Selama beberapa hari Ghania benar-benar diperlakukan dengan tidak baik oleh Rina dan kedua putrinya. Ada saja pekerjaan rumah yang harus dikerjakannya. Namun, meski begitu, Ghania memilih untuk tidak memberi tahu Ardian tentang semua itu. Ia tidak ingin malah membebani pikiran sang suami yang sedang banyak pekerjaan di sana. Meski begitu, Ghania merasa sangat beruntung karena Ardian memberi kabar jika besok, pria itu akan pulang tak seperti jadwal sebelumnya.
“Apa mungkin Mas Ardian bisa ngerasain apa yang aku rasain di sini, ya?” Ghania mengusap dahinya yang berkeringat. Entah sudah berapa banyak pekerjaan rumah yang dilakukannya, bahkan Rina sampai memberi cuti beberapa pelayan dan meminta menantunya yang melakukan semua pekerjaan rumah sendiri.
***
Keesokan paginya, tepat pukul 10 pagi, mobil yang dikendarai oleh Ardian sudah memasuki halaman rumah.
“Alhamdulillah, Mas Ardian sudah pulang.”
Gegas Ghania menyambut kedatangan suaminya. Rina langsung menatap tajam menantunya yang setengah berlari menuju pintu utama. Wanita paruh baya itu mencekal lengannya.
Ghania menoleh. “Ada apa, Mah?” tanya Ghania.
“Awas aja kalau kamu sampai berani mengadu ke Ardian.”
“Kenapa? Mama takut, ya?” Ghania seolah tidak takut. Wanita itu tersenyum seolah meledek hingga membuat Rina kesal.
“Kurang ajar kamu!”
Ghania pun hanya tertawa melihat emosi Rina. Sebenarnya, ia ingin sekali melawan dan mengabaikan perintah dari mertua. Namun, ia tak melakukannya dan dengan sabar mengerjakan semua pekerjaan rumah itu. Baginya, mertua sama seperti orang tua sendiri yang harus dihormatinya. Biarlah, meski Rina bersikap semena-mena padanya, setidaknya Ghania masih punya suami yang begitu mencintainya.
“Pagi, Semua,” sapa Ardian begitu memasuki ruang utama. Rina pun langsung melepas tangannya dari cekalan sang mertua.
“Lho sedang apa kalian?” tanya Ardian heran. Kening pria itu mengerut cukup dalam. Coba mencerna apa yang sedang terjadi antara istri dan ibunya.
“Enggak apa-apa kok. Ini kami cuma sedang mengobrol biasa saja.” Rina melirik Ghania seolah memberi kode untuk tetap diam. Namun, Ghania malah cengengesan. Merasa lucu dengan kelakuan mama mertuanya.
“Syukur kalau begitu.” Ardian meraih tangan sang ibu, mencium punggung tangan wanita paruh baya itu setelah Ghania melakukan itu terlebih dulu padanya.
“Mah, aku ke kamar dulu, ya.”
“Iya, ya udah kamu istirahat sana. Kamu pasti capek banget, kan?”
“Sini, Mas, aku aja yang bawa tas kerja kamu.” Ghania mengambil alih tas kerja Ardian dari tangan pria itu. Mereka pun melangkah bersama, meninggalkan Rina yang tampak kesal melihat sikap dari menantunya.
“Dasar wanita miskin! Emang paling pinter menjilat!” Rina berkacak pinggang. Menatap tajam kepergian putra dan menantunya yang kini sudah tak lagi terlihat oleh pandangannya. “Lihat aja! Sandra pasti lebih baik dari kamu! Tunggu sampai Ardian kepincut sama Sandra, kamu pasti akan menyesal Ghania!” Rina tersenyum menyeringai. Masih yakin jika ia pasti bisa membuat putranya meninggalkan Ghania.
***
Siang harinya, seorang wanita berperawakan tinggi dengan wajah ayu datang ke rumah tersebut. Senyumnya sangat manis, menampilkan sederet gigi putih yang rapi. Dress warna hijau muda dengan model halter neck bagian atasnya, membuat penampilannya tampak segar.
Rina memang belum tahu jika putranya akan pulang hari ini, padahal dia sudah menghubungi Sandra dari kemarin agar bisa datang sekarang. “Ah tidak apa-apalah, lebih cepat memperkenalkan ke Ardian bukannya lebih baik,” batin Rina yang tadinya ingin memperkenalkan Sandra pada Ghania terlebih dahulu untuk menjatuhkan mental menantunya itu.
“Kamu apa kabarnya cantik?” Rina langsung menyambut hangat wanita itu dan mencium pipi kanan dan kirinya. “Mamamu sehat?”
“Sehat, Tante. Tante sendiri gimana?”
“Tante makin sehat karena ngelihat kamu.”
“Ah, Tante bisa aja.”
Kedua pun saling melempar senyum. Rina tampak begitu bahagia dengan kedatangan Sandra ke rumahnya.
“Oh iya, ini ada oleh-oleh buat Tante,” ucap Sandra sambil memberikan bingkisan dalam tote bag.
“Wah, makasih, ya. Ini kesukaan Tante lho, kamu tahu banget sih. Emang ya selera orang kaya itu beda, enggak kaya menantu Tante yang miskin itu.” Rina berkata ketus saat mengungkit Ghania. Membuat Sandra tersenyum penuh kemenangan karena merasa apa yang dikatakan Rina memang benar.
Rina pun langsung mengajak Sandra ke meja makan karena memang datangnya tepat di jam makan siang sesuai permintaan Rina. Wanita paruh baya itu memperlakukan Sandra dengan istimewa sampai menarikkan kursi untuknya. Hal yang tentu tidak sudi ia lakukan untuk Ghania.
“Terima kasih, Tante.”
Ardian yang baru saja turun langsung duduk di posisi biasanya.
“Oh iya, kenalin ini Ardian, anak Tante,” ucap Rina memperkenalkan Ardian yang turun seorang diri tanpa Ghania. “Ardian, kenalin ini Casandra, anak teman arisan mama.”
Ardian yang tidak tahu maksud dan tujuan mamanya pun menanggapi itu dengan ramah. Pria itu tersenyum. Menjabat tangan Sandra dan saling berkenalan.
“Panggil saja aku, Sandra,” ucap perempuan berwajah cantik itu, senyumnya dibuat semanis mungkin. “Ganteng juga calon suamiku ini,” pikirnya dalam hati sampai tak berkedip menatap sosok Ardian.
Ghania yang baru saja turun, langsung mengarahkan tatapan matanya dengan begitu tajam. Ia seketika teringat akan foto wanita yang dilihatnya pada grup w******p.
“Ardian, tahu ngga Sandra ini foto model ternama lho. Cantik kan dia, pakaiannya juga modern, up to date,” ucap Rina memuji-muji Sandra tanpa memedulikan perasan Ghania yang baru saja duduk di sebelah Ardian.
Sandra memang sangat cantik. Tak hanya punya senyum manis, tubuh wanita itu bisa di bilang body goals. Terlebih saat ini, Sandra mengenakan dress yang membalut tubuh rampingnya hingga menunjukkan lekuk tubuh yang baik seperti biola Spanyol. Wanita itu tersenyum saat mendengar pujian dari Rina. “Ah, Tante ini berlebihan, biasa saja kok, Tan.”
“Oh, model. Maaf ya saya enggak tahu karena memang jarang ngikutin perkembangan soal dunia modeling.” Ardian menanggapi dengan santai.
“Santai saja Ardian, tapi kalau aku tahu tentang kamu dan perusahaanmu. Kamu itu hebat, selalu ada di peringkat atas dalam dunia bisnis,” jawab Sandra memuji Ardian.
“Oh tentu dong, siapa sih yang ngga kenal Wijaya Group? Apalagi Mas Ardian ini juga CEO-nya. Sudah tentu dong satu Indonesia juga tahu kali.” Ghania langsung ikut menimpali hingga membuat Rina sampai melirik tajam dan mencibirnya.
“Oh iya, Sandra, kenalin ini istri saya, Ghania.” Ardian memperkenalkan istrinya dan Sandra tetap berjabatan tangan dengan Ghania, meskipun menyunggingkan senyum terpaksa. “Ya udah ayo kita makan dulu, maklum nih saya udah lapar.” Ardian pun tersenyum ramah menawarkan.
Di depan Sandra, Ghania dan Ardian yang masih pengantin baru bersikap sangat romantis. Sesekali Ghania menyuapi makanan pada suaminya. “Enak nggak, Sayang?”
“Mantap, ini enak banget dong,” jawab Ardian sambil mengunyah makanan yang penuh di mulutnya.
“Kalian ini lebay deh! Pasti dong enak, namanya juga daging kualitas terbaik dan yang masak itu Bi Ros. Dia kan emang jago masak, udah punya sertifikat masak kelas restoran besar.” Rina menimpali. Kesal karena sikap Ardian dan Ghania yang seperti sengaja mesra di depan Sandra.
“Tapi ini beda, Mah.”
“Beda apanya?” tanya Rina jutek.
“Ini kan disuapin sama istri, rasanya jadi jauh lebih enak ….” Ardian kembali meminta Ghania menyuapinya lagi. Membuat Ghania sampai senyum-senyum dibuatnya. Namun, sedetik berikutnya, gantian Ardian yang menyuapi Ghania.
“Kalian ini! Sekarang kan lagi ada Sandra, tidak sopan seperti ini, udah kaya ABG saja! Sudah makan sendiri-sendiri!” perintah Rina terdengar ketus. Maksud hati ingin menjatuhkan mental sang menantu yang terjadi justru sebaliknya.
“Halo semua, sorry aku terlambat. Wah cake dari siapa ini?” tanya Lili yang baru saja datang.
“Siapa lagi kalau bukan dari Sandra.” Rina melirik Ghania masih menahan rasa kesal akan sikap Ardian dan Ghania di depan Sandra.
“Cocok ini mah sama lidah kita, tahu banget sih selera kira,” puji Lili.
“Ya iyalah, emangnya dari kampung yang ada hanya oleh-oleh dari ubi kayu.”
Mendengar perkataan Rina, mereka pun tertawa terbahak-bahak. Mendapatkan perlakukan seperti itu, raut wajah Ghania seketika berubah sendu. Namun, ia hanya bisa diam karena tak mungkin melampiaskan amarahnya di depan Ardian meski pria itu sudah tahu jika mamanya kini sedang menyindir istrinya.
“Kalian ini norak, kayak gini aja bisa Ardian belikan satu truk kontainer. Bila perlu pabrik dan tokonya juga bisa aku beli.” Ardian menyahut sewot.
Setelah berkata begitu dia mengajak Ghania pergi dari sana. “Ayuk, Sayang, kita keluar aja cari udara segar!”
Hati Ghania seperti kembali tersiram air. Wajah yang tadi mendung seperti hendak memuntahkan petir, kini berseri kembali dengan senyum yang merekah. Sementara itu, Sandra hanya menatap sinis kepergian keduanya.
“Lihat saja nanti, aku pasti akan merebut Ardian dari kamu Ghania. Sekarang nikmati saja kebersamaan kalian karena nanti aku akan membuat suamimu jadi tergila-gila padaku.” Sandra bermonolog sendiri dalam hati, lalu menampilkan seringai singkat yang terlihat begitu licik.
Bersambung