Yakinlah Tuhan tidak akan tega membuat masa depanmu hancur hanya karena masa lalumu terlalu buruk.. Farah
Farah menatap pantulan dirinya di depan cermin. Semua nampak berbeda. Dia terlihat lebih cantik dengan balutan pakaian yang tertutup dengan hijab berwarna senada di kepalanya. Semua pakaian yang dipilihkan Rara memang yang terbaik. Bahkan tanpa memikirkan harga yang tertera, Rara memilihkan beberapa pasang pakaian sekaligus.
“Baik banget sih lo kak, gue bahagia banget bisa lo anggap adek” gumam Farah. Tubuhnya berputar di depan cermin yang menampilkan seluruh tubuhnya. Sudut bibirnya terus saja tertarik bahagia. Memang benar Tuhan itu ada. Dan sekarang Farah bisa merasakannya. Walau sampai sekarang dia masih belum tahu cara terima kasih kepada Tuhan tetapi dia berjanji akan mempelajari semuanya dengan cepat.
Siang ini Farah berniat ingin ke toko buku sebentar sebelum nanti bertemu dengan Rara kembali. Karena seperti yang Rara bilang, ia ingin ke kampus terlebih dahulu untuk melakukan persiapan perkuliahannya. Semua itu akan dimulai pasca libur lebaran nanti. Sedangkan beberapa hari lagi bulan ramadhan telah tiba. Bulan pernuh berkah bagi semua umat muslim. Semuanya pasti akan berlomba-lomba mencari tambahan pahala di bulan yang begitu ditunggu-tunggu oleh semua orang.
Senyum yang sejak tadi menghiasi bibir Farah meluntur seketika saat ia ingat bila dirinya masih belum jujur kepada Rara bila sudah tidak bersekolah. Dia takut Rara kecewa ketika mendengar alasan dibalik semua yang terjadi. Hubungan adik dan kakak yang baru saja terjalin bisa putus seketika bila rasa kecewa itu muncul diantara mereka. Farah tidak mau hal itu terjadi. Maka dari itu ia sengaja memilih waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya kepada Rara. Walau Farah yakin Rara sudah mengetahui dirinya tidak sekolah lagi.
Bukankah hampir semua murid di sekolahnya mengetahui mengapa Farah dikeluarkan dari sekolah? Semoga saja Rara bukanlah manusia yang langsung menilai Farah buruk sebelum mendengarkan penjelasannya.
**
Ketika Farah sibuk memilih buku yang akan menuntunnya untuk menjadi lebih baik, seseorang menepuk bahunya dengan lembut. Awalnya Farah sudah ketakutan, takut-takut orang jahat yang melakukannya. Tetapi ketika ia tahu siapa yang melakukan, sontak ia tersenyum sembari menunduk homat.
“Benar kan, Farah..”
“Iya tante...” jawabnya takut-takut.
Sabrin terkesima melihat penampilan Farah. Ternyata semenjak pertemuan terakhirnya pada acara syukuran ulang tahun Tabitha, Farah sudah menutup dirinya menjadi lebih baik. Dalam hati Sabrin berterima kasih kepada Tuhan karena telah membuka pintu hati Farah begitu cepat. Tidak seperti dirinya dahulu yang cukup lama untuk bisa berubah menjadi lebih baik.
“Masya Allah, cantik banget kamu”
Wajah Farah tersipu malu. Ibu dari laki-laki yang dia sukai memuji kecantikannya dengan begitu tulus.
“Terima kasih tante,” jawabnya malu.
“Tante bangga sama kamu. Sudah begitu sempurna menutup diri. Padahal kamu baru mencoba memulainya. Tetap seperti ini ya sayang. Tetap menjaga kecantikkanmu hanya untuk suamimu kelak”
“Farah usahakan tante”
“Loh kamu nggak sekolah?” tanya Sabrin sembari melirik jam tangan yang dia pakai.
Waktu baru menunjukkan pukul 11 siang. Rasanya tidak mungkin Farah sudah pulang sekolah secepat ini.
Farah menunduk takut. Sejak tadi pertanyaan ini yang dihindarinya, “Itu tante.. aku...”
“Jangan bilang kamu bolos deh” tuduh Sabrin tidak suka. “Ya Allah Farah. Anak sekolah dengan kenakalan memang nggak bisa dipisahkan. Tapi masa kamu lebih milih bolos sekolah begini sih? Kamu nggak kasihan sama kedua orang tua kamu?” ucap Sabrin sedikit tidak suka dengan perlakuan Farah.
Ingin rasanya Farah menceritakan semuanya kepada Sabrin tetapi dia memilih diam. Bukankah dia sudah salah melakukan tindakan negatif? Lalu untuk apa membela diri di hadapan Sabrin? Ingin tampil sempurna agar dipuji oleh Sabrin? Atau ingin segera dijodohkan dengan anaknya?
Farah sadar tidak semudah itu untuk mendapatkan pujian dari orang. Dia tidak mau menjadi sosok lain agar terlihat sempurna dimata orang lain. Cukup menjadi dirinya yang apa adanya. Maka Farah yakin dunia memandangnya dengan sempurna.
“Jangan diulangi lagi yang seperti ini”
“Iya tante” ucap Farah lemah.
“Terkadang orang tua itu tidak ingin mendapatkan balasan apa-apa dari anaknya. Hanya menjalankan segala sesuatunya dengan baik sudah cukup bagi orang tua. Apalagi bila anaknya bisa menjadi anak yang pintar dan sholehah. Orang tua mana yang tidak bangga?” ucap Sabrin.
Jatuhlah air mata di kedua pipi Farah. Betapa sakitnya dia mendengarkan hal itu, “Iya tante. Farah tahu itu. Farah memang masih nakal. Belum bisa menjadi anak yang baik. Sampai ayah dan ibu harus kecewa...kecewa karena sikap Farah” isaknya pelan.
“Sudah-sudah. Tante minta maaf kalau membuat kamu sedih” Sabrin menjadi tidak tega melihatnya. Ia merangkul tubuh Farah. Menenangkan semua isak tangisnya. Isak tangis akan semua tindakan negatifnya yang belum Sabrin ketahui.
“Terima kasih tante” ucap Farah saat hatinya sudah mulai sedikit tenang.
“Sama-sama sayang”
Kemudian Sabrin melirik beberapa buku ditangan Farah. Semua buku tersebut berisikan tentang tuntunan sholat dan lancar membaca Al-Qur’an. Sabrin tahu gadis muda di depannya ini sedang berusaha menjadi lebih baik dalam urusan agama.
“Beli banyak buku?”
Farah ikut melihat tangannya, kemudian mengangguk malu dengan kedua matanya yang masih merah akibat dari tangisan tadi. Wajah yang ditampilkan Farah sangat lucu dimata Sabrin hingga ia ingin sekali tertawa.
“Tante punya banyak di rumah. Bagaimana kalau tante berikan ke kamu?” ucap Sabrin dengan penuh semangat. Dia seperti melihat dirinya dahulu. Saat-saat ia baru ingin melangkah lebih baik, namun semua orang menghinanya.
“Yang benar tante?”
Sabrin mengangguk sembari tangannya mengusap lembut hijab Farah, “Iya. Apa mau sekalian belajar bareng sama tante?” ajak Sabrin.
Kedua mata Farah berbinar bahagia. Tidak henti-hentinya orang baik membuka jalan dirinya untuk menjadi lebih baik lagi.
“Benar tante mau ajarin Farah?”
“Iya. Kamu nggak percaya? Walau tante nggak kayak ayahnya Syafiq, tapi setidaknya kita bisa belajar sama-sama. Atau apa sekalian aja tante ajarin kamu membahagiakan anak tante, Syafiq” kedip Sabrin mencoba bersahabat dengan sosok perempuan yang disukai anaknya.
Pipi Farah langsung bersemu merah. Semua tidak bisa dia duga. Bahkan terlalu mendadak untuk dia bisa terima.
“Ma.. maksud tante?”
“Sudah. Nanti saja tanyanya di rumah tante”
**
Berbagai jenis makanan serta minuman sudah tersaji diatas sebuah meja bulat. Menemani Farah yang sedang berusaha memahami berbagai macam buku yang sudah disajikan Sabrin untuk dipelajari oleh Farah. Kebetulan rumah keluarga Al Kahfi siang ini sangat sepi. Semua masih sibuk dengan pekerjaan di luar rumah. Sehingga Farah masih bisa bernapas lega ketika Sabrin membawanya ke sini.
“Kamu baca dulu ya. Tante mau taruh belanjaan dulu”
Farah mengangguk patuh. Dia mulai membaca buku pertama yang menarik perhatiannya. Buku tentang tuntunan sholat fardhu. Lembar pertama yang dia buka menampilkan doa-doa yang dia tidak paham apa itu. Lalu lembar-lembar selanjutnya dia buka, kedua matanya disuguhkan gambar orang yang sedang berwudhu. Dengan berawal dari membaca bismillah sambil membasuh kedua telapak tangan, Farah mulai mengikutinya dengan perlahan.
“Begini bukan sih?” gumamnya bingung.
Tubuh Farah ikut berdiri, mencontohkan seperti gambar yang ada di buku. “Kok beda ya?” ucapnya sambil bertolak pinggang.
“Beda apanya?” tanya Sabrin.
“Nggak papa tante” ucapnya malu.
Sabrin melirik sedikit pada buku yang sedang dibaca Farah, lalu ia berusaha menyembunyikan tawanya melihat Farah yang masih berusaha fokus untuk belajar.
“Itu yang kamu lakuin sekarang adalah gerakan untuk wudhu. Kamu tahu kan wudhu itu apa?”
Farah menggeleng pelan, lalu mengangguk dengan cepat. “Aku tahu tante. Pernah ada pelajarannya” sahutnya lemah.
“Kok sedih gitu?”
“Farah malu tante. Sudah sebesar ini baru belajar bagaimana wudhu yang baik”
Sabrin duduk di sofa dengan tangan meraih buku yang sedang dibaca oleh Farah. “Kamu tahu Far, belajar itu tidak mengenal waktu dan usia. Dan buku ini” ucap Sabrin sembari menggerakan buku tersebut di tangannya. “Buku ini nggak pernah memilih siapa saja yang boleh membacanya. Mau itu anak kecil, anak remaja, orang dewasa, bahkan kakek dan nenek pun bisa membaca buku ini. Buku ini akan sedih kalau sudah tidak ada satupun orang yang mau belajar. Merasa dirinya sudah paling sempurna padahal jika ditanya Man robbuka saja orang itu nggak bisa jawab”
“Memang Man robbuka itu apa tante?” tanya Farah dengan polos.
Sebagai seseorang yang pernah senasib seperti Farah, Sabrin dengan tenang menjawab semuanya. “Ketika di alam kubur, malaikat Munkar dan Nakir akan mengajukan 3 pertanyaan kepada dirimu. Yang pertama Man robbuka?... Siapa Tuhanmu? Lalu yang kedua, Wa maa diinuka?.. Dan apa agamamu? Kemudian yang ketiga, Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?… Dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?” jelas Sabrin.
“Terus jawabannya apa?” Farah begitu fokus mendengarkan satu demi satu kalimat yang Sabrin ucapkan. Dia benar-benar ingin belajar agar bisa dan mengerti tentang agama.
“Kalau masih hidup seperti sekarang pasti sangat mudah menjawabnya. Seperti pertanyaan pertama, jawabannya jelas Allah. Untuk jawaban yang kedua adalah, Islam agamaku. Dan yang terakhir, Nabi Muhammad SAW. Mudah bukan? Coba nanti di alam kubur. Pertanyaan yang terlihat mudah di dunia begitu sulit dijawab di akhirat. Jika dirimu tidak beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka bisa dipastikan kamu nggak akan bisa menjawab pertanyaan itu”
“Berarti...” gumam Farah sedih. Dia sudah mulai ketakutan mendengar penjelasan Sabrin.
“Jangan berpikir buruk dulu. Kamu masih ada waktu untuk memperbaiki diri. Mulailah dari sekarang memperbaiki segalanya. Dari ibadahmu, dari perlakuanmu terhadap kedua orang tua dan sesama muslim. Tante percaya kamu anak pintar, pasti mampu”
Farah menggeleng lemah. Dia bukan murid yang pintar lagi sekarang. Sekolah saja tidak, dari mana dia akan belajar.
“Kok diam?”
“Nggak papa tante”
“Ayo coba dimulai bacaan sholatnya”
Masih dalam kesedihan Farah berusaha melakukan yang terbaik. Dia mulai mempraktikan segala gerakan sholat. Bahkan bacaannya pun mulai dia ucapkan sedikit demi sedikit. Walau tak jarang matanya masih saja terus melihat ke arah buku, namun Sabrin tidak memarahinya.
“Farah, coba kamu pahami dulu bacaannya. Jangan dihapal. Karena semua yang dipaksa untuk diingat akan mudah terlupakan. Namun sesuatu yang dipahami, lalu diterapkan setiap saat pasti akan melekat dihati”
“Jadi nggak boleh dihapal ya tante?”
“Ya jangan dihapal dong”
Farah diam sejenak. Dia meringis takut ke arah Sabrin yang masih setia menemaninya belajar. “Kok aku nggak yakin bisa ya tante”
Sabrin melangkah mendekati Farah, kemudian dia mendudukan dirinya tepat disamping gadis itu. Mereka berdua saling tatap hingga tanpa sadar Sabrin meneteskan air matanya. Dia tahu bagaimana diposisi Farah sekarang. Karena dulu dunia lebih kejam kepadanya saat ia baru ingin belajar.
“Dengarkan tante ya Farah. Bukan seberapa sulit kamu berusaha, tetapi seberapa maukah kamu melakukannya dengan tulus. Bukan seberapa hebat kamu melakukannya, tetapi seberapa kamu membiasakannya dalam kehidupanmu. Bukan seberapa pintar kamu menyelesaikannya, namun seberapa lama waktu yang kamu pergunakan untuk belajar. Semua itu butuh proses dan juga butuh waktu. Karena di dalam hidup, menjadi sabar dan konsisten itu sangat diperlukan” jelas Sabrin.
Kedua tangannya menarik tubuh Farah ke dalam dekapannya. Setidaknya Farah tidak boleh merasakan sendirian ketika ingin berjuang menjadi lebih baik.
Sabrin tahu benar Farah sedang belajar, dan semua orang yang belajar tidak akan selalu langsung bisa. Yang terpenting adalah niat. Maka yang lainnya akan mudah mengikuti.
**
Hari sudah mulai sore ketika Farah ingin pamit pulang. Sebenarnya Sabrin belum mengijinkan Farah pulang karena dia ingin gadis itu ikut makan malam bersama yang lainnya. Namun Farah terus saja menolak. Sesungguhnya dia mau menerima ajakan dari Sabrin, tapi lagi-lagi Farah ingat bila menerima ajakan itu berarti ia akan bertemu Syafiq nantinya.
“Loh kok mau kemana?” tegur Fatah. Dia baru saja tiba dari rumah sakit dan menatap kaget Farah yang terburu-buru ingin beranjak pergi.
“Mau pulang dok” jawab Farah sambil mencium punggung tangan Fatah.
Fatah melirik ke arah Sabrin yang sedang tersenyum senang kemudian mengedip genit sebagai jawaban atas kebingungan Fatah.
Pasti Fatah kaget melihat Farah bisa bersama Sabrin, tetapi disamping itu ada yang membuatnya semakin tidak percaya. Gadis itu sudah menutupi auratnya dengan hijab sederhana.
“Nggak diantar pak Kardi?”
“Ya diantar dong mas, masa kamu biarin calon mantu pulang sendiri malam-malam” goda Sabrin.
Farah yang mendengar sindiran untuknya mendadak gugup. Sampai-sampai dia salah memasukkan sepatu ke dalam kakinya.
Sabrin menutup mulutnya karena menjadi geli sendiri melihat sikap gugup Farah. “Jangan salah gitu dong Far. Masa sepatu kiri dipakai di kaki kanan” goda Sabrin kembali.
Farah menarik napas dalam. Pipinya semakin menghangat akibat rasa malunya yang semakin meningkat karena mendengar perkataan Sabrin.
“Makasih ya tante” ucap Farah sebelum pergi.
Dia mencium punggung tangan Sabrin dan Fatah kembali untuk ke dua kalinya karena begitu gugup. Lalu menuju mobil yang sudah ditunggu Pak Kardi untuk mengantarnya pulang.
“Sampai lupa ucap salam” gumam Fatah melihat Farah yang sudah buru-buru masuk ke dalam mobil.
“Mas lupa kalau dulu aku juga kayak gitu?” ucap Sabrin sembari memeluk lengan suaminya. Saling menatap kemudian tersenyum merasa lucu saat keduanya sampai pada pemikiran kenangan yang sama.
“Iya mas tahu” jawab Fatah. Memeluk Erat Sabrin dengan sebelah tangannya. Keduanya menatap mobil yang pak Kardi bawa untuk mengantar Farah.
Tetapi sebelum mobil yang di supiri Pak Kardi bergerak, kaca mobil itu diturunkan kemudian wajah Farah terlihat disana.
“ASSALAMU’ALAIKUM... OM...TANTE” teriaknya dari dalam mobil.
Fatah dan Sabrin tersenyum geli melihat tindakan yang Farah lakukan, “Wa’alaikumsalam” jawab Fatah dan Sabrin bersamaan.
Kedua manik mata Fatah melirik Sabrin yang masih saja tersenyum ke arah mobil yang mulai menjauh. “Benar-benar mirip denganmu” ucap Fatah.
“Itu tandanya Syafiq putramu. Karena dia dan kamu jatuh cinta pada perempuan dengan tipe yang sama,” kekeh Sabrin sebelum berjalan masuk ke dalam rumah.
Fatah mengakui kebenaran ucapan Sabrin. Memang perempuan seperti Sabrin dan Farah memiliki daya tarik tersendiri hingga dirinya dan Syafiq dibuat sejatuh-jatuhnya dalam mencintai perempuan itu.
“Sabar nak. Tunggu beberapa tahun lagi. Ayah akan melamarkan dirinya untukmu”
----
continue