Bab 10

2513 Kata
Hidup sama seperti makan oreo. Butuh proses untuk menikmati hasilnya.. Syafiq.   Sinar matahari pagi telah menyapa dengan hangat. Burung-burung terdengar berkicau menyambut bahagia pagi yang cerah. Secerah rumah keluarga Al Kahfi pagi ini. Keadaan di dalam rumah masih begitu sepi. Karena waktu masih menunjukkan pukul 5.30 pagi. Dapat terlihat Fatah duduk di ruang makan sembari membuka koran paginya. Dia masih begitu setia menemani Sabrin yang nampak sibuk menyiapkan segalanya dari sarapan hingga bekal yang akan dibawa oleh Nada ke sekolah. Ketika sedang meminum tehnya, Fatah hampir saja tersedak teh karena melihat Syafiq yang sudah rapi memilih duduk disisi kirinya. Kedua matanya menatap dari atas hingga bawah baju sampai sepatu yang Syafiq pakai. Mau kemana Syafiq sepagi ini sudah rapi? Walau hanya celana jeans hitam dan kemeja serta sepatu pantofel hitam. Rambutnya yang panjang telah diikat rapi kebelakang. Serta bulu-bulu disepanjang rahangnya telah dibabat habis hingga tak tersisa. Hingga membuat Fatah aneh menatap putranya sendiri. Dalam batinnya penuh tanya, ada gerangan apa Syafiq melakukan semua hal diluar kebiasaanya? “Abang mau kemana?” tegur Fatah masih terlihat bingung. “Kampus” Sekali lagi Fatah melihat Syafiq dari atas hingga bawah. Tidak biasanya Syafiq ke kampus sepagi dan serapi ini? “Ke kampus?” Ulang Fatah. Syafiq mengangguk malas. Dia tahu apa yang ada di pikiran ayahnya. Pasti akan menertawakan ia bila tahu apa yang akan Syafiq lakukan hari ini. “AYAAAAAHHH.. ABANG BELUM BANGUN LAGI” teriak Nada dari lantai atas. “Yaah.. bantu Nada dong untuk...” saat langkah kakinya sampai di ruang makan, Nada diam. Dia seperti melihat hantu di meja makan pagi ini. “Masa iya itu abang Syafiq” gumam Nada yang terdengar di telinga Fatah dan Syafiq. “Yah, itu benaran abang” bisik Nada pada Fatah. Ingin rasanya Fatah tertawa melihat tingkah putrinya yang menatap aneh ke Syafiq. Memang tidak biasanya Syafiq seperti ini. Karena itu semua yang berada disekitarnya pasti akan merasakan ke anehan yang sama. Setelah keanehan yang Nada rasakan, sekarang giliran Sabrin yang hampir saja menjatuhkan piring roti ditangannya karena melihat Syafiq sudah duduk dengan tegap di meja makan. “Astagfirullah al’adzim, ibu pikir siapa” ucapnya sambil mengusap-usap dadanya. Ketika meletakkan piring itu diatas meja pun, Sabrin masih saja melirik putranya itu. Memastikan Syafiq tidak sedang tidur sambil berjalan. “Kamu kenapa bu? Anaknya bangun pagi malahan aneh” tegur Fatah. Sambil mencubit lengan Fatah, Sabrin menatapnya tajam. Dia tidak mau Syafiq merasa tersinggung atas apa yang dia lakukan. “Abang mau kemana pagi-pagi begini?” “Mau antar Nada ke sekolah, terus ke kampus. Banyak yang mau diselesaikan” Sabrin dan Fatah mengangguk paham. Mereka pikir Syafiq memang benar-benar berubah setelah nasihat panjang Fatah belum lama ini. Ternyata hanya ingin menyelesaikan sesuatu di kampusnya. “Ya sudah, sarapan yang kenyang. Biar cepat selesai urusan abang. Ibu selalu doain dari rumah” ucap Sabrin tulus. Sebelah tangannya menepuk bahu Syafiq sebelum kembali ke dapur membuatkan 2 gelas s**u untuk putra putrinya. Setelah selesai sarapan bersama, Syafiq dan Nada pamit untuk pergi lebih dahulu. Mereka tahu jalanan di Ibukota sulit sekali ditebak dipagi hari. Terkadang cukup lancar, tetapi sering kali macet total sampai tidak bergerak. Apalagi sekolah Nada dan kampus Syafiq berbeda arah. Membuat mereka harus memprediksi segala sesuatunya. Jangan sampai seperti semua orang yang tinggal di Ibukota, terlalu menganggap remeh waktu yang sudah ditentukan. Seperti waktu masuk sekolah, kuliah atau bekerja. Meminta semuanya memaklumi bahwa Jakarta adalah kota yang penuh dengan kemacetan. Padahal bila dari diri sendiri bisa memanage waktu dengan baik, pasti akan berdampak pula pada kurangnya kemacetan kotanya. “Nanti kalau abang sempat abang jemput. Tapi kalau nggak, abang minta kamu pulang sama Shaka” “Abang sibuk banget ya?” keluh Nada setengah merajuk. “Bukan sibuk dek, abang ada yang mau diurus di kampus. Biar selesai hari ini juga” “Ya udah” ucapnya mengalah. Lalu baru satu kaki Nada turun dari mobil, Syafiq bersuara kembali. “Tolong bilang sama kakak kelas kamu yang namanya Farah, pesan dari abang “BUKAN”. Karena kemarin abang belum sempat jawab pertanyaan dia” Nada menatap bingung. Sejak kapan abangnya bisa sedekat itu sama Farah? Sampai harus ada pesan BUKAN segala. BUKAN? “Bukan apa sih?” “Kamu bilang begitu dia pasti ngerti. Udah sana turun” usir Syafiq tanpa penjelasan. Suatu saat nanti dia akan menjelaskan sejelas-jelasnya kepada gadis itu. Bukan hanya di depannya, namun didepan kedua orang tuanya. Bersama kedua orang tua Syafiq pula tentunya. **   Siang hari, Syafiq mengendarai mobilnya masuk ke dalam sebuah parkiran basement yang cukup banyak terpakir mobil-mobil bagus lainnya. Setelah mematikan mesin mobil, Syafiq menyandarkan kepalanya pada stir mobil. Mencengkramnya kuat seakan-akan stir tersebut adalah tempat pelampiasan segala rasa yang dia rasakan. Ketika sudah cukup yakin dengan hatinya, Syafiq keluar dari mobil dan mulai berjalan menuju pintu masuk basement untuk menuju lobby utama. Dua satpam yang tengah berjaga sampai menanyakan kartu tanda pengenal yang Syafiq miliki. Bagi mereka berdua Syafiq terlihat seperti orang baru. Jelas saja baru, ini adalah kali pertama dirinya menginjakkan kaki disini. 20 tahun dia terlahir ke dunia dan dibesarkan dengan nama belakang Al Kahfi, tetapi baru kali ini dia tahu seberapa kaya kakeknya. Padahal jika di rumah atau ketika bersama keluarga, kakeknya tidak ada tanda-tanda sama sekali bila dia adalah orang yang memiliki kekayaan cukup banyak. Tetapi yang Syafiq aneh, di luar sana ketika dirinya berjalan ke mall atau tempat-tempat keramaian lainnya, banyak sekali yang bergaya layaknya saudagar kaya raya dengan sepanjang tubuhnya terbalut dengan emas. Innalillahi.. Bukankah Tuhan tidak suka dengan segala sesuatu yang berlebihan. Walau sekaya apapun dirimu di dunia tetap saja kain putih dengan panjang 15,5 meter yang menemanimu di alam sana nanti. Tidak akan ada emas, tidak akan ada berlian atau bahkan tidak akan ada mobil-mobil mewah. Karena kendaraanmu adalah kurung batang yang dibopong oleh 5 sampai 6 orang. Lalu bagaimana dengan banyaknya harta yang ditinggalkan? Bila harta-harta tersebut didapatkan dengan cara halal, lalu dipergunakan untuk membantu sesama yang membutuhkan, dan diamalkan dengan sebaik-baiknya. Insha Allah harta tersebut akan membantumu di akhirat kelak. Namun bila harta tersebut didapatkan dengan haram, dan tidak diamalkan dengan baik, maka percayalah semua itu akan memberatkanmu. Seketika Syafiq merasa takut. Apakah kakeknya sudah mengamalkan dengan baik harta bendanya ini? bila belum, maka tugasnya sebagai seorang cucu yang akan melakukannya. “Selamat Sore, dengan saya Windi. Ada yang bisa saya bantu?” ucap seorang receptionist ketika langkah Syafiq tepat terhenti dihadapannya. Mata Syafiq masih tidak hentinya menatap ke sekeliling bagaimana megahnya gedung ini. Semua terbentuk dengan kaca hingga terkesan sangat mewah. Lalu ditengah lobby tersebut, tergantung sebuah lampu kristal antik yang terpusat dari langit-langit gedung. Mungkin bagi orang-orang yang melihat Syafiq mereka akan mencibir akan kelakuan kampungan yang Syafiq lakukan. Mulut yang terbuka lebar hingga hampir saja air liurnya terjatuh. “Maaf pak” tegur receptionist itu kembali. “Ada yang bisa saya bantu?” “Syafiq.” “Maaf...” “Bilang Syafiq mau bertemu dengan pemilik gedung ini” jelasnya. Kemudian receptionist itu tersenyum, menyodorkan buku besar ke arah Syafiq. “Bapak isi terlebih dahulu data dirinya” Tangan Syafiq meraih pulpen serta menuliskan dengan cepat ke dalam buku itu nama dan kepada siapa dirinya ingin bertemu. Lama Syafiq menunggu hanya ingin bertemu si pemilik gedung ini yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakeknya sendiri. Tetapi dia tahu kakeknya sudah tidak bekerja lagi. Untuk itu berarti semua pekerjaan sudah diambil alih ayahnya dan om nya. Namun sudah hampir satu jam menunggu salah satu dari mereka tidak ada yang datang untuk menemui dirinya. Rasa kesal mulai mendatangi. Buru-buru Syafiq mendekati receptionist itu kembali untuk bertanya mengapa dia belum juga bertemu dengan si pemilik gedung. Lalu satu jawaban langsung membuat Syafiq down seketika “Maaf pak, beliau sedang tidak ada di tempat” Ingin Syafiq memaki semua yang ada di depannya. Bila yang ingin dia temui tidak ada ditempat mengapa tidak bilang sejak awal. Mengapa membuat orang harus menunggu terlebih dahulu. Ya Tuhan, apa memang seperti ini bila orang tidak memiliki kedudukan apa-apa ingin bertemu dengan orang yang kedudukannya tinggi? Bukankah dalam Islam semua sama? Yang membedakan hanya akhlaknya saja. Tetapi mengapa di perusahaan ini semua dibuat mengikuti perkembangan jaman. Syafiq tersenyum masam, lalu kembali melangkah pergi. Dia bisa saja menggunakan nama belakangnya tadi agar dengan mudah dapat masuk ke dalam. Tetapi dia masih merasa tidak pantas. Mana ada keturunan Al Kahfi tidak sukses? Mungkin hanya dirinya dan Nada yang belum sukses. Namun tepat Syafiq ingin melangkah menjauh, seseorang memanggil namanya dengan cukup keras hingga beberapa satpam serta office boy dan receptionist tadi menatap Syafiq dengan penuh tanda tanya besar. “Syafiq?” Syafiq mendesah lega. Masih ada ternyata yang mengenalinya setelah rambut panjangnya tadi dia pangkas habis hingga begitu rapi dan bersih. “Astagfirullah, benarkan kamu Syafiq?” Syafiq mengangguk sembari menatap ke sisi kiri dan kanan laki-laki yang menegurnya itu. “Akhirnya datang juga. Om pikir Mas Imam bohong. Ayo masuk” rangkulnya pada bahu Syafiq. Beberapa satpam, office boy serta receptionist yang dilewatinya menunduk patuh. Berusaha menjawab sendiri atas semua pertanyaan didalam pikiran mereka. Bahwa wakil direktur utama perusahaan ini memiliki hubungan khusus dengan pemuda tampan itu. **   Malam sudah semakin larut ketika Syafiq baru tiba di rumah. Tubuhnya terasa remuk karena seharian ini harus melakukan banyak hal hingga bisa menghabiskan waktu sangat lama. Sebelum langkah kakinya masuk ke dalam rumah, Syafiq berhenti sejenak. Dia ragu dengan penampilan baru dirinya. Mungkin saat masuk ke dalam rumah, semua orang akan bersorak aneh seperti tadi pagi ketika melihat dia sudah duduk dengan rapi di meja makan. Dan malam ini Syafiq harus bersiap kembali mendengar semua komentar tentang dirinya. Beginilah memang sebuah kehidupan, sedikit saja ada yang berubah pada diri ini pasti akan ada yang mengomentari. Entah itu komentar positif atau negatif. Yang jelas hidup tanpa komentar orang lain akan terasa tidak lengkap pada jaman sekarang. “Assalamu’alaikum” salamnya. “Wa’ala.....” Nada yang baru turun dari lantai atas ingin menghampiri Syafiq sampai menghentikan langkahnya. Mengusap sekilas kedua matanya dan kembali menatap lekat wajah sang kakak. Syafiq yang dilihat aneh seperti itu hanya meringis sedih. Adiknya sendiri sampai tidak mengenali sedikipun. “Dek...” tegurnya. “Maaf mas, kita nggak terima sumbangan masjid” Apa? sumbangan masjid? “Dasar adek kurang ajar” desis Syafiq sambil melewati Nada yang masih telihat bingung. “Serius ini abang Syafiq?” histerisnya. Syafiq menggeleng cepat, “Mana ada di personil Serius namanya Syafiq” “Kalau dari ngeselinnya sih emang bener abang Syafiq. Tapi... KEMANA RAMBUT CEM IJUKNYA ITU?” ucap Nada dengan gaya seolah-olah tidak terima abangnya berambut pendek. Ia berdiri menghadang langkah Syafiq untuk meminta penjelasan. “Ya Allah, Nada. Apa harus teriak-teriak begitu?” Nada berjalan mendekati Syafiq, lalu mengendus hidungnya ke tubuh tinggi kakaknya itu. “Dari bau-baunya sih iya” “Eh, adek ngeselin. Emangnya badan abang bau banget apa? pakai dicium segala. Kamu mau kayak yang diinternet-internet sekarang? Cium ketek pacarnya? Dari pada ketek pacar, dosa. Mendingan ketek abang. Ada pahalanya, walau sedikit” kekeh Syafiq. Namun bukannya menyahut, Nada berlutut di lantai lalu mengangkat kedua tangannya. Gayanya sungguh berlebihan tetapi dia begitu bahagia abangnya sudah berubah menjadi lebih baik. Setidaknya dalam hal penampilan. “Ya Allah, terima kasih sudah mengabulkan doa Nada. Terima kasih sudah mengembalikan abang Syafiq. Nggak tahu Allah lakuin apa ke dia, sampai dia bisa begini tampan” Syafiq mencibir malas, kemudian berlalu meninggalkan Nada dengan segala ke anehannya. Dia ingin menemui ibunya untuk mendapatkan semangat baru. “Masuk bang” ucap Sabrin dari dalam kamar saat dia tahu Syafiq yang mengetuk pintu kamarnya. Ketika Syafiq masuk ke dalam kamar, Sabrin masih sibuk melipat mukena yang habis dia pakai sholat. Kemudian tubuhnya berbalik dengan kedua tangan sibuk mengikat rambutnya yang sudah lumayan panjang. Pandangannya masih belum menatap wajah Syafiq karena memang biasa baginya Syafiq akan mendatangi Sabrin bila ia tahu Fatah sedang dinas malam. Namun saat tubuh Sabrin tepat berdiri dihadapan cermin besar, barulah ia sadar siapa yang tersenyum ke arahnya dari pantulan cermin. “Alhamdulillah” ucapnya sambil menatap Syafiq penuh haru. Sabrin berbalik mendekati Syafiq, menatap lekat wajah putra yang begitu dia sayang. Tidak ada lagi rambut-rambut panjang yang tidak terawat. Semua sudah hilang. Dan berganti dengan wajah bersih Syafiq yang terlihat sangat tampan dimata Sabrin. Karena jika dia menatap Syafiq, sama saja dia akan melihat Fatah suaminya. “Loh kok ibu nangis lihat Syafiq begini?” kening Syafiq berlipat menandakan dia bingung pada tingkah ibunya. “Ibu menangis karena bahagia nak. Akhirnya doa ibu di dengar oleh Allah” ucapnya masih dengan tatapan memuja kepada Syafiq. “Jadi ibu bahagia Syafiq potong rambut?” “Ibu bahagia. Tapi ibu akan semakin bahagia bila kedua anak ibu selalu sehat dan ingat kepada Yang Kuasa” “Itu pasti bu” Sabrin merentangkan kedua tangannya agar Syafiq memeluknya. Dan tidak menunggu waktu lama, Syafiq memeluk Sabrin dengan erat. Mengisi kekosongan pelukan hangat ibunya malam ini, karena sang ayah harus melakukan tugas malamnya. “Syafiq senang buat ibu bahagia” “Ibu juga senang kalau abang bahagia. Tetapi kok kamu tiba-tiba potong rambut bang?” tanya Sabrin penasaran. Syafiq tersenyum, menarik ibunya ke arah tempat tidur untuk memulai cerita panjangnya. “Syafiq mau berubah bu, Syafiq ingin buat ibu selalu tersenyum bahagia. Syafiq ingin buat Tuhan tahu kalau ibu punya anak terbaik yang sudah diamanahkan Tuhan untuk ibu jaga. Maka dari itu, Syafiq ingin buktikan semuanya” “Jika itu memang untuk sesuatu yang baik, ibu pasti akan dukung abang” “Iya bu, itu yang Syafiq butuh. Ibu dukung Syafiq. Kasih semangat untuk Syafiq. Setelah kemarin dapat pencerahan dari ibu serta dari ayah belum lagi dari Om Imam sama Om Adit, Syafiq sadar umur kita semakin hari semakin sedikit. Dan aku juga tahu kalau kita tidak bisa menambah umur pada kehidupan ini, tetapi aku rasa kita bisa menambahkan kehidupan dalam umur kita” Sabrin mengangguk setuju dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Dia dan Fatah sejak awal sudah sebisa mungkin mengingatkan Syafiq untuk melakukan yang terbaik. Tetapi selalu gagal. Lalu kini Syafiq sendiri yang ingin merubah hidupnya menjadi lebih baik. Mengapa tidak mereka bantu dengan segala kemampuan yang ada. “Tapi Syafiq tetap Syafiq bu. Syafiq tetap anak ibu dan ayah, kakaknya Nada. Nggak ada yang berubah. Cuma sedikit memperbaiki diri dari tampilan dan insha Allah akhlak. Jika mereka semua masih mencibirku dan mengatakan segala hal negatif seperti di dalam pikiran mereka, semua itu hak mereka. Karena aku tahu, mereka menertawakanku karena aku berbeda. Tetapi karena mereka semua sama sudah selayaknya aku tertawakan. Semua itu menandakan bahwa mereka tidak memiliki ciri khas tersendiri” jelas Syafiq. “Iya sayang, kamu tetap Syafiq, putraku. Darah dagingku. Putra pertama ibu. Anaknya ayah, dan abangnya Nada. Semua tidak akan ada yang pernah bisa merubahnya.” Ucap Sabrin. Mereka berpelukan dengan erat. Saling menyisihkan jarak yang biasanya sering terjadi diantara ibu dan anak laki-lakinya. Bagi Syafiq, dirinya dan ibu seperti satu. Namun berbeda generasi. Karena sebelum ia terlahir di dunia, dia sudah menjadi satu di dalam tubuh ibunya. Sampai sekarang pun rasa itu tidak akan pernah hilang. “Terima kasih bu, kamu adalah duniaku”  ----- Continue Yuk Beli Novelnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN