Bab 13

1928 Kata
Mungkin aku dapat melangkah menjauhi dirimu, tetapi tidak untuk hatimu.... Farah   Syafiq sengaja menjalankan mobilnya lambat. Memantau terus motor Farah yang juga bergerak sangat lambat tak jauh dari mobilnya. Hingga tepat dipersimpangan jalan sebelum keluar dari komplek perumahan Syafiq, motor tersebut berhenti. Farah turun dari motornya dan berjalan menuju mobil Syafiq yang terhenti tidak jauh darinya. “Bang...” ketuknya pada kaca jendela mobil Syafiq. “Hm” sahut Syafiq ketika kaca sisi bagiannya sudah turun hingga Farah bisa melihat wajah Syafiq dari samping. “Abang kenapa sih? Mau ikutin Farah ya?” tuduhnya langsung. Syafiq menggeleng cepat. Ternyata dia ketahuan melakukan aksi nekad ini. bibirnya menipis ingin menjawah sedikit sanggahan atas perkataan Farah, tetapi gadis itu dengan cepat mengeluarkan kalimatnya kembali. “Abang kalau mau tahu rumah Farah ngomong dong bang” Kedua manik mata Syafiq menatap Farah tidak terima. Terlalu percaya diri sekali gadis ini. Dari yang bisa Syafiq lihat, Farah terlihat tersenyum dengan penuh kemenangan sampai Syafiq lupa untuk mengedipkan kedua matanya. “Kamu terlalu percaya diri” gumannya. “Bang Syafiq, bohong itu dosa loh” kekeh Farah. Ada kesenangan tersendiri menggoda Syafiq sampai membuatnya marah. “Jangan bicara mengenai dosa bersamaku.” Cibir Syafiq. “Jika kamu tahu dosa tidak akan mungkin kamu dengan mudahnya mengumbar auratmu itu. Menutup aurat memang tidak menjamin akan terlepas dari dosa, tetapi menutup aurat adalah usaha seorang muslim untuk mengurangi dosa” “Mak.. maksud abang?” Syafiq tersenyum mengejek, lalu menatap Farah dari atas hingga bawah. Farah terlihat risih mendapatkan tatapan seperti itu dari Syafiq. “Apa-apaan sih bang” kedua tangannya tersilang didepan d**a. Menghalau tatapan mata Syafiq yang terlihat seperti ingin menelanjanginya. “Tadi kamu yang bicara masalah dosa, tapi kamu seakan tidak sadar seberapa besar dosa yang telah kamu buat. Kamu bersembunyi dibalik ketidaktahuan semua orang atas apa yang telah kamu lakukan. Tapi apakah kamu sadar, di atas sana Allah selalu tahu apa yang dilakukan umatnya.” Farah terus diam mencermati semua kata-kata Syafiq yang penuh dengan makna. Dia sedikit ragu dengan sebuah kesimpulan yang berhasil dia ambil. “Kenapa? Apa aku salah?” tanya Syafiq dengan keningnya yang berlipat. Setelah yakin apa yang Syafiq maksud, Farah tersenyum perih. Merasakan sakit disekujur tubuhnya. Dia menghalau air matanya agar tidak terlihat oleh Syafiq. Semua yang diucapkan Syafiq benar. Dia berusaha menutupi semuanya di depan orang banyak, tetapi dia lupa bahwa sang Pencipta tahu percis apa yang dia lakukan selama ini. “Sekarang aku paham ke arah mana abang berbicara.” Ucapnya sendu. “Terima kasih atas penilaian abang. Memang benar kata-kata abang tadi. Mungkin aku bisa menutupi segala hal yang ku lakukan dari orang-orang disekitar, namun Tuhan akan selalu tahu semuanya” sambungnya kembali. Farah mengigit bibir dalamnya, terus menelusuri wajah Syafiq yang juga tengah menatapnya. “Aku sempat berpikir abang berbeda. Aku berpikir abang pahlawan yang datang membawa sedikt cahaya pada tempat yang begitu gelap dan dalam. Menawarkan perlindungan sebagaimana yang aku butuhkan. Namun ternyata aku salah” suara Farah terputus, dia mengalihkan pandangannya sembari mengusap air mata yang mengalir. “Aku hanya perempuan bodoh yang terlalu cepat menilai sesuatu” ringisnya. “Dan aku sadar kini aku sedang berbicara dengan siapa. Laki-laki yang begitu jauh untuk sekedar ku lihat. Dia begitu tinggi dan tidak pernah menatapku yang begitu kecil” “Apa yang kamu bicarakan” protes Syafiq tidak setuju dengan perkataan Farah. “Tidak ada bang. Hanya kalimat yang tidak seharusnya aku keluarkan” ucapnya diiringi senyuman memaksa. “Farah.. Farah. Kamu cantik, tapi sayang diperlihatkan untuk semua orang. Miris rasanya melihat perempuan sepertimu” gumam Syafiq yang masih masih bisa di dengar Farah. Air matanya jatuh kembali tepat setelah Syafiq menyelesaikan kalimatnya. Syafiq sungguh keterlaluan. Memangnya apa salah Farah hingga mulutnya dengan lancang berkata demikian? “Terima kasih bang untuk ucapannya” suara isaknya lolos begitu saja dari bibir Farah. “Sudah sana abang pulang, Farah bisa sendiri kok” Kedua kaki Farah melangkah menjauhi mobil Syafiq kembali. Dalam setiap langkahnya dia menangis dan terus menangis. Mengapa kehidupan begitu kejam kepadanya. Apa ada yang salah dari jalan hidupnya selama ini. Memang apa yang dikatakan Syafiq benar. Dia sudah memiliki banyak dosa. Melakukan sesuatu yang dibenci Allah. Namun bila ada pilihan lain tentu dia tidak akan mau seperti ini. Tetapi lagi-lagi hanya itu pilihan Farah. Sepeninggal Farah, Syafiq masih terus diam. Mencoba mengintrospeksi atas semua kata-katanya. Mungkin benar dia sudah keterlaluan. Tetapi bukannya seperti itu kenyataanya. Farah dengan percaya dirinya mengobral kecantikan fisiknya untuk dinikmati orang banyak. Padahal jika Farah tahu, sesungguhnya kecantikan fisik memiliki masa, sedangkan kecantikan hati bergulir hingga ke surga. Tetapi lagi dan lagi kenyataan pahit yang harus Syafiq terima dimana Farah telah melakukan dosa untuk melakukan foto tanpa busana itu. Jika ia bisa, ingin Syafiq membakar semua foto itu agar tidak ada lagi yang memfantasikan tubuh indah Farah. Namun nasi sudah menjadi bubur. Tidak bisa disesali semua yang telah terjadi. Kini tinggallah Syafiq untuk berjuang membantu Farah bagaimana cara memperbaiki semuanya. “Ini yang gue benci dari cewek belum selesai bicara main pergi aja. Tapi giliran cowok yang pergi duluan, marahnya nggak berhenti-henti” gumam Syafiq. Dia memutar balik mobilnya. Membiarkan Farah pulang tanpa perlu dia repot-repot mengantarkan. Bukankah gadis itu yang memintanya untuk pulang?   **   Beberapa hari setelahnya, baik Syafiq maupun Farah tidak pernah bertemu lagi. Biasanya Syafiq akan bisa melihat Farah ketika mengantarkan Nada ke sekolah, tetapi sudah berhari-hari berlalu dirinya seakan kehilangan Farah. Ada yang aneh sebenarnya, Syafiq tahu Farah menghindarinya. Bila dia dengar dari kata-kata Nada, Farah sangat jarang bermain bersama Nada ketika di sekolah. Seakan-akan gadis itu memiliki banyak pekerjaan. Atau sesungguhnya Farah juga menghindari Nada. Padahal dalam hal ini Nada tidak ada masalah sedikitpun pada Farah. Tetapi masih terkena getahnya juga. “Ini dia big boss kita, baru bangun tidur jam segini” sindir Shaka. Seperti biasa, setiap hari minggu memang selalu diadakan acara kumpul bersama. Terkadang acara itu diadakan rumah Imam, atau Adel. Namun yang lebih sering menjadi tuan rumah adalah Fatah. Selain rumahnya sangat luas, rumah tersebut juga nyaman untuk dijadikan tempat berkumpul keluarga. “Jadi benar bang Syafiq masuk ke kantor kakek?” tanya Wahid yang minggu ini ikut berkumpul. Biasanya Wahid paling susah diajak acara seperti ini. Ada saja alasan yang dia gunakan untuk menghindar atau memang dia sesungguhnya tidak suka acara ramai. Banyak yang beranggapan, Wahid memiliki sifat seperti Hans yang sangat misterius. Ia mampu menutupi semuanya dari orang-orang sekitar. Hingga terkadang Umi harus sedemikian rupa mencari tahu apa yang dikerjakan Wahid di luar sekolahnya. “Kurang update banget lo” cibir Shaka. Tubuhnya sedang bersandar malas di sofa, memperhatikan wajah Syafiq yang masih saja ditekuk masam. Ingin Shaka bertanya ada masalah apa yang sedang dialami Syafiq? Namun ia cepat mengurungkan niatnya. Dari pada dia yang menjadi tumbal kemarahan Syafiq, lebih baik ia diam. Mereka semua kini tengah duduk santai di ruang keluarga. Sedangkan para ayah mereka sedang di depan sibuk membicarakan mobil baru yang baru saja Hans beli sampai membuat Umi marah pada suaminya itu. Lalu para ibu mereka sibuk membuat makanan yang diibantu oleh anak-anak gadis yang mulai beranjak dewasa. “Gimana bang, enak nggak kerja?” “Lo rasain aja sendiri” “Belum saatnya, gue masih butuh banyak belajar. Anggap aja abang sedang masa percobaan yang dilakukan oleh para orang tua. Kalau abang berhasil maka selanjutnya kami menyusul” Sebuah bantal mendarat diwajah Shaka yang tersenyum mengejek ke arah Syafiq. “Nanti saat lo ngerasain, gue orang pertama yang akan jatuhin lo” ancam Syafiq. “Lo lihat Hid, abang kita udah bisa  kasih ancaman sekarang” “Tapi tahun besok, kayaknya gue bang yang mengikuti jejak lo” ucap Wahid. “Lo sih cocok Hid, muka lo boros” kekeh Shaka. “Kayak gue dong? Tetap Imut disaat kalian semua berangsur membusuk” sambungnya penuh kemenangan. Memang diantara mereka bertiga, wajah Shaka yang tetap terlihat baby face. Mungkin karena seringnya ia tertawa tanpa beban dan pikiran, membuat kulit wajahnya selalu kencang. Ketiganya masih saling terus mengejek satu sama lain. Tanpa peduli bila kata-katanya itu dapat menyakiti perasaan orang lain atau tidak. Berbeda dengan Rafif, adik terkecil yang Shaka miliki itu hanya diam. Mencermati apa yang semua kakaknya itu lakukan. Kemudian Rafif akan mencoba mencatatnya dibuku catatan kecil yang selalu dia bawa. “Gue dengar Rara mau nikah ya?” Shaka tiba-tiba tersedak mendengar kalimat dari Wahid. Tahu dari mana dia sampai dengan mudahnya terlontar kalimat seperti itu. “Nikah?” seru Syafiq dan Shaka bersamaan. “Iya. Gue dengar sih dijodohin” “Bagus deh dia nikah. Sepupu perempuan kita kan yang tertua memang dia” ungkap Syafiq dengan tenang. Berbeda dengan Shaka yang sudah duduk gelisah di atas sofa. “Terus lo kapan nikah bang?” Syafiq melirik Wahid sebelum menjawabnya. Tepat ketika menatap wajah Wahid, yang dapat dia ingat mengapa wajah Farah. Farah yang tersenyum bahagia dalam pelukan Wahid waktu itu. “Yang nikah gue duluan bang” potong Shaka. “Lo belakangan aja” “Lihat dari umur lebih pantes gue yang nikah duluan” “Abang emang udah punya calon?” seru Shaka dan Wahid kompak. “Sudah” hanya satu kata membuat Shaka dan Wahid menatap tak percaya. “MASA?” Sebuah senyuman singkat Syafiq berikan untuk kedua sepupunya yang terlalu ingin tahu. “Iya. Perempuan itu sedang memperbaiki diri disana. Sebelum kami terikat pernikahan yang halal, dia ku bebaskan lebih dulu untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Mencari banyak ridho dari Allah. Barulah nanti kiranya telah sama-sama saling melengkapi, kami akan terikat dalam pernikahan” “Ah itu mah pikiran abang saja..” “Loh memang benarkan. Manusia mana yang nggak ingin dapatkan jodoh terbaik. Kalau bisa dunia akhirat” Wahid mengangguk-angguk setuju. Benar Syafiq, suatu saat nanti mereka semua pasti akan berkeluarga. “Kalau bang Shaka kapan?” Shaka menyeringai m***m ke arah Syafiq dan Wahid yang kebetulan duduk bersebelahan. “Gue secepatnya setelah menemukan cabe yang terbaik” “CABE?” “Iya. Cabe” “Yakin lo bang?” ulang Wahid. “Pikiran lo” Shaka melemparkan bantal ke wajah Wahid yang langsung diterima olehnya. “Kalian pikir cabe itu cuma yang bikin panas dan sempit aja? Cabe gue langka.” Pikirannya melayang mengingat bagaimana perempuan yang sudah mengisi hatinya sejak dulu tersenyum. Kemudian bagaimana mengingat suara lembut darinya. Membuat fantasi Shaka terbang kemana-mana. “Cabe gue itu masih kecil. Cabe yang sudah gue jaga dari kecil sampai besar. Cabe yang sudah penuhi hati gue dengan biji cabenya. Cabe yang buat gue kalang kabut kalau dengar sesuatu yang buruk terjadi sama dia. Cabe yang nggak pernah nolak untuk ingetin gue” “Lo gilaaa..” keluh Syafiq. “Tenang bang bro, Cabe gue itu bukan membuat gue tersesat, tetapi membantu gue menemukan jalan yang lurus. Cabe gue adalah....” Wahid dan Syafiq menunggu kelanjutan dari kata-kata Shaka. Tubuh keduanya dimajukan ke dekat Shaka agar lebih jelas mendengar. Rafif sang adik yang tadinya terlihat tidak peduli, ikut melakukan aksi yang sama. Menempelkan tubuhnya pada Shaka yang sudah memasang wajah jahil. “Cabe gue itu.... Cewek Alim Berhati Emas....” “Gue pikir benaran cabe” seru Wahid. “Iya, dia benaran cabe. Kayak ...” “Kayak siapa? Jangan bikin penasaran bang” ucap Wahid. “Kayak....bunda gue yang jelas” ucap Shaka lantang penuh kemenangan. Pukulan dan jitakan dapat Shaka rasakan. Dia tidak peduli badannya akan sakit nantinya. Karena sekarang dia puas membuat semua sepupunya penasaran akan perkataannya tentang cabe. Awalnya Shaka ingin jujur mengenai siapa cabe itu sebenarnya. Tetapi ini belum waktunya. Pasti akan ada nanti waktu yang tepat untuk menunjukkan kepada semua orang siapa cabe yang dia cintai sesungguhnya. ---- Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN