Mereka yang kaya bukanlah mereka yang mampu membeli segalanya. Tetapi mereka yang memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh apapun... Farah
Sehari setelah acara syukuran itu, Farah mulai mengakui kebohongan yang selama ini dia tutupi. Dirinya menangis sedih ketika kedua orang tuanya menjadi begitu kecewa. Memaki dirinya dengan amarah yang tidak bisa terkontrol lagi. Bahkan ibunya sudah tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa kepada Farah. Seharusnya sejak awal Farah berkata jujur atas semua yang terjadi. Karena orang tua mana yang ingin anaknya putus sekolah. Bahkan putus sekolahnya Farah karena dia membantu meringankan beban kedua orang tuanya.
Akan tetapi semua yang telah Farah lakukan adalah kesalahan. Bila kedua orang tuanya tahu sejak awal, mungkin mereka akan menghentikan aksi nekad yang Farah lakukan. Tetapi kini hanya tinggal penyesalan yang dapat diterima oleh mereka. Walau sampai saat ini orang tua Farah tidak yakin putrinya bisa melakukan hal negatif seperti itu.
Sekarang dia bingung harus melakukan apa di rumah. Kedua orang tuanya lebih memilih diam tidak menanggapi apapun yang dilakukan Farah. Mungkin mereka sudah begitu kecewa. Karena tinggal Farah harapan untuk hari tua keduanya, tetapi ternyata Farah yang melemparkan kotoran ke wajah mereka. Hingga menyisakan malu yang begitu besar.
“Kenapa gue bodoh banget” gumamnya seorang diri sembari menatap tampilan dirinya pada cermin besar di dalam kamar. Kemarin dia sama sekali tidak memikirkan resiko kedepannya. Resiko yang bahkan berimbas kepada orang tuanya juga.
Lagi-lagi Farah mendesah lemas. Membodohi dirinya yang terlalu menggilai uang sampai melakukan tindakan yang begitu bodoh. Dan mulai saat ini dia berjanji akan berusaha untuk tidak terjerumus ke dalam lubang yang sama. Apalagi kini ada sosok Syafiq yang membuatnya semangat untuk memperbaiki diri.
“Gue bisa tunjukkin bang. Kalau gue bisa lebih baik dari perempuan-perempuan yang lain” ucapnya penuh semangat. Tangannya terkepal kuat dan wajahnya menunjukkan mimik yang sangat optimis.
Ponsel Farah berbunyi notifikasi sebuah pesan masuk. Sedikit melirik ke arah ponselnya, kedua matanya menatap dengan penuh binar. Ternyata Rara mengirimkannya pesan. Dalam satu kali sentuh pada layar ponsel, pesan tersebut dapat dia baca.
From : Ka’ Rara
Aku jemput sekarang ya
Tepat setelah Farah selesai berpakaian, sebuah mobil sedan mewah terparkir di depan rumah sederhana milik orang tua Farah. Ibunya terburu-buru keluar melihat siapa yang datang berkunjung.
“Assalamu’alaikum, bu” sapa Rara dengan ramah. Dibelakang Rara berdiri tegak seorang laki-laki berseragam safari yang terlihat sangat menakutkan. Memakai kaca mata hitam dengan kulit berwarna gelap. Sama gelap dengan warna kaca mata yang dia pakai.
Rara tersenyum, dia paham pasti ibu dihadapannya ini bertanya-tanya siapa dirinya. Lalu siapa orang yang berada di belakangnya.
“Permisi bu saya Rara, Farahnya ada?”
“Kamu cari Farah?” Rara mengangguk sembari terus tersenyum.
Dari atas sampai bawah tubuh Rara menjadi sorotan tajam mata ibu Farah. “Farah ada..”
“FAR....FARAAAHHH” teriaknya.
Dia tidak mengijinkan Rara masuk. Mungkin dia takut Rara akan melakukan tindakan negatif dengan berkedok orang kaya untuk mengelabui korbannya.
“Kak Rara,” ucap Farah.
Sebelum pergi, Farah mencium tangan ibunya. Kemudian pergi berlalu. Masuk ke dalam mobil dimana Rara ikut masuk ke dalam.
“Kami pergi dulu ya bu, Assalamu’alaikum”
Selama perjalanan Rara terus saja tersenyum mengingat wajah ketakutan dari ibu Farah tadi. Memangnya ada yang salah dari kedatangannya?
“Ibu kamu lucu ya Far”
“Ibuku?” ulang Farah. Keningnya berlipat melihat Rara yang masih tersenyum geli ke arahnya.
“Iya. Tadi kayak ketakutan gitu” kekeh Rara.
“Dia tuh curiga aku ngelakuin hal aneh lagi” gerutu Farah. Kedua tangannya berlipat di d**a dengan pandangan melihat ke arah luar jendela mobil.
“Loh, memang kamu melakukan hal aneh apa?”
Farah mengigit bibir bawahnya, dia sudah salah berbicara. Harusnya dia tidak boleh membongkar keburukkannya semakin banyak. Makin buruk saja penilaian orang lain tentangnya.
“Far...” tegur Rara kembali.
“Ah.. iya kak”
“Kalau kamu nggak mau cerita, nggak papa kok. Aku nggak akan pernah memaksa. Tapi kalau kamu butuh teman berbagi tempat untuk cerita, bisa cari aku” ucap Rara dengan penuh senyuman.
Senyuman itu menular pada Farah yang turut bahagia bisa mengenal Rara. Anak siapapun dia, tetap Farah senang bisa mengenal dirinya.
“Kita ke kantor kakekku dulu ya, jemput mama ku”
“Memangnya kita mau kemana sih?”
“Nanti juga kamu tahu” kedipnya.
**
Farah membuka lebar mulutnya sambil menatap kesekeliling kantor yang baru saja dia datangi bersama Rara. Design dari bangunan kantor ini sangat menarik. Farah belum pernah melihatnya. Tetapi dari nama perusahan yang tercetak jelas pada dinding marmer, Farah seperti melihat nama khas arab atau timur tengah saat membaca nama itu. Alkatiri Group. Atau dengan singkatan AG sebagai lambang perusahaannya.
“Ayo Far,” ajak Rara.
Beberapa orang yang melewati Rara menunduk hormat lalu tersenyum. Tetapi yang lebih parahnya lagi, sosok pria berpakaian safari yang menjadi supir Rara masih mengikuti langkah mereka sampai lantai teratas gedung tersebut.
“Ini dimana Kak?”
“Ini kantor kakekku”
ketika pintu lift terbuka, Farah semakin tercengang melihatnya. Lantai dengan arsitektur mewah menghiasi segala sudut lantai ini. Beberapa lukisan bertuliskan arab menjadi fokus utama bagi semua yang memandang.
“Ayo...” Tarik Rara menuju sebuah pintu kaca besar yang mengeksposes bagian dalam ruangan tersebut.
“Assalamu’alaikum, ma”
Seorang perempuan yang masih sangat cantik menyambut kedatangan Rara dan Farah dengan penuh senyum. Dialah mama Adel. Orang tua dari Rara yang kebetulan menduduki jabatan Komisaris Alkatiri Group. Perusahan yang memiliki kantor pusat di Malaysia. Alkatiri Group atau AG sendiri merupakan perusahaan yang bergerak dalam mengolah minyak dan batu bara. Dan baru-baru ini AG membuka cabang di Indonesia dengan skala Internasional. Dikarenakan beberapa perusahaan besar Indonesia sedang melakukan merger dengannya. Seperti RH Otomotif dan I-Machines Group, yang kebetulan kedua perusahaan tersebut dipimpin oleh Richand Hans dan Imam Abdul Hamid.
“Wa’alaikumsalam, jadi makan siang bareng?” Rara mengangguk cepat, kemudian melirik Farah yang sejak tadi hanya menunduk.
“Ma, kenalin teman baru Rara, namanya Farah. Dia ini satu kelas sama Bitha”
“Halo Farah,” Sapa Adel dengan ramah.
“Halo tante” jawabnya gugup.
“Jadi Farah ikut kita Ra?” tanya Adel kembali. Dirinya mengambil tas tangan di atas meja, kemudian melirik Farah yang menatapnya ragu.
“Iya ma. Yang kemarin aku ceritain itu loh”
“Oh, iya sudah,” karena melihat Farah seperti ketakutan, Adel terus saja tersenyum ramah ke arah Farah. Berusaha membuat gadis muda itu merasa nyaman berada di dekatnya.
“Yuk..”
Selama perjalanan, Adel sibuk bertanya kepada Farah berbagai macam hal. Sampai pertanyaan mengenai kekasih hati tidak luput Adel tanyakan. Sosok Farah memang membuat semua orang penasaran. Gadis itu terlihat begitu polos, tetapi entah ada sesuatu dalam dirinya yang begitu memikat semua orang.
“Masa belum punya cowok yang ditaksir, memang kamu umur berapa Far?”
“16 mau 17 tahun tante”
“Masih sangat muda” sahut Adel. “Usia seumuran itu pasti sedang merasakan puber pertama. Inginnya menarik perhatian lawan jenis. Tapi menurut tante itu hal wajar. Semua orang pasti pernah mengalami hal itu. Tidak menutup kemungkinan ustad pun pernah merasakannya. Tetapi...” potong Adel. Dia tertawa sejenak sebelum melanjutkan.
“Tuh dengarkan ada tapinya..” kekehnya semakin merasa gemas ingin menyampaikan kepada dua gadis muda belia ini.
“Mama kalau ngomong pasti ada tapinya mulu”
“Benar dong mama. Semua yang ada di dunia ini pasti lawannya. Kayak kebaikkan ada kejahatan, terus pintar ada kurang pintar. Semua pasti ada lawannya” Ucap Adel. Kemudian dia menatap wajah Farah masih dengan senyuman. “Tapi ingat Farah, utamakan dulu yang bermanfaat untukmu. Seperti belajar dengan rajin, sholat yang benar, sayangi orang tua. Untuk urusan cinta kepada lawan jenis jadikan penambah semangat dalam menjalani hidup. Pacu dirimu agar bisa lebih baik dari orang yang kamu cintai. Itu pesan tante”
“Kok Rara nggak dipesani ma,” protesnya.
“Mama kasih pesannya sama calonmu saja,” goda Adel.
“MA... RARA KAN UDAH BILANG NGGAK MAU SAMA DIA” ucapnya keras.
“Ih, anak siapa nih teriak-teriak. Pasti bukan anak mama, anak papa Raden ini mah” sindir Adel sembari mencibir.
“Mama jahat. Rara bilang sama papa nanti,”
Farah yang berada diantara keduanya hanya mampu tersenyum. Andai dirinya dan sang ibu bisa seperti layaknya sahabat. Andai ibunya bisa mengerti apa yang sedang dirasakan oleh putrinya. Namun semua itu hanya bisa berandai-andai saja. Karena sejatinya ibu Farah jauh dari semua sifat itu.
**
Setelah perjalanan cukup jauh, mereka semua sampai di sebuah kantor yang sama besar dengan kantor milik kakek Rara. Dalam sekejab perasaan Farah semakin menciut. Dia tidak mengerti mengapa ia bisa berada ditengah-tengah orang kaya seperti mereka. Bahkan dari penampilan yang dapat Farah lihat, tidak ada yang berlebihan dari ibu dan anak ini. Simple dan sederhana. Tetapi dibalik semua itu terdapat kekayaan yang berlimpah.
Farah merasa iri atas apa yang ia lihat. Sosok anak orang kaya seperti Rara saja mau berteman baik dengannya. Mau membantunya. Menjanjikan Farah untuk diajarkan sholat. Merangkul bahunya seperti berkata bahwa dia tidak sendirian di dunia ini. Namun mengapa di luaran sana banyak sekali yang menghinanya. Memandang rendah dirinya karena dia berasal dari keluarga tidak mampu. Menghakiminya dengan sesuatu yang bahkan mereka tidak tahu alasan Farah melakukan semua itu.
Apa dalam berteman harus melihat status sosial seseorang terlebih dahulu?
“Ayo Far, kamu jangan melamun aja” Rara menarik tangannya. Mengikuti langkah mama nya untuk masuk ke dalam gedung perkantoran yang cukup mewah.
Sesampainya di lantai yang dituju, mendadak tubuh Farah tidak mampu bergerak. Rara yang menarik tangannya turut terhenti. Dia melirik Farah yang menatap ke arah depan dengan pandangan kaget luar biasa.
Karena penasaran, Rara mengikuti arah pandangan Farah. Tepat tidak jauh dari mereka ada Syafiq yang sedang tersenyum dengan beberapa rekan bisnis. Sepertinya ia baru saja selesai memimpin jalannya rapat.
Tanpa berbicara apapun, Rara hanya tersenyum melihat kegugupan yang di landa Farah. Dia tahu dan dia juga pernah merasakannya dengan laki-laki yang sama. Laki-laki yang sejak kecil menjadi impiannya. Tetapi entah mengapa sekarang Rara memilih mundur karena satu hal yang telah meyakinkannya. Ada sosok lain yang diam-diam selalu berdoa untuk kebaikkannya di luar sana.
Bukankah bila kita tidak bisa bersama orang yang selalu kita doakan, mungkin saja suatu saat kita akan bersama dengan orang yang selalu mendoakan kita. Kalimat itu yang selalu Rara pegang teguh. Dan dia sudah menemukan orang yang selalu mendoakannya diam-diam.
“Ayo Far”
Farah menggeleng cepat. Tubuhnya ingin berbalik namun gagal. Karena kedua telinganya bisa mendengar mama Adel sudah lebih dulu menyebut namanya dan nama Rara.
“Ra, sini ajak temannya” panggil mama Adel.
“Ayo Far, kita ke sana” senyumnya dengan jahil.
Karena sudah tertangkap basah, Farah akhirnya menurut. Mengikuti langkah Rara mendekati orang-orang itu termasuk sosok lelaki yang dia hindari.
“Assalamu’alaikum, abang Syafiq” sapa Rara.
“Wa’alaikumsalam Ra,”
“Far, ayo salam dulu” goda Rara.
“Assalamu’alaikum bang” ucapnya sambil terus menunduk. Dia malu tentu saja. Kepalanya kembali terbuka tanpa hijab.
“Wa...”
“Loh, ini bukannya temannya Bitha kemarin?” potong Umi yang baru saja bergabung dengan semuanya. “Nggak pakai hijab toh” sambungnya.
Farah menggeleng, dia menggigit bibirnya kuat agar tidak menangis mendengar ucapan yang seperti sindiran ditelinganya.
“Kenapa toh Mi nggak pakai hijab? Dulu Kak Sabrin juga seperti ini kan” bela Adel sambil mengedip ke arah Syafiq.
“Tapi kan hijab bukan kayak warung sembako. Yang bisa seenaknya buka tutup” Umi berkata sambil menatap Adel tidak suka karena sudah membawa kakak iparnya Sabrin sebagai bahan contoh untuk Farah.
“Iya sih memang bukan. Tapi kamu juga jangan begitu dong cara menegurnya,” belanya Adel. “Aku sih lebih suka sama Farah yang masih terbuka seperti ini untuk diperbaiki, dari pada kayak kamu, Mi. Yang sudah tertutup, sudah terlihat sempurna. Tapi paling sulit untuk mendengarkan masukkan dari orang lain. Semacam udah merasa paling benar” sambung Adel.
Semuanya menjadi diam ketika perkataan Adel tepat menusuk hati Umi. Dalam diam Umi terus memperhatikan Farah dari atas hingga bawah. Memang benar gadis ini masih perlu banyak diajarkan. Dan dia telah salah dalam tata cara menegur orang lain.
“Tadi siapa namanya?”
“Farah” jawab Syafiq.
“Ammah tanya sama dia, bukan sama kamu Fiq” kekeh Umi geli. Syafiq buru-buru mengalihkan pandangannya agar tidak ada yang tahu bila ia tengah malu.
“Farah ya. Kok namanya familiar” goda Umi sambil menyenggol bahu Syafiq dengan bahunya.
Memang sempat tersebar isu mengenai sosok yang bernama Farah dilingkup keluarga besar mereka. Namun untuk kelanjutan dari isu itu belum ada yang tahu pasti akan seperti apa.
“Sudah-sudah. Jadi nggak kita jalan?” Ucap Adel gemas. Karena Umi terus saja memperhatikan Farah dari atas ke bawah.
“Iya jadi. Adel makin bawel udah jadi emak-emak” gerutu Umi masuk ke dalam ruangannya bersiap untuk pergi bersama mereka.
“Kamu mau ikut bang?”
Syafiq menatap Farah sekilas, lalu menggeleng pelan. “Nggak ma, Syafiq masih ada kerjaan” jawab Syafiq sebelum pamit pergi untuk kembali ke ruangannya. Dia tidak berani lama-lama berada disekitar Farah. Karena kerja organ tubuhnya seketika menjadi lemah seperti kehabisan baterai. Begitu kuat efek Farah bagi Syafiq.
**
Sepanjang makan siang bersama, Farah hanya bisa diam. Dia bingung harus melakukan apa. Mereka sibuk berbicara mengenai hal yang Farah tidak tahu. Dan dia ragu bila berucap sok tahu di depan mereka semua.
Hingga setelah makan siang itu berakhir, Farah dikejutkan oleh Rara yang mengajaknya masuk ke dalam sebuah toko muslimah. Di sana dia benar-benar tidak menyangka semua hal yang dilakukan Rara. Mulai dari membelikannya pakaian muslimah yang sangat cantik hingga alat sholat yang begitu ia impikan.
“Ini semua murni dari uang aku Far, bukan uang mama atau papa. Ini murni keinginanku untuk membantumu. Mama hanya menemani kita,”
“Tapi kak, ini nggak berlebihan?”
Rara menggeleng pelan, kedua matanya berkaca-kaca. “Nggak ada yang berlebihan dalam membantu sesama. Aku ikhlas Far, ridho. Aku ingin kamu bisa belajar menjadi seorang muslimah yang terbaik. Karena sejak kecil aku selalu mau punya adik perempuan, tapi...” Rara melirik ibunya yang masih sibuk berbicara dengan Umi.
“Tapi ternyata mama ku di vonis tidak bisa hamil lagi. Bisa hamil aku saja sudah anugerah untuknya. Maka dari itu, mulai sekarang aku mau kamu menjadi adikku. Adik perempuanku. Adik yang akan aku jaga dan aku ajari” isaknya.
Farah turut terisak melihat Rara menangis di depannya. Buru-buru ia memeluk Rara dengan erat. Menangis dibahunya. “Terima kasih kak Rara”
Ingin sekali Farah berterima kasih pada Tuhan. Tuhan menjauhkan kakak kandungnya hingga lupa terhadap kedua orang tua serta adiknya. Tetapi ternyata Tuhan menggantinya dengan sosok kakak yang lain. Bahkan Rara mau membantunya untuk mengenal Tuhan lebih baik lagi.
Kurang baik apa Tuhan kepadanya?
Satu persatu kesakitan yang dia rasakan digantikan dengan hal yang jauh lebih indah. Hingga Farah dibuat sesak oleh kebahagiaan itu.
“Terima kasih banyak kak Rara. Terima kasih” ucapnya berulang kali.
Rara tersenyum, kemudian mengusap air mata Farah. “Hus. Jangan nangis. Nanti mama Adel marah lihat kita nangis”
Keduanya tersenyum masih dengan berpelukkan dengan erat. Ternyata yang tidak Farah duga adalah bersamaan dengan satu kesusahan ada banyak kebaikkan. Seperti arti dalam surat Al - Insyirah yang berarti kelapangan.
5) Fa inna ma'al 'usri yusraa. (6) Innama'al 'usri yusraa.
"Karena sesungguhnya bersama satu kesulitan itu ada banyak kemudahan". "Sesungguhnya bersama satu kesulitan itu ada banyak kemudahan".
**
“Sayang...”
Adel masuk ke dalam kamar putrinya. Ia melihat Rara tengah duduk di depan meja rias. Menyisir rambutnya yang hitam panjang dan begitu berkilau. Rara memang tumbuh menjadi sosok putri yang begitu cantik. Bahkan tidak hanya cantik, putrinya itu begitu sholehah dan berhati mulia.
Kemarin Adel sempat menolak usul Rara untuk membantu Farah dalam mempercantik iman dan ketaqwaan gadis muda itu. Bukannya Adel tidak ingin membantu sesama. Tetapi Adel takut orang tua dari Farah akan tersinggung bila ada orang lain yang secara tiba-tiba ingin mengajarkan Farah mengenai agama.
Hampir semua orang sangat sensitif bila berhubungan dengan agama. Maka dari itu Adel sudah memberikan peringatan terlebih dahulu kepada Rara. Namun ia percaya Rara yang memiliki niat tulus ingin membantu Farah akan selalu dimudahkan jalannya.
“Kamu belum tidur sayang?”
“Belum ma. Papa mana ma?”
Adel mencibir kesal, “Selalu papamu yang dicari. Kamu itu anak mama atau papa sih?”
Rara tersenyum, kemudian memeluk tubuh Adel dengan sayang. “Rara mau cerita sama papa,”
“Kenapa ceritanya bukan sama mama?” rajuk Adel.
“Karena hanya papa yang tahu jawabannya,” kekeh Rara.
Sejenak Adel terdiam, memperhatikan putri kecilnya yang sudah mulai beranjak dewasa. Dia jelas sangat bahagia. Baginya Rara adalah segala-galanya. Perlahan Adel mencium kening Rara. Lalu tersenyum bahagia melihat putrinya tumbuh tanpa kekurangan kasih sayang sedikitpun. Dia tidak mau kejadian masa kecilnya dulu terjadi kembali lagi pada anaknya.
“Nanti mama minta papa untuk ke sini. Selamat tidur sayang, jangan lupa berdoa”
“Selamat tidur mama”
Tidak lama berselang, Adit masuk dengan wajah tersenyum lucu melihat putrinya sedang diatas tempat tidur dengan ponsel ditangan.
“Putri papa mau cerita apa?” tanya Adit sembari melompat ke atas tempat tidur.
Rara menutup layar ponselnya dengan cepat. Lalu melihat wajah ayahnya yang sudah tertidur disampingnya. Walau usia Rara bukan anak-anak lagi, namun ia tidak pernah malu untuk berdekatan dengan kedua orang tuanya. Karena dari kedua orang tuanya Rara dapat belajar banyak hal tentang yang belum dia tahu.
“Papa sudah janji kan nggak paksa Rara nikah sama pilihan papa,”
Sontak Adit bangun, dan menatap serius ke wajah Rara. “Jadi ini masalah cowok?”
Rara mengangguk pelan. “Kan kemarin papa sudah janji,”
Adit meringis merasa bersalah. Perjodohan itu bukan keinginannya, namun karena ada satu hal hingga Adit terpaksa menerima keputusan sepihak itu.
“Memangnya kenapa sayang? Apa kita masih membicarakan orang yang sama” kutipnya dengan kedua tangan dinaikkan ke atas kepala.
“Nanti samanya papa bukan sama dalam pikiran Rara”
“Kamu itu genit ya, banyak yang disuka” Adit menjentikkan jarinya pada kening Rara hingga gadis itu mengaduh sakit.
“Papa” rajuknya manja.
“Rara tahu kan, kalau Rara jatuh dalam hal cinta apa obatnya” tanya Adit dengan wajah dibuat seserius mungkin.
“Kata papa menikah”
“Bagus kalau sudah tahu, papa cuma melakukan tes saja,” kekeh Adit.
“Pa, Rara serius...”
Adit berangsur mendekati Rara, kemudian memeluk erat tubuh mungil putrinya itu dengan sayang. “Bagi papa yang terpenting Rara bahagia. Itu saja keinginan papa. Rara tahu kan terkadang kita mendadak jadi mencintai suatu kota, suatu keluarga bahkan suatu bahasa. Hanya karena satu orang yang kita cintai. Maka dari itu papa ingin Rara bisa memilih laki-laki yang bisa mengajak Rara mencintai Madinah, mencintai bahasa Arab dan mencintai bangsa Arab. Karena hanya disanalah tempat Rasulullah berada. Satu-satunya Nabi yang menyebarkan agama yang kita percayai sekarang” tutup Adit.
Rara yang berada di dalam pelukan sang ayah mengangguk pasti. Dia sudah yakin bila laki-laki itu bisa membantunya. Menyempurnakan segala kekurangan yang dia miliki. Begitupun sebaliknya. Dan semua itu hanya menunggu waktu kapan tiba saatnya laki-laki itu datang meminangnya.
----
continue..
Kalau ada yang mau dalam versi cetak bisa langsung pesen ke aku ya