Dua minggu setelah pemakaman ayah Ghania. Ardian dan Ghania sudah kembali menjalani aktivitas di Jakarta. Mereka pun pulang dengan pesawat menuju ke Jakarta. Sesuai kesepakatan Ghania harus ikut dengan Ardian. Setelah menikah pekerjaan Ghania di Surabaya sudah di handle orang lain. Dia akan tetap bekerja di perusahaan Ardian yang di Jakarta. Menjabat sebagai General Manager Divisi Ekspor Impor. Kebetulan pegawai sebelumnya telah pensiun.
Sementara itu, Bu Wardani memilih untuk tetap tinggal Jawa Timur. Meski tinggal sendirian, beliau belum mau untuk ikut pindah bersama Ghania. Meskipun begitu Ghania tetap akan mencarikan rumah atau apartemen untuk ibunya. Ghania sudah memikirkannya, dia juga masih punya cukup banyak tabungan yang ia sisihkan dari hasil kerjanya selama dua tahun, untuk sekedar membeli rumah masih cukup. Dari dulu dia memang ingin membeli rumah untuk mereka di Surabaya, tetapi takdir berkata lain dia menikah dengan pria dari metropolitan. Sehingga saat ini ibunya masih tinggal di kampung halaman, hanya saja sudah jauh lebih layak dari sebelumnya karena sudah direnovasi oleh Ghania.
Sesampainya di Jakarta, Ghania terperangah melihat rumah Suaminya yang besarnya sudah seperti lima rumah di kampungnya. Apalagi ketika masuk yang rumah itu seperti istana. Sebagai anak orang miskin dia tentu takjub dan tidak menyangka bisa masuk rumah milik CEO tempatnya bekerja, bahkan CEO tersebut kini suaminya. Dia merasa menjadi pemenang persaingan ketat dalam merebut hati CEO tersebut.
Meskipun dari keluarga miskin dia tidak minder berada dalam rumah itu. Tempaan dalam hidup yang dilalui dan didikan orang tuanya menjadikan dia wanita yang penuh percaya diri.
Rina dan kedua anaknya menyambut baik kedatangan Ghania. Itu juga sebuah syarat dari mertuanya jika sudah menikah wajib tinggal satu atap dengannya. Sebenarnya Ardian cukup mampu punya rumah sendiri. Bahkan dia juga punya unit apartemen yang tidak di tempati. Ghania pun menurut, demi sebuah restu. Dia merasa tidak menyesal apalagi kini disambut hangat oleh mertua dan iparnya. Lagipula rumah Rina sangat besar. Kakak iparnya juga tidak tinggal di sana karena sudah menikah dan punya anak. Saat ini dia kesini karena menyambut adiknya yang pengantin baru tersebut. Sedangkan adiknya masih satu atap karena belum menikah.
“Istirahat dulu pasti kalian lelah,” ucap mertuanya.
“Iya bu,” jawab Ghania ramah dan sopan.
“Kok Buk lagi, kampungan banget.” Mertuanya tampak tidak suka. Berulang kali dia sudah menjelaskan untuk memanggilnya dengan sebutan mami. Sama seperti Ardian memanggilnya.
“Eh maaf, maksud saya Mama,” ralat Ghania. Mertuanya tersenyum sinis. Dia beralih menatap kakak iparnya, jauh lebih sinis. Firasat dia kini jadi tidak enak.
Ardian mengajaknya ke atas dimana kamarnya berada. Ghania patuh dan pamit dengan sopan kepada mertuanya. Barang bawaannya sudah diambilnya oleh para pelayan rumah. Dia awalnya menolak, tapi Ardian melotot untuk dia menerimanya, sebetulnya karena dia tidak terbiasa dilayani untuk keperluan pribadi. Meskipun di kantor dia pribadi yang disegani jauh sebelum Ardian datang di hidupnya.
***
Keesokan harinya Ardian ada perjalanan dinas di luar kota. Perjalanan dinas itu harusnya sudah dilakukannya seminggu pasca mereka menikah. Namun, perjalanan bisnis ke luar kota itu sempat ditunda karena Ardian menemani Ghania di masa berkabung. Sementara Ardian ke luar kota, Ghania memilih untuk menemani sang suami karena dia juga punya pekerjaan sendiri di kantornya.
Setelah Ardian pergi, Rina pergi untuk bertemu dengan teman arisannya yang dia rasa punya anak gadis seumuran dengan Ardian. Pertemuan dengan temannya yang bernama Soraya itu berlangsung di jam makan siang.
“Apa?” Soraya terperanjat kaget saat mendengar ide gila dari Rina.
“Kenapa Kamu tidak mau?”
“Lagian Kamu gila aja, Jeng Rina. Kenapa tidak dari dulu menawarkan anakmu padaku sebelum dia menikah?”
“Ya, sudah kalau kamu tidak mau besanan sama aku, padahal sudah pasti nasib anakmu juga akan terjamin. Harta kita juga ngga akan ke mana, daripada anakku sama si miskin itu sebenarnya aku tidak terima.” Rina memasang wajah bete. Coba terus meyakinkan Soraya untuk bersedia mengikuti rencananya.
Soraya pun tampak berpikir. Meski Ardian sudah punya istri. Namun, tawaran dari Rina terasa sulit untuk ditolaknya. “Jeng, tapi apa Ardian mau?” Soraya bertanya karena ia ragu jika Ardian akan setuju dengan rencana Rina.
“Itu masalah gampang, nanti kita atur strateginya. Sekarang yang terpenting kamu dan anakmu mau dulu menerima tawaranku.” Rina merasa optimis jika semua rencananya akan berjalan lancar. Rencana di mana dirinya akan memisahkan putranya dengan Ghania yang ia anggap tidak pantas bersanding.
“Oke, deal. Aku mau. Lagian kalau aku lihat-lihat mereka memang sangat serasi, tapi aku enggak bisa memutuskan ini sendiri. Aku akan tanyakan ke Sandra. Semoga dia juga mau dengan rencana perjodohan ini,” jawab Soraya antusias. Dia merasa sangat bodoh karena sama sekali tidak terpikirkan akan hal itu. Kenapa juga tidak dari dulu menawarkan putrinya pada Rina sebelum Ardian menikah dengan Ghania?
“Oke, kamu kabari aku ya gimana jawaban Sandra?” Rina tersenyum. Yakin jika tidak mungkin wanita bernama Casandra itu akan menolak tawarannya.
Setelah berhasil meyakinkan Soraya, Rina pun langsung pulang usai menyantap makan siang yang sudah dipesannya. Setibanya di rumah, berita gembira itu langsung ia sampaikan pada kedua putrinya. Ya, selama ini merekalah yang ada di balik layar dalam mendukung rencana Rina, bahkan ide agar Rina mencari istri baru untuk Ardian berasal dari Lili–putri sulungnya.
***
Sore harinya. Ghania yang baru saja tiba di kamar dikejutkan saat membuka ponsel terdapat sebuah grup w******p baru. Ghania pun mengira jika itu adalah grup keluarga yang sengaja dibuat oleh mertuanya.
“Assalamu'alaikum.” Maksud hati ingin bertanya soal grup itu, Ghania tidak menyangka jika pesan salamnya malah dibalas dingin oleh sang mertua. Sosok yang begitu baik menyambut kedatangannya saat pertama kali datang bersama Ardian.
“Tidak usah basa basi, kamu pikir kamu ini siapa?” Rina membalas ketus dengan barisan kata yang sengaja ditulis dengan huruf kapital semua.
Ghania pun dibuat tercengang. Bagaimana tidak, kali ini, sang mertua menunjukan sikap yang berbeda dari sebelumnya. Namun, ia coba berpikiran positif dan bertanya dengan baik-baik.
Ghania: Maksud Mama apa?
Rina: Enggak usah panggil saya Mama segala. Asal kamu tahu, ya! Selama Ardian tidak ada, jangan harap kamu di sini bisa menjadi Ratu!
Rina membalas diakhiri tanda seru tanda bahwa wanita itu seolah berkata dengan penuh penekanan.
Ghania pun semakin dibuat tidak mengerti. Awalnya, ia masih mengira jika mertuanya itu hanya ingin menguji kesabarannya saja. Bahkan, Ghania menyangka jika apa yang dilakukan Rina hanyalah prank semata.
Ghania: Tapi aku salah apa ya, Mah? Kenapa Mama berubah begini?”
Lili: Jangan pura-pura tidak mengerti! Kamu tahu kan, dari awal kami tidak pernah setuju kamu menikah dengan Ardian!” Rina coba mengingatkan. “Ingat! Kamu itu hanya perempuan kampung yang miskin. Sebenarnya kamu itu enggak layak bersanding sama anakku! Makanya, selama enggak ada Ardian, kamu harus tetap mengerjakan pekerjaan rumah meski sudah banyak pelayan yang bekerja di rumah ini!
Lili–sang kakak ipar ikut menimpali chat ibunya dengan bahasa yang lebih ketus, padahal Ghania telah capek bekerja. Namun, saat pulang, ia malah disambut dengan cemoohan dari ibu mertua juga kakak iparnya. Sekarang dia jadi tahu bahwa ternyata keluarga suaminya itu memang tidak pernah menyukainya. Semua yang mereka perlihatkan di depan Ardian, hanyalah sebuah formalitas.
Rina: Besok siap-siap saja. Posisimu akan tergantikan dengan wanita yang lebih berkelas dari kamu!”
Ghania menghela napas. Rasanya percuma membalas pesan dari mertuanya. Wanita itu lebih penasaran dengan siapa saja yang berada di grup tersebut, Ghania pun mulai memeriksanya. Kedua matanya dikejutkan dengan sebuah nomor dengan foto profil seorang wanita cantik. Kedua mata pun seketika membeliak. Masih tertegun menatap foto yang saat ini sudah dia klik hingga sudah terlihat jelas. Wanita itu memiliki paras yang jauh lebih cantik darinya. Hatinya pun seketika mulai merasa takut.
“Apa wanita ini yang Mama pilih untuk menggantikanku? Tapi kenapa … kenapa Mama malah mencari wanita lain, padahal pernikahanku ini baru berapa hari?” Ghania tentu saja merasa sedih. Hatinya sakit. Sulit diungkapkan. Apa karena ia hanya berasal dari keluarga miskin makanya mertuanya sampai ingin membuangnya? Sesaat Ghania kembali teringat akan perkataan ayahnya sebelum mertuanya. Ia pun berandai-andai dalam hati, “Kalau saya aku berasal dari keluarga terpandang yang kaya raya, pasti mertua dan kakak iparku akan lebih menghargai keberadaanku.” Tanpa terasa, air mata itu lolos begitu saja. Membasahi wajah sendu Ghania yang masih menatap foto wanita cantik pada ponselnya.
Bersambung