Bab 4. Mempercantik Diri

1096 Kata
Ghania dan Ardian pulang saat hari sudah gelap. Mereka telah lelah berkeliling kota. Meskipun di kota ini, tidak ada jalan yang selama ini tidak dilalui oleh seorang Ardian. Namun, pria tersebut juga tidak pernah keluar hanya sekedar untuk jalan-jalan santai. Pria workaholic itu hanya fokus tentang omset perusahaan. Dia juga tentu senang bisa menghabiskan waktu bersama Ghania. Pulangnya mereka membawa banyak baju dalam paper bag, yang telah mereka beli di mall. Ghania memang tidak bawa banyak baju, jadi dia merasa butuh itu. Tidak ketinggalan juga mereka membawa banyak makanan sebagai oleh-oleh. Sesampainya di rumah. Ghania langsung menempatkan makanan di wadah-wadah sesuai ukuran. Dia juga membagi untuk para pelayannya. Mereka tentu sangat senang. Saat Ardian ke atas untuk mandi. Rina langsung melihat Ghania dengan tatapan tidak suka. “Baru dua hari menikah dengan anakku, sudah langsung boros-boros. Apalagi setahun dua tahun. Dasar perempuan miskin! Norak! Mendengar ucapan mertuanya Ghania sempat shock beberapa detik. Lalu dia kembali bisa menguasai diri. Dia jadi menyadari mertuanya ini sempat tidak setuju dengan pernikahannya karena dia miskin. Selama ini Ezar hanya bilang orang tuanya tidak menyetujui karena dapat orang pelosok, sehingga jauh. Padahal jaman sekarang tidak ada istilah jauh. Dia bersikap acuh, bahkan mertuanya tidak mau memakannya meskipun sudah ditawari pun tidak membuatnya sakit hati. “Ya sudah kalau Mama tidak mau makan,” ucap Ghania dengan santainya. Reva sang adik ipar yang baru keluar dari kamarnya, langsung nyelonong mengambil makanannya. “Kamu kenapa malah ikutan makan, sih?” Rina terlihat kesal. “Emangnya kenapa tidak boleh, Ma? Enak kok,” ucapnya sembari menghidu aroma makanan yang masih panas itu. “Ini makanan kekinian lho.” Reva merasa cocok dan sehati dengan kakak iparnya, mengenai selera makanan. “Biar saja dimakan dia semua, jangan mau ikutan makan. Senang dong dia nanti, jadi merasa ada yang mendukung. Lihat belanjaan pakaiannya saja sebanyak itu,” seloroh Rina. “Ini bukan punya Ghania saja kok, punya Mas Ardian juga.” Kinara menimpali sembari makan camilan hangatnya. Reva melirik sebentar deretan paper bag yang ada di bawah, tapi kemudian dia tidak mau ikut mengusik. Karena itu akan membuat selera makannya hilang. “Mama salah.” “Salah apanya, kurang ajar kamu. Malah belain dia.” Rina geram dan tidak terima. “Jangan marah dulu dong, Ma. Maksud Reva, Mama ini salah kalau tidak ikut makan. Keenakan dia makanan enak-enak dia makan sendiri.” Reva bicara dengan nada sinis. Mulutnya penuh dengan makanan. Usia Reva tidak selisih jauh dengan Ghania hanya beberapa bulan saja. Ghania jadi tahu alasan Reva ikut makan. “Terserah!” Rina pergi dan masuk kamar dengan membantingnya. Ardian yang kebetulan juga selesai mandi akhirnya turun dan mendengar dentuman suara pintu. “Ada apa ribut-ribut?” tanya Ardian. Dia menatap adik dan istrinya tidak ada yang menjawab. “Kalian bertengkar?” “Tanya adikmu saja, aku mau beres-beres. Lelah.” Ghania beranjak dan membawa semua belanjaannya. “Re?” Panggil Ardian. “Heh, kamu tidak sopan banget ya. Kamu di sini itu cuma numpang. Kenapa malah bersikap tidak sopan!” pekik Reva. Ghania tidak menoleh sama sekali. Dia memilih cuek dan tidak meladeni. “Ditanya bukannya jawab malah teriak-teriak. Kamu juga tidak sopan sama Kakak iparmu. Ghania sekarang sudah menjadi Kakak untukmu, jadi hargai dia juga!” ucap Ardian. “Serah Kakak. Belain aja terus perempuan kampung itu.” Reva sudah tak selera meneruskan makannya. “Heh, Reva!” pekik Ardian. Namun, Reva tidak menggubris. “Argghhh!” Ardian mengerang kesal. Mereka semua membuat Ardian murka. Alih-alih masuk kamar, dia memilih menenangkan diri di minibar yang ada di rumahnya. Dia seperti tengah menyadari mamanya masih belum juga merestui Ghania sebagai istrinya. *** Ardian dan Ghania belum melakukan hubungan suami istri semenjak mereka menikah. Mereka cukup lama menghabiskan waktu bersama paska menikah, tetapi dalam suasana berkabung. Sehingga hubungan suami istri itu tertunda. Belum lagi Ardian kemarin ke luar kota selama beberapa hari. Saat ini adalah momen untuk saling mengenal lebih intens. Karena mereka selama ini pacaran jarak jauh, Surabaya Jakarta. Hari ini Ghania pergi ke salon untuk mempercantik diri. Agar nanti malam bisa memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya, yang selama ini telah sabar menunggu. Ardian sedang ada acara keluar dengan teman-temannya, main golf biasanya. “Mau kemana kamu?” tanya Rina yang melihat Ghania sudah dandan dan menenteng tas. “Mau ke keluar sebentar, Mam,” jawab Ghania santai. Dia tidak berniat untuk menjabat tangan mertuanya itu. Karena selama ini dia sudah sopan ingin melakukannya, tapi ditolak dengan mengibaskan secara kasar. “Suami pergi, malah keluyuran. Dasar perempuan nggak bener ya, Kamu!” pekik Rina. Ghania menulikan telinga dan tetap pergi melewati mertuanya. “Heh … heh, tidak sopan Kamu!” Melihat sikap Ghania yang cuek, membuat Rina semakin geram. Sebenarnya Ghania tidak mau bersikap seperti ini, tetapi dia sadar jika semua yang dilakukannya dengan sang mertua selalu salah. Itu sebabnya dia memilih diam. Jawaban selembut apapun akan tetap menimbulkan masalah. Taksi pesanan Ghania juga sudah ada di depan rumah. Dia memang sengaja tidak memakai mobil dan sopir pribadi, karena pasti akan membuatnya tambah ribut dengan mertua. Ghania mendapatkan fasilitas mobil semenjak dia menjadi Manajer Area. Hanya saja dia memilih menguangkan fasilitas tersebut, untuk membangun kembali rumah orangtuanya di kampung. Sisanya dia simpan sebagai tabungan. Saat di Surabaya dia memilih kos di dekat kantor agar akses lebih mudah. Sedangkan untuk keperluan kantor sudah ada mobil kantor lengkap dengan supirnya. Tidak terasa Ghania telah sampai di salon yang dituju. Hari Minggu tentu saja ramai. Tentunya ini baru pertama kalinya dia ke salon di Jakarta, menemukan tempat ini juga dari hasil searching di sosmed. “Ada yang bisa kamu bantu, Kak?” “Saya mau perawatan, bisakah lihat katalog-nya?” “Oh tentu, Kak. Silakan.” Di pendaftaran dia menyampaikan keperluannya. Perawatan lengkap, termasuk juga untuk menyambut malam pertama dengan sang suami. Ghania tidak salah pilih, para karyawan salon menyambutnya dengan sangat baik, perawatan di sini pun lengkap semuanya ada. ‘Pantas Viral,’ batin Ghania. *** Ketika Ghania pulang beruntung mertuanya tidak ada. Kalau melihat Ghania pasti nenek lampir itu akan nyinyir. Ghania terkadang tidak habis pikir, masih ada orang yang melihat orang dari status sosialnya. Dia geleng-geleng sendiri. Tidak begitu lama terdengar gerbang dibuka. Ghania melihat dari jendela kamar, tampak di bawah sana mobil sang suami memasuki halaman. Sengaja dia tidak turun ke bawah seperti biasa, menyambutnya dan membuatkan minum. Dia berencana membuat surprise untuk suami tercinta. Ardian juga kesal melihat istrinya tidak menyambutnya. Malah para asisten rumah tangga yang menyambut kedatangannya. Sama seperti sebelum dia menikah. Dia merasa lahir dan batinnya tidak dipenuhi. “Kalau begini, percuma saja nikah. Awas saja kamu, Ghania!” Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN