bilang sama Tuhan, itu hati apa pintu tol, kok yang boleh masuk cuma yang bermobil aja, apa daya gue belum mampu beli mobil” Selesai Shaka mengatakan titipan doanya, Syafiq tersenyum paham atas apa yang terjadi. Ternyata Shaka tengah patah hati. Entah pada siapa, karena jika masalah perempuan Shaka benar-benar tertutup dengan siapapun tanpa terkecuali bundanya. “Makannya kerja” sindir Syafiq. Shaka menatap wajah Syafiq dengan lekat. Kemudian dia meraih sebelah tangan Syafiq sambil menciumnya. “Ya Allah, makasih bang. Berkat lo gue tahu jawabannya” “Jawaban apa?” kini Syafiq mulai tidak mengerti lagi. “Jawaban dari masalah gue itu kerja. Kerja melalui hati, keringat dan pikiran” “Maksud lo?” Shaka hanya menyengir jahil. Sudah kembalilah sosok menyebalkan dimata Syafiq. Dia adalah Abizar Shaka Thariq Al Hamid yang kebetulan anak dari kakak kandung ibunya. Nasib-nasib, sekuat apapun mengelak takdir tetap saja akan terjadi.   **   Usai mata kuliahnya yang kedua, Syafiq segera menuju sekolah Nada. Walau belum genap pukul 11, dia ingin beristirahat sebentar disana. Agar jika Nada sudah selesai sekolahnya, dia tidak terburu-buru menjemput adik perempuan kesayangannya. Sesampai disana, sekolah terlihat ribut. Syafiq tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Karena pagar penghubung parkiran dengan gedung sekolah tertutup. Lagi juga Syafiq tidak memperdulikan itu semua. Sangat wajar dimata Syafiq remaja-remaja seusia Nada selalu berisik berlari ke sana kemari. Lihat saja Shaka yang usianya sudah lewat masa itu, tetap melakukan hal yang sama. Ketika suara adzan dzuhur berkumandang, Syafiq mencoba keluar dari mobil menuju masjid sekolah yang letaknya dibagian depan dekat area parkir. Dengan bermodal kain sarung dan sebuah peci, Syafiq berjalan ke arah masjid itu. Sebuah karet rambut berwarna hitam menjadi senjata andalannya, menenangkan rambut panjanganya yang mulai rontok karena banyaknya pikiran ditambah konsumsi makanan yang tidak sehat juga mempengaruhinya. Kadang keinginan untuk memangkas rambutnya hingga habis muncul dipikiran Syafiq, tetapi semua itu hanya sebuah pikiran yang sekilas langsung pergi. Karena sejak 2 tahun ini Syafiq tidak pernah memangkas rambutnya hingga tidak berbentuk sama sekali. Saat sudah memasuki area masjid, beberapa murid laki-laki memperhatikan Syafiq lalu tersenyum. Mungkin banyak yang merasa aneh siapa laki-laki ini? bila dia supir pribadi mengapa jam segini sudah sampai di sekolah. Sambil menggulung kain sarung serta merapikan rambutnya untuk dipakaikan peci, seorang guru menegurnya. “Syafiq” “Bapak Udin” Tubuh Syafiq sedikit membungkuk karena menyalami guru yang dipanggilnya Pak Udin itu. Seorang guru yang selalu Syafiq ingat karena memiliki kenangan khusus bersamanya. “Bapak jarang lihat kamu setelah lulus” terangnya mengingat-ingat bagaimana dulu terkenalnya Syafiq di sekolah ini. “Sibuk kuliah pak” balasnya singkat. Bapak Udin itu tersenyum kembali. Syafiq masih sama. Dingin dan sulit di dekati bila bukan dengan orang yang sudah mengenalnya dengan baik. Namun dari penampilannya Syafiq begitu berbeda sekarang ini. Karena itu Bapak Udin awalnya ragu bila ini adalah Syafiq. “Coba kamu jadi Imam” perintahnya. Syafiq mengangguk dan mengambil posisi terdepan. Setelah semuanya merasa sesuai dengan syarat sah sholat, mulailah Syafiq berniat didalam hati kemudian melanjutkan semua yang menjadi rukun sholat. Setelah mengucap salam, mereka saling bersalaman satu persatu. Dan mulailah Syafiq merapal doanya kembali. Doa singkat namun akan selalu dia ulang usai shalat. Karena terlalu asik berdoa, semua yang menjadi makmumnya tadi sudah pergi meninggalkannya seorang diri. Dia tersenyum masam, mengapa orang-orang menjalankan sholat hanya karena sebuah perintah bukan dinikmati setiap gerakannya. Apalagi berdoa sesuai sholat sama halnya membersihkan hati kembali. Meringankan beban pikiran dan menenangkan hati. Tetapi lagi-lagi manusia sekarang jarang sekali melakukan itu semua. Bahkan gerakan shalat dapat lebih cepat dari satu tarikan napas. Astagfirullah al’adzim.. Harusnya yang dilakukan umat muslim sekarang ini terus berlari ketika mendekati batas finish, namun nyatanya mereka semua hanya berjalan lambat padahal batas finish umur semakin dekat. Susah memang bila mengingatkan orang lain, karena diri sendiri pun terkadang masih suka menyepelekan hal seperti itu. Menganggap gampang semua yang pada kenyataanya akan berakhir. “Abang Syafiq” Suara seorang perempuan membuat Syafiq mendongakkan wajahnya ketika sedang sibuk memakai tali sepatunya. Kedua tangannya memegang kuat tali sepatu itu hingga mengikat terlalu kencang pada kakinya. “Kamu...” satu kata yang tidak mampu diteruskan oleh Syafiq. Lidahnya kelu, wajahnya memanas, jantungnya berdetak dengan kuat dan hatinya seperti tertarik oleh sesuatu. Dan yang lebih parah lagi pikirannya memikirkan foto yang waktu itu Shaka tunjukkan kepadanya. Hingga perempuan dihadapannya ini menjadi imaginasinya akan foto itu. Astagfirullah al’adzim, hilang sudah pahala sholatnya tadi. ------ Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN