Biarlah aku seperti bumi. Menopang meski selalu diinjak. Memberi walau selalu dihujani. Selalu diam walau dipanasi. Sampai akhirnya mereka sadar , jika aku hancur maka mereka akan lebih hancur. Karena sesungguhnya yang sering mencemooh adalah orang yang jauh lebih buruk.. Syafiq
Mulai pagi ini Syafiq mulai menjalankan semuanya. Setelah mendapat restu dari sang ibu yang sangat dia cintai, dunia juga seakan mendukung jalannya.
Syafiq masih sibuk menatap tampilan dirinya dicermin. Semuanya terlihat berbeda. Tidak ada lagi rambut panjang. Tidak ada lagi tshirt bolong serta celana pendek. Tidak ada lagi bulu-bulu halus dirahangnya. Semua penampilan barunya menandakan dia sedang memasuki babak lain dalam hidupnya. Menjalankan apa yang semestinya sudah dia lakukan.
Walau sedikit dalam hatinya tidak rela bila harus kehilangan waktu bersama ibunya, Syafiq tetap yakin inilah memang jalan yang seharusnya ia tempuh. Menjadi setingkat lebih dewasa dan mulai memiliki tanggung jawab. Karena benar apa kata kedua Om nya kemarin ini, suatu saat dia pasti memiliki seseorang yang dicintai. Dan orang yang ia cintai itu butuh hidup yang layak.
Maka dari itu, masih belum terlambat untuk dia memulainya sejak sekarang.
Setelah kemarin dia memindahkan semua mata kuliahnya ke kelas intensif pada hari sabtu, maka waktunya dari senin hingga jum’at adalah milik pekerjaan. Lalu minggunya, dia akan fokus untuk ibunya seorang.
Ya, Syafiq sudah mengatur segalanya.
Untuk masalah pekerjaan yang ditawarkan, Syafiq langsung dapat menduduki kursi direktur utama yang selama ini Fatah pegang. Pada awalnya Syafiq menolak keras posisi itu. Dia masih kuliah. Baru semester 5 dan belum memiliki pengalaman sama sekali. Apalagi jurusan yang dia ambil bertolak belakang dengan pekerjaan. Karena itu dia butuh waktu untuk bisa menduduki posisi tersebut.
Namun Om nya menolak, dan meminta Syafiq langsung untuk menempatinya.
Dan pagi ini seharusnya dia akan bicarakan dengan sang ayah. Namun yang ditunggu-tunggu belum juga kembali.
“Abang yakin mau masuk kantor kakek?” tanya kakek Hadi yang baru saja bergabung di meja makan.
“Iya kek”
“Sebenarnya kakek tidak akan memaksa apapun. Seperti dulu ayahmu yang memilih menjadi dokter dari pada meneruskan perusahaan yang sudah ayah rintis dari bawah. Jika kali ini abang memilih keinginan abang sendiri, kakek tidak akan memaksa. Kakek tahu sesuatu yang dipaksakan itu tidak akan mendatangkan hasil yang memuaskan. Semua yang berkah, semua yang indah, itu datangnya dari hati. Kalau hati abang sudah berkata sanggup untuk menjalankan maka Insha Allah hasilnya pun mengikuti” nasihat kakek.
“Insha Allah abang sanggup. Hati abang memang belum bisa sepenuhnya memilih bekerja di kantor kakek, tapi bukan berarti abang nggak mau usaha. Bukankah hasil itu mengikuti usahanya. Kalau niatnya baik, usahanya bagus, pasti mendapatkan hasil yang terbaik” balas Syafiq.
Kakek mengangguk setuju atas penjelasan cucunya. Kemudian tersenyum bangga pada Syafiq. Pemuda yang baru berusia 20 tahun namun pemikirannya sudah begitu jauh ke depan.
“Kakek doakan yang terbaik”
“Iya kek, terima kasih”
Nenek yang duduk di sebelah kakek hanya bisa tersenyum kemudian sedikit meringis sedih. Melihat cucunya mulai berjuang dari awal. Seperti putranya dulu. Dan dia berharap dapat diberikan umur panjang agar bisa melihat Syafiq menjadi lelaki sukses bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.
Sedangkan Nada, gadis muda itu hanya tersenyum sedih. Abang satu-satunya akan memulai sesuatu yang baru lagi. Dia tidak akan bisa seperti dulu menganggu Syafiq kapanpun dia mau. Mungkin bertemu dengan Syafiq butuh waktu lagi seperti bertemu dengan ayahnya.
**
Selama perjalanan mengantar Nada, keduanya sama-sama diam. Sering kali Syafiq mencuri pandang ke arah adiknya yang terlihat cemberut pagi ini. Dia tahu apa yang tengah adiknya pikirkan. Waktu mereka berdua akan berkurang dan semakin lama akan tercipta rasa canggung diantara keduanya.
“Adeknya abang kenapa?” tegur Syafiq mengusap kepala Nada yang memandang jauh keluar jendela. Hijab putih yang sudah melapisi kepala Nada sejak duduk dibangku sekolah dasar dirapikan oleh Syafiq.
Tiba-tiba saja setetes cairan bening mengalir di pipi Nada. Dengan buru-buru Nada menghapusnya. Dia tidak mau Syafiq tahu bila dia menangis sedih.
“Nada pulang sekolah nanti jangan main ya. Temani ibu di rumah. Jangan biarin ibu sendirian. Karena hari ini nenek sama kakek mau ke rumah Ammah. Nada hubungi abang kalau ada apa-apa di rumah” jelas Syafiq yang berusaha fokus melihat ke arah depan.
Lama keduanya diam kembali. Menangisi keadaan yang seharusnya bagi orang lain terlihat biasa saja, tetapi bagi keluarga kecil ini begitu sulit. Mereka dulu pernah memiliki jarak karena terpisah oleh waktu dan pekerjaan. Dan sekarang akan kembali terulang hal demikian.
“Bang” panggil Nada lemah. “Nada bolehkan datang ke sana sama ibu?”
Syafiq tersenyum sendu, “Boleh dong. Masa adek sama ibu abang nggak boleh dateng. Abang jam 5 juga udah pulang dek”
Nada hanya mencibir dalam, “Jam 5 pulang? Jam 5 pagi?” cibirnya.
“Jangan begitu dong dek, jangan buat abang nggak mau kerja”
“Ya udah, sana abang kerja” usir Nada saat mobil Syafiq sudah sampai di depan gerbang sekolah. “Tapi ingat, gaji pertama abang harus traktir Nada” ancamnya.
“Beres Nada sayang”
Nada meraih semua barang yang dia bawa, lalu bergegas turun dari mobil. Melambai jauh ke mobil Syafiq seperti sebuah perpisahan panjang yang memakan waktu.
Syafiq turut melambai, namun saat dia melihat Farah berjalan mendekati Nada gerakan tangannya terhenti begitu saja. Dia diam mencermati wajah perempuan yang sudah beberapa hari ini tidak dia lihat. Getaran itu masih sama tidak ada yang berubah.
Untung saja kaca mobilnya gelap hingga Syafiq tidak perlu bersembunyi agar Farah tidak melihatnya. Karena sesungguhnya dia belum siap untuk muncul lagi di hadapan Farah dalam proses memperbaiki dirinya.
Setelah lama terdiam, Syafiq mulai menjalankan laju mobilnya menuju kantor yang akan setiap hari dia datangi. Kantor yang selama 8 jam mengurung dirinya dengan segala kegiatan dunia. Mungkin pertama-tama dia akan bosan, dan mulai mengeluh jika sudah tidak mampu lagi. Tetapi sebelum semua itu terjadi, Syafiq akan mencobanya. Memberikan yang terbaik untuk semua.
Mungkin tahap awal dari semuanya adalah merubah jalan pemikirannya terlebih dahulu. Dari yang awalnya tertutup menjadi lebih luas. Karena dari sanalah awal segalanya. Seperti kata orang-orang, ubahlah cara berpikirmu maka dunia akan berubah mengikutinya.
Sesaat setelah sampai di kantor yang dia tuju, Syafiq mengucap doa agar diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan semuanya. Meminta Allah untuk terus memberikannya kesabaran dan ketenangan. Agar semuanya dapat berjalan sesuai dengan keinginan.
Langkahnya terhenti tepat di depan lift yang akan membawanya ke lantai dimana dia bekerja. Beberapa karyawan lain menatap Syafiq dari atas hingga bawah. Sampai membuat Syafiq risih. Memangnya ada yang salah dengan pakaiannya?
Ibunya tidak mungkin salah memilihkan pakaian untuk hari pertamanya bekerja. Tetapi mengapa pandangan orang menilainya aneh?
Pintu lift terbuka di lantai yang dia tuju. Kedua manik mata Syafiq menjelajah jauh ke beberapa kubikel yang ada di lantai ini. Terlihat lebih sedikit memang, namun Syafiq yakin yang berada di lantai ini semuanya adalah orang-orang yang memiliki kedudukan penting.
Syafiq sempat diam beberapa saat, berpikir cepat harus memulai dari mana dia? Sepintar-pintarnya seseorang pasti butuh waktu untuk beradaptasi terlebih dahulu.
Sebuah tepukkan dapat Syafiq rasakan dibahunya, ketika dia berbalik senyumnya terkembang dengan lebar. Itu dia Ammah-Nya. Setidaknya Syafiq tidak merasa begitu asing disini. Wajah Umi seperti pemberi angin segar untuk kelangsungan hidup Syafiq di kantor ini kedepannya.
“Alhamdulillah, Keponakkan Ammah makin ganteng aja” goda Umi.
Dengan bahunya, Umi menyenggol bahu Syafiq yang tertawa malu. Ternyata umur seseorang tidak membatasinya untuk berbuat jahil. Lihat saja Umi, umur sudah memasuki angka 40 tahun lebih masih tetap saja sifat jahilnya tidak pernah hilang.
“Sekarang kamu siap-siap ya, nanti sekitar pukul 10 ada rapat semua dewan direksi. Karena adanya pergantian direktur utama baru” jelas Umi. Beliau menarik Syafiq masuk ke dalam ruangan yang bisa ia diprediksi adalah ruangan kakeknya dulu. Karena baru pintu kaca itu terbuka, lukisan keluarga besarnya disana. Dimana dia masih begitu kecil dalam gendongan sang Ayah dan ibunya menggendong Nada yang masih balita.
Hati Syafiq menghangat melihatnya, ternyata dari sini kakeknya masih bisa melihat keluarga mereka. Tidak sepenuhnya bekerja di gedung bertingkat itu sampai melupakan keluarga yang dimiliki. Buktinya Kakeknya berbeda.
“Silahkan duduk direktur baru” kekeh Umi.
Langkah Syafiq terus mengelilingi ruangan yang dinominasi warna putih dan gold ini. Sepanjang dinding yang menjadi sekat, berdiri rak buku yang sangat besar dan memiliki koleksi yang cukup lengkap. Lalu di ujung ruangan ini ada sebuah sekat kosong yang berisi alat sholat beserta Al-Qur’an yang tersusun dengan rapi. Menandakan pemilik ruangan sebelumnya sosok yang tidak bisa jauh dari Tuhan.
Sekarang Syafiq semakin yakin bila ia bisa menjadi seperti kakeknya. Tidak melupakan keluarga namun tetap sukses di dunia.
“Nanti abang kalau butuh sesuatu panggil saja assisten abang di depan ya. Kalau dulu assistennya kakek itu tante Adel, tapi karena tante Adel sekarang nggak bekerja disini lagi jadi ada orang baru disana” jelas Umi.
“Iya Ammah”
“Kalau Abang butuh sesuatu, Ammah ruangannya di pojok kanan ya” jelas Umi sebelum keluar.
Syafiq mengangguk paham. Sekarang saatnya dia mempersiapkan diri untuk rapat nanti.
**
Kedua tangan Syafiq ditekuk diatas meja. Dia sengaja tautkan keduanya agar tidak terlihat bagi semua orang bahwa dia sedang gugup sekarang ini. Tepat di ruangan yang khusus digunakan oleh para direksi, semuanya mulai berkumpul satu demi satu. Dan bodohnya Syafiq tidak ada yang dia kenal selain Umi.
Perempuan yang seusia ibunya itu sedang sibuk dengan ponsel ditangannya. Wajahnya terlihat santai tidak seperti dirinya yang begitu gugup.
Tak lama berselang, terdengar banyak suara dari luar dan mulai masuk beberapa orang yang Syafiq nilai sangat berwibawa. Mereka membawa map ditangan mereka yang entah apa isinya. Sedangkan Syafiq hanya meringis melihat buku catatan kusamnya yang biasa ia bawa ke kampus.
Sebenarnya dia tidak paham, apa yang akan terjadi pada rapat nanti selain dirinya dikenalkan sebagai direktur muda baru. Pasti akan ada yang menolak pergantian itu karena Syafiq jauh dari kata sesuai dengan kriteria pemimpin yang sesungguhnya.
“Ehmmm” lamunan Syafiq terhenti ketika suara seseorang mengintrupsinya. Ternyata disana dapat ia lihat Om Imam beserta Om nya yang lain mengikuti masuk. Mereka nampak biasanya saja menghadapi rapat ini. Lalu tepat sebelum pintu tertutup, wajah Ayahnya lah yang terlihat.
Syafiq tersenyum senang melihatnya. Ternyata Ayahnya datang untuk mendukungnya.
Mereka semua duduk melingkari meja bulat. Disisi ujungnya ada sebuah papan tulis putih yang masih bersih dan siap untuk diberikan coretan disana.
“Assalamu’alaikum, selamat pagi semuanya” ucap Fatah membuka rapat kali ini. “Pertama-tama saya ingin mengucap syukur atas nikmat dan karunianya kita semua bisa berkumpul dipagi hari ini. Lalu untuk mempersingkat waktu semuanya, saya akan menyampaikan tujuannya dibentuk rapat pagi ini adalah untuk mengumumkan pergantian jabatan direktur utama yang baru. Dia adalah Maheswara Syafiq Al Kahfi.” Tunjuk Fatah pada Syafiq.
“Dia adalah cucu bapak Hadi Al Kahfi, yang kebetulan adalah putra pertama saya” jelas Fatah sambil menatap semuanya.
“Mulai selanjutnya dia yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan Al kahfi Group yang kebetulan sekarang ini sudah semakin besar mencakup segala bidang. Dan saya juga berharap bapak-bapak sekalian dapat membantu Syafiq untuk ke depannya. Dia memang masih begitu muda, namun jika diberikan kepercayaan saya yakin dia mampu lebih baik menjalankannya dari pada saya”
“Lulusan apa dia?” tanya salah satu pihak.
Fatah melirik Syafiq memberikan petunjuk agar putranya itu dapat menjawabnya.
“Saya...” ucapannya tertahan melihat Fatah yang mengangguk yakin. “Jurusan perfilman dan televisi”
Beberapa direksi yang datang serta pemegang saham lainnya tertawa. Mereka merasa lucu anak bau kencur seperti ini dipercaya memegang kedudukan tertinggi. Apalagi tidak ada background apapun dibalik pendidikannya. Mau jadi apa nasib puluhan ribu karyawan yang menjadi tanggung jawab perusahaan ini.
“Fatah, apa kamu sedang bercanda? Mempercayakan anakmu yang masih kuliah menjabat sebagai direktur sedangkan pendidikan mengenai bisnis saja dia tidak punya” celetuk salah satu pemegang saham lain.
“Jika seperti ini saya akan menjual semua saham saya” ungkap protes yang lain.
Fatah masih saja tersenyum kemudian menatap Syafiq yang sudah menundukkan kepala.
“Tenang semuanya. Memang Syafiq tidak memiliki background pendidikan bisnis tetapi bukankah perusahaan ini sudah banyak yang memilikinya? Saya pun disini bukan dari lulusan bisnis. Saya dokter obgyn. Dan kalian semua bisa percaya kepada saya” jelasnya dengan begitu tenang.
“Semua berbeda. Kau sudah membuktikannya. Rumah sakit milikmu semakin berkembang pesat dengan standar pelayanan internasional” protes yang lainnya.
“Iya saya paham. Kalian percaya karena kalian telah melihat hasilnya. Tapi apakah kalian tidak bisa mempercayai dirinya seperti kalian mempercayai saya?”
“TIDAAAKKK” sahut semuanya serempak.
Fatah mulai diam. Dia bukannya takut menghadapi semuanya, namun dia mencoba untuk lebih tenang menghadapi orang-orang yang tengah terbalut dengan emosi.
Namun berbeda dengan Imam. Dia sudah semakin tersulut dengan beberapa orang yang mulai sombong. Merasa jauh diatas Syafiq yang masih anak kemarin sore.
“Ehm...” Imam berdehem sejenak. Menatap satu demi satu lawan bicaranya. Baru ketika dia ingin bersuara, Syafiq menahan Imam berbicara dengan cengkraman tangannya.
Syafiq menggeleng lemah, kemudian tersenyum. Mulai berani menatap satu demi satu orang-orang yang tadi merendahkannya. Bukannya selama ini dia sudah terlalu sering direndahkan dan dihina. Mengapa dia masih saja sakit?
Oh, iya. Biar bagaimanapun dia, Syafiq tetap memiliki hati untuk merasakan segalanya.
“Saya memang masih terlalu muda untuk memimpin perusahaan kakek saya yang begitu besar ini. Perusahaan yang membuat saya kagum waktu kemarin pertama kali datang ke sini. Karena saya tidak pernah terpikir jika di rumah, bila kakek saya adalah orang besar. Di rumah dia tetap seorang ayah dan seorang kakek. Saya juga tidak tahu seperti apa cara memimpin beliau. Kakek adalah lulusan master bisnis terbaik sedangkan saya? Lulus pun belum. Tapi satu kesamaan yang kami memiliki. Kami punya Tuhan. Baik kakek, nenek, ayah, ibu serta keluarga saya yang lain selalu mengajarkan bila Tuhan selalu punya sesuatu yang indah bagi umatnya yang percaya dan yakin bila dia mampu. Dan sekarang ini bila saya diijinkan, saya akan melakukan semaksimal mungkin.” Jelas Syafiq sambil tersenyum pahit.
“Memang untuk urusan bisnis pengetahuan saya masih kosong. Tetapi di sini saya yakin banyak dari bapak-bapak sekalian yang memiliki pengetahuan bisnis yang luas. Untuk itu saya butuh bantuannya melengkapi kekurangan saya sebagai pemimpin. Anggap saja saya sekarang seorang pemimpin orkestra ketika sedang bekerja harus membalikkan punggung dihadapan pengunjung. Melakukan keputusan seorang diri. Dia tidak bisa memperhatikan respon pengunjung terhadap cara dia memimpin. Karena bakti hidup dan tujuannya tidak ditujukan untuk pengunjung tetapi untuk bawahan-bawahannya. Memang tepuk tangan penonton itu penting, namun bukan itu tujuannya. Tujuan utamanya adalah memimpin orkestra secara sempurna.”
Tidak ada yang mencoba mengintrupsi semua perkataan Syafiq, mereka mencoba menilainya dari cara Syafiq menjelaskan seperti apa dirinya.
“Tetapi untuk mencapai tujuannya, pemimpin memerlukan lem yang bisa mengikat tanpa paksaan. Logika adalah salah satu perlengkapan dari lem tadi. Namun sehebat-hebatnya logika, dia tidak bisa mengalahkan hubungan dari hati ke hati. Hubungan ini mirip seperti semen. Sekali merekat susah dirobohkan. Beda dengan logika, hanya boros dengan kata-kata. Sedangkan hubungan dari hati ke hati tidak memerlukan banyak kata. Percayalah, semakin banyak perkataan hanya akan memperenggang hubungan. Berbeda dengan tindakan. Apalagi yang dibangun di atas ketulusan dan kemurnian. Karena disetiap tindakan tadi, satu sisi memperkuat kekuatan daya tarik magnet pimpinan dan pada saat yang sama meringankan gerakan orang bawah untuk ditarik ke atas. Mensejajarkan pemikiran bersama untuk mencapai hasil yang diinginkan” tutup Syafiq dengan senyuman.
Tepukan tangan mulai terdengar dari Hans dan Adit yang melakukan standing applause untuk Syafiq. Kemudian Imam yang mengangkat jempolnya untuk keponakannya itu. Sedangkan Fatah ikut tertawa dengan kedua mata berkaca-kaca.
Ya, Fatah menangis. Melihat putranya bisa sesempurna itu menjelaskan. Putra yang selalu dinilai orang sebelah mata karena terlihat tidak sopan dan jauh dari agama. Sekarang membuktikan siapa sebenarnya sosok Maheswara Syafiq Al Kahfi.
-----
continue..
Jangan lupa dikomen sama di tap love ya