Aku tidak ingin menjadi siapapun yang harus kau terima dipertengahan jalan. Karena aku hanya ingin menjadi satu-satunya obat ditengah kesakitanmu... Syafiq
“Putra saya jatuh cinta kepadamu”
Selama perjalanan pulang dari rumah sakit ke rumah, Farah terus saja merenung. Melihat ke arah luar jendela bis kota yang menjadi modal transportasinya. Tidak mungkin dia menggunakan taksi yang akan menghabiskan banyak biaya. Mulai saat ini sisa uang yang ada ditabungannya harus dia pergunakan dengan sehemat mungkin.
Hembusan angin sore yang menerpa wajahnya membuatnya tersadar. Ada yang salah dari semua ini. Sebuah hal yang mustahil bila Syafiq menyukainya. Siapa dia sampai laki-laki sesempurna Syafiq bisa merasakan hal itu.
Dari sekian banyak perempuan di dunia ini, mengapa harus dia? Pertanyaan itu yang terus saja muncul di benaknya. Dia yang tidak sempurna, dia yang tidak tahu apa-apa tentang agama. Dan dia yang bukan dari keluarga berada. Lalu mengapa Syafiq bisa menyukainya? Nanti semua orang semakin memandang dirinya buruk karena membuat sosok laki-laki seperti Syafiq menyukainya.
Pembicaraan terakhirnya dengan Fatah kembali berputar diingatan Farah, “Mungkin banyak pertanyaan yang ingin kamu ucapkan setelah mengetahui hal itu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Farah. Saya tahu Syafiq bisa merasakan perasaan itu bukan karena melihat dirimu dengan kedua matanya. Namun hatinya. Dia menggunakan hatinya untuk melihatmu. Hingga muncullah perasaan itu”
Farah memejamkan kedua matanya kembali, mencoba menenangkan segala yang berteriak di dalam dirinya sekarang. Ada apa dengan sosok yang bernama Tuhan. Setelah tadi Tuhan menyelamatkannya dengan mengirimkan malaikat untuk membantu pembiayaan rumah sakit, kini Tuhan mengirimkan sosok malaikat lain yang akan menemaninya seumur hidup.
“Serius nggak sih lo cinta sama gue? Tapi kenapa lo jahat, bang? Buat hati gue hancur karena perkataan lo” gumam Farah.
Dia membenturkan berkali-kali kepalanya pada sisi kaca jendela bis kota tersebut. Dia sungguh takut. Bukan takut Syafiq menyakitinya kembali. Bukan itu. Dia takut semua orang akan semakin nilai buruk Syafiq bila laki-laki itu mencintai dirinya. Mencintai perempuan yang penuh dengan dosa.
**
Langkah kaki Farah sampai di depan gerbang sekolah yang sudah mulai sepi. Hanya tinggal beberapa murid yang sedang melakukan kegiatan ekskull. Serta beberapa orang satpam yang sibuk menonton televisi di pos satpam.
Farah mulai melangkah masuk. Mungkin ini adalah kali terakhirnya masuk ke sekolah ini. Mengambil beberapa buku pelajaran yang masih tersimpan di loker. Setidaknya dia masih bisa belajar di rumah, siapa yang tahu nanti ketika dirinya ada uang bisa mengikuti ujian susulan paket C.
Setelah memasukkan beberapa buku pelajaran ke dalam tas ransel yang selalu menemaninya, Farah berjalan kembali pulang. Menatap ke sekeliling gedung kelas yang terdiri dari 4 lantai. Dia berusaha merekam semua yang pernah terjadi di sekolah ini. Agar kelak dia masih ada cerita untuk anak cucunya bila sekalipun mereka dari keluarga yang tidak mampu, namun ia pernah bersekolah dimana semua orang-orang kaya mendaftarkan anak-anaknya.
“Farah....” wajah Farah terlihat kaget dengan sosok perempuan teman sekelasnya.
“Oh.. hai..” balas Farah canggung.
Tabitha, teman satu kelasnya berjalan menghampiri. Sebotol air mineral berada di sebelah tangannya. Farah tahu apa yang sedang dilakukan Tabitha sore ini. Gadis itu mengikuti ekskull vocal grup yang memang menjadi salah satu ekskull favorit bagi murid-murid bersuara emas. Apalagi Tabitha gadis yang cantik, memiliki suara indah serta cukup memiliki pengaruh disini. Siapa yang tidak kenal dengan dirinya. Maka dari itu Farah sedikit malu bila Tabitha menegurnya.
“Kamu benar keluar dari sekolah ini?” Farah dapat melihat wajah cemas dari Tabitha.
“Iya...” lirihnya.
“Kok gitu sih? Kenapa memangnya? Apa sekolah segitu mudahnya percaya sama gosip itu?” Farah menggeleng tidak tahu. Yang jelas ijin beasiswanya telah dicabut pihak sekolah.
“Kamu yang sabar ya, sayang rasanya kehilangan teman sepertimu” sebelah tangan Tabitha menepuk bahu Farah hingga refleks ia menghindar. Ia merasa malu saja bisa sedekat ini dengan Tabhita. Apa yang akan dibicarakan orang bila melihat hal ini? Mungkin Farah yang akan dibicarakan negatif kembali. Seperti menjilat Tabitha agar bisa bersekolah di sini.
“Nggak papa, memang seharusnya aku nggak sekolah di sini”
“Jangan bicara begitu Far. Sekolah dimana saja sama kok. Yang membedakan hanya perasaan kitanya saja. Aku juga nggak suka sama orang-orang yang bisanya hanya menilai sisi buruk orang lain. bundaku sering bilang, orang seperti itu hanya sedang menutupi aibnya sendiri. Terkadang hidup memang kejam Far, seperti petugas kebersihan saja. Padahal bukan dirinya yang membuat kotor tapi dia yang harus membersihkan”
Sudut bibir Farah tertarik, dia tahu secantik apapun Tabitha, tetap perempuan di depannya ini memiliki hati seperti malaikat. Jarang sekali Farah menemukan sosok seperti Tabitha di jaman sekarang. Yang ada, semakin cantik wajah perempuan maka hatinya semakin buruk.
“Aku pulang dulu ya” ucap Farah.
“Eh, tunggu Far. Dari kemarin Nada cariin kamu. Kamu kenapa sama dia? Katanya dia kamu marah ya sama dia? Aku tadi mau tanya itu tapi jadinya nyambung ke petugas kebersihan” ungkapnya jujur sambil tertawa.
“Marah sama Nada?”
“Iya, dia bilang gitu. Makannya dia minta aku buat tanya ke kamu,”
“Aku nggak marah sama dia. Dia teman yang baik kok” sekaligus calon adik ipar yang baik, batin Farah.
“Ok. Nanti aku sampaikan ke dia” sambung Tabitha dengan senyum.
“Iya. Kalau begitu aku duluan ya”
Baru beberapa langkah Farah berjalan, Tabitha kembali memanggilnya. “Far, minggu depan ada syukuran di rumah ku. Datang ya” teriaknya dengan lambaian tangan.
Farah mengangguk dan ikut membalas lambaian tangan Tabitha. Andai semua orang di dunia bisa bersikap ramah seperti temannya, Tabitha. Mungkin dia tidak akan tersisihkan seperti ini.
**
Selama beberapa hari Farah terus saja berbohong kepada kedua orang tuanya. Berangkat pagi, mengaku ke sekolah. Dan pulang sore hari seperti sosok murid teladan. Padahal kerjaannya hanya berdiam di masjid dekat sekolahnya. Memandang ke arah gedung sekolah yang begitu ia rindukan. Terus menduga-duga sedang belajar apa kelasnya hari ini.
Pandangannya teralih pada buku pelajaran yang sejak tadi ia buka, ini sudah halaman ke sekian yang dia kerjakan. Tetapi tidak ada guru yang bersedia menilainya. Dia juga masih ingin bersekolah seperti yang lain. Apalagi menjadi sosok perempuan yang pintar adalah cita-citanya. Tetapi mengapa dunia seakan menghambat jalannya? Ingin Farah menjerit kencang, mengaku lelah dengan kekerasan hidup. Namun semua dia rasa percuma. Karena jaman sekarang orang hidup sudah masing-masing.
Farah menghitung uang jajan yang dia miliki hari ini. Di sakunya hanya tersisa untuk ongkos pulang. Padahal rasa lapar sudah menyerangnya. Sudah dua hari ibunya tidak memberikan uang saku untuknya. Apalagi motor yang biasa dia pergunakan untuk ke sekolah sudah di jual untuk biaya makan sehari-hari.
Sempat waktu beberapa hari lalu, kedua orang tuanya bertanya akan pembayaran rumah sakit. Farah berkata jujur kepada kedua orang tuanya bila biaya rumah sakit sudah ada yang membayari. Entah itu siapa, dan kedua orang tuanya hanya bisa mengucapkan syukur.
Memang terkadang cobaan terasa begitu menghimpit, tetapi ada saja jalan keluar yang tiba-tiba hadir.
Mungkin semua itu dari Tuhan. Begitulah yang ada di pikiran Farah. Dia ingin berterima kasih kepada Tuhan, namun dia tidak tahu bagaimana caranya. Kedua orang tuanya tidak pernah mengajarkan bagaimana beribadah. Bahkan Farah sempat berpikir bila kedua orang tuanya tidak tahu Tuhan itu apa.
Farah terlihat kaget ketika seseorang mulai menyuarakan panggilan untuk dilakukannya sholat. Ada desiran aneh di dalam hatinya. Apalagi melihat orang-orang mulai berdatangan ke masjid itu untuk melakukan ibadah. Dengan kedua matanya, Farah terus mengikuti setiap pergerakan mereka. Mulai dari cara mereka masuk ke dalam masjid hingga mereka semua kompak membersihkan diri dengan air yang disediakan oleh masjid.
“Nggak sholat dek?” tegur seorang ibu-ibu.
Farah menggeleng pelan, kemudian dibalas ibu itu dengan senyuman. “Pasti lagi menstruasi ya?” Karena takut ketahuan Farah tidak bisa sholat, dia mengangguk saja.
Dari pada menjadi pembicaraan yang tidak enak, Farah memilih ke luar. Berjalan dengan pelan menuju rumahnya kembali. Mungkin sudah waktunya dia pulang dan berkata jujur kepada ibu dan ayahnya.
Namun tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat disampingnya. Farah yang tadinya akan marah, kembali mengurungkan niatnya saat tahu siapa yang berada di dalam mobil tersebut.
Syafiq turun mendekati Farah dengan tatapan kesal bercampur emosi. “Saya bingung dengan semua yang kamu lakukan” tegurnya.
“Ma...maksudnya?”
“Masuk ke mobil. Saya ingin bicara” ucapnya tegas.
Baru saja Farah ingin mengelak, Syafiq sudah menatapnya galak seperti ingin menelan Farah hidup-hidup. Karena itu dia hanya mengikuti saja apa keinginan Syafiq.
Ternyata mobil Syafiq membawa mereka menuju sekolah untuk menjemput Nada. Hari ini Syafiq dapat meluangkan sedikit waktu untuk menjemput adiknya. Karena besok adalah ulang tahun adik sepupunya, Tabitha. Atas permintaan Nada yang membuat Syafiq kesal sendiri, akhirnya ia menuruti Nada untuk menemaninya mencari kado special. Namun tak disangka, Syafiq bisa bertemu Farah disini.
“Sekarang aku ingin bertanya dan kamu jawab semuanya dengan jujur” ucap Syafiq. Kedua matanya memandang ke depan dimana pagar sekolah masih tertutup rapat. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Bibir Farah bergetar, ia mengalihkan pendangannya ke luar jendela. Baru Syafiq bertanya seperti itu saja mengapa dia ingin menangis.
“Kalau kamu tidak cerita semuanya, sama saja kamu membiarkanku untuk menilaimu seperti mereka menilaimu” ucap Syafiq dengan cara bicara mulai melunak.
“Aku tidak peduli bagaimana penilaianmu” ucap Farah.
Syafiq tertawa mengejek, “Ia, kamu benar. Mana pernah kamu peduli atas apa yang aku ucapkan dan .... aku rasakan” ucapnya lirih.
Kemudian menit demi menit terlewatkan dengan keadaan hening. Mereka diam tanpa mau bersusah payah menjelaskan semuanya.
“Ab.....” Nada kaget ketika membuka pintu depan mobil Syafiq. Karena ada sosok perempuan yang selama beberapa minggu ini menjauhinya. “Kak Farah”
“Hai Nad...”
Nada melirik abangnya yang sedang memperhatikan sesuatu diluar sana tanpa perlu repot-repot melihatnya.
Satu yang muncul di dalam benak Nada, “KOK BISA?”
Saat Farah ingin keluar dari mobil, Nada menahannya. Dan menutup pintu mobil kembali, kemudian membuka pintu penumpang untuk dirinya masuk. “Kak Farah temani kita ya, cari kado buat kak Bitha”
“Bitha?”
“Iya, Kak Bitha kan besok ulang tahun”
“Aduh, aku lupa..” Farah menggumam lemah. Ia menatap Nada dengan wajah memelas.
“Karena Kak Farah lupa, jadinya ayo kita beli kado sama-sama” ucap Nada dengan senang. “Bang, ayo dong jalan” tepuk Nada pada bahu Syafiq.
Tanpa mengucap apapun, Syafiq mulai menjalankan mobilnya menuju salah satu pusat pembelanjaan.
Selama perjalanan, hanya Nada yang memecah kesunyian. Dan ditanggapi Farah dengan sewajarnya saja. Terkadang Farah mencuri pandang pada Syafiq yang tengah sibuk mengemudi. Syafiq memang terlihat sangat tampan dengan kemeja biru navy yang telah digulung lengannya sampai dibawah siku. Rambutnya masih terlihat rapi walau hari sudah sesore ini.
Sesampainya mereka, Nada sudah menarik tangan Farah lebih dulu untuk masuk. Dan membiarkan Syafiq memparkirkan mobil. Mereka berdua sibuk memilih-milih benda yang dikiranya disukai oleh Bitha bila nanti mereka diberikan.
“Bang, bayar dong” tegur Nada saat Syafiq ikut melihat-lihat toko yang menyajikan segala pernak-pernik perempuan. Mulai dari baju, sepatu, tas dan segalanya.
Syafiq melangkah mendekati meja kasir dan melakukan transaksi pembayaran, “Sekalian sama pakaian yang dipatung sana mbak” ucap Syafiq sambil menunjuk sesuatu yang menarik matanya.
Setelah belanja selesai, Nada meminta untuk makan sebelum kembali pulang. Gadis itu berkilah ingin makan menu steak sebelum bulan ramadhan tiba. Mau tidak mau Syafiq menuruti keinginan gadis kecil itu. Bisa rusak seharian moodnya jika mendengar Nada merengek tidak menentu.
Sambil menunggu menu makanan yang dipesan datang, Nada memulai aksi bicaranya. “Kak Farah kemana sih beberapa hari ini Nada nggak lihat?”
Farah semakin menundukkan kepalanya, dia bingung harus berkata jujur atau bohong. Apalagi ada Syafiq didepannya. “Kakak sibuk” kilahnya.
“Sibuk apaan sih kak? Tapi kok kak Farah pakai seragam sekolah sekarang” ucap Nada sembari memperhatikan seragam Farah.
Perkataan Nada tepat menusuk jantungnya. Farah mengigit bibirnya dalam sambil melirik Syafiq yang memasang wajah datar menatapnya.
“Anu... kakak...”
“Kata kak Bitha kakak dikeluarin dari sekolah. Jadi benar ya kak?” tanya Nada takut-takut.
Lama Farah diam. Mencoba menguatkan hatinya walau hanya menjawab ‘iya’. Dia tidak tahu mengapa begitu banyak rasa takut yang kini dia rasakan.
“Kak Farah...” panggil Nada. Gadis itu menggenggam tangan Farah sembari tersenyum. “Kata ayah, semua orang dalam hidup pasti punya masalah. Tapi cara menyelesaikannya itu mudah, sedekat keningmu pada hamparan sajadah”
Kepala Farah menggeleng cepat. Dia tiba-tiba saja terisak kuat. Mengapa dia seperti tertampar mendengar kalimat Nada.
“Kok kak Farah nangis?” Nada mulai ketakutan dan langsung meminta bantuan Syafiq yang masih saja diam. “Udah dong kak jangan nangis. Nada kan jadi bingung”
Namun semakin Nada berbicara, semakin menjadi tangisan Farah. Membuat beberapa pasang mata menatap ke mereka.
“Abang. Bantuin dong” keluh Nada kesal.
Syafiq terus saja membiarkan Farah terisak kuat tanpa mau repot-repot menenangkan atau sekedar bertanya kenapa Farah menangis kejar seperti ini.
Karena bagi Syafiq, laki-laki yang akan disayang dan dicintai oleh perempuannya bukanlah laki-laki yang menyuruh perempuannya berhenti menangis. Atau setidaknya bertanya mengapa ia menangis. Tetapi laki-laki yang disayang dan cintai perempuannya adalah sosok laki-laki yang memberikan tempat untuk sang perempuan menyandarkan hati agar ia merasa nyaman dan melepaskan kegelisahannya sampai tuntas.
“Menangislah...” Syafiq memberikan sebuah sapu tangannya untuk Farah sebagai penganti tangannya untuk menghapus air mata itu.
Dalam hati Syafiq berjanji inilah tangisan terakhir Farah yang akan dia lihat. Karena insha Allah ke depannya, ia akan selalu berusaha membuat Farah bahagia.
**
Rumah besar bergaya minimalis ini sudah cukup ramai dengan tamu-tamu yang datang. Syafiq yang baru saja tiba melihat begitu penuhnya anak yatim dari segala usia mulai duduk dengan rapi diatas karpet. Mereka terlihat bahagia karena bisa makan gratis hari ini. Itu semua berkat acara syukuran ulang tahun Bitha.
Syafiq sendiri datang bersama Nada serta dengan ibunya. Sedangkan ayahnya berkata akan datang setelah selesai urusan di rumah sakit.
Acara ini dibuat sesuai permintaan bunda Tabitha, memanggil puluhan anak yatim. Membaca doa bersama. Lalu ditutup dengan makan bersama. Terlihat sederhana, namun bila makanan yang tersaji cukup banyak apa tidak mubazir namanya.
“Ayah lo mana?” tegur Shaka meliihat Syafiq berdiri seorang diri.
Mereka berdua memang mengatur di bagian luar agar semua anak yatim bisa dengan tenang mengikuti acara ini.
“Masih di rumah sakit” jawab Syafiq malas.
“Kerja terus kapan waktu buat keluarganya? Apa tunggu ada yang meninggal baru ayah lo bisa kumpul?”
“Lo ngomong apa sih?” kesal Syafiq.
Dia menatap saudara sepupunya dari atas sampai bawah. Dalam hati Syafiq mencibir, pakaian Shaka terlihat santun dengan baju koko warna biru senada dengan semua adik dan kedua orang tuanya. Tidak lupa peci hitam terpasang dikepalanya. Tetapi yang Syafiq sayangkan, mengapa Shaka tidak bisa sekali menjaga perkataanya?
“Gue ngomong apa adanya. Begini-begini gue kasian sama lo bang. Dari kecil ayah lo itu selalu saja sibuk. Bahkan waktu buat anaknya aja nggak ada”
“DIEM NGGAK LO” bentak Syafiq.
“Salah apa gue bang? Memang benar kan?” Shaka membalas tatapan Syafiq.
“MULUT LO ITU...!!!!” Syafiq menarik kerah baju koko Shaka yang berada disampingnya. “SEKALI LAGI LO NGOMONG GITU, GUE...”
“Gue apa bang? Bang dengar kata gue. Seorang pemimpin keluarga itu bukan yang mengejar rezeki di dunia saja terus membiarkan jalannya menuju kebahagiaan akhirat tersendat. Tapi yang semuanya berjalan dengan selaras. Abang paham kan maksudnya?” teriak Shaka cukup keras.
“Maksud lo, ayah gue nggak bisa selaras antara kehidupan di dunia dan di akhirat?”
“Kurang lebih seperti itu” jawab Shaka dengan lantang.
Shaka menutup matanya ketika ia melihat tangan kanan Syafiq terangkat ingin memukulnya. Namun semua itu terhenti saat Wahid menahannya.
“Ini pada kenapa?” tegur Wahid. Ia menarik tubuh Shaka dan Syafiq menjauh agar tidak menjadi pengacau di acara ini.
“Untung lo dateng Hid, kalau nggak muka ganteng gue udah bonyok sama si abang ini” dengus Shaka kesal.
“Tarik semua kata-kata lo tadi” ancam Syafiq.
“Bang, lo tuh bodoh banget ternyata. Gue bilang begitu karena gue nggak mau nanti suatu saat keluarga lo juga merasakan apa yang ibu lo rasain. Memangnya enak banget di tinggal sama suami terus?”
“Kurang ajar !!! Gue nggak butuh nasihat lo” Syafiq menyerang Shaka kembali.
Wahid mulai tidak mampu menahan kedua orang ini. Sejak kecil memang Syafiq dan Shaka tidak pernah bisa akur sedikitpun. Tapi ini sudah keterlaluan. Shaka memang yang memancing keributan.
“BANG... ISTIGFAR BANG” teriak Wahid.
“LO SURUH GUE ISTIGFAR?” bentak Syafiq pada Wahid.
Wahid yang mendapat bentakan keras dari kakak sepupunya, menjadi diam. Bak kucing di gantung lehernya dia menunduk takut, “Maksud gue baik bang, minta lo istigfar” ucap Wahid dengan pelan.
“Diam aja lo. Jangan atur gue, coba atur dulu diri lo. Memangnya dalam Islam boleh peluk-peluk perempuan yang bukan mahramnya?” amuk Syafiq dengan tatapan marah ke arah Wahid.
Kini Wahid yang membeku. Dia mengerti mengapa Syafiq bicara demikian. Karena waktu itu Syafiq pernah mempergokinya di cafe bersama Farah.
“Kenapa diam? Tadi lo suruh gue istigfar. Sekarang udah gue lakuin. Lalu gimana sama lo? Apa dosa lo lebih sedikit atas kemarahan gue tadi ke Shaka?”
“Bang, itu masa lalu” belanya.
Syafiq tersenyum mengejek. Menatap Shaka yang turut diam seperti ikut menjadi terdakwa.
“Lo harus tahu Rasyiqul Wahid, perempuan itu makhluk yang Allah ciptakan begitu mulia. Dia memberikan air mata untuk membuat kita takut. Takut bila air mata yang jatuh itu adalah hasil dari perbuatan kita, yang membuat mereka merasakan kesakitan. Dan harus lo ingat Wahid, tugas kita itu melindungi. Bukannya merusak dan memanfaatkan mereka. Pantas saja Ammah-ku selalu menangis dulu. Ternyata semua ini sifat ayah lo yang nggak tahu diri itu,” Ucap Syafiq dengan penuh penekanan.
“Abang” Panggil Nada.
Sifat arogan Syafiq hilang seketika saat kedua matanya menangkap 3 perempuan berdiri tak jauh dari tempatnya kini. Dua perempuan diantaranya adalah sosok yang begitu ia cintai. Dan yang satunya adalah perempuan yang akan selalu ia perjuangkan ke depannya.
Mereka bertiga menatap Syafiq dengan pandangan kecewa. Ada sedikit penyesalan yang Syafiq rasakan. Mungkin ia telah salah bersikap seolah-olah dia adalah yang paling baik dari Shaka dan Wahid.
----
continue.
Jangan lupa komen guys