“Mas bangun, mau kerja ngga?”
“Hmmm, jam berapa ini,” ucap Ardian setengah sadar.
“Pukul delapan lebih, Mas.” Ghania menjawab masih dengan nada panik. Apalagi dia hanya sebagai bawahan Ardian di kantor. Dia tidak mau kesiangan di kantor barunya di Jakarta. Dia tidak mau mereka yang ada di kantor, menyangka aji mumpung mentang-mentang istri CEO. Meskipun itu sah saja, tapi dia ingin bersikap profesional dan memberikan image yang baik di awal dia kerja.
Ardian menatap jam di atas nakas. Dia membuka matanya lebar-lebar, tapi setelah dia sadar sesuatu dia menepuk jidatnya.
“Astaga. Ghania!”
“Ya, Mas. Sudah buruan bangun, yuk.”
“Kita ini masih libur, besok baru kita masuk kerja.”
Ghania mengingat-ingat sesuatu. “Benar juga. Aku terbiasa berangkat pagi di hari Senin.”
Sedangkan hari Senin ini tanggal merah. Namun, Ghania tidak menyadarinya.
“Bu Manajernya yang teladan ini mengagetkan saja.” Ardian membercandai istrinya sambil memeluk kembali wanitanya.
“Ih sudah mandi sana!” dorong Ghania.
“Tidak barengan saja?” goda Ardian.
Ghania menggeleng. “Nanti tidak jadi mandi dong, ini saja masih sakit.”
Ardian tersenyum melihat mimik lucu istrinya. Dia bisa maklum karena ini yang pertama untuk Ghania. Sedangkan Ghania juga berkata jujur tidak mengada-ada. Memang masih perih di dalam sana, di area sensitif dibalik pangkal pahanya.
“Aku mandi duluan ya, Sayang.”
“Iya sana, bau. Sejak pulang juga belum mandi kan?” ucap Ghania.
“Belum mandi juga mau,” godanya Ardian.
“Terpaksa.”
“Mana ada, tapi enak kan?”
“Eh kata siapa?” Ghania mencoba mengelak. Meski wajahnya yang sudah merah jambu, tidak bisa berbohong.
“Buktinya menggelinjang, mendesah keenakan,” seloroh Ardian.
“Ih udah ah sana, mandi. Bau.” Ghania mendorong Ardian. Sedangkan Ardian hanya tertawa cekikikan. Ardian akhirnya mandi terlebih dulu.
Sementara Ardian mandi, Ghania membereskan tempat tidurnya. Tak lupa mengganti sprei dengan yang baru. Sambil turun ke bawah dia berencana akan mencuci sendiri sprei tersebut. Dia juga menyiapkan baju untuk ganti sangat suami.
Setelah itu dia mandi dan mereka akan turun bersama.
“Sayang, kenapa kamu bawa-bawa sprei dan baju kotor segala?” tanya Ardian. “Sudah biar di bersihkan para asisten rumah tangga.”
Ghania tersenyum. “Tidak apa-apa, malu saja ada nodanya.”
Ardian menatap heran. “Wajar dong kan pengantin Baru.”
“Sudah, tidak apa-apa. Kali ini saja, tolong biarkan aku yang mencuci. Toh pakai mesin bukan pakai tangan. Tanganku masih akan tetap halus.”
“Oh, iya dong harus gitu, kalau kasar tangannya punyaku bisa terluka besok,” seloroh Ardian.
“Apaan sih ngga jelas banget.”
Mereka pun turun, Ghania sambil menenteng keranjang berisi kain kotor di tangannya. Baginya mencuci hal biasa apalagi sebelum jadi pegawai, dia dulu mencuci bukan hanya dengan tangan tapi dengan tangan masih harus jalan jauh ke sungai. Setelah jadi pegawai baru bisa pakai yang namanya mesin cuci. Sedangkan di rumah Ardian dia diratukan dan baru kali ini mencuci.
***
Rina dan putrinya menatap mereka berdua sinis. Dia tidak berani berkata buruk di depan Ardian. Kalau Ardian ngamuk melebihi kekuatan petir, dahsyat energinya. Dia hanya bisa menyindir.
“Mentang-mentang pengantin baru, bangunnya siang,” tukasnya.
“Iya dong,” jawab Ghania dan Ardian bersamaan. Lalu mereka saling tatap karena merasa bisa kompak, kemudian tersenyum. Manis sekali. Pasangan romantis yang membuat semua yang tak suka akan iri.
“Aku bawa ini dulu ke belakang ya, Sayang.”
Berhubung Ghania sibuk si bibi yang membuatkan minum untuk Ardian. Secangkir kopi panas yang masih mengepul asapnya terhidang di meja.
“Sekalian untuk nyonya, ya!” ucap Ardian. “Dia kalau pagi biasanya teh hangat aroma melati.”
“Baik Tuan,” jawab bibi.
Melihat itu membuat Rina semakin muak. Dia akhirnya meninggalkan meja dan mengikuti menantunya, menuju laundry room.
“Nyonya biar saya saja,” pinta pelayan bagian bersih-bersih.
“Tidak apa-apa, Bik, lain kali saja, ya.” Ghania menolak sambil tersenyum.
Rina yang muncul di balik pintu segera menimpali. “Biarkan! Enak saja dia mau numpang enak-enak di rumah ini.”
Pelayan tersebut sendiko dawuh atas perintah nyonya besar dan langsung pergi meninggalkan laundry room.
Semua baju kotor sudah Ghania masukkan mesin. Sedangkan sprei kotornya, dia buka dan lihat bagian nodanya, kemudian dia kucek di bawah keran dulu sebelum dimasukkan mesin cuci. Tentu saja mertuanya lihat noda tersebut. Dia semakin tidak suka.
‘Rupanya mereka baru saja malam pertama, tahu gitu semalam aku ganggu,’ batin Rina. ‘... tapi biar sajalah, toh malah bagus. Saat mereka berpisah dia sudah benar-benar jadi janda bolong. Biar tahu rasa dan tidak laku sekalian. Sudah janda miskin lagi.’
Rina tertawa dalam hati dengan pikiran yang dia buat sendiri. Sedang Ghania tetap fokus nyuci.
“Harusnya kamu tidak usah pakai mesin cuci, orang miskin saja belagu. Tiap hari juga harusnya kamu cuci sendiri, mereka di sini kerja untuk kita. Bukan untuk kamu!” seru Rina.
Ghania menulikan pendengarannya, sama sekali tidak menghiraukan Rina. Setelah noda tidak terlihat dan sudah dibilas air dia masukkan ke dalam mesin cuci. Rina akhirnya mendekat.
“Heh denger ngga sih kamu, … atau budek!” Rina geram dan menjambak menantunya.
“Auw, sakit Ma …,” pekik Ghania.
“Sayang, ada apa?” tanya Ardian yang mendengar suara Ghania.
Rina panik dia pura-pura baik. Setengah berteriak dia menimpali. “Aduh Ghania, Sayang hati-hati dong. Ini Ghania hampir kepleset.”
Mendengar sudah ada mamanya, Ardian tidak jadi mendekat, dia merasa Ghania sudah aman ada yang menolong. Padahal mertuanya lah yang menyebabkan dia menjerit.
Setelah semua cucian masuk mesin dan mesin siap bekerja, Ghania hendak pergi dari sana. "Apa lagi sih, ini. Ada yang salah lagi, Ma?"
“Kamu jangan kurang ajar ya, Gembel. Sampah di tempat yang bersih tetap saja sampah!”
Ghania tetap diam. Dia ingin melihat sejauh mana nenek lampir di depannya ini emosi oleh tingkahnya.
“Jangan mentang-mentang Ardian selalu membelamu, perhatian dan peduli denganmu, lantas kamu bisa seenak sendiri!” cercanya lagi.
"Sampai kapanpun keberadaanmu tidak akan pernah bisa kami terima di sini. Paham!" Rina mendengus kesal.
Bersambung