Bab 7. Kekhawatiran Lili

1021 Kata
Ghania tersenyum kecut. “Terserah mama saja, toh saya di sini juga Mas Ardian yang bawa. Saya di sini juga demi Mas Ardian suami saya. Meskipun saya miskin, suami saya juga jatuh cintanya sama saya bukan perempuan lain. Jadi tolong jangan terlalu membenci saya, karena saya tidak akan terpengaruh. Justru dengan membenci saya, Anda lama-lama bisa sakit lho.” “Kurang ajar ya, Kamu!” Rina semakin geram, tapi percuma. Setelah mengucapkan kata-kata yang menohok Ghania pergi meninggalkan laundry room. Alih-alih meladeni mertuanya Ghania memilih menemui pelayannya. “Bi kalau sudah selesai muter mesinnya, tolong dijemurkan, ya,” pinta Ghania pada pelayan. “Baik, Nyonya.” “Terima kasih,” ucap Ghania sembari pergi menemui suaminya. Rina sudah tidak ada celah lagi, jika Ghania sudah bersama putranya. Dia sudah sangat geram. Tidak terima dengan apa yang telah dilakukan Ghania. Sama sekali diluar dugaan, sebelumnya dia mengira Ghania perempuan lemah, seperti kebanyakan orang miskin. Rupanya dia sangat berani, bahkan termasuk sama dirinya yang orang tua. Meskipun sebenarnya Ghania anak baik, tidak pernah bersikap kurang ajar. Dia selalu sopan kepada siapapun yang tentu menghargainya. Kepada pelayan saja dia selalu baik. Apalagi kepada orang yang lebih tua. *** "Sandra sesegera mungkin harus bertindak," lirih Rina sembari mendengus kesal. [Sekarang juga kamu ke rumah tante, mumpung Ardian libur. Kamu harus segera mengambil hati Ardian.] [Oke, camer. Siap on the way.] balas Sandra. "Huffh, untung saja tadi sudah mandi pagi. Meskipun gegara mimpi basah, sih." Sandra kemudian terkekeh sendiri. Dia langsung berangkat saat itu juga. "Mama, kenapa asik main handphone, sih. WA siapa memangnya?" tanya Ardian. "Rahasia, dong." "Sudah buruan makan, Ma. keburu dingin nggak enak," ucap Ardian. Setelah mereka selesai makan Sandra sudah sampai di rumahnya. "Halo semuanya. Pagi Tante, pagi Ardian," sapa Sandra Riang. Ghania langsung ilfill. Sebab dari awal dia sudah tahu mama mertuanya yang sudah merencanakan semua ini. Sandra ini sudah dihadirkan untuk menggoda suaminya. 'Tenang saja, pasti aku tidak boleh lemah. Rumah tangga kami tidak akan goyah,' ucapnya dalam hati. Tidak lama kemudian Lili juga datang. "Wah ramainya, rupanya kamu ada di sini juga, Sandra?" Lili hanya berpura-pura yang sebenarnya mereka memang sudah janjian untuk datang. "Iya Kak Lili. Baru saja aku, tiba." "Ardian kamu sudah makan, ya. Padahal aku sudah bawakan menu sarapan, lho ini." Sandra mengeluarkan isi makanan ke atas meja, dari paper bag yang dia tenteng. Ardian melirik Ghania, dia seperti tahu kalau istrinya ini kurang suka dengan Sandra. "Sandra makasih lho, tapi lain kali kamu tidak usah repot-repot membawakan makanan untuk kami. Tidak perlu sok akrab begitu," tegur Ardian. "Jaga ucapan kamu, Ardian. Sandra ini anaknya teman mama, yang sangat baik selama ini kepada mama." Setelah berkata begitu dia mengajak Ghania pergi dari sana. “Ayuk Sayang, kita keluar saja mencari udara segar.” Hati Ghania seperti kembali tersiram air. Ces, seger banget. Wajah yang tadi mendung seperti hendak memuntahkan petir, kini berseri kembali. Sebenarnya hari ini mereka akan menghabiskan waktu berdua di rumah karena besok sudah kembali bekerja, tetapi ternyata bosan juga ditambah ada huru hara. Setelah ganti baju dan Ghania juga mengambil tasnya mereka pergi berdua tanpa supir. “Sial, gagal lagi!” umpat Lili. “Gagal apanya, kita belum mulai kok. Tenang masih banyak hari,” ucap Rina. “Lain kali kamu harus bisa menggoda Ardian sampai jatuh cinta, itu pun kalau kamu masih minat jadi bagian dari keluarga kami. Kalau tidak siap-siap saja kita bisa dengan mudah mencari penggantimu,” ucap Lili tajam. Setelah mengetahui sosok Ardian. Bahkan melihat sendiri cowok tampan, tajir dan dingin itu, rupanya bucin kalau sudah jatuh cinta. Membuat Sandra tidak akan melepaskan begitu saja. 'Cepat atau lambat, Ardian harus ada dalam genggamanku!' “Siap Kak, tenang saja. Serahkan sama Sandra.” Wanita itu berkata dengan sangat yakin. “Kalau kelamaan keburu Ghania semakin lengket dengan Ardian.” Lili begitu khawatir adiknya itu akan selamanya beristrikan perempuan miskin itu. Apalagi Ardian memang sangat mencintai Ghania. “Kamu tenang saja, Li. Biar saja diobok-obok dulu sama Ardian sampai sobek sekalian. Biar setelah cerai ngga laku,” jawab Rina sambil mengiris cake dari Sandra. Sandra tidak cemburu mendengar kata Rina. Meskipun dia akan dapat bekas. Karena dia sendiri sudah ahlinya di bidang tersebut. Dia hanya mau memiliki cinta dan harta anaknya Rina saja. “Mama ini, kalau dia keburu hamil gimana?” tukas Lili. Membuat mamanya yang sedang mengunyah tersedak. Sandra gegas memberikan minum ke Rina, yang dianggapnya calon mertua. Sandra sendiri jadi khawatir jika yang disampaikan Lili ini terjadi. ‘Amit-amit,’ batinnya. “Ya jangan sampai dong,” jawab Rina setelah reda batuknya. *** Ardian dan Ghania jalan-jalan ke mall. Mereka juga nonton film di bioskop atas permintaan Ghania, demi istrinya Ardian menuruti. “Makasih Sayang, kamu baik banget.” Senyum Ghania terus merekah. “Hmmm,” gumam Ardian. Meskipun Ardian tidak begitu suka nonton film, apalagi selera mereka juga sudah pasti beda. Namun, ditengah perjalanan, film romance barat itu sepertinya membuat Ardian terpengaruh. Dia menggenggam jemari tangan Ghania dan kemudian hendak melakukan kissing, tapi Ghania menolak. “Sayang, nanti di rumah ya,” bisiknya. “Pengennya sekarang masa nunggu sampai di rumah.” Ardian menggerutu. “Lagian juga gelap tidak ada yang lihat. Mereka juga fokus nonton film.” “Ada CCTV-nya dengan kamera infrared lho, Sayang. Bisa-bisa nanti viral,” ucap Ghania. Ardian tidak tahu hal semacam itu. Terakhir nonton jaman SMA dengan teman satu geng. Sedangkan kuliah hingga kerja dia sudah sangat sibuk dengan ilmu dan tugas yang berat. Karena dia pewaris satu-satunya keluarga Wijaya. Apalagi setelah papanya tiada. “Terlihat juga ngga apa-apa, kita kan pasangan halal. Orang pacaran mau m***m juga hal yang biasa.” Ardian masih tak mau kalah. “Sstt, Sayang. Jangan keras-keras,” lirih Ghania. “Woi jangan berisik woy,” teriak sekelilingnya yang merasa terganggu, karena film sedang romantis-romantisnya mereka tentu sangat menghayati dan larut dalam suasana. Beberapa melemparkan popcorn ke arahnya. “Ya sudah. Yuk kita keluar saja,” ajak Ghania, mau nonton juga sudah tidak mood. Ardian pasti juga tidak betah dan ngrecoki lagi. Ardian tentu saja senang. Ardian langsung punya ide mengajak Ghania menuju tempat dimana dia bisa leluasa menyalurkan hasratnya. “Eh, mau kemana kita?” Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN