Bertahan di Kegelapan

1035 Kata
Cobalah kau rasakan air mata ini Sanggupkah kau temani  Setiap tetes setiaku... Aku bagai mendung yang setia  pada hujannya Akan selalu ada dan terus bertahan... Senyummu tak kan terganti. Armada - Jawab .  .  . "Silakan, Dokter Hazmi." Seorang perawat anestesi memintaku memulainya. Aku memejamkan mata sekali lagi. Kuhirup napas dalam-dalam, berusaha menyuplai deprivasi oksigen akibat kecemasanku yang hampir mencapai gelombang delta. Mataku menyipit lagi. Kusapukan pandangan ke sekeliling ruang operasi. Petugas medis biasa menggunakan istilah OK untuk menyebut ruang operasi. Kenangan buruk bercampur kecemasan berlebih, telah membuat otakku korosi. Jantungku mengalami palpitasi setiap kali memasuki ruangan ini. Ruangan yang menjadi tempat terakhir aku melihat Shinta. Inilah ruangan dengan cat putih terang, kadang mengunakan dinding porselen atau vinyil. Aromanya sama-menguarkan aroma kesakitan Shinta. Suhu ruangnya pun sama, sekitar 19-20°C. Ruang OK menggunakan sistem AC sentral yang diatur oleh alat kontrol HEPA filter, dengan menggunakan aliran LAMINAR FLOW. Sistem ini menjamin udara luar yang masuk bebas dari mikroorganisme kemudian tidak terjadi penimbunan gas-gas anestesi. Kelembaban udaranya sekitar 50%-60%. Begitulah, aku mengenal OK dengan sangat baik, karena ruangan ini adalah medan perangku. Kepalaku  mengangguk pelan. Mencoba menahan kegelisahan. Melawan rasa takut, juga mengusir mimpi buruk. Seharusnya bukan aku yang mengoperasi pasien ini. Kasus subdural hematoma akut adalah kasus berat yang lebih baik dilakukan oleh dokter ahli bedah saraf atau setidaknya konsulen bedah umum. Bukan aku yang hanyalah residen bedah, seseorang yang sedang belajar untuk menjadi dokter spesialis bedah. Namun, bagaimana mungkin aku membiarkan pasien dengan kondisi seperti ini begitu saja? Bukankah sudah menjadi tugasku untuk menyelamatkan mereka? Tidak, harusnya bukan aku. Tapi siapa lagi jika bukan aku? Batinku bergulat riuh. Sebenarnya masih ada satu cara, yakni dengan merujuk pasien ini ke rumah sakit yang lebih besar. Agar bisa ditangani oleh dokter yang kompeten di bidangnya. Akan tetapi, hujan lebat yang mengguyur sejak pagi tadi telah membuat jalanan tergenang banjir. Mengirim pasien ini ke rumah sakit di kota sama dengan mengantarnya ke pintu ajal. Pasien tidak akan selamat di perjalanan. Perdarahan yang hebat akan menekan jaringan otaknya. GCS yang terus menurun dalam rentang waktu yang singkat. Perjalanan itu hanya membuang waktu. Perjalanan akan sangat memperburuk kondisinya. Berkali-kali aku mencoba untuk menghubungi dokter bedah syaraf, namun sejak kemarin sore kolegium Perspebsi mengadakan pertemuan ilmiah tahunan di luar kota. Dokter bedah yang tidak mengikuti pertemuan pun kesusahan untuk datang ke rumah sakit ini. Kabarnya selain banjir, longsor juga terjadi di beberapa titik. Ya Tuhan. Kenapa semesta berkonspirasi untuk membunuh pria tua ini? Kenapa harus menyudutkanku dalam ketidakberdayaan untuk menolak? "Mas, Mas Hazmi," panggil Dokter Ridho, residen bedah junior yang akan menjadi asistenku kali ini. Aku menggeleng dengan mata masih terpejam. Mengumpulkan kekuatan. Membulatkan tekad. Mengusir keraguan yang sering kali hadir di kepalaku pascakecelakaan. Aku harus mengosongkan pikiranku dari hal-hal yang tidak berhubungan dengan prosedur bedah yang akan kulakukan sekarang. Kembali kutatap lekat kepala pasien laki-laki tua yang sudah dicukur habis rambutnya. Tak ingin membuang waktu lagi. Aku mulai menggambar garis berbentuk huruf U yang lebar di regio temporalis sinistra. Perawat bedah memberikan baki stainlees yang berisi cairan povidone iodin dan kasa steril. Aku mengambil beberapa kasa yang sudah dibasahi cairan tersebut, dan mulai membersihkan area kepala pasien. Satu hal yang aku suka dari perawat rumah sakit ini, cekatan. "Scalpel," pintaku seraya menegadahkan tangan kanan. Keraguan yang terus bergelayut liar, membuat tanganku sedikit tremor. Aku mengeratkan genggaman. Mengusir getaran ragu yang mulai menyerang fisiologisku. Tangan yang sudah tenang membuatku mantap untuk mulai menyayat kulit pasien. Tidak boleh ada tindakan ragu-ragu lagi. All-out or nothing! Hatiku menguatkan. "Kamu siap, Ridho?" ujarku pelan pada Dokter Ridho yang berdiri di sampingku. Syukurlah ada dokter residen bedah lainnya yang bisa bertindak sebagai asistenku. Aku mulai mengiris kulit kepala pasien dengan hati-hati. Tidak terlalu banyak darah yang keluar. Dokter Ridho melakukan suction, menyedot darah yang merembes di kulit kepala pasien. Dengan teliti kupasang penjepit kecil di sepanjang tepi kulit kepala pasien yang terbuka, lalu menariknya. Pelan-pelan aku menyayat otot kepala hingga bagian tengkorak terlihat. Kulirik jam di atas pintu ruang operasi. Satu jam lebih. Oh tidak, aku terlalu banyak membuang waktu. "Bagaimana tanda vital pasien?" tanyaku pada perawat. "Stabil, Dok, tapi tekanan darah turun ke angka 100." Tekanan darah yang turun-meski dalam batas normal-saat operasi berlangsung, merupakan indikasi vital sign yang artinya kondisi pasien tidak stabil karena terjadi banyak pendarahan. Aku menghela napas dalam. Mengumpulkan fokusku sebelum meneruskan pekerjaan ini. Tanganku sempat berkedut. Semoga tak terjadi lagi. Semoga mimpi buruk itu tidak datang lagi. Aku mulai mengebor tengkorak pasien, membuat empat lubang yang bila dihubungkan membentuk persegi panjang. Dokter Ridho menyiram dan menyedot serpihan halus tulang yang mencuat keluar lubang. Berhentilah, Hazmi. Bagaimana kamu bisa mengoperasi Shinta, sementara kondisimu sendiri terluka parah? Bentakan suara abangku enam bulan yang lalu, kembali terdengar. Selalu seperti ini. Setiap kali kulakukan operasi besar, selalu saja mimpi buruk itu menghantui. Kulihat lubang-lubang tadi kini telah menjadi potongan besar tulang tengkorak. Aku sudah mengerjakan bagian ini dengan baik. Kuangkat potongan tulang persegi panjang itu, terlihat lapisan duramater yang menonjol. Setelah lapisan ini, aku akan menemukan apa yang aku cari. Kubilang berhenti! Shinta tak akan tertolong jika kamu keras kepala. Aku mengerutkan kening, suara itu kembali mengoyakkan kekuatan yang baru kusatukan. Ketika duramater telah kusingkap, bongkahan besar darah kental yang berbentuk seperti agar-agar menutupi jaringan otak pasien. Aku harus mengeluarkan agar-agar berwarna merah gelap itu agar bisa melihat pembuluh darah yang pecah. Itulah penyebab utama kondisi pasien seperti ini. Dasar bodoh. Obati lukamu sendiri, sebelum kamu berpikir untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Pinset di tanganku terjatuh, beberapa perawat terjingkat. Seorang perawat segera menyodorkan kembali pinset baru. Shinta sudah mati, Hazmi. Astagfirullah. Suara-suara itu cukup hebat mengguncang batinku. Terlebih operasi ini permasalahannya tidak sesederhana perkiraanku. Sedikit saja jaringan otak terkena saat suction atau saat menutup, maka pembuluh darahnya akan pecah. Persetan dengan suara-suara biadab itu. Aku akan menyelamatkan pria tua ini. Aku tak akan membiarkannya. Aku pasti membuat pasien ini kembali membuka mata. Aku akan berusaha hingga akhir seperti apa yang aku lakukan terhadap ... Shinta. *** Catatan kaki: ~Gcs = glassow coma scale, skala kesadaran. ~Parietalis sinistra = bagian kepala sebelah kiri. ~Scalpel = pisau bedah ~Palpitasi= deg-degan ~Perspebsi= Perhimpunan spesialis bedah saraf indonesia ~PPDS= kepanjangan dari 'Program Pendidikan Dokter Spesialis' dulu disebut masa residensi, di luar negeri peserta PPDS disebut dokter residen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN