Bab 12

2227 Kata
Anggap saja aku cicak yang terus merayap di dinding hatimu walau tidak pernah kau sadari.. Farah   Syafiq masih merasa kurang sempurna menjalankan hari pertamanya menjadi seorang pemimpin dengan kedudukan tinggi. Setelah tadi diakhir rapat semuanya mencoba memberikan kepercayaan kepada Syafiq selama 6 bulan, ia mulai belajar dengan giat. Bertanya kepada semua orang bila ada point-point yang tidak dia mengerti. Bukannya memang seperti itu bila mendapat sebuah kesulitan yang masih tidak dimengerti. Bertanya kepada yang mampu lalu bila sudah, mengamalkan kembali ilmu yang didapatkan kepada orang lain. Begitu seterusnya. Dihadapannya masih ada beberapa map yang harus ia pelajari untuk didiskusikan esok dengan direksi yang lainnya, namun sampai sekarang satu map yang masih menjadi fokusnya belum juga selesai. Lalu ketika Syafiq melihat jam di pergelangan tangannya, hatinya meringis sakit. Padahal tadi dia sudah berjanji kepada adiknya akan pulang pukul 5 tepat waktu. Dan ternyata, janji tinggallah janji. Tidak ada yang mampu memprediksi sesuatu dapat selesai sesuai waktu yang diinginkan atau tidak. Syafiq mengusap wajahnya dengan kedua tangan, ia harus kembali fokus agar dapat pulang lebih cepat. Tetapi tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, muncullah sosok Umi disana. Ammah yang begitu dia sayang sejak kecil, tersenyum geli melihat tampang kusut Syafiq. “Ayo pulang bang” “Masih belum selesai. Nanti abang menyusul” Umi menggeleng, dia membuka pintu ruangan kerja Syafiq dengan lebar. Kemudian melangkah masuk dan bertolak pinggang dihadapan Syafiq. “Jangan dipaksakan. Bila pikiran abang sudah ada di rumah, jangan berharap bisa fokus untuk bekerja. Percuma kamu disini menghabiskan waktu sampai malam bila hasilnya pun tidak maksimal. Jadi Ammah sarankan, abang pulang. Istirahat. Besok pagi datang kembali dengan pikiran lebih segar. Bisa berpikir jauh lebih cermat dari sekarang” Syafiq kembali menggelengkan kepala, kemudian tersenyum. “Ini sudah jadi tanggung jawab abang. Sebuah amanah, jadi jangan disepelekan” “Ammah bukan mengajarkan abang untuk menyepelekan amanah ini. Tapi coba abang pikir semua orang yang jenius dan sukses itu bukan karena memang dia pintar, namun dia bisa memantapkan sisi emosionalnya. Contoh ayahmu. Dia itu sukses bukan karena pintar. Asal kamu tahu ya, dulu di sekolah, ayahmu itu bodoh. Tapi dia tetap tenang, tidak merasakan malu dari yang lainnya. Dia terus berusaha sesuai keyakinannya jika dia bisa sukses dengan cara lain. Dan lihatlah dia sekarang. Ayahmu begitu sukses. Bukan dari sisi dunia saja, melainkan akhiratnya. Bagaimana dia bisa membimbing ibumu menjadi jauh lebih baik. Karena apa, karena ketenangannya. Lalu sekarang kalau kamu mau menyelesaikan semua ini agar kamu dapat cepat sukses, kamu salah. Ciptakan dulu ketenangan dalam dirimu dalam menghadapi segala situasinya, baru bisa melangkah ke depan” Sekali lagi Syafiq mengusap wajahnya. Dia sangat setuju dengan apa yang dibicarakan oleh Ammah-nya. “Abang juga pasti tahu bagaimana pengertian kecerdasan menurut Rasulullah, Cerdas atau berakal dalam Al Qur’an adalah ketika berpadunya pikir dengan dzikir dalam diri seorang muslim sejati. Pikir adalah kerja otak dan dzikir merupakan kerja hati, hati yang sehat dan hidup yakni selalu ingat kepada Allah SWT.” Umi tersenyum senang melihat Syafiq semakin pusing. Ini baru hari pertama, harusnya Syafiq mencoba mengenal segalanya terlebih dahulu. Bukan langsung terjun kedalam seluk beluknya. “Ayolah bang, kamu nggak kangen sama ibumu?” Syafiq mengangguk pelan. Dia tutup semua map yang harus di cek. Sekarang waktunya dia pulang, mengisi semangatnya kembali. Saat berada di lobby bersama Umi dan Hans, Syafiq terus saja menjadi tatapan beberapa karyawan. Ada yang menatapnya bertanya-tanya, dan banyak sekali yang menunduk hormat kepadanya. Padahal siapa dia? Dirinya dan mereka semua sama disini. Sama-sama mencari rezeki yang halal. Tidak seharusnya mereka semua tunduk. Karena Syafiq bukanlah Tuhan yang harus dihormati. Mereka salah bila berpikir Syafiq merupakan atasan yang gila hormat atau pujian. Sungguh berpikir untuk seperti itu saja tidak. Dia tetap Syafiq. Pemuda yang masih mencoba mencari jati diri. Dan mencoba memperbaiki diri di jalan yang benar. “Bang, kita duluan ya” tegur Hans. Syafiq tersenyum, lalu melambai. Membalas lambaian tangan Umi yang terus saja tersenyum geli melihat wajahnya. Memangnya ada apa dengan wajah Syafiq? ** Saat mobilnya terparkir di halaman rumah, sebuah motor matic sudah terparkir lebih dulu di sana. Syafiq mulai memperhatikan motor matic itu. Jelas sekali motor tersebut bukan milik Shaka. Karena yang Syafiq tahu, motor matic Shaka sudah sangat hancur akibat terlalu sering dimodifikasi. Lalu motor siapa yang ada di halamannya? “Assalamu’alaikum” “Wa’alaikumsalam” sahut suara dari dalam. Kedua mata Syafiq langsung beradu pandangan dengan manik mata yang selama beberapa minggu ini menjadi daya tariknya. Mata yang terlihat sendu namun bisa meluluhkan sesuatu di dalam diri Syafiq. “Abang udah pulang” seru Nada. Dihadapan Nada, Farah terus saja terpaku melihat Syafiq yang hanya diam. Tidak ada pergerakan sama sekali dari laki-laki itu. Hingga Farah berpikir Syafiq kaget melihat dirinya ada disini. Setelah lama terpaku, Syafiq tersadar karena sedari tadi Farah terus saja menatapnya tanpa lelah. Syafiq tahu Farah pasti kaget dengan tampilannya saat ini. Terakhir mereka bertemu, Syafiq masih pemuda lusuh dengan rambut panjangnya. Dan sekarang, Syafiq adalah seorang pebisnis muda yang baru memulai karirnya. Karena tidak ingin pandangannya menjadi zina, Syafiq berjalan masuk dan tidak mempedulikan Nada serta Farah yang sibuk memperhatikan gerak geriknya. “Abang, sudah pulang” seru Sabrin dari arah dapur. Syafiq mengangguk tanpa memberikan jawaban melalui suara. Mulutnya seketika tidak bisa dibuka efek dari tatapan Farah tadi. Dia mencium punggung tangan Sabrin, kemudian kening ibunya yang begitu ia cintai. Sisa tenaga yang tadi sudah menipis kini full kembali seperti semula setelah melihat senyuman hangat Sabrin. “Mandi dulu sana, nanti kita makan bersama” sambung Sabrin kembali. Masih tanpa mengeluarkan suara, Syafiq berjalan masuk ke dalam kamarnya. Mencoba menenangkan teriakan hatinya yang tidak mau berhenti. Ini sudah tidak bisa dibiarkan. Ia ingin memperbaiki diri, bukan menjerumuskan dirinya ke neraka.   **   “Kak Farah” tegur Nada. Ia bingung melihat Syafiq dan Farah yang bersikap aneh. Tadi sebelum Syafiq datang, Farah terlihat begitu periang. Tidak menjadi gadis diam seperti ini. “Kenapa?” “Kak Farah kenapa sih? Kok mendadak aneh” “Aku aneh? Mungkin karena belum makan” senyum Farah berusaha dibuat-buat. Kedua matanya mencoba melirik lantai atas dimana kamar Syafiq berada. Ada sedikit rasa senang dapat melihat Syafiq kembali setelah pertemuan terakhir mereka yang aneh itu. Dan sekarang Syafiq masih saja aneh saat melihatnya. Padahal kemarin Nada berkata Syafiq menitipkan salam kepadanya yang berisikan kata-kata ‘bukan’, lalu mengapa sekarang keadaan mereka tidak membaik juga? Pipi Farah merasa hangat kala mengingat betapa tampannya tadi Syafiq. Memakai pakaian layaknya laki-laki pebisnis lalu dengan rambut yang rapi serta wajah yang menggemaskan bagi Farah. Anggap saja Farah sudah gila, karena begitu tergila-gila dengan Syafiq sejak pertama kali bertemu. “Bagaimana keadaan ayahmu?” tegur Fatah yang sudah mengambil posisi duduk di sofa. Menatap Farah yang kebetulan duduk di atas karpet bulu bersama Nada. “Sudah lebih baik pak” Fatah tersenyum senang. Selepas rapat direksi tadi, Fatah sempat kembali ke rumah sakit karena ada beberapa pasien yang membutuhkan pertolongannya. Lalu keadaan yang tidak pernah diduga terjadi, Fatah bertemu kembali dengan gadis muda yang waktu itu pernah ribut di rumah sakitnya. Gadis itu terlihat lelah melangkah keluar rumah sakit. Karena merasa tidak tega melihatnya, Fatah mencoba menawarkan tumpangan. Namun ternyata gadis itu mengendarai motornya sendiri. Mereka berdua sempat berbicara sejenak di rumah sakit. Hingga Fatah tahu bila gadis ini yang membantu putrinya kala menstruasi pertamanya hadir. Oleh karena itu, Fatah mengundangnya makan malam saat ini. Sebagai balasan karena telah membantu putrinya untuk sesuatu hal yang baru. Awalnya Farah menolak dengan sangat. Dia tidak enak rasanya menerima tawaran tersebut. Namun Fatah terus saja membujuknya sampai akhirnya Farah mau dan menerima tawaran itu. Dengan alasan ingin menemani Nada sebentar. Karena Fatah memang menggunakan Nada sebagai alasan agar Farah mau menerima tawarannya. Ternyata, takdir memang mendukungnya. Akibat menerima tawaran makan malam, Farah bisa bertemu dengan Syafiq kembali. Syafiq yang awalnya dia pikir hanya laki-laki biasanya, ternyata merupakan anak dari seorang dokter terkenal di rumah sakit. Ingin ia pupuskan harapannya untuk mencintai Syafiq, tetapi apakah ia rela melepaskan laki-laki sebaik Syafiq hanya karena status kehidupan mereka berbeda? Dengan sedikit egois, Farah tidak ingin memperdulikan status mereka yang berbeda. Baginya berjuang untuk mendapatkan cinta dari laki-laki seperti Syafiq bagaikan menyelami dalamnya samudra. Walau sulit akan tetap akan ia lakukan asalkan Syafiq yang berada didasarnya. **   Saat makan malam tiba. Farah merasa jantungnya seperti sedang berlari maraton karena melihat Syafiq duduk dihadapannya dengan tenang. Seakan tidak ada dirinya saat ini. Walau terasa sakit bagi Farah, dia ikhlas. Yang terpenting kedua matanya masih diberikan ijin menatap Syafiq yang sibuk memasukan makanan kemulutnya. “Gimana tadi bang?” Sabrin memulai percakapan ditengah makan malam ini. “Yah begitu bu, seperti biasa.” Jawab Syafiq dengan tenang. Seolah direndahkan seperti tadi di kantor adalah hal biasa baginya. “Yang penting kamu bisa tunjukkan kalau kamu bisa dipercaya akan tanggung jawab itu” jelas Sabrin. “Terus bang, ada yang komentarin penampilan abang nggak?” tanya Nada antusias. Syafiq diam sejenak, melirik Farah yang duduk disamping Nada baru setelahnya menatap Nada tajam. “Komentar apaan?” jawabnya malas. “Ya kali gitu ada yang histeris di kantor lihat abangnya Nada ganteng banget. Bawa-bawa banner mungkin dengan tulisan, cepat halalin adek bang” jelas Nada dengan penuh kegembiraan. Tangannya tidak mau diam menirukan perempuan yang mungkin saja memuja wajah Syafiq. Mendengar Nada berkata demikian, Farah tersedak makanannya. Buru-buru dia minum dalam diam. Melirik ke semua orang yang juga menatap dirinya khawatir. “Pelan-pelan Farah” ucap Sabrin saat menuangkan air untuk Farah kembali. “Iya, tante. Abis makanannya enak banget, jadi Farah makannya buru-buru” ucapnya beralasan. “Wah masa sih? Padahal dulu tante nggak bisa masak” kekeh Sabrin sambil tersipu malu. Fatah yang mendengar istrinya bahagia karena masakannya dipuji oleh orang lain hanya bisa tersenyum. Baru Farah diluar keluarga mereka yang berkata masakan Sabrin enak. “Masa sih tante? Tapi enak kok. Farah suka” sahutnya penuh percaya diri. Nada terlihat kesal karena Syafiq tidak juga menjawab pertanyaannya. Dia merengut malas menatap Syafiq yang hanya diam saja tanpa mengeluarkan suara. “Bang, benar nggak tebakan Nada? Mereka pasti pada kagum sama abang karena abang ganteng. Habis potong rambut, terus rajin mandi. Jadinya kan cemerlang wajah abang” “Hus, Nada. Nggak boleh gitu” tegur Sabrin. “Memangnya berpengaruh?” sahut Syafiq pada akhirnya. Sebelah alisnya terangkat menunggu reaksi Nada atas pertanyaannya. “Ya dong ada pengaruhnya” bela Nada. “Kan cewek tuh lihat cowok dari bersihnya. Kalau abang kumel kayak kemarin siapa juga cewek yang suka” sambung Nada. Farah tersenyum lucu mendengar perdebatan yang terjadi tengah makan malamnya bersama keluarga Al Kahfi. Dia juga rindu sebenarnya dengan kakak satu-satunya yang dia miliki, namun kakaknya itu telah melupakan keluarganya. Kakak yang seharusnya bisa menjadi tempatnya mengeluh sudah pergi entah kemana. Tanpa kabar, tanpa kepastian. “Nada.. Nada. Kalau kamu bilang abang ganteng karena potong rambut dan rajin mandi, kamu salah dek. Baik kegantengan dan kecantikan manusia bukan karena kamar mandi. Namun karena hatinya. Hati yang baik dan sempurna akan memancarkan aura tersendiri bagi pemiliknya. Ya contohnya abang ini. Bukannya abang mau sombong, tapi itulah kenyataannya” ucap Syafiq penuh percaya diri. “Aduh, Nada males deh dengarnya kalau abang udah mulai begini” Tawa puas yang berasal dari Syafiq semakin menambah kehangatan acara makan malam sederhana ini. Tidak perlu tempat yang mewah dan makanan yang mahal untuk menciptakan harmoni kebersamaan bersama keluarga. Karena hanya dengan makan malam sederhana ditambah dengan percakapan penuh rasa sayang sudah melengkapi segalanya.   ** “Terima kasih ya Farah. Kapan-kapan main lagi ya” Farah mengangguk sembari tersenyum. Kemudian dia mencium punggung tangan Fatah dan Sabrin secara bergantian. Bersiap untuk pamit pulang. “Kak Farah, sampai ketemu besok di sekolah” lambai Nada penuh keceriaan. Sedangkan Syafiq hanya diam memantau gerak gerik Farah yang mulai menghidupkan motornya. Rambut panjang Farah digulung ke atas agar mudah memakai helm. Lalu sebelum gadis itu pergi, ia sempat tersenyum kembali kepada Syafiq yang masih saja diam. Tadi sebenarnya, Fatah sudah meminta Farah untuk meninggalkan saja motornya disini. Karena Pak Kardi siap mengantarkan Farah pulang. Namun gadis itu terus saja menolak. Hingga pada akhirnya, Fatah dan Sabrin menyerah untuk membujuknya. Motor yang dikendarai Farah sudah pergi, Fatah, Sabrin beserta Nada sudah kembali ke dalam hingga menyisakan Syafiq yang masih saja memandang jauh ke arah tubuh Farah menghilang. Sebelah tangannya merasakan gelayar aneh pada bagian d**a. Entah mengapa dia tidak terima gadis itu pulang sendiri di malam hari. Belum lagi mengendarai motor bagi perempuan sangatlah rawan. Ada sebagian dari diri Syafiq tidak mau terjadi sesuatu hal buruk pada Farah, tetapi sebagian lagi merasa tidak peduli. Setelah lama berperang, akhirnya sisi baiknya lah yang menang. Dia harus mengikuti gadis itu sampai rumahnya dengan aman. Biar bagaimana pun melindungi sesama muslim memang diharuskan. Buru-buru Syafiq mengambil kunci mobilnya. Ketika Fatah dan Sabrin melihat reaksi aneh dalam diri Syafiq keduanya saling melirik. Menyamakan pemikiran mereka bila ada yang dirasakan oleh putra pertama mereka terhadap Farah. Sosok gadis belia yang sudah menjerat hati Syafiq hingga berhasil melakukan hal yang tidak biasanya. “Ayah harus segera menemui orang tua dari Farah” ucap Fatah sembari merangkul Sabrin. Sabrin mengangguk menyetujui. Kini terjawab sudah kepada siapa Syafiq jatuh cinta. Dan Sabrin sudah melihat sendiri seperti apa gadis itu. Melihat Farah sama saja mengingat masa lalunya. Dimana dirinya jauh dari Tuhan. Sekarang ketakutan muncul dalam diri Sabrin. Apa Syafiq mampu membimbing Farah menjadi lebih baik? Seperti dulu Fatah melakukan hal tersebut kepadanya. ---- continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN