21+
“Kalau begini, percuma saja nikah. Awas saja kamu, Ghania!”
Dia sudah sangat marah dan hendak memaki istrinya begitu sampai kamar. Langkahnya dia percepat, tangannya mengepal dan rahangnya mengeras.
Sampai di depan pintu tak mengetuknya terlebih dulu. Pintu didorongnya dengan kasar. Namun, setelah pintu terbuka rencana itu sirna. Begitu dia masuk satu langkah ke kamar, didapatinya sang istri telah sangat cantik memakai pakaian tembus pandang warna peach. Lekuk indah tubuhnya begitu perfect. Ghania gadis yang suka olahraga dan memperhatikan penampilan. Ditambah hari ini dia juga perawatan ke salon spesial untuk menyambut suaminya.
Dia hanya bisa memandangnya takjub.
“Wow, beautifull.” Ardian langsung mendekat.
“Sayang tutup dulu dong pintunya. Masa mau terbuka gitu, malu dong,” lirih Ghania.
Ardian patuh, ditutupnya pintu tersebut dan tak lupa menguncinya.
Ardian segera mengikis jarak dengan Ghania. Menyelami cukup lama telaga bening milik sang istri. Sedangkan wajah ayu itu hanya diam terpaku. Melihat kecantikan istrinya yang menyerupai bidadari membuat Ardian semakin terpesona.
Wajah ayunya membuat Ardian kembali gejolak, mengingat masa-masa dia jatuh cinta. Apalagi melihat lehernya yang jenjang dan tubuh seksinya. Membuat saliva Ardian terus berproduksi hingga susah payah di telan. Jakunnya terlihat naik turun.
Detik berikutnya bibir Ardian sudah bermain menyapu seluruh wajah istrinya dan berhenti lama di bibirnya. Memakan daging kenyal itu dengan rakus, memainkan lidahnya dengan lihai di rongga mulut sang istri. Sesekali menyesapnya kuat. Saat kedua bibir mereka saling tertaut, tangan Ardian juga meraba benda kenyal yang menggantung indah di d**a istrinya. Sesekali dia meremasnya dengan gemas.
Kemudian bibirnya kembali menyapu turun hingga ke ceruk leher jenjangnya, dibenamkannya wajah di area tersebut. Berbeda dengan Ardian yang sudah master, Ghania masih sangat sensitif. Tersentuh kulitnya saja sudah membuatnya menggelinjang, seperti cacing kepanasan. Lenguhan kecilnya mulai terdengar hingga membuat Ardian semakin membara. Tangan Ardian mulai menyusup ke area inti milik istri, meraba pelan meski masih terhalang kain tipis yang menutupi, memainkannya beberapa detik.
Ardian adalah pria pertama yang menyentuhnya. Ghania hanya bisa melenguh nikmat dengan sentuhan Ardian. Hal tersebut membuat hasrat sang suami semakin meninggi. Bagian bawah sana juga sudah mulai membengkak.
Ardian mendorong tubuh Ghania hingga ke ranjang berukuran king size tersebut, dengan tanpa melepas bibirnya yang masih menyatu. Entah kenapa bagi Ardian bibir Ghania ini terasa berbeda, sangat manis.
Setelah sang istri terbaring Ardian mulai menjelajahi setiap inchi tubuh wanita halalnya. Baju tembus pandang sang istri, benar-benar sudah menggoda gairahnya dengan luar biasa. Ardian sesekali memakannya rakus, membuat pemilik tubuh semakin tak berdaya.
“Sekarang ya,” ucap Ardian yang dirasa punya istrinya juga telah siap menerima. Sudah sangat basah.
Ghania mengangguk.
“Mas.” Ghania memanggil, membuat Ardian menegang menahan emosi. Dia berpikir Ghania akan berkata untuk mencari alasan lagi, seperti waktu itu yang membuat semuanya gagal.
“Kenapa?” tanya Ardian. Dia sudah berpikir jika ini sampai gagal lagi, maka dia akan mencari wanita lain di luaran sana. Beli saja bisa, gratis juga banyak yang mau, pikirnya. Dia sudah cukup lama menahan diri selama ini.
“Pelan-pelan ya, soalnya ini yang pertama untuk aku,” lirih Ghania.
Ardian mengangguk. Meskipun sebenarnya dia agak ragu. Dari dulu istrinya selalu berucap seperti ini. Memang dia belum pernah menyentuhnya, tapi masa ada jaman sekarang seorang perempuan modern bisa menjaga kesuciannya. Apalagi Ghania tinggal di kota besar, meskipun dari kampung, tapi dia sangat modern dan mengikuti perubahan. Bukan gadis kuper, tapi demi cintanya maka Ardian menurut untuk tidak menyentuhnya sebelum menikah.
Sesuai request sang istri dia pun menekan pelan setahap demi setahap. Hingga benda kokoh itu berhasil masuk meski harus dengan susah payah. Ardian merasa heran, karena memang baru kali ini dia merasa kesusahan untuk memasukkan burung ke sangkarnya. Biasanya sekali tancap sudah masuk los begitu saja, tanpa ada drama.
“Achh, auw,” pekik Ghania. Dia merasa teramat sakit.
Ardian menatap wajah istrinya bingung.
‘Apalagi ini,’ pikir Ardian.
“Sakit Mas.” Air mata Ghania pun lolos tanpa dikomando.
Ardian jadi tidak tega. Padahal dia merasa ini belum semua baru juga sampai di tengah-tengahnya.
“Darling, ini sudah pelan-pelan. Tahan sebentar, nanti enak kalau sudah terbiasa,” ucap Ardian.
Melihat air mata sang istri membuatnya iba, tidak mungkin dia pura-pura. Karena dia pun merasa sangat sempit. Akhirnya Ardian hanya bermain sampai di situ saja. Tidak berani sampai ujung.
Kemudian dia melakukan kembali foreplay, agar wanitanya ini tidak begitu kesakitan. Setelah tangisnya mereda. Dia mencoba menggerakkan perlahan. Meskipun istrinya sesekali meringis kesakitan. Bibirnya tidak dia lepas, kini malah dia gunakan untuk menutup mulutnya
Tidak lama muncul desahan kecil dari bibir mungil wanitanya. Melihat hal tersebut dia jadi merasa kalau Ghania sudah mulai nyaman dengan kedatangan senjatanya. Dia pun masuk lagi sesenti demi sesenti meter. Hingga terbenam semua. Karena terasa sempit dan menggigit, membuatnya merasa sampai puncak lebih cepat daripada biasanya.
Ghania seperti kesakitan lagi, meskipun kesakitan itu seimbang dengan nikmat. Ardian pun akhirnya berhenti bergerak. Bahkan untuk mengeluarkan saja dia takut, akan menambah sakit istrinya. Setelah dirasa mulai menyusut ukurannya dia pun berani mengeluarkan.
Ardian merasa sangat puas. Baru kali ini hasratnya terpuaskan secara maksimal. Meskipun banyak dramanya, tapi dia bahagia. Melebihi menang tender dari mega proyek. Dia jadi yakin kalau memang Ghania ini masih virgin. Ada bercak darah yang menetes juga di sprei tepat di bawah pangkal paha istrinya. Dia tersenyum puas melihat noda tersebut.
‘Pantas dia kesakitan, karena sampai berdarah,’ ucap Ardian dalam hati.
Tentu sangat berbeda, tidak seperti waktu dengan wanita lain yang pernah dia gauli. Ezar berkata dalam hati. Dia jadi merasa bersalah karena telah meragukan Ghania. Ardian mengambil alih tempat kosong di samping Ghania, membaringkan tubuhnya di sana. Merengkuh kepala wanitanya dan dibawanya ke d**a bidangnya.
“Thanks, Baby,” ucap Ardian. Dikecupnya puncak kepala wanita itu. Ghania terharu mendengar seorang Ardian mau berterima kasih. Matanya tiba-tiba berkabut. Karena sejak mengenal bos besarnya yang kini menjadi suaminya itu, jarang sekali dia mengucapkan terima kasih kalau bukan karena hal yang besar.
Ghania hanya mendongak dan menjawabnya dengan senyuman manis. Sudah sewajarnya dia melayani suami.
Ghania kini sudah yang menjadi istri Ardian, secara lahir dan batin. Keduanya hanyut dalam pikiran dan perasaan masing-masing. Lambat laun mereka terlelap dengan sendirinya. Hanya selimut yang menutupi tubuh polos mereka berdua. Sedangkan pakaiannya sudah berserakan di mana-mana.
***
Mereka baru bangun saat sinar hangat mentari pagi menerpa tubuh telanjangnya. Sedangkan selimut sudah tidak tahu dimana. Ghania panik karena kesiangan dia menggoyangkan tubuh Ardian.
“Mas bangun, mau kerja ngga?”
Bersambung