Bab 16

2729 Kata
Cinta mengajarkan bukan tentang bagaimana perasaan itu muncul. Tapi bagaimana perasaan itu terjaga utuh saat tahu kita masih saling memperbaiki diri.. Syafiq Sebelum menghampiri ketiga perempuan yang sedang menatapnya penuh kecewa, Syafiq melirik kembali ke arah Wahid dan Shaka. Mereka berdua sama-sama terdiam. Mungkin sedih karena Syafiq telah terlalu kasar menyakiti perasaan mereka berdua. Tapi disini siapa yang memulai terlebih dahulu? Membangunkan macan tidur sama saja mencari mati. Syafiq menarik napas dalam, kemudian mendekati ibunya yang terus saja menatapnya. “Kenapa bu?” Sabrin tidak menghiraukan ucapan Syafiq, dia melihat ke arah Shaka dan Wahid yang masih saja menunduk diam. “Ibu kecewa sama abang” ucapnya dengan pelan. Kemudian Sabrin berbalik pergi. Diikuti oleh Nada yang turut mengejar ibunya. Kedua mata Syafiq menatap sedih kepergian ibunya, baru kali ini ibunya begitu kecewa. Sejak dulu dia berusaha menjadi anak yang terbaik, tetapi ternyata dia tetap saja gagal. “Bang...” panggil Farah. Syafiq menatap perempuan yang berdiri tak jauh dari nya. Farah begitu cantik hari ini memakai pakaian yang kemarin Syafiq belikan untuknya. Rambut hitam panjangnya tertutup sempurna dengan hijab sederhana yang membingkai wajah Farah. Tubuh yang biasanya terbuka, sudah terlindungi dengan gamis indah berwarna senada dengan baju koko yang dirinya pakai. Entah ini kesengajaan yang Syafiq buat atau tidak, yang jelas mereka begitu serasi. “Pegang...” “Ini apa bang?” tanya Farah ketika mereka berdua sedang menunggu Nada di depan toilet mall. “Bisa dipakai besok waktu ke rumah Bitha,” Syafiq bisa melihat Farah tersenyum, kemudian senyumannya itu menular pada bibirnya. Syafiq mengalihkan pandangannya agar Farah tidak tahu bila ia ikut tersenyum. “Terima kasih bang,” Ia bahagia melihat Farah menerima barang yang dia berikan dengan baik. Walau harganya tidak seberapa, namun ada kebahagiaan tersendiri saat melihat hasil pemberian di pakai dengan baik. “Bang...” tegur Farah kembali karena Syafiq hanya diam saja sambil melihatnya. Tadi Farah memang datang sendiri ke sini. Ia tidak mau merepotkan Syafiq dan yang lainnya. Tetapi baru saja dia sampai harus melihat pertengkaran yang tidak seharusnya terjadi. “Bang, maaf kalau Farah ikut campur. Seperti yang kita tahu, memang benar mulut lebih kecil dari pada otak, tetapi abang harus ingat perkataan jangan sampai lebih besar dari pada cara berpikir,” ucap Farah dengan lemah. “Bukan maksud Farah menggurui abang, tapi alangkah lebih baiknya jangan membalas seseorang yang sudah membuatmu sakit. Itu membuat kita sama saja dengan mereka” sambungnya. Tubuh Farah berbalik, dia menjadi tidak nyaman datang ke sini. Mungkin bila Tabitha bukan teman sekelasnya dia tidak akan mau datang. Apalagi di sini berkumpul keluarga dari laki-laki yang mengaku cinta padanya. Kini tinggallah Syafiq seorang diri, dia terdiam mencermati semua kata yang Farah katakan.  Setiap kata sederhana yang Farah ucapkan ternyata memang benar. Tidak seharusnya dia membalas orang yang telah menyakitinya. Buktinya gadis itu tetap saja berada disekitar Syafiq walau waktu itu Syafiq tanpa sengaja pernah menyakiti hati Farah.   **   Setelah pembacaan doa, tiba acara makan-makan bersama. Farah menawarkan dirinya untuk membantu mengatur jalannya acara. Tanpa ragu dia memposisikan dirinya ditengah-tengah anak yatim, mengatur barisan mereka agar tidak berdesak-desakan saat mengantri giliran mengambil makanan. Farah terus saja tersenyum ketika beberapa anak yatim tersebut memanggilnya kakak cantik. Karena memang dengan merubah pakaiannya seperti ini Farah terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya. “Kak... namanya siapa sih dari tadi senyum-senyum terus” tanya salah seorang anak yatim laki-laki. “Nama kakak Farah dek” sahut Farah. “Senyum itu harus dek. Biar awet muda” bisiknya pada anak-anak kecil itu. “Ah, aku mau senyum juga. Biar muda terus kayak kakak cantik” teriaknya masih di dalam barisan untuk mengantri makan. Farah mengusap kepala anak kecil itu, dan tersenyum bahagia. Kegiatan tersebut menjadi sorotan beberapa orang banyak, tak terkecuali Shaka. “Bang, kamu lihat apa?” tegur Imam. Dia mengambil duduk disebelah Shaka yang tersenyum-senyum sendiri melihat interaksi Farah. “Itu Yah, cantik nggak?” tunjuk Shaka pada Farah. “Cantik, tapi kok ayah baru lihat” ungkap Imam berusaha menilai Farah dari atas hingga bawah. “Dia temannya Bitha, Yah” “Lalu?” “Abang cuma sekedar info saja. Siapa tahu nanti dia masuk ke dalam keluarga besar kita, supaya ayah nggak kaget” cengir Shaka menampilkan wajah jahilnya. “Jadi ini ‘Cabe’ mu?” ucap Imam sambil mengangkat kedua tangannya membuat tanda petik diatas kepala. Sontak Shaka menatap Imam tajam, dari mana ayahnya tahu masalah ‘Cabe’nya itu. “Kok ayah tahu masalah cabe?” “Ayah akan selalu tahu masalah putra putri ayah. Ayah nggak mau kecolongan lagi seperti masa lalu. Saat ayah harus juga merasakan kehilangan” Shaka menunduk dalam. Bayangan kesedihan itu datang lagi yang dulu pernah menerpa keluarganya. “Dia bukan siapa-siapa yah” gumam Shaka. Imam menepuk bahu Shaka dengan kuat, lalu menatap putranya itu dengan tatapan tajam. Bukan seperti menghakimi namun selayaknya seorang ayah memberikan nasihat kepada anaknya. “Ayah tahu abang sudah besar. Dan Ayah rasa abang tahu harus berlaku seperti apa untuk menjadi laki-laki dewasa, menjadi pemimpin dalam rumah tangga, dan pemimpin dalam kehidupan. Hanya satu pesan ayah untuk abang, carilah perempuan yang manis seperti permen. Setidaknya dalam kehidupanmu yang pahit ada dirinya yang memberikan sedikit rasa manis untuk semangatmu dalam menjalani hidup. Jangan yang seperti ‘cabe’ hanya membuat panas dan sakit perut saja,” Sudut bibir Shaka tertarik sempurna. Sejak dulu dia bangga pada ayahnya ini. Bisa menjadi sosok ayah sekaligus sahabat yang terbaik. Tidak menggurui namun selalu memberikan contoh yang mudah dipahami anak-anaknya. “Ok, big bro” mereka melakukan adu toss yang sering mereka lakukan. “Tapi ngomong-ngomong ayah tahu dari mana masalah cabe?” tanya Shaka penasaran. Imam melirik kesekeliling, mencari orang yang menjadi pusat informasinya. “Dari dia” tunjuk Imam. “APA? RAFIF?” teriak Shaka tidak terima. “Bukan, Rafif mana pernah berbicara macam-macam. Tapi dari buku yang selalu Rafif bawa. Disana tertulis semua yang pernah dia dengar” Shaka mendesah kesal. Adiknya memang tidak ada kerjaan. Semua yang dia dengar akan selalu dia tulis. Sekarang Rafif sedang duduk disamping Rara, entah hal apa yang akan di catat adiknya itu. Jangan-jangan? ** “Mau aku bantu” Wahid berdiri tepat dibelakang Farah yang masih sibuk melayani anak yatim. Tanpa melihat pun Farah tahu siapa yang datang menghampirinya. Mengenal Wahid cukup lama membuat Farah hapal seperti apa sosok Wahid dimatanya. “Nggak perlu” “Ayolah Far, kamu masih marah sama aku?” Wahid mencoba memutar tubuh Farah agar menghadap ke arahnya. “Apa-apan sih kamu” ucap Farah terlihat risih. “Kamu yang apa-apaan. Marah sama aku nggak selesai-selesai. Game aja ada masa selesainya” ungkap Wahid tidak terima. “Tapi di game juga ada masanya nggak bisa bermain kembali karena sudah habis nyawanya” sambung Farah dengan tatapan tajam. Bukannya takut, Wahid tertawa melihatnya. “Farah, Farah. Makin cantik aja kamu kalau kayak gitu. Tapi kamu cocok juga berhijab. Mama ku pasti suka” kedipnya nakal. “Wahid” bentak Farah tidak terima. “Kenapa baru sekarang pakai hijabnya? Harusnya sejak pacaran kamu tertutup” Emosi Farah semakin menjadi mendengar kata-kata Wahid. Kurang ajar sekali dia bisa-bisanya berkata demikian, “Kamu...” Baru saja Farah ingin melawan Wahid, Syafiq menghampiri mereka berdua dengan tatapan tidak bisa Farah jabarkan seperti apa. Dari wajah Syafiq bisa Farah lihat kemarahan, kekecewaan dan kesedihan. Tetapi Farah tidak yakin apa penyebab dari semua itu. “Wahid..” panggil Syafiq. Farah terus saja menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya. Dulu dia pernah bertanya pada Syafiq ada hubungan apa dirinya dengan Wahid, sampai sekarang pun dia belum begitu jelas tentang itu. “Ya bang,” Syafiq tersenyum sekilas pada adik sepupunya itu, “Kamu pernah tahu arti sebuah pensil dalam kehidupan seperti apa?” “Belum bang,” “Jika tadi aku dengar kamu berkata padanya, mengapa tidak sejak dulu dirinya tertutup. Lalu dimana dulu dirimu ketika dirinya masih terbuka? Bukannya kamu selalu disisinya? Tapi mengapa tidak ada tindakan khusus yang kamu lakukan untuk membantu dirinya memperbaiki diri?” tegas Syafiq. “Kini saja setelah dia menjadi lebih baik, kamu kejar kembali. Memangnya dia apa? Dengan seenaknya kamu perlakukan demikian?” kesal Syafiq. Kedua matanya menatap Wahid tidak terima. “Kini anggap saja dia adalah sebuah pensil. Semua yang dia telah lakukan akan meninggalkan kesan. Mau itu kesan baik atau kesan buruk tinggal bagaimana kamu menyikapinya. Lalu dengan kesakitan dalam menapaki kehidupan dia menjadi tajam. Dan merubahnya menjadi sosok yang bisa saja melawanmu dengan ketajamannya. Kemudian yang terakhir adalah yang terpenting. Jika kamu bisa melihat dari sebuah pensil, yang bisa kamu pergunakan adalah bagian dalamnya, bukan yang di luar. Percuma kamu memuji segala keindahan luar dari pensil itu bila kamu tidak tahu di dalamnya ada sesuatu yang lebih istimewa. Maka dari itu yang ku lakukan kini adalah menutupi PENSILKU. Agar tidak semua orang tahu begitu istimewanya dia. Terutama dari orang-orang sepertimu” jelas Syafiq. Ia melirik sebentar ke arah Farah yang terus menatapnya. Kemudian Syafiq berlalu disaat semua orang terpesona dengan penjelasannya. Tanpa mendengar pembelaan Wahid sedikitpun. Bagi Syafiq, Wahid tidak pantas disebut laki-laki sejati bila yang dilakukannya hanya memanfaatkan perempuan. “Ma... maaf” gumam Wahid sebelum turut pergi karena merasa malu. Sedangkan Farah yang ditinggal setelah mendapatkan penjelasan panjang itu mendadak bingung. Karena semua tamu menatap ke arahnya. Siapa sebenarnya keluarga ini?   **   Hari sudah mendekati magrib ketika semuanya telah selesai. Para laki-laki membantu melakukan beres-beres pada bagian depan. Sedangkan perempuan membantu memisahkan makanan yang masih tersisa banyak dan akan diberikan kepada yang membutuhkan. Samar-samar suara adzan magrib mulai berkumandang. Karena disini masih cukup banyak orang yang sibuk merapikan, Imam sebagai tuan rumah melakukan inisiatif untuk sholat berjamaah disini. Sekalian para perempuan dapat mengikutinya. Farah yang mendengar akan dilaksanakan sholat berjamaah mendadak kaku. Dia takut karena dirinya tidak bisa sholat sama sekali. Dan dia tidak tahu harus berbuat apa untuk mengelak agar tidak ikut sholat. “Kak Farah ayo sholat” ajak Nada dengan menarik tangannya menuju tempat wudhu. “Aku... aku lagi nggak sholat Nada” gumamnya pelan. Dia malu bila sampai ada yang mendengar. “Oh gitu, sayang banget. Padahal Nada mau jamaah sama kak Farah” Farah menarik napas tenang, setidaknya dia masih bisa menghindar sekali lagi dari acara ibadah ini. Namun ketika tubuhnya hendak berbalik, hampir saja Farah menabrak bidang d**a seorang laki-laki. “Maaf” ringisnya takut. “Hati-hati” mencoba menebak suara siapa itu, Farah mengangkat pandangannya. Tepat dihadapannya ada Syafiq yang berdiri ingin mengambil wudhu untuk Sholat. Dengan takut, tubuh Farah menghindar tetapi tak sengaja ia menabrak Shaka yang tengah asik bermain dorong-mendorong dengan adik perempuannya. “Sorry” Ucap Shaka. Ia melihat tangan Syafiq berada di lengan Farah, melindungi agar gadis itu tidak terjatuh ketika ditabrak olehnya. “Abang sih” kesal Tabitha. “Far, kamu nggak sholat?” tanya Bitha turut memperhatikan tangan Syafiq yang belum juga terlepas. Lalu karena merasa diperhatikan, Syafiq melepaskan pegangannya. Dia berusaha meninggalkan Farah yang masih saja mematung. “Far...” Bitha menggerak-gerakan tangannya di depan wajah Farah. Kedua mata Farah mengerjab lucu, hingga Shaka tertawa geli dibuatnya. “Lucu juga lo, kayak boneka Annabelle” kekeh Shaka. “Kok Annabelle bang? Kan itu serem” protes Bitha merasa kasihan melihat temannya di ejek oleh sang kakak. “Iya dong, emangnya mau boneka apa? princess? Udah nggak jaman kali. Cocokan Annabelle, bikin hati abang ketakutan. Takut jatuh cinta” sambungnya dengan penuh tawa. Bitha yang turut mendengar ikut tertawa puas, sungguh jahil abangnya ini. “Nggak boleh gitu ah bang” ucap Bitha. Dia menjadi tidak enak karena Farah sejak tadi hanya diam saja tidak bergeming. “Far, lo sakit?” “Nggak, aku mau ke sana dulu ya” ucapnya pelan seakan nyawanya baru saja tiba di bumi. “Lo sih bang, jahat. Masa temen gue dikatain mirip Annabelle” marah Bitha. “Biarin aja, karena di depan sana ada boneka Chucky lagi cemburu buta” tunjuknya pada Syafiq yang baru saja selesai berwudhu. “DASAR ABANG JAHAT” **   Farah duduk di sebuah bangku pada halaman belakang rumah yang nampak begitu asri. Walau malam sudah mulai menyapa, dia tidak ada berniat untuk melangkah masuk ke dalam. Tubuhnya masih saja merasa kaget menerima sebuah sentuhan dari Syafiq tadi. Ribuan kali dia menenangkan hatinya, bila Syafiq hanya berniat untuk menolong dirinya. Namun tetap saja dia tidak bisa berbohong. Ada perasaan aneh yang semakin dalam dia rasakan bila berada disamping Syafiq. Tetapi dia masih tidak berani menamai perasaan aneh tersebut. “Kamu sendirian saja” Farah melihat seorang perempuan mendekatinya, lalu duduk tepat di kursi sebelahnya. Sinar redup lampu taman tidak membuat Farah lupa memuji kecantikan dari perempuan itu. Wajahnya yang oval dengan bibir yang begitu mungil, lalu hijabnya yang sudah begitu pas membingkai wajah cantik itu. Ditambah lagi kulit putihnya sangat melengkapi kesempurnaan sosok yang berada disamping Farah. “Hai, nama ku Khamila Adzra Putri, terserah kamu mau panggil aku Mila, atau Rara. Tapi semua keluarga panggil aku Rara. Cuma teman kampus yang memanggilku Mila” terangnya dengan senyum yang begitu memikat. Bahkan Farah yang perempuan saja mengakui sosok Rara adalah perempuan yang begitu sempurna. Sulit sekali Farah menemukan kekurangan dalam diri Rara. “Aku Farah Kulla Azmi. Panggil aja Farah” “Oh, jadi kamu yang namanya Farah” Kedua alis Farah saling menyatu. Wajahnya membentuk mimik muka penuh tanda tanya. “Kenapa memangnya?” Rara menggeleng dengan pelan, lalu arah pandangannya menghadap ke atas dimana langit tidak menjanjikan keindahan untuk malam ini. Karena hadirnya awan gelap yang menutupi bintang serta bulan. “Nggak papa kok, cuma pernah dengar aja namamu disebut-sebut” “Namaku?” tunjuk Farah pada dirinya sendiri. “Iya..” “Disebut karena apa?” Rara menggeleng kembali karena tidak tahu pasti. Dia tidak ingin menyebarkan sesuatu yang belum pasti kebenarannya. “Kamu lagi halangan juga?” tanya Rara. Farah mengangguk kemudian menggeleng cepat. Dia tidak ingin berbohong, namun dia malu untuk mengakui. “Iya atau nggak?” “Nggak” cicitnya lemah. Lalu kedua matanya menatap Rara takut. “Nggak halangan? Kok nggak sholat?” “Aku....” ucapannya terputus begitu saja. Dia tidak mau membuka kekurangannya sendiri di depan perempuan yang belum dia kenal. “Dulu aku juga suka malas kalau papaku suruh sholat,” ucapnya dengan tersenyum malu. Mengingat-ingat keburukkannya dulu. “Aku memang menurutinya mengambil wudhu, tetapi ketika papaku sudah pergi untuk sholat ke masjid, aku pura-pura saja sudah sholat. Membuka lebar sajadahku dan mukena yang mereka pikir sudah aku pakai. Tapi semua itu nggak bertahan lama,” “Sekarang aku yakin kamu nggak gitu?” ucap Farah seperti sebuah pertanyaan. Rara tersenyum sambil menggelengkan kepala, “Ada seseorang yang sudah menasihatiku. Dan membuatku sadar akan semua kesalahan yang telah aku lakukan” jelasnya. “Kamu mau tahu nggak dia bilang apa? Siapa tahu bisa berguna juga bagimu” Farah mengangguk setuju, dia terus menatap wajah Rara yang tersenyum penuh malu. Dalam hati Farah bisa menebak sosok itu pastilah seorang laki-laki sampai Rara bergitu tersipu malu untuk menjelaskannya. “Dia bilang gini,” tubuhnya ia tegakkan, lalu memasang wajah jahil. “Kamu tahu posisi bayi di dalam perut ibu adalah lebih rendah dari hati. Agar bisa lahir dengan normal. Kepalanya dibawah dan menekur di dekat d**a. Kalau kepalanya mendongak ke atas pasti lahirnya susah. Nah, dari sana saja kita harusnya dapat belajar. Masih di dalam kandungan saja kita diajarkan tidak boleh sombong oleh Allah, masa ketika sudah lahir ke dunia kita menjadi sombong dan tidak mau menunduk kebawah. Bersujud kepadaNya yang sudah memberikan kita ijin untuk menikmati indahnya dunia walau hanya 1,5 jam,” jelas Rara. Kemudian dia semakin tersenyum lebih dalam seperti sedang mengingat-ingat wajah yang telah membuatnya bisa berubah menjadi lebih baik. “Sejak saat itu, aku mencoba untuk merubah jalan pikiranku. Dan berusaha menjadi yang terbaik untuk Allah. Ingin terus menundukkan kepala, bersujud kepadaNya dan mengucap penuh syukur karena telah diberikan ijin untuk menikmati segala keindahannya di dunia. Tetapi aku nggak akan pernah lupa, berkat dia aku menjadi sosok yang lebih baik. Walau terkadang dia lebih banyak menyebalkannya. Tapi dia sosok kakak yang baik dimataku” “Tapi..” gumam Farah. “Tapi kenapa lagi?” tanya Rara bingung. “Tapi... aku nggak bisa sholat sama sekali” cicitnya pelan. “Astagfirullah al’adzim” hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Rara. Dia tidak habis pikir jaman sekarang semakin banyak saja manusia yang tidak bisa sholat, padahal waktu di dunia semakin menipis. “Akan kubantu, untukmu. Sahabat muslimahku” ----- continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN