Bab 1. Pertemuan Pertama
Milea buru-buru masuk ke dalam sebuah kafe. Dia terlambat 5 menit. Wanita itu mengedarkan pandangan mata–mencari keberadaan seorang pria yang memakai kemeja navy garis-garis. Menurut Aurora–sahabatnya, pria itu kemungkinan berkepala botak, dan perut buncit. Mukanya mungkin dipenuhi jambang dan kumis.
Milea bergidik membayangkannya. Langkah kaki wanita itu memelan ketika melihat seorang pria dengan kemeja berwarna navy garis-garis duduk sendirian di sebuah meja. Pria itu sedang menikmati isi di dalam cangkir sambil memperhatikan layar ponsel.
Milea menarik napas panjang. Kalau bukan karena Aurora sudah banyak membantunya, dia tidak akan sudi menemui siapapun pria yang dijodohkan dengan sahabatnya itu.
“Kamu harus membantuku, Milea. Aku tidak mau menikah dengan pria pilihan papa. Kamu tahu aku sudah punya Elias. Aku hanya akan menikah dengan Elias.”
“Lalu aku harus apa?”
“Temui laki-laki itu atas namaku. Buat dia ilfeel sama kamu, supaya dia menggagalkan perjodohan itu.”
“Kenapa tidak kamu saja?”
“Aku tidak mau. Kamu saja. Aku yakin kamu bisa melakukannya. Bukankah dulu kamu pernah ikut kelas drama?”
“Milea, demi persahabatan kita, kamu harus menolongku kali ini.”
Sekelumit percakapannya dengan Aurora berputar di dalam kepala Milea. Wanita itu menarik napas panjang. Memantapkan hatinya untuk melakukan peran seperti yang diminta oleh sahabatnya.
Milea kembali mengayun langkah lebih lebar. Wanita yang malam ini memakai dres span sepanjang di bawah lutut, berwarna hitam itu berdehem kala tiba di samping meja yang dihuni oleh seorang pria dengan kemeja warna navy garis-garis.
Milea mengerjap begitu pria yang semula masih menunduk–tampak fokus dengan benda di tangannya itu akhirnya mendongak.
‘Sh*t,’ umpat Milea dalam hati. Aurora pasti menyesal kalau tahu pria yang dijodohkan dengannya bukanlah pria dengan kepala botak dan perut buncit. Sebaliknya, pria ini sangat tampan dengan tubuh menggiurkan. Elias pun lewat. Milea menatap kagum pria yang juga sedang menatapnya.
“Kamu … kamu Aurora?”
Milea kembali mengerjap. Suaranya sudah bisa membuat perempuan terbang ke awang-awang. Milea berdehem.
Melupakan sejenak kekagumannya pada pria yang ternyata memiliki spek para CEO muda seperti yang ada di dalam film-film yang pernah ditonton olehnya, Milea memasang ekspresi wajah keras. Dia tidak boleh melupakan tujuannya. Menolak perjodohan.
“Benar. Saya … Aurora. Anda … Pak Ardito, bukan?” tanya Milea memastikan. Jangan sampai dia salah orang.
Milea yang masih berdiri di samping meja menatap mengernyit pria yang kini justru menggulir layar ponselnya. Mengarahkan kamera padanya, lalu tak lama kemudian pria itu berbicara dengan seseorang.
“Nona Aurora sudah datang, Pak.”
Sepasang mata Milea sontak membesar. Jadi, bukan pria ini yang bernama Ardito? Jangan-jangan memang benar tebakan Aurora. Pria yang hendak dijodohkan dengan Aurora itu pria berkepala botak, dan perut buncit.
“Baik, Pak. Saya akan membawanya ke bandara sekarang.”
“A-apa?” Milea terkejut setengah mati. Wanita itu menatap bingung pria yang kini beranjak dari tempat duduknya.
“Mari ikut saya. Pak Ardito sudah menunggu anda di bandara.”
“Tunggu, apa maksudnya ini? Saya bukan. Maksud saya, saya datang untuk bertemu dengan pak Ardito.”
“Pak Ardito sudah menunggu anda di bandara, Nona. Mari.”
Milea menggeleng keras. “Kenapa harus di bandara? Bukannya kami harus bertemu di sini?”
“Rencananya berubah, Nona. Sekarang beliau sudah menunggu anda. Jadi, silahkan jalan sendiri, atau dengan terpaksa saya akan membopong anda.”
Sepasang mata Milea terbelalak. Sekali lagi Milea menggeleng keras.
“Maaf, saya akan pulang saya. Tolong sampaikan permintaan maaf saya pada pak Ardito. Saya datang hanya untuk bilang, saya tidak mau menikah dengannya.” Milea langsung berbalik, berniat untuk segera pergi. Namun, kakinya urung melangkah ketika merasakan tarikan lalu tiba-tiba tubuhnya sudah tersampir di bahu pria yang belum ia ketahui namanya.
Milea memekik. “Turunkan saya! Turunkan. Saya … saya bukan Aurora. Saya … saya Milea.” Karena ketakutan, Milea membuka penyamarannya. Mengakui dirinya bukan Aurora. Namun sayang, pria asing itu tidak percaya. Aurora dibawa keluar dari dalam kafe, lalu dimasukkan ke dalam sebuah mobil.
Milea berusaha berontak, akan tetapi, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga pria asing tampan yang sayangnya jahat. Karena dua tangan Milea dipegang oleh pria asing itu, Milea menggunakan kakinya, berusaha menendang sekenanya, namun lagi-lagi usahanya tidak berhasil.
Mobil melaju meninggalkan parkiran. Sepasang mata Milea membesar saat pria di sebelahnya membekap hidung dan mulutnya dengan sapu tangan. Beberapa detik kemudian, Milea tak sadarkan diri.
Kai, pria itu menghembus napas lega. “Ganas juga dia,” ujarnya sebelum memperbaiki posisi duduk Milea. Pria itu menatap wajah perempuan yang akan menikah dengan atasannya. Kai meluruskan pandangan mata, lalu menarik punggung ke belakang.
"Jalan lebih cepat lagi," perintah Kai pada pria yang duduk di belakang kemudi. Kai mengangkat tangan kiri, memperhatikan benda yang melingkar di pergelangan tangannya. Pria itu menggumam.
Mobil melaju lebih cepat menuju bandara.
****
Dua jam kemudian ....
Milea membuka mata, dan mendapati dirinya berada di tempat asing. Otaknya masih belum benar-benar kembali bekerja. Milea mendengar suara orang sedang berbincang. Wanita itu memijat kepala sambil meringis. Apa yang sudah terjadi padanya?
“Apa persiapannya sudah selesai?”
“Sudah, Pak. Semua sudah siap. Tinggal menunggu calon pengantin tiba.”
Milea mengerjap. Wanita yang masih berbaring itu memutar kepala. Sepasang kelopak mata dengan bulu-bulu lentik itu kembali bergerak.
“Kamu sudah bangun, Ara?”
‘Ara?’ Sepasang mata Milea mengecil ketika kening wanita itu berkerut. Milea meminta otaknya untuk segera bekerja. Mengingat kembali apa yang sudah terjadi. Siapa pria tampan yang sedang menatapnya ini? Dan kenapa pria itu memanggilnya Ara?
“Syukurlah kamu sudah bangun. Maafkan Kai yang membuatmu tidak sadar.”
Milea terbelalak begitu mendengar dua kata terakhir yang diucapkan oleh pria yang berdiri di sebelahnya. Otaknya mulai bekerja dengan cepat. Sekarang dia sudah mulai mengingat apa yang terjadi.
“Pak … Ar-dito?”
“Panggil saja Ardito. Senang bertemu denganmu, Ara. Seperti dugaanku, kamu sesuai dengan kriteriaku. Sebentar lagi kita akan sampai. Semua orang sudah menunggu kita.”
“Tunggu.” Milea mengangkat tubuhnya. Wanita itu memutar kepala. Mengedip saat melihat pria yang ditemuinya di sebuah kafe. Untuk beberapa detik tatapannya bertemu dengan sepasang manik berwarna coklat itu. Sialan, batinnya marah.
“Jangan marah padanya. Dia hanya menjalankan perintah dariku.”
Milea menoleh. Wanita itu mengatur tarikan dan hembusan napasnya. Jadi, ini pria yang dijodohkan dengan Aurora? Apa Aurora tidak akan menyesal menolak pria seperti ini?
Ardito tersenyum. “Kamu pasti masih terkejut.” Pria itu mendesah. “Jangan khawatirkan apapun. Aku sudah menghubungi papamu. Orang tuamu masih di Eropa. Mereka tidak bisa datang menghadiri pernikahan kita. Tapi, papamu sudah menyerahkan pada wali hakim untuk menikahkan kita.”
“Menikah? Siapa?” bingung Milea.
“Kita. Kamu dan saya." Ardito membungkuk. Pria itu tersenyum sambil menatap perempuan yang masih tampak terkejut itu.
"Kita akan segera menikah, Ara.” Ardito menegakkan posisi berdiri. Pria itu mengangkat tangan kiri lalu memperhatikan benda mewah yang melingkari pergelangan tangannya.
“Tiga puluh menit lagi kita akan tiba, dan kita akan menikah.”