Bab 19

2910 Kata
Aku memilihmu bukan karena sudah lama kesepian, tetapi karena aku sudah memiliki kesiapan.. Shaka.   Saat pagi menjelang, Farah dibuat kaget atas isi pesan singkat yang Rara kirimkan ke ponselnya. Disana tertulis bila Rara kecewa atas kebohongan Farah kepadanya. Padahal dia sudah melakukan yang terbaik kepada Farah dengan semaksimal mungkin. Namun balasannya adalah Rara tidak diberitahu sedikitpun masalah foto tanpa busana itu hingga membuat Farah berhenti dari sekolah. Air mata Farah mengalir deras membasahi pipinya sembari membaca pesan dari Rara berulang kali. Baru rasanya kemarin ia diberikan kebahagiaan, kasih sayang berlebih, tetapi kini kesakitan kembali yang dia rasakan. Apa Tuhan kembali marah kepadanya? ApA Tuhan juga kecewa padanya karena masih belum bisa beribadah dengan baik? “Maaf kak. Jangan marah sama aku” rintih Farah. Dia menangis sejadinya di dalam kamar. Farah tidak tahu harus berbuat apa untuk menghapus rasa kecewa Rara yang sudah begitu baik kepadanya. Dia ragu apa Rara akan memaafkanya bila dia datang memohon maaf. Semakin lama Farah diam, semakin sesak pikirannya atas kesakitan ini. Buru-buru dia bergegas ingin menemui Rara. Memohon maaf pada Rara agar mereka bisa memulainya dari awal. Tanpa air mata dan kebohongan.   **   Tepat waktu makan siang, Farah tiba disebuah mall di daerah Jakarta Selatan. Setelah sebelumnya menghubungi Rara untuk bisa bertemu, akhirnya Rara mau untuk ditemui. Rara berpesan kepada Farah untuk menemuinya di sebuah restaurant ketika jam makan siang. Tetapi ternyata Farah sedikit terlambat sepertinya. Ia melirik jam ditangannya, sudah pukul 12 lewat 5 menit. Itu berarti dirinya sudah membuat Rara menunggu 5 menit. Pikiran negatifnya mulai bermunculan. Bagaimana bila Rara semakin marah karena dibuat menunggu. Bisa saja Rara semakin kecewa setelahnya. Terus saja pikiran buruk menghantui Farah. Sampai-sampai sejak turun bis kota tadi, Farah berlari-lari untuk menuju restaurant dimana tempat mereka membuat janji. Namun ternyata setelah ia sampai di depan restaurant itu, Farah tidak bisa menemukan Rara disana. Para pelayan restaurant sudah menyuruhnya untuk masuk. Tetapi Farah menolaknya dengan halus. Kedua manik matanya mulai mencari ke sekeliling mall tersebut, mulai menduga-duga ada kemungkinan Rara sudah pergi meninggalkannya. Sambil ia berusaha mengatur napasnya, Rara terus saja memperhatikan para pengunjung mall yang cukup ramai pada siang hari ini. “Kak, dimana sih lo?” gumamnya seorang diri. Farah mulai melangkah menjauh dari restaurant tempat dimana mereka melakukan janjian, kemudian memilih duduk di dekat kolam ikan yang dibuat khusus di dalam mall tersebut. Ikan-ikan yang dipelihara di dalamnya cukup besar dan begitu menarik perhatian pengunjung, tak terkecuali Farah. Sebelah tangannya mulai dimasukkan ke dalam air kolam itu sembari mencoba menghubungi Rara dengan ponselnya. Tetapi tidak lama, panggilan tersebut terhubung. “Kak Rara dimana ya?” ucap Farah tanpa mengucap salam. “Halo..” Karena terdengar suara seorang laki-laki ditelinganhya, Farah menatap layar ponselnya kembali. Dia memastikan nama siapa yang tertera pada layar ponsel itu. Tetapi Farah bisa melihat jelas bila yang dihubunginya nomor Rara. “Benar nomornya kak Rara” “Halo...” ucap laki-laki itu kembali. “Halo. Maaf ini nomornya kak Rara kan?” Suara ribut diseberang sana membuat Farah semakin ketakutan. Dia berpikir bila Rara telah diculik oleh seseorang. Tetapi siapa yang berani menculik Rara dengan bodyguard yang selalu mengikuti? “Siapa yang telepon?” “Farah kayaknya” Farah mendengarkan percakapan di sana. Tepat ketika terdengar suara Rara, Farah berteriak cukup kencang, “KAK RARA DICULIK YA? SAMA SIAPA?” “Astagfirullah al’adzim, Farah jangan teriak-teriak” “Itu Kak Farah lagi sama siapa?” ucap Farah masih waspada. Rara menghela napas cukup kencang kemudian Farah merasakan bahunya ditepuk oleh seseorang. Dan disana, Rara berdiri dengan sosok laki-laki dibelakangnya. “Lihat kan, aku nggak diculik” Farah meringis salah tingkah. Lalu melirik kembali ke arah laki-laki dibelakang Rara. “Far, kamu lihat apa sih?” Rara melambaikan wajahnya di depan Farah yang terlihat bingung. “Nggak kok kak” “Ayo makan, aku laper” ajak laki-laki itu. Dia mengambil langkah terlebih dahulu baru kemudian diikuti oleh Farah dan Rara. “Kok kakak sama dia?” bisik Farah. Rara tidak menjawab, dia memilih memeluk lengan Farah dan menggandenganya untuk menyusul laki-laki tadi. Dengan senyum yang begitu merekah dibibirnya   ** Sambil membuka menu makanan, Farah mencuri pandang pada sosok laki-laki yang duduk di hadapan Rara. Lelaki itu terlihat sibuk dengan ponselnya. Farah tahu benar siapa laki-laki ini, tetapi dia tidak tahu mengapa bisa bersama dengan Rara sekarang? Pakaian laki-laki itu terlihat sangat santai. Memakai tshirt berwarna sama dengan blouse yang dipakai Rara. Farah sempat berpikir mereka berdua memiliki hubungan khusus. Karena apa yang dilihat Farah dari gerak gerik keduanya memang cukup menjawab kecurigaan Farah saat ini. “Kamu pesan langsung aja Far,” ucap Rara. “Kak Rara memangnya nggak pesan?” Rara menggeleng, “Nanti aku pesannya. Nunggu yang belum datang” Baru saja Farah ingin bertanya siapa yang akan bergabung dengan mereka, sosok tak diundang sudah bergabung dan duduk dihadapannya. Kedua mata Farah membulat besar bersamaan dengan mulut terbuka dari laki-laki di hadapannya. Cukup lama mereka bereaksi demikian hingga bahu laki-laki itu dipukul kuat oleh sebelahnya. “BANG.. NYEBUT COBA. MANGAP AjA” tegur Shaka. Syafiq menatap Shaka meminta penjelasan dari laki-laki itu atas semua kejadian ini. Namun yang ditatap seperti tidak tahu diri dan lebih memilih memanggil pelayan untuk mengorder pesanannya. “Mas, Sate ayamnya satu. Sama sate kambingnya satu. Terus es teh manisnya dua” ucap Shaka. Dia melirik Rara yang masih sibuk membolak balik buku menu seperti berniat memesan makanan lainnya. “Oh ya mas, yang sate ayam jangan dicampur bawang gorengnya,” “Mas, sate yang nggak pakai bawang jangan pakai lontong ya. Terus tahu telurnya satu” pesan Rara yang diberikan tatapan tajam oleh Shaka. “Pakai aja mas lontongnya,” Rara yang baru saja menutup buku menu, membalas tatapan mata Shaka lalu mendadak diam tidak berani melawan laki-laki itu. “Kamu pesan apa Far?” tanya Rara sembari melirik ke arah Farah yang berada disampingnya. “Far, Kamu kenapa? Kok diam aja” Keringat dingin yang mengalir di pipi Farah membuat Rara khawatir. Tangan Rara langsung meraih tisu diatas meja kemudian mengusapnya ke pipi Farah. “Kamu sakit ya?” Farah menggeleng, kemudian melirik Syafiq yang berada dihadapannya. Wajah Syafiq juga sama pucatnya. Mereka berdua tidak menyangka disatukan seperti ini. Syafiq bisa menebak semua yang terjadi pastilah kelakuan Shaka. Berkedok ingin bertemu dengan Rara, sampai membawa dia dan Farah juga agar dilihat oleh orang lain tidak hanya berduaan saja. Sungguh pintar sekali Shaka. “Bang, pesen nggak lo?” “Samain aja” Shaka mencibir, kemudian menatap Farah yang masih saja menunduk malu. “Ya udah mas, sate kambingnya pakai lontong semua. Ingat mas, yang sate ayam jangan dicampur bawang goreng” pesan Shaka. “Jangan sate kambing aku” sanggah Farah tiba-tiba. “Aku sama kayak kak Rara aja, sate ayam” “Kenapa nggak mau sate kambing Far? Takut makin panas ya?” goda Shaka yang diberikan tatapan tajam Syafiq. Setelah pelayan itu pergi mulailah kejahilannya keluar. Mengganggu Syafiq adalah kesenangan baginya. Apalagi kini ada Farah yang menjadi senjata pamungkas untuk digoda kepada Syafiq. “Bang, lo kenapa diem aja? Sariawan ya?” ledeknya jahil. “Ini semua gara-gara lo” geram Syafiq sebagai jawaban atas kejahilan Shaka “Tapi lo suka kan?” bisik Shaka seperti bergumam juga agar kedua perempuan dihadapan mereka tidak mendengar. Sedangkan Farah dan Rara sibuk berbicara. Mereka juga sama seperti yang dilakukan Syafiq dan Shaka, berbisik-bisik pelan agar kedua lelaki didepan mereka tidak mendengar. “Kok jadi ngobrol sendiri-sendiri sih” ucap Shaka pada akhirnya. “Eh iya Far, lo udah kenalkan siapa gue?” Farah mengangguk, “Iya kenal kok. Kakaknya Bitha kan?” “Benar” jawab Shaka sembari menjentikan jari dihadapan Syafiq. Shaka berlaku seperti itu Karena sejak tadi Syafiq hanya menunduk dan melakukan aksi diam. Dan sekarang Syafiq bisa melihat senyuman khas Shaka hingga membuatnya muak, dia ingin sekali memukul wajah menyebalkan Syafiq dihadapannya. “Tapi ngomong-ngomong, tadi lo berdua ada masalah apa?” Farah dan Rara saling melirik kemudian tersenyum. Mereka sudah berbaikkan beberapa menit yang lalu. Dan Farah meminta waktu kepada Rara untuk menjelaskan semuanya. Tetapi tidak dihadapan kedua laki-laki ini tentunya. “Karena nggak ada yang ngomong dari tadi. Sekarang ijinkan gue aja yang terus ngomong,” dalam hati Syafiq terus saja memaki Shaka. Bukannya sejak tadi Shaka seperti radio rusak yang tidak bisa diam. Masih saja meminta ijin untuk berbicara. “Bang, menurut lo apa persamaan skripsi sama Farah?” cengirnya. Menempatkan kedua tangan diatas meja dengan kedua mata menatap Syafiq dan Farah secara bergantian. “Bisa jawab nggak lo?” “Shaka, diem nggak lo” desis Syafiq pelan. Tapi Shaka tahu Syafiq tengah mengancamnya agar tidak banyak bicara. “Ayolah bang. Kenapa sih lo kaku begini? Biasanya juga gue ajak makan sama Rara nggak diam begini lo” Duuggghh... bunyi suara gaduh dibawah meja bersamaan dengan teriakan Shaka sebagai bukti bila Syafiq tidak main-main ketika sedang marah. “Sakit kali bang. Galak bener lo sekarang. Mentang-mentang udah jadi direktur” “Udah-udah kalian itu bisanya ribut terus. Aku kan sama Farah mau makan disini ingin bicarain hal lain. Bukan masalah apa persamaan skripsi sama Farah” Rara mencoba menengahi Shaka yang terus saja memancing emosi Syafiq. Ia tahu tipe seperti apa laki-laki dihadapannya ini. Semakin Syafiq marah, maka Shaka semakin suka menggodanya. “Mana gue tahu, skripsi aja belum” gumam Syafiq. “Nah itu pinter bang” tepuk Shaka kuat pada bahu Syafiq. Ini sebagai balasan dari tendangan Syafiq pada kakinya tadi. “Karena lo belum merasakan jadi nggak bisa jawab. Gimana kalau gue kasih kesempatan buat lo ngerasain?” “Maksud lo?” “Far..” panggil Shaka. “Iya bang...” “Berasa sok akrab banget lo panggil gue abang” goda Shaka. Tepat ketika dia melirik ke Rara, ternyata gadis itu sedang menatapnya tajam. Shaka meringis dengan senyuman khasnya. “Sorry” cicitnya ke arah Rara. “Gini Far, kalau misalnya lo sama abang gue ini dibolehin nikah muda. Apa yang bakalan lo rasain” Farah dan Syafiq kompak menatap Shaka. Bisa-bisanya Shaka berbicara masalah sepenting ini dengan sangat tidak serius. “Gila” desis Syafiq. “Gue nggak tanya lo bang, gue tanya Farah” “Farah takut bang” jawabnya jujur. Mendengar jawaban Farah, Shaka menjentikkan jarinya cepat. Ia seperti langsung bisa menyambungkan dengan pertanyaannya tadi, “Jawaban yang benar. Pasti kamu takut kan. Itu karena banyak faktor yang mengikutinya. Sama kayak skripsi. Menakutkan bagi mahasiswa. Tapi apa kalian tahu, mau tidak mau, suka tidak suka, yang namanya mahasiswa pasti akan merasakannya. Diawali dengan ketakutan tetapi diakhiri dengan kebahagiaan. Kayak naskah film kurang lebih. Ada yang namanya plot lurus dan ada yang bercabang. Ketika diri lo dihadapkan pada ilmu, cita-cita dan cinta, maka itu adalah plot bercabang. Tetapi akhirnya satu, semua tokoh akan merasakan sebuah perasaan baru. Bisa perasaan sedih atau bahagia” jelas Shaka. “Bila kita balik lagi ke topik skripsi. Apa sih akhir dari skripsi? Pasti adalah sarjana. Selain sarjana ada bahagia yang pasti bisa dirasakan. Berawal dari ketakutan dan kesakitan, berakhir dengan kebanggaan dan kebahagiaan. Seperti itulah persamaan Farah dengan skripsi. Mungkin saat ini kamu dan bang Syafiq masih sama-sama takut, sama-sama bingung harus bagaimana, sama-sama tidak berani mengambil keputusan. Tapi asal kalian tahu, sekuat apapun kalian mengelak, secepat apapun kalian kabur, jika kalian berjodoh pasti akan menghadapi ketakutan itu juga. Mau itu cepat atau lambat. Semua hanya masalah waktu” Rara mengangkat ibu jarinya saat Shaka selesai menjelaskan. Sosok Shaka memang begitu memikat. Terlihat tidak pernah serius, namun semua yang dia ucapkan selalu tepat mengenai sasaran. Mungkin karena hal itu juga Rara bisa terikat dengannya. “Diamnya kalian itu sebagai ucapan terima kasih kepada gue” tutup Shaka tepat ketika makanan yang mereka pesan datang. Selama acara makan berlangsung, baik Farah maupun Syafiq lebih banyak terdiam. Mereka berdua sangat paham mengenai penjelasan Shaka tadi. Tetapi apa harus secepat itu juga mengakui bila diantara mereka berdua ada sesuatu rasa yang sulit diungkapkan. ** Usai makan bersama, mereka berempat berjalan-jalan mengelilingi mall seperti anak muda yang lainnya. Bahkan Syafiq sampai lupa harus ke kantor lagi setelah jam makan siang usai. Tetapi karena ada Farah di sini dan harus menjadi obat nyamuk diantara Shaka dan Rara, maka dia dengan suka rela menemaninya. Jalan dibayangkan mereka akan berjalan berdampingan. Karena pada kenyataanya, Rara dan Farah berjalan lebih dulu di depan. Membicarakan masalah mereka tadi yang belum selesai dibahas sampai selesai. Sedangkan Syafiq dan Shaka berjalan agak jauh dibelakang. Sesekali Shaka masih akan terus menjahili Syafiq kemudian diakhiri dengan tawa kebahagiaan melihat wajah Syafiq yang merah padam. Shaka tahu Syafiq dan Farah sama-sama memiliki perasaan. Tetapi keduanya lebih memilih sama-sama menghindar. Mungkin bagi Syafiq mencintai perempuan ketika belum saatnya adalah sebuah perasaan yang menyeramkan. Karena itu Syafiq masih lebih memilih menghindar dan akan datang lagi pada masanya tiba. Namun bagi Farah menjauhi Syafiq karena ketakutan. Takut tidak bisa mengimbangi laki-laki ini dalam segala hal. “Bang, sebentar lagi kan puasa. Apa harapan lo di puasa tahun ini?” Syafiq tersenyum. Kakinya masih terus melangkah disamping Shaka dengan kedua tangan dimasukkan pada saku celananya. Kedua matanya melirik punggung Farah sejenak sebelum menjawab pertanyaan Shaka. Hanya melalui punggung kecil itu dia tahu dan yakin bila suatu saat nanti punggung itu yang akan menopang lelahnya selepas bekerja. “Harapan gue nggak jauh beda sama orang lain. Semoga bisa berkah puasanya dan bisa bertemu ramadhan ditahun-tahun berikutnya” “Klise jawaban lo bang” “Terus jawaban lo apaan emang?” Kini giliran Shaka yang tersenyum melihat Rara tertawa lepas bersama Farah di depan sana. “Harapan gue nggak tinggi-tinggi. Gue mau nikah” “Kalau nikah juga semua orang yang masih sendiri pasti berpikir ke sana” “Tapi tadi kan lo nggak jawab itu bang. Bagi gue menikah itu selain ibadah juga saling menjaga dan menyempurnakan” “Ini gue nggak salah dengar? Lo seriusan mau nikah?” Shaka mengangguk mantap sembari mengusap leher belakangnya. “Kenapa bang memangnya? Apa karena gue belum kerja jadi lo nggak yakin bisa hidupin istri gue kelak?” “Salah satunya itu. Tapi inget umur lo masih kecil. Belum pantes ngomongin nikah. Itu yang lo jaga anak perempuan orang. Bukan jaga barang. Jangan main-main” “Gimana lo bisa tahu gue main-main atau nggak. Lo aja nggak kasih kesempatan buat gue buktiin” jelas Shaka. “Bang, dengarin gue. Ini semua sama kayak lo waktu baru masuk kerja kemarin ini. Semua orang merendahkan lo nggak mampu. Semua orang menghina lo. Terus kalau nggak ada yang kasih lo kesempatan untuk lo buktiin, sampai lebaran monyet juga orang-orang nggak akan tahu lo mampu. Tapi kenyataannya banyak orang yang kasih kesempatan buat lo kan” “Tapi ini masalahnya beda. Ini menikah, bukan menjalankan perusahaan. Lo butuh kematangan dalam menjalankannya” Shaka terkekeh pelan, “Abang..abang. Pikiran lo kolot banget ternyata. Gue emang nggak sesempurna lo bang. Dan gue juga nggak sekaya lo. Tapi asalkan lo tahu bang, lelaki hebat itu bukan yang mampu bawa perempuan ke bulan dengan segala harta dan kekayaan yang dia miliki. Tetapi yang mampu membimbing istrinya hingga ke pintu surga. Itu bang yang gue usahakan” Syafiq mendesah lemah. Shaka benar. Perempuan memang butuh harta, tetapi perempuan juga butuh imam, butuh pemimpin dan butuh sosok yang bisa memberikannya kenyamanan diakhirat nanti. Pikiran Syafiq mulai berkecambuk. Dia merasa sudah sama seperti ayahnya. Memikirkan kenyamanan perempuan dari harta yang dimiliki bukan dari cinta dihati. Astagfirullah al’adzim.. hatinya mulai beristighfar. Baru saja dia mulai merangkak dalam hidup mengapa harus menuju arah yang salah. ** “Far, jadi kapan lo mau cerita semuanya ke bang Syafiq” tanya Rara hingga menghentikan langkah kakinya. “Maksud kak Rara?” “Setidaknya dia juga harus tahu mengapa kamu putus sekolah. Dan dia juga meminta penjelasan sejujurnya. Agar dia bisa dengan baik menilaimu” Farah menggeleng cepat, “Belum saatnya kak,” ucapnya sembari mulai melangkah kembali. “Sekarang aku nggak peduli gimana penilaian dia kepadaku. Karena semua itu nggak berpengaruh apa-apa” “Kok gitu?” “Iya dong kak. Nggak setiap keburukan itu harus diceritakan kepada orang lain kan?” Rara menghentikan langkahnya, kemudian dia menatap Farah yang masih saja melangkah. “Loh kok berhenti kak?” “Maaf ya Far, karena aku udah maksa kamu cerita” gumam Rara merasa tidak enak. “Nggak papa kak, kakak bukan orang lain buat aku. Bukannya kakak yang bilang sendiri kalau kak Rara itu kakakku” “Kamu benar” kekeh Rara dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tersenyum bahagia dengan sebelah tangan merangkul tubuh Farah. Keduanya terus saja berjalan tanpa peduli bila Shaka memanggil-manggil dari belakang. “Ya Allah, dipanggilin juga” ucap Shaka kesal setelah menepuk bahu Rara. “Kamu manggil aku?” “Bukan, Kang sol sepatu yang manggil” jawabnya cukup kesal. “Maaf” ringis Rara. “Kenapa memangnya?” “Tuh, bang Syafiq mau balik kerja” tunjuk Shaka dengan dagunya. Syafiq yang semula masih tertinggal jauh di belakang, kini sudah tepat berdiri di belakang Farah. Wajahnya terlihat gugup dengan tatapan terus saja menatap Farah tajam. Tetapi yang ditatap hanya menunduk. Menyembunyikan wajahnya dari hijab putih yang dia pakai. “Bang Syafiq mau pulang? Tanya Rara. “Far..” panggil Syafiq tanpa memperdulikan pertanyaan Rara. Tepat ketika Farah menengok ke arah belakang, wajah bingung Syafiq lah yang pertama dia lihat. “Iya bang” Merasa bingung harus menjelaskan seperti apa kepada Farah, Syafiq menarik tas yang Farah bawa ditangannya. Kemudian menutupi bagian belakang tubuh Farah dengan tas itu. “Aku nggak rela darahmu dilihat oleh laki-laki lain” bisik Syafiq. ------ continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN