Bahkan google tidak pernah tahu bagaimana dengan mudahnya aku memaafkan segala rasa sakit yang kau berikan... Farah
Farah melipat kembali seragam sekolah yang seharusnya pagi ini ia pakai. Namun semua tidak mungkin lagi ia pergunakan. Tepat pada hari jum’at lalu Farah mendapatkan surat pemutusan beasiswanya karena pihak sekolah sudah tidak mempercayai Farah akibat foto tanpa busana itu. Bila tanpa beasiswa, Farah sudah tidak akan mungkin melanjutkan sekolah disana. Uang dari mana ia untuk pembayaran biaya sekolahnya. Sekarang saja dia masih pusing mencari uang untuk membayar semua biaya administrasi ayahnya di rumah sakit.
Jadi satu-satunya pilihan yang bisa dia ambil adalah putus sekolah disaat sedikit lagi dia akan lulus. Ingin rasanya ia mencari pekerjaan yang bisa membiayai semua kebutuhan dirinya dan kedua orang tua, namun dimana ada pekerjaan yang mau mempekerjakan seseorang tanpa ijasah. Rasanya sungguh mustahil. Apalagi di kota besar seperti Jakarta. Semua yang dibutuhkan adalah ijazah dan pengalaman. Untuk kemampuan adalah urutan nomor kesekian.
Tubuh Farah terduduk lemas di lantai. Pikirannya terus berputar mencari jalan yang terbaik untuk ia pilih. Pikiran buruknya terus saja memaksa Farah untuk melakukan hal negatif lagi. Mungkin dulu dia bisa menjual foto dirinya tanpa busana untuk memenuhi segala kekurangan yang keluarganya rasakan, kini apa ia harus menjual keperawanannya agar bisa menebus biaya rumah sakit sang ayah. Sekaligus bisa ada tambahan uang untuk Farah melanjutkan sekolahnya. Setidaknya Farah ingin tamat SMA agar kedepannya lebih mudah menjalani hidup.
Dengan ponselnya, Farah mulai mencari berapakah harga dari sebuah keperawanan? Kedua matanya terbuka lebar, menatap tidak percaya atas berita yang tertulis dilayar ponselnya. Hatinya menjerit sakit mendapati sebuah fakta jika kini keperawanan bukanlah sesuatu yang dapat dijual dengan nilai tinggi.
Bayangkan saja sebuah keperawanan hanya seharga sebuah motor. Padahal jelas-jelas seorang perempuan menjaga semua itu dengan begitu baik agar hanya suaminya saja yang merasakannya. Tetapi kini semuanya tidak berharga.
Bahkan banyak situs yang menjual selaput darah buatan (Hymen) agar ketika berhubungan akan tetap mengeluarkan darah. Sama seperti seorang perawan yang belum pernah tersentuh. Apa tidak seperti penipuan namanya? Bagi laki-laki operasi tersebut sama saja menipu kaum mereka. Bersikap layaknya seorang perawan sejati padahal kenyataannya darah yang keluar karena buatan manusia.
Sungguh Farah tidak menyangka sudah sejauh ini perkembangan jaman. Dia baru tahu semua itu hingga membuatnya sesak sendiri membacanya.
Karena masih tidak mendapatkan solusi, dia mematikan kembali ponselnya. Termenung untuk yang kesekian kalinya. Agar mendapatkan pencerahan untuk kehidupannya nanti seperti apa. Kedua lututnya dia tekuk dan menundukkan kepalanya tepat diatas kedua lutut. Rasa kantuk mulai menyerangnya karena tadi sempat mengeluarkan air mata ketika membaca.
Farah memilih memejamkan mata dan terlarut dalam alam mimpi. Berharap setelahnya ia mendapatkan sedikit jawaban atas masalahnya ini.
**
Tidak terasa hari sudah siang ketika Farah terbangun dari tidurnya. Kedua kakinya yang sejak tadi ia tekuk terasa kesemutan. Sebelum beranjak Farah mengecek ponselnya sebentar, ada panggilan dari nomor yang tidak ia kenal dan pesan dari mama nya untuk segera ke rumah sakit. karena hari ini adalah waktunya sang ayah keluar dari rumah sakit.
Setelah mencuci muka, Farah bersiap berangkat ke rumah sakit. Dia belum berani berkata bila sekolah sudah memutuskan beasiswa yang ia terima kepada kedua orang tuanya. Farah tidak ingin semua yang tengah terjadi menjadi tambahan pikiran untuk ayahnya yang sedang sakit. Biarlah ia menampungnya seorang diri sambil terus mencari jalan keluarnya.
Sesampai di rumah sakit, sebuah spanduk dengan gambar organ jantung membuat Farah mendapatkan sebuah ide. Ide yang seharusnya tidak ada dipikiran gadis yang baru berusia 16 tahun. Tetapi hanya ini pilihannya. Setidaknya jalan ia pilih lebih terhormat dari pada menjual keperawanan kepada laki-laki yang bukan suaminya.
Buru-buru Farah masuk ke dalam rumah sakit. Sudut bibirnya terus saja terangkat senang. Bagaimana tidak, pikirannya sudah dipenuhi bagaimana nanti dia mendapatkan uang yang begitu banyak. Pasti ia akan begitu bahagia.
Tepat di depan pintu masuk kamar rawat ayahnya, Farah bisa melihat sosok berjas putih duduk diatas ranjang sang ayah. Walau tubuh laki-laki berjas itu membelakanginya, dia bisa mengenali siapa orang itu.
Sedikit banyak Farah mencuri dengar apa yang dibicarakan dokter Fatah dengan kedua orang tuanya. Mereka jelas membicarakan dirinya saat ini. Sampai-sampai dapat Farah lihat ibunya tersipu malu akibat dokter Fatah memuji dari mana kecantikan yang Farah miliki.
Saat tubuh dokter Fatah ingin keluar, dengan cepat Farah bersembunyi. Dia tidak mau bila ada yang tahu tadi dia mencuri dengar percakapan orang dewasa.
Lalu setelah beberapa menit berlalu, Farah baru bisa hadir di depan kedua orang tuanya yang tersenyum bahagia. Entah dokter Fatah telah melakukan apa. Yang jelas Farah tidak ingin menghapus kebahagiaan kedua orang tuanya saat ini.
**
Sebelum keluar dari rumah sakit, Farah mencoba menanyakan berapa banyak biaya yang harus ia bayar agar ayahnya dapat pulang kerumah.
Dengan sabar Farah terus menunggu bagian administrasi mengeceknya. Dia tahu pasti sangat banyak biaya yang harus ia lunasi untuk semuanya. Setelah tahu berapa jumlah yang harus ia bayar nanti, Farah harus bernegosiasi terlebih dahulu sepertinya dengan kepala rumah sakit ini. Agar bisa memberikan sedikit waktu untuknya mencari tambahan uang yang kemungkinan akan dia dapat setelah menjual salah satu organ tubuhnya.
Hanya itu pilihan akhirnya. Jika sampai ginjalnya pun tidak laku, entah dari mana lagi Farah harus mencari uang.
“Maaf mbak, atas nama bapak Romi sudah lunas”
Dahi Farah berdenyit bingung, “Coba dicek lagi mbak, mungkin mbak salah kali. Yang namanya Romi bukan ayah saya doang loh. Nanti kalau salah rugi nih rumah sakitnya”
“Saya sudah mengecek berkali-kali mbak. Kebetulan pasien atas nama Romi hanya ayah mbak saja saat ini”
Jika tadi dahinya, kini mulutnya terbuka lebar. “Memang berapa mbak total semuanya?”
“Sudah sama obat yang akan dibawah pulang, menjadi 15.450.000”
“Berapa mbak? 15 juta? Dan ada yang bayarin semua biaya pengobatan ayah saya?” Tanya Farah untuk meyakinkan dirinya kembali.
“Iya mbak”
Tubuh Farah lemas, dia menarik napas sedalam yang ia bisa. Siapa kira-kira orang yang sebaik itu? Biaya rumah sakit yang sangat mahal mengapa dengan mudahnya dibayarkan tanpa berkata dulu kepadanya. Setidaknya Farah bisa mengucapkan terima kasih.
“Mbak tahu nggak siapa yang bayar?” ia berusaha mencari informasi siapa orang yang begitu dermawan mau memberikan sedikit rezekinya untuk biaya ayah Farah.
“Disini tidak tertulis mbak namanya”
Kepala Farah melirik ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari orang-orang yang mencurigakan telah membayar biaya rumah sakit ayahnya. Tetapi nihil, semua terlihat tidak peduli.
“Terima kasih kalau begitu ya mbak” ucapnya lesu.
Kakinya berjalan tidak seimbang dan kepalanya tertunduk lesu tanpa semangat. Dalam beberapa kali tarikan napas dia lakukan. Bibirnya tersenyum miris. Apa ini adalah bantuan dari Tuhan untuk dirinya? Bahkan dia tidak pernah berdoa sedikitpun kepada Tuhan. Mengapa Tuhan masih saja mengirimkan orang baik untuk menolongnya? Padahal tadi Farah sudah patah arah. Dia sudah merelakan sebelah ginjalnya untuk dia jual sebagai pembayaran biaya rumah sakit.
“Kalau semua ini dari Mu Tuhan, terima kasih banyak” gumamnya lemah.
Lalu mulai melangkah kembali menuju ruang kamar ayahnya untuk bersiap pulang.
Kini tinggal satu masalahnya, yaitu masalah beasiswa yang sudah diputus oleh sekolah. Dan di keluarkannya ia dari sekolah yang selama ini selalu dibanggakan kedua orang tuanya.
**
Farah membantu ayahnya untuk dapat masuk ke dalam taksi yang akan mengantarkan mereka pulang, namun sebelum dirinya ikut masuk ke dalam dia melihat sosok dokter Fatah sedang berjalan di lobby rumah sakit.
Melihat dokter Fatah yang sudah berumur namun masih memiliki kharisma yang sempurna membuat Farah mengingat sosok lain yang begitu mirip dengan dokter Fatah. Sudah beberapa hari setelah makan malam itu, ia tidak pernah bertemu Syafiq kembali.
Dan entah mengapa kini, Farah ingin sekedar menyapa dokter Fatah dan bertanya kabar Syafiq yang dia tahu sedang memperbaiki diri.
“Mama sama papa pulang duluan saja, Farah mau ada perlu sebentar”
Kakinya berlari-lari mengejar langkah tegap dokter Fatah yang sudah bersiap masuk ke dalam lift. Saat tangannya mampu menghalau pintu lift agar tidak tertutup, Fatah sedikit kaget melihat sosok gadis muda dihadapannya.
Farah. Dia adalah gadis muda yang sudah membuat putranya menjadi tidak karuan. Gadis dengan rambut hitam panjang terurai dan kedua mata bulat hitamnya yang berhasil memikat siapa saja yang memandang.
“Sore dok” sapa Farah sopan.
Tubuh kecilnya ikut masuk ke dalam lift tersebut. Berdiri disamping tubuh dokter yang entah mulai kapan menjadi idolanya.
“Kamu bukannya sudah pulang?” tegur Fatah dengan senyum.
Bibir Farah tertarik menampilkan senyum manisnya. “Iya dok, barusan antar papa sama mama ke taksi”
Fatah mengangguk paham, kemudian menatap Farah kembali yang kurang lebih seusia anak perempuannya.
“Kamu kapan main lagi ke rumah?”
“Memangnya aku masih boleh main ya dok?” tanya Farah balik.
Baru Fatah ingin menjawab, pintu lift terbuka tepat di lantai ruangannya berada. “Ayo kita bicara di dalam ruangan saja” ajaknya.
Tubuh Farah hanya mengekori Fatah yang sudah berjalan lebih dulu. Beberapa suster yang melewati mereka tidak segan-segan menegur Fatah dengan ramah. Di rumah sakit yang besar ini siapa yang tidak kenal Fatah? Pemilik sekaligus dokter Obgyn yang sangat terkenal mampu menarik perhatian banyak orang. Dokter yang sangat berkharisma dengan ilmu agama yang begitu dalam. Bahkan rumah sakit ini pun dibangun dengan syariat Islam.
“Silahkan duduk. Mau minum apa?”
Farah mengeleng cepat, “Nggak perlu repot-repot dok”
Fatah tersenyum, lalu memilih duduk di kursinya. Menatap Farah yang masih terkagum-kagum melihat ruangan kerjanya.
Diatas meja kerja kayu, terdapat dua figura kecil dimana menampilkan sosok Fatah masih muda dengan keluarganya.
“Ini saya waktu baru menikah dengan istri saya, Sabrina” jelas Fatah ketika tahu kearah mana tatapan Farah. “Dia sama sepertimu saat pertama kali saya bertemu dengannya”
“Maksud dokter?” tanya Farah tidak mengerti.
“Dia perempuan energik yang tidak pernah sama sekali terlintas dipikiran saya untuk menikahinya. Dulu saya dan dia menikah karena perjodohan. Kedua ayah kami kebetulan sahabat dekat dan berniat menikahkan putra putrinya ketika mereka sudah besar. Awalnya saya dan Sabrina seperti korban dari perjodohan itu. Kami sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Pertemuan pertama dan kedua dengannya bukan sesuatu yang special, karena saya dan dia sama-sama marah akan perjodohan ini” jelas Fatah.
“Tapi sekarang dokter kan bahagia”
“Harus bahagia. Karena bahagia itu bukan dicari namun dibentuk dengan segala yang telah dimiliki. Kami pernah sama-sama kecewa sebelumnya, hingga akhirnya kami mengalah oleh keadaan dan mengikuti sampai dimana hubungan ini akan terus berlanjut. Hingga lahirlah Syafiq sebagai pelengkap kebahagiaan kami. Dari Syafiq kami banyak belajar. Bahkan karena Syafiq saya sadar akan semua kekurangan yang dimiliki. Jika kamu sudah mengenal Syafiq, dia anak laki-laki yang begitu mencintai ibunya. Terkadang saya sampai merasa iri melihat kedekatan mereka berdua.” Ungkap Fatah masih dengan senyuman manisnya.
“Kamu tahu, laki-laki yang begitu mencintai ibunya akan bisa memuliakan istrinya dengan baik. Seperti apa yang ditanyakan Aisyah ra kepada Rasulullah bahwa laki-laki itu milik ibunya, dan perempuan (istri) adalah milik suaminya”
Farah diam, terus memandangi wajah Fatah. Dia bukan merasakan kagum dengan wajah tampan dihadapannya, namun dia bingung dengan penjelasan Fatah.
“Maaf dok, Farah nggak paham. Bisa nggak diulang penjelasannya” ucapnya polos.
Ingin Fatah tertawa melihat kepolosan gadis di depannya ini. Pikirannya kembali mengingat masa-masa dulu bersama Sabrin.
“Mungkin nanti Syafiq akan menjelaskannya” ucap Fatah singkat. “Karena saya rasa dia bisa menjelaskan semua yang seharusnya kamu ketahui. Tapi masalahnya saya tahu benar seperti apa Syafiq. Dia itu masih sering mengikuti arus anak muda jaman sekarang ini” sambung Fatah.
“Kan memang bang Syafiq masih muda dok” ucap Farah bingung.
Karena tidak bisa menahannya lagi, akhirnya Fatah tertawa dengan tangan menutup mulutnya. Pantas saja putranya tertarik dengan Farah. Gadis ini cukup memikat dan sangat nyaman diajak berbicara. Dia tidak malu-malu mengucapkan apa yang ada dipikirannya. Sama betul dengan Sabrina.
“Kamu tahu, Farah. Masalah yang sering terjadi pada anak muda sekarang ini?”
Farah menggeleng cepat, “Mana saya tahu dok,”
“Kamu kan masih muda, masa tidak tahu?” goda Fatah pada gadis yang sejak tadi menampilkan wajah bingung dihadapannya.
“Memangnya semua anak muda harus tahu apa masalah anak muda lainnya? Dok, sekarang ini yang aku tahu jaman alis palsu sama bibir palsu. Untung bukan gigi palsu ya dok” kekeh Farah merasa geli sendiri mengucapkannya.
“Bisa saja kamu. Biar saya jelaskan, masalah yang sering sekali dialami anak muda jaman sekarang adalah begitu mereka belajar sesuatu yang baru, lalu mereka paham. Mereka akan berpikir dan menyampaikan kepada semuanya kalau mereka tahu segalanya. Kenyataannya tidak seperti itu. Karena anak muda jaman sekarang lupa bila ada Dia yang Maha Mengetahui lagi Maha Mendengar”
DEG...
Farah diam. Mengapa dari semua penjelasan dokter Fatah bisa berhubungan dengan kata-kata terakhir Syafiq kemarin ini? Syafiq yang merasa tahu benar tentang dosa yang Farah lakukan. Padahal dia tidak tahu ada masalah apa dibalik semua itu.
Jadi benar Syafiq masuk ke dalam masalah anak muda jaman sekarang.
“Benar kan semuanya?”
“Iya sih dok” ringis Farah.
“Maka dari itu, bila Syafiq melakukan hal yang mungkin saja diluar kesadarannya sampai membuatmu sakit dan terluka, tolong ingatkan dia segera. Manusia itu makhluk yang paling sering lupa. Begitu pula Syafiq. Saya sebagai ayahnya berbicara seperti ini kepada dirimu, karena satu hal yang bisa saya rasakan”
“Hal apa dok?”
“Putra saya jatuh cinta kepadamu”
-----
continue