Bab 8

2607 Kata
Boro-boro bisa meluk kayak yang lain, sentuhan tangannya saja sudah buat kesetrum ... Syafiq   Perempuan itu masih saja tersenyum bahagia. Akhirnya benar dugaan dirinya sejak pagi. Laki-laki yang berdiri tepat dibelakangnya tadi adalah Syafiq. Buktinya saja kemeja, celana jeans serta sepatunya masih sama. Inilah pertemuan kedua kalinya Farah dengan Syafiq. Laki-laki yang entah berasal dari mana namun sudah dua kali menolongnya. Yang pertama sewaktu di cafe tempat minum kopi itu lalu yang kedua tadi pagi. “Benar kan, abang Syafiq” ulang Farah. Syafiq mengangguk pelan, lalu kembali fokus memakai tali sepatunya. Menundukkan sedalam mungkin pandangannya agar tidak melihat Farah yang dengan seenaknya melepas kancing kemeja putih bagian atasnya. Hingga menimbulkan fantasi nakal di otak Syafiq karena bagian d**a putih itu terlihat. “Perlu Farah bantuin pakai tali sepatunya?” Gadis itu berjongkok di depan Syafiq, hingga membuat tubuh Syafiq menegang. Kulit tangan putih itu meraih tali sepatu yang belum dia pakaikan. Tetapi dengan cepat Syafiq menolaknya sampai-sampai kulit mereka bersentuhan. Ada rasa aneh yang dirasakan keduanya. Apapun itu baik Syafiq maupun Farah saling menggelengkan kepala. Menghalau perasaan aneh itu semakin menggerayangi mereka. “Ehm..” Syafiq berdehem sejenak. Menormalkan kerja jantungnya. Kemudian dia membuang pandangannya jauh ke arah lapangan dimana banyak murid berlalu lalang. Murid-murid di sekolah ini sedang istirahat yang kedua sebelum mereka masuk kembali sekitar pukul 1 siang seusai menunaikan sholat dan makan siang. Dia membiarkan sebelah sepatunya ditangan perempuan itu. Mungkin nanti bila Farah sudah tidak berada didekatnya barulah akan Syafiq pakai kembali sepatunya. Karena merasa didiamkan, Farah berdiri dari posisinya. Lalu dia berjalan melewati Syafid dan duduk di undakan lantai masjid. Keduanya kembali termenung hingga Farah bersuara lebih dahulu. “Terima kasih bang untuk tadi pagi” Syafiq tidak berani melirik Farah, dia hanya terus saja mematung berharap Farah akan melanjutkan semua kalimat agar dia hanya menjadi pendengar saja. “Dari sekian banyak teman Farah, cuma bang Syafiq yang bisa berkata kayak tadi. Bahkan Wahid...” kalimatnya terputus begitu saja ketika ingin menceritakan laki-laki lain di depan Syafiq. “Kenapa dengan dia?” tanya Syafiq yang mulai penasaran. Sedikit demi sedikit Syafiq mulai merangkaikan apa yang pernah Shaka ucapkan kepadanya tentang Wahid dan Farah. “Abang kenal ya sama dia?” bukannya melanjutkan cerita tersebut, Farah mulai bertanya kepada Syafiq. Dia tidak mau setelah menjelaskan panjang lebar ternyata Syafiq mengenal Wahid dengan baik. “Hanya sekedar kenal” bohongnya. Takut-takut Farah melirik wajah Syafiq yang tidak melihatnya sedikitpun. Hatinya meringis sakit. Apa dia begitu menjijikan sampai Syafiq tidak melihatnya? “Farah pernah dekat dengan dia. Sejak kelas satu, dia baik, dia penyayang, dia pelindung. Namun dia selalu menilai Farah dengan satu sisi saja. Dia paling benci bila Farah diperbudak oleh semua orang untuk mengerjakan ini dan itu. Dia tidak suka Farah bekerja. Tapi... tapi dia tidak mau tahu alasan mengapa Farah seperti itu. Dia selalu bertindak sesuai keinginan dia tanpa memikirkan bagaimana tidak nyamannya Farah akan hubungan ini” “Jadi...” “Kami berpisah bang” Syafiq memejamkan mata dengan kuat. Tidak pernah dia duga sama sekali, ternyata Wahid sudah lebih dulu memiliki Farah. Dan dia baru tahu akan hal itu. Ada rasa tidak suka mendengarnya, namun semua itu sudah menjadi masa lalu bagi Farah. Apa yang perlu dia benci? Bukannya semua orang pasti memiliki masa lalu, baik itu masa lalu yang indah atau menyakitkan. Setidaknya, masa depan Farah masih bersih. Dan dia yang seorang laki-laki sejati harus berusaha melindungi hal itu. Apalagi Farah.. Entahlah, sulit sekali mendeskripsikan perempuan seperti apa Farah ini. Pintar sekali hadirnya membolak balikkan hati Syafiq yang belum pernah tersentuh oleh perempuan sedikitpun. “Lalu kemarin ketika abang bertemu dengannya di cafe, dia memaksa kembali. Memaksa untuk mengulang semuanya. Padahal Farah tahu akan berakhir seperti apa hubungan kami nantinya. Dia terlalu tinggi bang untuk berada disisi Farah” Kini Syafiq memberanikan diri menatap wajah Farah yang terlihat dari samping. Rambut gadis itu hitam dan sangat panjang. Berkilau sekali efek cahaya matahari yang menyinarinya. Sedangkan wajahnya memang tidak secantik perempuan yang berada di televisi, tetapi Syafiq merasa Farah memiliki aura tersendiri hingga mampu menyihirnya. “Kenapa kamu bicara seperti itu?” “Karena dia... dia terlahir dari keluarga kaya raya. Untuk itu aku tidak mau berdekatan dengannya. Kamu tahu bang, seperti ini saja semua orang sudah memandangku negatif. Tetapi mereka semua tidak pernah bertanya dengan baik kepadaku, apa yang terjadi dibalik semua itu. Aku terlihat buruk seperti buah manggis yang tidak menarik karena pikiran mereka semua sudah dikelilingi hawa negatif terhadap ku, namun mereka tidak tahu isi dari buah manggis itu putih dan bersih. Sama kayak isi hatiku” ungkapnya lemah. Syafiq bisa merasakan ketulusan dan kejujuran dari semua perkataan Farah. Dia ingat perkataan Saidina Umar bin Khattab mengenai kejujuran, lidah akan selalu berkata jujur selagi hatinya ikhlas dan luhur. Seperti itulah Farah dimata Syafiq saat ini. Gadis ini tidak menceritakan dengan cara melebih-lebihkan seperti kebanyakan remaja jaman sekarang. Karena setiap kata demi kata yang keluar dari bibirnya seakan memang apa yang hatinya rasakan. “Berarti kita sama” Gumam Syafiq pelan. Kedua mata bulat milik Farah kini menatap Syafiq tidak percaya. Takut-takut dia salah dengar untuk selanjutnya, Farah memilih menyelipkan rambutnya dibelakang telinga. Agar semua yang Syafiq ucapkan dapat dia dengar dengan baik. “Mendengar ceritamu seperti menulis kisahku sendiri. Aku tahu bagaimana menjadi dirimu. Aku tahu rasanya di hina dan diasingkan. Jadi ku pikir kita sama” “Maksudmu bang?” Dengan menopang dagunya serta memfokuskan pandangannya pada Syafiq, dimulailah Syafiq bercerita mengenai kisah hidupnya yang begitu singkat. Mulai dia nilai tidak baik dengan orang-orang sekitar hingga memunculkan gosip bila Syafiq adalah seorang teroris yang menyamar. Siapa yang tidak akan marah bila mendengar pendapat orang tentang dirinya sebegitu negatif.  “Tenang saja bang” ucap Farah dengan cepat. Dia menepuk kedua tangannya sembari tersenyum bahagia. “Abang jangan marah lagi, karena asalkan abang tahu ya, Farah bilangin nih. Seekor singa itu ditakuti oleh semua orang karena dia diam, sedangkan seekor anjing dijadikan mainan oleh semua orang khususnya anak-anak karena dia terlalu sering menggonggong. Abang paham kan maksud Farah” Mulut Syafiq terbuka lebar, dia membalas tatapan Farah tepat pada manik matanya. Kemudian keduanya sama-sama tersenyum, dan menggelengkan kepala secara kompak. Jika ada yang bertanya ada apa dengan mereka berdua, sudah pasti tidak akan ada yang menjawab. Karena yang tahu hanya mereka dan Tuhan. Selebihnya biarkan orang menebak-nebak atau mungkin menjadikannya kuis berhadiah. “Terima kasih” ucap Syafiq. “Sama-sama bang Syafiq,” cengir Farah. “Tapi bolehkan Farah panggilnya bang Syafiq?” “Iya..” “Terus bang Syafiq kenapa ke sekolah ini? Pasti jemput pacarnya ya?” Syafiq menggeleng cepat sembari tersenyum, “Bukan” “Lalu?” “Menunggu perempuan yang disayangi” “Ya pacar kan berarti? Kok tadi jawabnya bukan” tuduh Farah. “Memang bukan pacar” jawab Syafiq singkat. “Masa seusia bang Syafiq belum punya pacar? Apa nggak iri lihat teman-temannya gandeng perempuan yang berstatus pacar. Terus dikenalin ke mama sama papanya. Apa bang Syafiq nggak mau kayak begitu?” pancing Farah. Ingin rasanya Farah menyodorkan dirinya untuk Syafiq, tetapi sepertinya laki-laki ini tidak tertarik kepadanya. Syafiq hanya tersenyum. Kemudian dia membalas tatapan Farah sekilas sebelum membuang pandangannya kembali ke arah depan. “Untuk apa aku iri dengan teman-teman ku yang seperti itu. Menggandeng anak gadis orang ke sana kemari tanpa status halal, sama saja aku melemparkan kotoran ke wajah ibu dan ayahku. Rasanya ibu yang ku cintai akan menangis bila sampai itu terjadi, dan ayahku pasti akan murka.” “Ih kok serem dengar ayah ibunya abang” ucap Farah dengan gaya sok ketakutan. “Mereka tidak seseram apa yang ada dibayanganmu. Mereka berdua orang tua terbaik yang aku punya. Jika kamu bertanya soal iri dengan hal yang tadi, aku lebih iri melihat tatapan cinta dari ibuku kepada ayahku. Tatapan yang sampai detik ini belum pernah aku temui di perempuan lain” Farah mengigit bibirnya dalam. Dia tidak berani menggambarkan laki-laki seperti apa Syafiq ini. Berbicara tidak menatapnya, tidak merayu dirinya dengan kata-kata gombalan khas laki-laki, tidak menyentuh tubuhnya. Apa jangan-jangan Syafiq tidak menyukai perempuan? “Bang Syafiq, boleh Farah tanya satu hal lagi?” ucapnya sambil meringis kemungkinan terburuk. “Tanyakanlah, selagi aku mampu menjawab pasti akan ku jawab” “Apa abang menyukai sesama jenis?”   ** Sesampai di rumah Syafiq menutup pintu kamar dengan kuat, hingga Nenek yang sedang duduk di ruang keluarga menutup kedua telinganya. Dari arah dapur Sabrin terburu-buru menghampiri mama mertuanya dan bertanya ada apa sebenarnya. Namun mama mertuanya hanya menggeleng tidak tahu. “Assalamu’alaikum” ucap Nada tidak bersemangat. Kedua tangannya penuh dengan barang-barang yang tadi dia bawa ke sekolah. Wajahnya tertekuk masam. Dia letakkan barang-barang itu ke lantai kemudian menggaruk-garuk kepalanya karena merasa aneh ditatap oleh ibu dan neneknya. “Abangmu kenapa toh?” “Jangan tanya Nada bu, Nada nggak tahu. Nada bisa sampai rumah dengan selamat saja sudah keajaiban” keluhnya. “Maksudmu?” “Ya Allah bu, abang tuh tadi bawa mobilnya kayak kesetanan. Apa dia kebelet ke kamar mandi kali sampai nyawa Nada terbang-terbang naik mobil sama dia” Sabrin mengalihkan pandangannya ke lantai atas, tepat dimana kamar Syafiq berada. Dia takut putranya kenapa-napa sampai melakukan tindakan diluar kendali seperti itu. “Ya sudah, Nada ganti baju sana. Biar ibu yang bicara sama abang” “Bicaranya baik-baik bu, nanti dimakan sama abang. Dia nyeremin banget. Kalah deh ayah” nasihat Nada kembali. Dengan kedua tangannya meraih kembali barang-barang yang tadi tergeletak di lantai. Kemudian dibawanya ke kamar meninggalkan sang ibu dan nenek yang masih bingung dengan kejadian saat ini. Tidak menyahut perkataan Nada, Sabrin segera menemui Syafiq. Tepat di depan pintu kamar putranya, Sabrin menempelkan telinganya sebentar. Takutnya Syafiq sedang berada dikamar mandi dan tidak mendengar ketukan pintunya nanti. Dengan perlahan Sabrin mengetuk pintu kayu itu. Dia menunggu beberapa kali namun tidak di respon Syafiq sedikitpun. “Bang, abang Syafiq. Buka dong pintunya, ibu mau bicara” Dari dalam Syafiq tidak memperdulikan teriakan ibunya. Yang terekam diotaknya hanya kata-kata terakhir yang di ucapkan Farah hingga bisa membuatnya seperti ini. Syafiq mencengkram kuat rambutnya. Dia kesal dan marah secara bersamaan. Namun dia bingung dengan cara apa melampiaskannya. Dia tahu Allah tidak suka dengan umatnya yang marah-marah hanya karena masalah sederhana. Tetapi dia tetap saja memiliki hati yang terlalu gampang tersulut hingga berkobar layaknya api yang menyala. “Maunya tuh cewek apa sih?” gerutunya didepan cermin. Bertolak pinggang seperti menantang pantulan dirinya sendiri. Matanya menatap tajam seakan hanya dengan tatapannya saja bisa membunuh lawan. “Tapi nggak guna juga gue marah-marah begini” gumamnya lagi. “Dia tadi cuma tanya, kenapa gue emosi?” sambungnya kembali. Pikirannya kembali mengingat bagaimana tadi Farah begitu kaget dan ketakutan saat Syafiq menatapnya marah kemudian pergi begitu saja. “Kasian juga tadi dia. Harusnya kan gue jawab. Bukannya marah-marah. Apa gue keburu gengsi ditanya kayak gitu” Syafiq terus saja bermonolog sendiri sampai dirinya merasa puas dan rasa kesalnya hilang. Setelahnya barulah Syafiq mandi dan menghadap Yang Maha Kuasa. Meminta kesabaran lebih banyak lagi dalam menghadapi segala cobaan.   ** Suara motor dengan knalpot berisik berhenti tepat di depan rumah berpotongan minimalis ini. Dengan terburu-buru dia menaiki tangga didepan agar bisa masuk ke dalam. “Assalamu’alaikum” teriaknya karena keadaan rumah masih saja gelap. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 5 sore hari, tetapi pemilik rumah seperti malas hanya untuk menghidupi lampu rumah. “Assalamu’alaikum..” ulangnya lagi. “Nek, Kek, bu, abang, Nada?” panggilnya semua. Tak lama turunlah Sabrin masih mengenakan mukena putih menghampiri tubuh Shaka yang menjadi tamu keluarga mereka sore hari. “Wa’alaikumsalam” “Eh ibu Sabrin, abang Syafiq ada?” tanya Shaka sembari mencium punggung tangan Sabrin. “Abang lagi dikamar, dari tadi sikapnya aneh. Memangnya di kampus tadi ada apa?” Shaka terlihat kaget mendengar Syafiq marah-marah? Memangnya apa yang bisa membuat Syafiq marah selain dirinya? “Abang Syafiq bisa marah bu selain sama Shaka?” Sabrin tersenyum saja, kemudian menyuruh Shaka mendatangi kamar Syafiq sendiri. Agar dia percaya bila Syafiq sedang dalam kondisi tidak baik. Beberapa kali Shaka mengetuk pintu kamar Syafiq, tidak dijawab sama sekali. Pintu itu terus saja melindungi dirinya dari orang-orang yang benar-benar perhatian dengannya atau hanya sekedar ingin tahu seperti Shaka. “Kalau abang nggak buka, Gue dobrak” ancamnya. Tetapi sepertinya tetap tidak berhasil. Hingga Shaka meringis sendiri karena tubuhnya berkali-kali dibenturkan ke pintu kayu itu. “Gimana Ka?” tanya Sabrin yang sudah melepaskan mukenanya. Shaka menggeleng, kemudian tersenyum kembali ke perempuan yang dia panggil Ibu juga. “Kayaknya bang Syafiq itu sakit deh bu” ucapnya mendekati Sabrin. “Sakit apa dia? Jangan becanda kamu” “Shaka serius bu, tadi di kampus badannya lemas sampai nggak mampu duduk di kursi atas yang biasa kami tempati. Belum lagi suaranya serak sampai nggak bisa jawab sapaan dari aku. Atau mungkin karena matanya berkunang-kunang sampai dia nggak sadar kalau itu aku” “Yang benar kamu tadi di kampus dia begitu?” tanya Sabrin semakin tidak percaya. Shaka mengangguk dengan mantap. Lalu dia pura-pura tersenyum lesu. Dia ingin Sabrin mempercayai kata-katanya barusan. “Nanti ibu hubungi ayah biar abang Syafiq diperiksa” “Nggak perlu bu, Shaka tahu abang Syafiq sakit apa” “Apa?” tanya Sabrin penasaran. “Abang Syafiq itu keracunan.. keracunan cinta perempuan” ucapnya dengan penuh tawa. Sabrin yang sudah menunggu waspada mendadak kesal menatap wajah jahil keponakannya itu. “Awas ya kamu, Ka. Ibu bilangin ayah sama bundamu” Laki-laki itu hanya tersenyum dan memilih berjalan ke luar rumah untuk pamit pulang sebelum magrib tiba. “Bu, Shaka pulang dulu ya. Assalamu’alaikum” “Wa’alaikumsalam” Sabrin terus menatap Shaka yang sedang menggunakan helm sebelum meninggalkan rumah ini kembali ke rumah mereka dengan motor matic yang di modifikasi dengan sedemikian rupa. Memang Shaka adalah duplikat dari Imam.   **   Saat magrib tiba, Syafiq keluar dari kamarnya untuk bersiap sholat berjama’ah di masjid dekat rumahnya. Namun ketika sampai di lantai bawah, Sabrin menatapnya dengan cemas. “Kamu nggak kenapa-napa kan bang?” akhirnya dia bisa melihat wajah Syafiq yang terlihat sama seperti biasanya. Jauh dari perkataan Shaka tadi tentang Syafiq di kampus. “Memangnya abang kenapa bu?” “Kamu dari tadi ibu panggil nggak mau keluar. Ibu nggak mau kamu kenapa-napa” ucapnya sendu. Syafiq berjalan mendekati Sabrin, memeluk erat tubuh perempuan yang telah melahirkannya itu. “Bila tingkah Syafiq hari ini buat ibu sedih, Syafiq minta maaf bu. Syafiq janji nggak akan begini lagi” “Memangnya tadi ada apa?” “Syafiq cuma takut bu” jawabnya sembari memperat pelukan pada tubuh Sabrin. “Takut karena apa?” “Syafiq takut, apa penyakit homoseksual itu menular?” Sabrin menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya mundur beberapa langkah menatap dari atas hingga bawah tubuh anaknya itu. Lalu menggeleng cepat menepis pikiran negatif tentang putranya. “Maksud abang apa? Ya Allah, bilang sama ibu abang nggak kayak gitu?” Dia diam dan ragu menjelaskan dari mana hingga bisa pertanyaan itu yang terlontar dimulutnya. “Abang kayakya salah bicara bu. Bukan begitu maksud abang” ralatnya cepat. “Lalu apa? abang tadi tanya masalah penyakit itu” “Bu, dengarkan abang dulu. Jangan sampai ibu seperti mereka yang menilai abang dari luarnya saja. Ibu harus tahu apa yang ingin abang sampaikan ke ibu” keluhnya. “Abang memangnya mau bilang apa?” Syafiq melirik kanan dan kiri, takut-takut ada Nada sang adik yang akan meledeknya jika mendengar atas pengakuannya. Setelah dia rasa aman, dia mulai memberanikan diri menyuarakan isi hatinya kepada sang ibu yang memang pantas dijadikan teman untuk berbagi cerita setelah tadi dia berbicara kepada Tuhan. “Bu, abang jatuh cinta” ----- Continue... Mau lagi? Komen dulu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN