Ardian tentu saja senang. Ardian langsung punya ide mengajak Ghania menuju tempat dimana dia bisa leluasa menyalurkan hasratnya.
“Eh mau kemana kita?" tanya Ghania saat Ardian menggandeng tangannya naik lewat lift. Ghania tahu mall telah lewat, tapi dia tidak tahu ruangan yang akan dituju oleh suaminya.
Mall itu jadi satu dengan hotel. Sebuah hotel bintang lima megah bisa mereka tempuh hanya dengan menaiki lift.
“Hotel?”
“Ya,” ucap Ardian. Bahkan Ardian merupakan pengunjung VIP, dia bebas memilih kamar VIP yang mana tanpa perlu mengeluarkan uang.
“Kok bisa?”
“Tentu.”
Ghania terkadang lupa suaminya orang berkuasa. “Oh iya masa CEO Wijaya Grup dibandingkan sama Ghania, orang dari kampung yang hidup dari sampah.”
Ghania bicara sendiri lalu menepuk jidatnya sendiri. Dia memang besar dari nafkah seorang ayah yang mengais barang bekas, lalu menjualnya demi kehidupan mereka. Sangat jauh perbandingannya dengan keluarga Ardian yang sekelas sultan. Namun, selama bersama Ghania, kehidupan Ardian berbeda dia selalu mengikuti tren Ghania. Agar bisa menyeimbangkan, itu sebabnya Ghania jadi luluh. Seperti ketika jaman pacaran terkadang diajak makan bakso di kedai dekat kosan Ghania. Makan nasi goreng di kedai pinggir jalan seberang kantor Surabaya, kelasnya para office boy dan karyawan biasa. Meskipun begitu Ghania makan di restoran mewah juga tidak minder. Hal yang biasa, sebab teman kuliahnya dulu juga orang-orang berada. Kalau kerja juga sering makan di restoran mewah dengan klien.
“Hai, malah melamun.” Ardian mengayunkan telapak tangan ke kiri dan kanan di depan muka istrinya.
Rupanya pintu kamar telah terbuka. Ghania pun masuk. Setelah kamar tertutup…
“Huuaaa … mau apa?” pekik Ghania kaget. Karena Ardian langsung menggendong tanpa aba-aba. Melihat mimik muka lucu istrinya langsung dia serbu dengan gemas.
Setelahnya mereka saling membalas satu sama lain. Ardian yang lebih pro juga melakukan foreplay dengan baik.
“Sayang, yang tadi malam saja belum sembuh,” ucap Ghania ketika punya Ardian sudah siap.
“Pelan-pelan saja, Darling. Please, layani suamimu, karena itu akan jadi ladang pahala untukmu,” lirihnya.
Penyatuan pun kembali terjadi. Kali ini Ghania sudah lumayan bisa mengimbangi suaminya. Mereka berdua sama-sama bermandikan peluh.
Mereka bermain hingga lupa waktu.
“Mas, apa kita tidak pulang?” tanya Ghania setelah permainan usai.
“Pulang, Sayang.”
“Sudah jam 11 malam,” Ghania mengingatkan.
Sebenarnya kalau di suruh memilih Ghania lebih suka menginap di sini dan tidak pulang. Dia tidak mau bertemu mertua dan iparnya.
Ardian tampak menghubungi seseorang lewat telepon genggamnya. Dia meminta asistennya mengirimkan supir untuknya pulang. Karena posisi sudah mengantuk berat sehingga tidak mungkin untuk menyetir.
“Apa kita menginap di sini saja?”
“Kita pulang, Sayang. Sebentar lagi supir akan ke sini. Kita siap-siap.
Ghania tidak berani membantah. Dia memilih mandi dulu. Sedang Ardian hanya mencuci bagiannya yang kotor saja. Mereka pun memakai kembali baju yang berserak di lantai. Sebenarnya Ghania risih, karena dia tidak terbiasa memakai baju kotor. Wajahnya terlihat tidak suka memungut pakaiannya.
“Padahal tadi kita ke mall, kenapa tidak beli baju sekalian tadi,” ucap Ardian.
“Lha Mas Ardian juga ngga bilang kalau punya plan ke kamar ini,” gerutu Ghania. Padahal dia kira mereka cuma mau jalan-jalan sebentar tidak sampai larut malam. Sehingga dia yang awalnya ingin beli baju jadi ragu, khawatir sampai rumah sore dan masih ada mertua CS. Karena sudah pasti akan menimbulkan keributan.
Ardian tersenyum. “Tadi kan dadakan, sudah diujung tanduk melihat kemesraan dua sejoli di film bioskop tadi.”
Biasanya melihat film biru saja tidak tertarik untuk main. Ini karena nontonnya dengan Ghania. Punya Ghania selalu membuat Ardian ketagihan. Ingin lagi dan lagi, karena dia sendiri yang membuka segelnya. Masih sangat fresh dan baru tentunya.
***
Pagi harinya mereka bangun lebih pagi dan siap beraktivitas.Tidur mereka cukup berkualitas karena sudah olahraga menjelang tidur. Sampai rumah hanya pindah kamar.
Ghania disambut sangat baik di kantor. Ghania bukan orang asing bagi para pegawai. Dia sudah sering ke kantor pusat jauh sebelum kenal Ardian secara pribadi. Mereka juga tahu prestasi Ghania, sehingga tidak ada yang iri dengan jabatannya saat ini. Menggantikan Pak Ridwan yang telah purna tugas. Meskipun begitu tetap ada perkenalkan di forum resmi.
“Mohon bimbingannya, semua. Terima kasih,” ucap Ghania ramah mengakhiri pidato perkenalannya. Dia memang sudah masuk beberapa hari di kantor Jakarta, kemarin-kemarin baru perkenalan biasa belum formal. Karena tanggal efektifnya pindah kantor dan menduduki jabatan baru adalah per hari ini.
Tepuk tangan riuh membahana memenuhi seluruh ruangan kedap suara tersebut. Bukan malu bekerja satu kantor dengan istri, tetapi Ardian terlihat bangga. Wanita pintar dan cantik, itu yang selalu dibanggakan Ardian. Sedangkan bagi para pegawai tentu karena Ghania rendah hati terhadap semua orang. Bahkan pengaruh Ghania juga sudah membawa banyak kebijakan baru yang diambil Ardian. Sehingga kesejahteraan pegawai terpenuhi.
Ghania juga menandatangani kontrak kerja baru dengan kepala HRD. Mereka tetap profesional, meskipun dia istri pemilik perusahaan. Sebenarnya itu sama juga miliknya, milik suami adalah milik istri. Bahkan jika dia hanya di rumah, tentu Ardian tidak keberatan. Justru itu keinginan Ardian. Namun, dia tidak mau hanya menumpang hidup. Karena sudah pasti tidak enak, dia tetap bekerja saja masih susah dapat restu. Apalagi jikalau dia hanya berpangku tangan. Dia masih harus menghidupi ibunya juga di kampung. Sedangkan ayahnya kini juga sudah tidak ada. Tidak mungkin jika butuh uang harus minta Ardian. Apalagi setelah tahu sifat mertua dan para iparnya.
“Wow.”
“Ada apa Ibu Ghania, apa ada yang salah?” tanya Kristin, kepala HRD.
“Oh tidak, hanya saya kaget dengan nominal gaji yang akan saya terima,” ucap Ghania.
Karena Kristin juga memegang salinan kontrak dia pun melihat kertas di depannya, di bagian salary. “Apa ini kurang, Bu Ghania. Jika iya nanti saya sampaikan bapak?”
“Oh no, justru ini banyak sekali. Apa karena saya istri CEO?” tanya Ghania.
Kristin tersenyum.
“Bukan Bu, pemegang jabatan ini memang sekian salary-nya. Murni SOP Perusahaan tidak ditambah atau dikurangi.”
Gaji berdasarkan jabatan, grade dan UMR setempat. Sedangkan grade Ghania memang sudah tinggi di Surabaya. Grade tidak akan turun, selama pegawai terus berkembang, bukan menurun kinerjanya.
“Baguslah, lakukan secara profesional, meskipun saya istri Pak Ardian.” Ghania berkata sembari menandatangani surat kontrak kerja.
“Siap Bu,” ucap Kristin patuh. Dia salut sama Ghania yang tidak aji mumpung.
Ghania bekerja di ruangan yang ada di lantai enam. Sedangkan Darel di lantai sembilan. Jarak mereka sangat jauh, harus melalui lift tentunya untuk bertemu suami. Selama kerja dia tidak akan bertemu suami selain urusan pekerjaan. Mereka punya job desk masing-masing.
***
Ghania pulang kerja tidak bareng dengan suami. Karena suami masih ada pertemuan den
ra pemangku jabatan tinggi. Selevel direksi dan direktur.
Ini adalah sasaran empuk mertua dan iparnya. Meskipun tidak ada yang menyambut dia tetap salam dulu sebelum masuk. Sudah kebiasaan saat tinggal di kampung bersama ayah dan ibunya.
“Assalamulaik …,”
“Aaaw …!”
Bersambung