Bab 9

2786 Kata
Pekerjaan yang paling kuinginkan bukan menjadi pengusaha sukses namun aku hanya ingin menjadi tukang adzan. Bukan di masjid, melainkan ditelinga putra dan putri kita nantinya... Syafiq   “Bu, abang jatuh cinta” Sabrin terdiam sejenak mencerna kalimat yang baru saja diucapkan Syafiq putra pertamanya. Kemudian dia tersenyum sembari mengusap wajah Syafiq yang masih menunggu reaksi atas kalimatnya barusan. “Alhamdulillah anak ibu sudah besar. Lalu tadi kenapa abang tanya masalah penyakit itu? Abang kan tahu jelas penyakit itu dibenci oleh Allah” “Iya bu, abang tahu kok. Ayah pernah bilang masalah itu ke abang. Tapi kenapa abang sekarang ragu, apa benar penyakit itu nggak menular?” ucapnya. Kemudian dia memeluk tubuh Sabrin kembali. Menyandarkan kepalanya dibahu perempuan sempurna yang telah melahirkan dirinya. Sabrin membiarkan Syafiq menceritakan semua masalah yang tengah dia rasakan terlebih dahulu, agar ia tahu memberikan nasihat apa ke Syafiq setelahnya. Karena sesungguhnya Sabrin ingin menjadi orang tua yang mengerti kondisi anaknya bukan menjadi orang tua yang mengatur anaknya untuk sesuai dengan kondisinya. “Tadi ada yang tanya masalah itu ke abang” gumamnya pelan. Walau seperti hembusan angin, Sabrin masih bisa mendengar keluhan dari putranya itu. Dengan kedua tangannya Sabrin mengusap lembut punggung Syafiq yang sudah jauh lebih besar darinya. Waktu memang berjalan begitu cepat. Dulu Syafiq selalu dalam dekapannya. Sekarang Syafiq yang melakukan itu kepadanya. Menyalurkan segenap rasa cinta yang keduanya miliki. “Terus abang jawab apa?” “Abang nggak jawab apa-apa bu” “Biar ibu tebak, pasti yang ngomong begitu perempuan deh” ucap Sabrin. Dia mencoba menggoda Syafiq yang mendadak diam karena mungkin tebakannya benar. “Kenapa abang diam? Ibu benar kan?” ulangnya. Syafiq melepaskan pelukan kemudian mengangguk malas. Mengalihkan pandangannya kesegala arah karena dia tahu Ibunya tengah tersenyum menggoda atas apa yang telah terjadi kepadanya. “Apa dia cantik?” “Masih cantikan ibu” jawab Syafiq gugup. Kain sarung yang akan digunakan untuk sholat di masjid dia gulung-gulung hingga tidak berbentuk dan menjadi kusut. “Apa dia baik?” “Bu, jangan tanya sama abang. Karena abang juga nggak dekat sama dia” jawabnya malas. Wajahnya sudah tidak bersahabat mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang Sabrin ucapkan. “Terus kamu nggak dekat sama dia kenapa bisa jatuh cinta?” todong Sabrin bingung. “Abang nggak tahu. Memangnya cinta itu butuh penjelasan ya bu?” ucap Syafiq yang kini sudah menatap wajah ibunya kembali. Jarang-jarang dimasa sekarang ini seorang anak laki-laki berumur 20 tahun berkonsultasi masalah cinta dengan ibunya. Tapi Sabrin menikmati masa-masa ini. Dia ingin selalu ada ditengah masa tumbuh kembang anak-anaknya. Sebisa mungkin harus dia yang tahu pertama kali bila terjadi perubahan dalam diri anaknya. Seperti pertama kali Syafiq mengalami masa-masa baligh. Sabrin yang memberikan ceramah singkat pada putranya bahwa kehidupan baru sudah dimulai. Walau dengan penjelasan singkat, tetapi setidaknya dia sudah memberikan pelajaran utama untuk putranya. Dan kini, dia bangga bisa menjadi tempat cerita putranya tentang perempuan baru yang mengusik hati Syafiq. “Memang tidak perlu. Mencintai seseorang itu fitrah bang, semua orang pasti pernah merasakan. Entah cintanya itu berakhir bahagia, atau hanya sekedar cinta sesaatnya yang setelahnya hilang. Dan sekarang abang tengah mengalami masa itu. Sekuat apapun abang mengelak, secepat apapun abang berlari untuk menjauhi, maka cinta itu akan semakin melekat” “Terus abang harus gimana bu? Abang nggak mau begini terus” ungkapnya lelah. “Memangnya abang mau bagaimana? Abang saja bilang nggak dekat sama dia” Syafiq diam sejenak kemudian menunduk lesu. Yang dibilang ibunya benar, dia tidak kenal siapa Farah sebenarnya. Berasal dari keluarga seperti apa dia. Bahkan yang Syafiq tahu dia hanya kakak kelas Nada dan juga merupakan perempuan yang pernah berfoto tanpa busana,  “Kirain ibu bisa kasih solusi” “Kalau ibu kasih solusi apa abang mau dengar kata ibu?” “Ya mau lah” Sabrin meraih kain sarung yang sejak tadi dimainkan oleh Syafiq, kemudian meletakkan dibahu putranya itu. “Abang sekarang sholat sana ke masjid. Minta Allah untuk membantu abang. Bukan untuk menghapus rasa cinta itu, tetapi membantu abang menjadi pribadi yang baik agar abang paham bagaimana cara mengatasi perasaan cinta yang datang diluar pernikahan. Abang tahu kan mencintai seseorang diluar mahram itu dosa. Kalau abang cinta sama perempuan itu, apa abang tega membawa dia menuju dosa? jatuh cinta itu memang tidak dosa, namun tahap selanjutnya dari cinta itu yang membuat dosa bila diluar pernikahan.” Jelas Sabrin. Karena tidak mendapatkan respon dari Syafiq, Sabrin mengusap wajah Syafiq agar putranya itu kembali sadar bila mereka tengah berdiskusi masalah cinta. “Abang sayang kan sama ibu?” Syafiq mengangguk mantap. “Abang sayang kan sama ayah?” Lagi-lagi Syafiq mengangguk. “Terus, apa abang sayang sama dia?” Kini Syafiq diam. “Kalau abang sayang sama dia, jangan rusak dia. Tapi lindungi dia bang. Bukannya ibu melarang abang dekat dengan dia. Bukan. Ibu nggak pernah melarang putra putri ibu untuk berteman dengan semua orang. Namun untuk lebih dari teman, ibu tidak setuju. Karena perasaan sayang itu bukan untuk merusak, tetapi perasaan sayang itu melindungi bahkan menjaga agar terus jadi yang terbaik” “Iya bu” “Alhamdulillah, Abang paham apa yang ibu maksud” “Abang pamit sholat dulu ya bu” Kemudian mencium punggung tangan Sabrin sebelum berlalu menuju masjid. Dia tahu mengapa ibunya berkata demikian. Karena dirinya sendiri saja ragu apa ini cinta atau sekedar napsu belaka.     **   Sepulangnya Syafiq dari masjid selepas sholat isya, dia melihat sang ayah mengikuti langkah ibunya ke arah dapur. Pakaian ayahnya masih seperti yang tadi pagi ia pakai. Mungkin ayahnya baru saja pulang dari rumah sakit. Dan dia dengan sangat tahu diri tidak ingin mengganggu kedua orang tuanya itu. Sesampainya di kamar, dia merebahkan diri di atas kasur. Mengingat setiap nasihat yang ibunya tadi katakan. Mencoba mencari jalan keluar sesuai dengan apa yang di ridhoi Tuhan. Biar bagaimana pun tampang Syafiq, dia tetap takut dengan azab yang Tuhan berikan kepada umatnya yang berani menjalankan larangnya. Karena merasa buntu dengan pikirannya, tubuhnya berguling untuk meraih ponsel yang berada diatas nakas. Kemudian membuka aplikasi sosial yang sangat jarang tersentuh. Sesaat melihat pergerakan aplikasi itu tidak ada yang menarik. Kemudian dia kembali teringat tentang kata-kata Farah tadi mengenai Wahid. Adik sepupunya itu memiliki hubungan khusus dengan Farah sejak dulu, tetapi mengapa dia tidak pernah tahu? Dengan jarinya, dia mengetikkan nama Rasyiqul Wahid untuk mencari account  milik Wahid. Dan disana baru Syafiq sadar ternyata memang benar ada foto Farah dengan Wahid tengah berpelukan mesra seperti layaknya sepasang kekasih. “Apa-apaan dia, mau aja dipeluk-peluk kayak gitu? Dia itu gitar apa manusia?” gumam Syafiq dengan penuh emosi. Apalagi ketika ketidaksengajaannya membaca caption Wahid yang membuatnya semakin ingin muntah. Untung saja mereka sudah putus, kalau tidak Syafiq akan melaporkan semua yang Wahid lakukan kepada Ammah­-nya. “Tapi kan Wahid nggak satu sekolah sama tuh cewek. Kenal dari mana dia?” gumam Syafiq kembali. Sambil terus saja menatap benci pada satu foto itu yang menampilkan kemesraan diantara keduanya. Ingin sekali Syafiq membanting ponselnya, tetapi dia secepat mungkin mengingat apa salah ponselnya sampai harus menjadi korban kemarahan. Dia kan sedang tidak syuting sinetron sampai harus beradegan membanting ponsel ketika cemburu melanda. Ketika Syafiq masih berpetualang dengan pikirannya, pintu kamarnya terbuka menampilkan wajah jahil adiknya. Biasanya Nada akan mengganggu Syafiq bila membutuhkan bantuan. “Pssstt” Syafiq melirik sekilas ke arah pintu kemudian menatap ponselnya kembali. “Psstt... abang Syafiq, boleh nggak Nada masuk?” “Nggak abang kasih ijin juga kamu masuk” ucapnya ketus. Nada tersenyum sambil menutup mulutnya dengan tangan. Kemudian berjalan sambil berjinjit-jinjit untuk sampai ke tempat tidur sang pemilik kamar. Dia melakukan seperti itu agar menjaga langkahnya untuk tidak menginjak sesuatu diatas lantai kamar Syafiq yang penuh dengan barang-barang berserakan. Bisa dikatakan kamarnya ini seperti kapal habis terkena ombak tsunami. “Bang Syafiq nggak sibukkan?” “Hmm” “Bang, anterin Nada yuk ke rumah Kak Bitha sama Kak Naya” “Ke rumah siapa? Ke rumah Bitha sama Naya itu sama aja ke rumah Shaka. Abang males” “Ih abang mah, kenapa sih ribut mulu kerjaannya sama bang Shaka. Nggak boleh begitu tahu bang. Dosa. Sesama muslim apalagi sesama keluarga itu harus saling bersilahturahim. Masa abang sama abang Shaka ribut terus, padahal bunda Sendi sama ibu sahabat akrab. Dan Om Imam itu kan Mas nya ibu. Masa abang nggak bisa sih berdamai dikit aja sama bang Shaka. Apalagi mau puasa bang, nggak boleh begitu. Inget dosa bang.” Syafiq bangkit dari tidurnya menatap Nada dengan pandangan mengintimidasi. “Dengar ya Nada adeknya abang yang kadang ngeselin kadang abang sayang. Bukannya abang nggak mau bersilahturahim, tapi kalau yang didatengin wajahnya kayak Shaka buat apa. Yang ada bukannya saling memaafkan, abang bisa adu pukulan sama dia” Nada meringis sakit mendengar ucapan Syafiq yang menggebu-gebu. Apa terdapat dendam mendalam diantara keduanya? “Jadi abang nggak mau? Biarin Nada pergi sendiri? Naik apa bang?”   “Ya mana abang tahu” “Ish, abang. Nada laporin ayah loh” Ancamnya dengan wajah penuh kemenangan. Sambil menarik-narik celana hitam pendek yang dikenakan Syafiq, akhirnya Syafiq mengalah mendengar rengekan dari Nada yang tidak berkesudahaan. Walau sampai pagi dia menolak, Nada tidak akan menyerah meyakinkan Syafiq untuk mengantarkannya. Apalagi jika sudah membawa-bawa sang Ayah untuk memarahinya. Lebih baik Syafiq mengalah sedikit untuk menang.   ** Mobil yang Syafiq kendarai terparkir dengan sempurna disebelah mobil SUV hitam. Syafiq berusaha mengenali mobil siapa yang terparkir di halaman tantenya malam-malam begini. Tetapi sejauh matanya menelusuri, dia tetap tidak yakin mobil siapa ini. Baru saja Syafiq bersuara akan menunggu Nada di dalam mobil, adik kecilnya itu mulia bersuara kembali hingga Syafiq mau tidak mau menurutinya. “Ayo bang masuk, nggak baik bertamu ke rumah orang cuma sampai depan. Padahal pintu rumah orang itu terbuka lebar” cengir Nada tampa dosa. “Iya, kamu turun duluan aja” dengus Syafiq kesal melihat tingkah Nada mirip sekali ketika Ayahnya menceramahinya. Setelah turun dari mobil, Syafiq mulai berjalan masuk ke dalam rumah tersebut. Terlihat di depan rumah ada dua sosok yang sedang duduk di kursi depan yang menghadap ke taman depan rumah. Dari siluet tubuhnya dia tahu itu Shaka, tetapi siapa gerangan disebelah laki-laki itu? “Assalamu’alaikum” “Wa’alaikumsalam” jawab salam keduanya kompak. Tepat ketika kaki Syafiq berhenti di kursi dekat Shaka duduk, baru dia tahu siapa yang sedang duduk menemani laki-laki itu. “Malam bang Syafiq” tegur Rara dengan senyum khas seperti biasanya. Syafiq membalas teguran itu hanya dengan senyuman lalu beralih menatap Shaka yang masih duduk diam sambil memainkan ponselnya. Dengan sebelah kakinya, Syafiq menyenggol kaki Shaka. Dia tidak suka diacuhkan oleh sepupunya ini namun dia juga tidak suka bila Shaka sudah terlalu berisik kepadanya. “Woy bang” tegur Shaka setelah merasa terusik. “Kalau cari Nada, tadi tuh anak udah masuk ke dalam” sambungnya seperti berbasa-basi dengan Syafiq. Karena merasa aneh dengan Shaka, Syafiq melirik Rara yang hanya menggerakan bahu sebagai jawaban tidak tahu. Kemudian Syafiq mengalihkan pandangannya pada Shaka kembali. Kedua muda mudi ini masih saja diam seperti sedang dalam dunianya masing-masing. “Aneh” gumam Syafiq. Dia meninggalkan Shaka dan Rara yang masih melakukan aksi diam berdua di teras depan. Sedangkan keadaan di dalam rumah terlihat sangat ramai sekali. Dimana ada Adit –orang kepercayaan Imam‑ yang kebetulan atau memang sedang di undang Imam ke rumahnya. Kedua mata Syafiq terus saja memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Imam dan Adit. Di ruang tamu dengan meja kamu bulat terdapat beberapa kertas serta dua laptop yang tengah menyala. “Assalamu’alaikum” salam Syafiq. Imam dan Adit yang tengah sibuk dengan map-map diatas meja tamu kemudian menatap Syafiq dengan pandangan yang begitu aneh. Bila Syafiq bisa ia ingin mundurkan lagi langkahnya lalu keluar dari ruangan tamu ini. Karena dapat ia rasakan aura tidak menyenangkan sedang menghampirinya. “Wa’alaikumsalam” sahut Adit dan Imam bersamaan. “Jawaban datang bos” tegur Adit pada Imam yang masih saja diam memperhatikan Syafiq dari atas hingga bawah. “Duduk kamu bang” ucap Imam seperti sebuah perintah. Ragu-ragu Syafiq duduk dan masih bingung dengan tatapan dua orang laki-laki seumuran ayahnya. Posisi Syafiq menjadi salah tingkah sampai-sampai dia ikut melihat apa ada yang salah dengan pakaiannya. “Kebetulan kamu datang kesini, Om mau minta tolong sama kamu” Imam melipat kedua tangannya dan dia tempatkan diatas kedua kakinya. Kemudian dia menatap dengan penuh permohonan ke arah Syafiq yang masih bingung ke arah mana pembicaraan mereka. “Om rasa sudah waktunya abang Syafiq diberikan kepercayaan untuk mengelola semua yang sudah menjadi haknya selama ini” “Maksud Om?” kening Syafiq berlipat. Jelas sekali dia bingung. “Apa abang tidak pernah melihat kesekeliling abang? Menatap ayahmu pulang dengan penuh lelah menanggung semuanya dengan tertatih-tatih karena tidak ada yang membantunya” “Membantu? Memangnya ayah kenapa?” Adit melirik Imam sekilas, kemudian dia meminta Imam agar memberikan kesempatan untuknya menjelaskan kepadanya Syafiq. “Syafiq sudah besar. Sudah mengerti seperti apa tanggung jawab seorang laki-laki. Om harap Syafiq paham, bagaimana kegigihan ayahmu. Dia harus berjuang terus untuk usaha rumah sakitnya yang sekarang memiliki ribuan pekerja di bawahnya, namun disisi lain dia juga punya tanggung jawab untuk menjalankan bisnis kakekmu yang nggak mungkin dia lepas begitu saja. Walau ada Hans yang membantu pekerjaan ayahmu, tetap saja Hans memiliki bidang bisnisnya sendiri yang harus dia kelola. Apa Syafiq tidak kasihan melihat ayahmu berjuang seorang diri sedangkan Syafiq sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa.” “Kenapa bicara berputar-putar. Intinya saja” ungkap Syafiq cepat. “Bantulah ayahmu. Ringankan beban dipundaknya sedikit agar kamu tahu betapa tanggung jawabnya dia agar kamu tidak merasakan kekurangan sedikitpun atas kehidupanmu” jawab Adit. Setelah dia paham ke arah mana pembicaraan ini, lantas Syafiq menggelengkan kepalanya, kemudian berdiri dengan tegap. Menatap tajam Imam dan Adit yang masih diam melihat reaksi Syafiq. “Tidak. Aku tidak akan membantunya. Meninggalkan ibuku seorang diri dengan kesedihan. Cukup aku melihat ayah seperti itu. Aku tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang ayah lakukan kepada ibu. Untuk apa memiliki segalanya, tetapi menyakiti perasaan orang yang kita cintai. Lebih baik Syafiq miskin dan menderita dari pada harus meninggalkan ibu dengan segudang pekerjaan yang seperti ayah lakukan.” Tolaknya tegas. “Lagipula jurusan yang ku pilih sangat bertolak belakang dengan bidang bisnis ayah maupun kakek. Menurutku sesuatu hal yang mustahil bila aku melakukan semua pekerjaan itu” sambungnya dengan raut wajah tidak suka. Tubuhnya berdiri hendak pergi dari sini, tetapi dia mendengar Imam tertawa seperti mengejeknya. “Kamu pikir tidak bekerja uang bisa datang dengan sendirinya? kamu pikir semua yang menempel ditubuhmu datang tiba-tiba begitu saja dari Allah? Semua itu dilakukan dengan usaha dan kerja keras ayahmu. Dan suatu saat kamu akan lakukan itu hanya untuk membuat seseorang yang kamu cintai bisa bahagia dengan memiliki segalanya. Jika kamu bilang jurusan yang kamu ambil di kampus mustahil, itu hanya alasanmu saja agar Om menuruti kemauanmu. Om rasa abang tidak perlu dikasih tahu lagi bahwa di dunia ini tidak ada yang mustahil. Bila sudah niat dengan tulus, maka semuanya pasti bisa dilakukan” Tubuh Syafiq kembali terduduk. Dia tahu apa yang dikatakan Om nya benar. Segala yang dimiliki sekarang adalah hasil kerja keras ayahnya. Dan segala kemustahilan akan ucapannya bila diberikan kesungguhan pasti akan berhasil. Tapi apa harus mengorbankan waktu bersama keluarga? “Sekarang kamu bisa marah, tetapi suatu saat kamu akan sadar jika marahmu tidaklah berguna. Kenapa Om berkata demikian karena sikapmu saat ini seperti seekor ular dengan sebuah gergaji besi. Dengan bodohnya ular itu terus marah dan mematuk gergaji itu yang hanya diam tergeletak di atas lantai. Sampai ular itu tersadar ketika tubuhnya telah berdarah-darah akibat kemarahannya sendiri. Lantas apa yang didapatkan ular tersebut setelahnya? Penyesalan. Karena sudah bertindak bodoh sebelum berpikir. Tidak bisa mengatasi rasa emosinya sendiri hingga dirinya menjadi korban” nasihat Imam dengan tenang. Adit setuju dengan perkataan Imam, dia melirik Syafiq sebelum menyambung kata-kata Imam tadi. “Abang Syafiq pasti tahu perkataan Imam Syafii, Marahnya orang mulia bisa terlihat dari sikapnya namun marahnya orang bodoh bisa terlihat dari lisannya yang tidak terjaga. Seperti yang baru saja Syafiq lakukan? Apa itu marahnya orang mulia? Atau marahnya orang bodoh?” Kepala Syafiq menunduk. Merutuk segala kebodohan yang telah dia lakukan. Memang benar, ayahnya selalu berkata untuk bisa menjaga kemarahan sesulit apapun itu. Sampai-sampai dirinya dibekali nasihat oleh Fatah bagaimana cara mengendalikan amarah seperti Rasulullah. Namun kini semua pelajaran yang telah dia dapatkan hilang semua. Dia sudah dikendalikan oleh setan untuk melawan dan bersikap angkuh di depan kedua om nya ini. “Maaf” Hanya satu kata itu yang menjadi obat penyesalannya. Syafiq sampai tidak berani menatap kedua om nya. Tetapi yang Syafiq tidak tahu, Imam dan Adit tersenyum senang. Pasti sebentar lagi Syafiq akan menerima tawaran mereka untuk bergabung dalam pekerjaan yang sesungguh sangat Syafiq hindari. “Selamat bergabung di perusahaan keluarga kita” ucap Imam dan Adit secara bersamaan. ----- Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN